Ivana keluar dari kamarnya dengan mengendap-endap. Ia menoleh ke kanan dan kiri memastikan bahwa Zach tidak sedang ada di tempat itu. Ia mendesah lega dan mengelus dada kala mengetahui bahwa suasana aman baginya.
“Fiuh ... aman. Aku bisa keluar dan menikmati sarapanku dengan tenang. Jangan sampai aku dan pembunuh itu bertemu muka karena akan sangat berbahaya. Bagaimana kalau ternyata giliranku yang dihabisi olehnya?” Ivana bergidik ngeri.
“Mengapa aku begitu bo*doh bersedia untuk menikahi pembunuh berseri seperti dia. Bagaimana kalau—“
“Ehem ... Ivana, selamat pagi.”
“Jeez! Zach, apa yang kau lakukan di sini? Kau—sejak kapan kau ada di sini? Dan a-apakah kau mau mem—“
“Mem—apa? Membunuhmu?” Zach tertawa ringan sembari menunduk, hingga Ivana tak bisa melihat wajah Zach dengan jelas.
Seperti apa rupa pria itu kalau tertawa?
“Apakah kau mau mengatakan aku akan membunuhmu?” tanya Zach, sembari mendekatkan wajah sangat dekat dengan wajah Ivana.
Gadis itu hanya mengerjap, dengan jarak sedekat itu, ia mampu menghidu aroma maskulin dari tubuh Zach. Juga bola mata gelap yang tampak berkilau, menjadi penghias paras rupawan seorang Zach Levy. Ivana tak akan menyangkal bahwa dadanya bergetar, sekarang.
Ivana memilih untuk menjauh, perlahan melangkah selangkah demi selangkah mundur menjauhi Zach. Namun, lelaki itu justru melakukan sebaliknya. Setiap satu langkah Ivana menjauhinya, maka Zach akan mengambil dua langkah mendekat pada gadis itu.
"Ap—pa yang akan kau lakukan?" Ivana tergagap.
Gadis itu ketakutan, berusaha meraih apa pun yang ada di sekitarnya. Ia mendapatkan sebatang ranting, maka dihunuskan pada Zach, seolah benda itu bisa membunuh Zach jika mendekat.
“Stop! Jangan mendekat lagi, pembunuh!”
Zach kembali tergelak.
“Jangan bercanda, Ivana. Kau bisa tanyakan pada mereka yang bekerja di sini, apa penyebab meninggalnya Selena. Jangan bertingkah konyol dengan menuduhku sembarangan! Tak ada keuntungan yang kudapat kalau aku membunuhmu.”
Zach kemudian berjalan dengan tenang melewati tubuh Ivana yang masih mematung karena ketakutan. Pria itu duduk dan siap menyantap makanannya, tetapi Ivana justru memandanginya dengan tatapan aneh.
“Ada apa lagi?” tanya Zach.
“Kenapa kau makan di sini? Ini kan tempatku? Bukankah mansionmu juga menyediakan makanan?” tanya Ivana, yang betul-betul tak mengerti bagaimana menjalani kehidupan di kediaman Zach yang belum pernah ia temui sebelumnya.
Bukankah Zach memiliki mansion pribadi, dan itu pastinya tempat ia melakukan segala kegiatan termasuk makan? Lalu mengapa ....
“Karena kita sudah menikah, maka seharusnya aku makan dan melakukan kegiatan di tempatmu. Dan jika aku ingin sendiri, aku akan kembali ke mansion pribadiku,” jawabnya.
Oh, jadi begitu ... enak sekali. Zach tidak mengatakan apa pun di awal, dan ceritanya malah jadi seperti ini.
“Lalu kalau kau ingin bercinta dengan wanita berbeda, kau tinggal membawanya ke mansion pribadimu dan melakukan di sana dengan bebas, sementara akan tetap datang kemari kalau kau menginginkannya dariku, begitu?” tanya Ivana, dengan rahang yang menegang dan otot wajahnya yang mulai mengetat.
Tangan gadis itu bersedekap di dada, menanti jawaban dari pria yang tengah mengunyah makanannya. Dan jawaban Zach membuat bola mata dan jantung Ivana nyaris mencelus.
“Ya, kurang lebih seperti itu.”
Ivana tak tahan lagi. Ia bangkit lalu melemparkan serbet makannya ke atas meja dan mengentak kaki meninggalkan Zach seorang diri di meja makan.
Elia, pelayan pribadi Ivana, hendak mengejar gadis itu, tetapi Zach menghalanginya.
“Biarkan saja, Elia. Mungkin dia masih mengalami sindrom pasca menstruasi, jadi ia sedikit sensitif.”
Zach kemudian melanjutkan makan sementara Ivana mengentak-entakkan kakinya di kamar sembari terus mengomel dan mengumpat-umpati Zach yang membuatnya kesal sepagi ini.
“Dasar manusia batu, lelaki buaya, pemain wanita, pembunuh berdarah dingin! Berani-beraninya bicara seperti itu! Kalau ia dengan mudah mendapatkan wanita yang ia inginkan, mengapa membuang waktu menikahiku? Dasar laki-laki sialan!”
Ivana hendak membuang sebuah kotak yang ada di atas meja riasnya. Namun, tangannya terhenti seketika. Alih-alih melempar, ia justru penasaran isi benda berbentuk kubus yang ada di tangannya itu.
“Ini mungkin untuk mengecohku. Aku tidak akan membukanya.” Ivana membanting benda itu kembali ke atas meja. “Aku tak akan membukamu, kau dengar itu!? Pria itu tidak akan pernah bisa mengambil hatiku dan meredakan kemarahanku dengan hadiah-hadiah seperti ini. Tidak akan bisa!”
Baru saja Ivana meletakkan kembali benda itu, terdengar suara langkah mendekat ke arahnya. Siapa lagi kalau bukan Zach, pria yang berhasil mengobrak-abrik suasana hati Ivana pagi ini.
“Kau tidak akan bisa membuat benda ini takut padamu lalu lari terbirit-birit meski kau membentaknya seperti itu.” Zach membuka kotak tersebut dan memperlihatkan sebuah kalung dengan liontin batu permata memukau berwarna hitam yang pada akhirnya sukses membuat Ivana ternganga kala melihat benda itu.
Zach benar, benda itu tidak takut sama sekali terhadap Ivana, justru sebaliknya, Ivana-lah yang kini bergidik saking indah benda di tangan pria itu, seolah berhasil menyihir dan menghipnotis Ivana.
“Aku sengaja memberikan ini dan meletakkan di atas meja riasmu, agar kau memakainya sendiri. Tapi sepertinya, kau tidak akan mengenakannya, justru menakuti benda ini. Lihat, warnanya berubah menjadi hitam karena ketakutan.”
“Jangan bercanda! Kau sama sekali tidak lucu!”
Zach mencebik sembari mengedikkan bahu.
“Memang. Aku tahu kalau aku tidak lucu, aku juga tidak sedang dalam rangka menghiburmu.” Zach menyingkirkan rambut panjang Ivana, kemudian memakaikan kalung itu di leher sang istri, lalu menatap lurus ke arah cermin di mana pantulan bayangan Ivana tampak jelas di sana.
“Kalung ini adalah peninggalan nenek yang diberikan pada mendiang ibu saat menikah dengan ayahku. Ayah setia pada ibuku sampai akhirnya ia tiada. Jadi kalung ini sekarang milikmu.”
Ivana membeku mengagumi benda yang kini menghiasi leher jenjangnya. Ia memberanikan diri untuk menyentuh benda itu, lalu menghela napas berat.
Apakah Zach sedang bersikap romantis terhadapnya sekarang? Jika memang iya, Ivana akui bahwa ia berhasil membuat Ivana sedikit luluh. Anggap saja kemarahannya yang tadi hanya rasa kesal yang kini secara otomatis telah menghilang karena hadis yang diberikan oleh Zach.
Memang benar bila ada yang mengatakan bahwa wanita memang menyukai hadiah, apalagi yang berkilauan, langka, dan berharga fantastis.
“Mengapa tidak diberikan pada Leora?” tanya Ivana, menyebut nama kekasih dari Edward, ayah mertuanya.
Zach tak langsung menjawab melainkan berjongkok di hadapan Ivana dan menatap iris hazel gadis itu dalam-dalam, menguncinya untuk sesaat sebelum ia memulai penjelasan panjang lebar yang mungkin juga akan memakan waktu kalau rasa ingin tahu Ivana yang besar itu terpaksa harus ia puaskan.
“Karena serigala hanya memiliki satu pasangan. Jika pasangan abadi mereka telah mati, maka tak akan ada yang boleh menggantikannya. Jika pasangan pertama dimulai dengan pernikahan, lalu meninggal, maka jika mendapat pasangan baru, tak akan boleh ada pernikahan. Dan apa yang diberikan pada pasangan terdahulu, tak boleh diberikan pada pasangan yang baru.”
Zach menjelaskan dengan terperinci hingga tak sadari bahwa Ivana memerhatikan kata demi kata yang ia ucapkan.
Tampak air muka Ivana yang berubah pais seketika kala mendengar penjelasan yang dituturkan oleh Zach.
“Se-serigala?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
💜Marlin🍒
serigala? serigala? mane? mane? mari kita tolong 🤭
2022-12-17
1
💜Marlin🍒
sek sek sek kok malah aku yg deg deg an iya guys 😳
2022-12-17
2
💜Marlin🍒
udah kek berondong meletup-letup ya 🤭
2022-12-17
1