Ivana masih mengurung diri dalam kamar. Ia menoleh ke arah nakas di mana tersedia makanan dan beberapa jenis vitamin yang diberikan Gabriella untuknya. Haruskah sampai seperti ini? Vitamin-vitamin itu bukanlah suplemen kesehatan saja, beberapa di antaranya adalah suplemen untuk menyuburkan.
Gadis itu mendesah keras, kemudian meraih vitamin dan susu yang ada kemudian meminum semuanya sebelum kemudian berbaring dan membungkus seluruh tubuh hingga kepalanya dengan selimut.
Namun, tak berapa lama, terdengar suara pintu diketuk. Ia tak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang.
“Ivana, bagaimana kondisi hari ini?” tanya Zach yang memaksa masuk ke kamar istrinya, yang tentu saja merupakan kamarnya juga. Meski hanya untuk sekadar mampir saat ia membutuhkan Ivana.
“Apa yang kau butuhkan?” tanya Ivana, tanpa mengeluarkan kepala dari dalam selimut. Ia ingin tahu, apakah mungkin ada kewajiban yang harus ia lakukan, yang membuat Zach datang.
Tak mungkin jika pria itu hanya ingin berkunjung. Demi apa? Rasa cinta terhadap Ivana pun Zach tak punya.
“Mengapa kau mengira aku datang karena menginginkan sesuatu? Aku hanya ingin tahu kabarmu, apakah tak boleh?”
Mendengar ucapan Zach itu, Ivana perlahan membuka selimut dan menampakkan wajah cantiknya. Ia sudah mandi sejak tadi, rambutnya tampak basah dan segar. Aroma tubuh dan rambutnya yang khas terhidu oleh Zach hingga membuatnya harus menahan langkah sejenak.
Ada gelora tak tertahan yang butuh dijinakkan dulu sebelum ia mendekat pada istrinya yang masih dalam masa recovery.
“Kau belum juga memakan makananmu. Apakah rasanya tidak enak? Aku akan meminta pelayan untuk—“
“Tidak perlu. Aku akan memakannya nanti, terima kasih.”
“Mengapa jadi begitu formal terhadapku? Kau tidak seperti kemarin yang ceria dan terus menanyakan apakah aku siap untuk memberikan hatiku. Kau sekarang ... berbeda,” ucap Zach, sembari memandangi wajah Ivana.
Ia sendiri yang mencegah dirinya agar tidak menjamah gadis itu. Ia ingat bagaimana tubuh Ivana bergetar akibat hal buruk yang dilihat gadis itu mengenai Jeffry saat di pesta. Lantas bagaimana jika Ivana tahu tentang dirinya dan segala yang ia sembunyikan selama ini?
Ivana terdengar mendesah. Seolah beban yang ia rasakan saat ini terlalu berat.
Bisa jadi memang begitu.
Bayangkan saja, semula ia adalah penyanyi kelab yang digandrungi, meski beberapa tamu datang dan meminta hal tak senonoh padanya, tetapi Jeffry Allen melindunginya dengan memperkerjakan beberapa pengawal yang akan mengantarnya pulang dan menjemputnya kembali ke kelab.
Ivana mendapatkan hati dan kasih sayang Jeffry meski tidak secara langsung. Ia tahu di mana batasannya, tetapi puas dengan itu karena sesuai dengan yang seharusnya ia terima.
Dan kini, ia seorang istri dari pria misterius yang tiba-tiba datang dan menginginkan keturunan—yang semula tak inginkan ikatan. Dan ketika Ivana meminta, barulah ia berikan. Segalanya. Kecuali hatinya.
Ivana layaknya burung dalam sangkar. Padahal permintaannya sederhana. Memangnya siapa yang tak akan jatuh cinta dan menyayangi gadis semanis dan secantik Ivana?
Nyatanya Zach tidak.
“Aku tidak tahu alasannya. Aku terlalu banyak pikiran, Zach, maaf,” jawabnya singkat. Kemudian kembali menutupi kepala dengan selimut.
“Apakah kau ingin aku meninggalkanmu?” tanya Zach.
“Ya. Pergilah. Jika perlu biarkan aku seorang diri untuk beberapa hari!”
Banyak hal yang ingin Zach katakan saat ini. Bagaimana bisa ia tak melihat gadis itu selama beberapa hari? Ivana hanya tak mengerti, begitu pula Zach, bahwa keduanya sudah saling bergantung dan terbiasa satu sama lain.
Zach pada akhirnya bangkit, kemudian meninggalkan ruangan di mana Ivana menenggelamkan diri dalam pikirannya yang tak menentu.
Gadis itu tak ingin bertemu siapa pun, ia yakin akan hal itu. Ia bahkan sudah sampaikan pada Zach beberapa menit lalu. Namun, tampaknya ada seseorang yang tak mau tahu.
Ia terus mengawasi Ivana tanpa diketahui oleh gadis itu. Bahkan saat ini, ia ada di depan jendela kamar Ivana, memandangi selimut yang membenamkan tubuh gadis itu. Menatap dengan tatapan sendu dan tak mampu didefinisikan oleh siapa pun selain orang itu sendiri.
...➿〰️➿...
Sudah beberapa hari Zach tidak menemui Ivana. Bukan karena dirinya yang tak mau, melainkan gadis itu. Sempat ia datang, sehari setelah Ivana memintanya pergi, tetapi gadis itu tak mau membuka pintu kamar. Dan menurut beberapa pelayan, bahkan Elia pun tidak diizinkannya masuk.
Tak ada satu pun pelayan yang bisa membujuknya untuk membuka pintu agar mereka dapat mengirimkan makanan pada Ivana.
“Jackson, bisakah kau melihat kondisi Ivana sebentar?” pinta Zach pada pengawal yang merupakan orang kepercayaannya. Jackson yang sesungguhnya sudah mencari tahu tentang kondisi Ivana sejak kemarin, lantas memberikan informasi pada Zach.
“Maafkan aku, Tuan. Sesungguhnya aku sudah mencari tahu tentang Nona Sanchez—“
“Jack, dia istriku sekarang. Kau seharusnya memanggilnya dengan nama belakangku!” potong Zach, yang kurang berkenan dengan nama belakang Ivana yang lama. Bukan apa-apa, alasannya sudah jelas, meski Zach belum bisa memastikan perasaannya untuk Ivana, tetapi status dan nama belakang serta kehormatan tentu saja sudah ia berikan untuk gadis itu.
“Maaf, Tuan. Maksudku, nyonya Levy. Ia masih belum bersedia untuk membuka pintu. Ia bahkan tidak memberikan izin pelayan dapur untuk mengirimkan makanan. Elia yang biasanya menjadi tempatnya bercerita pun tak bisa membujuknya.”
“Ck! Keras kepala sekali gadis itu!” kesal Zach. “Haruskah aku sendiri yang merayunya?”
“Mungkin seperti itu, Tuan. Karena biasanya wanita melakukan ini semua hanya untuk mencari perhatian. Mungkin ada keinginannya yang tidak dipahami atau diberikan.”
Zach menoleh pada Jackson dan menatapnya beberapa saat.
“Maksudmu, aku tidak memberikan apa yang seharusnya kuberikan?!”
Jackson menunduk, karena menyadari bahwa perkataannya mungkin saja menyinggung sang tuan. Namun, memang begitu kenyataannya, bukan?
“Sudahlah. Menurutmu, apa yang harus kubawa ke sana untuk menghiburnya?” Zach menegakkan tubuh, siap menerima saran dari bawahannya. Ia percaya pada perkataan Jackson, karena ia adalah seorang beta yang terkenal sering bermain-main dengan beberapa wanita.
Hanya wanita keturunan manusia yang tak mungkin akan menjadi jodoh sang tuan atau keturunan alfa lainnya.
“Mungkin ... sebuah tiket, Tuan.”
“Tiket? Apa kau bercanda?” Zach nyaris bangkit dari tempatnya karena merasa dikerjai oleh anak buahnya itu. Namun, Jackson memberi isyarat padanya untuk mendengarkannya terlebih dahulu, barulah Zach kembali ke tempat semula dan perlahan, wajah yang semula mengetat itu tampak rileks kembali.
“Maksudku tiket berlibur. Bukankah kalian belum menikmati bulan madu? Itu akan menjadi hal yang menyenangkan bagi wanita. Liburan, hadiah, perhatian. Dan ... ada satu lagi.”
“Katakan! Jangan bertele-tele! Aku ingin tahu, apa sebenarnya yang paling ia inginkan saat ini. Karena permintaannya sangat aneh.”
“Itu dia, Tuan. Wanita sering kali meminta hal aneh. Namun, kurasa nyonya Levy memang pribadi yang unik. Jadi permintaannya pun berbeda dari wanita yang pernah dekat denganmu.”
Zach berpikir sejenak, sebelum kembali memulai pembicaraan dengan Jackson. Dan tampaknya Jackson juga membiarkan Zach untuk mencari tahu sendiri apa yang mungkin disukai oleh Ivana.
“Aku tidak mengerti. Dia memang aneh.”
“Mungkin ada satu yang ia inginkan, sama seperti kebanyakan wanita. Terlebih, jika menilik latar belakang nyonya sebelum menjadi istrimu, ia menolak pria yang mendekatinya. Dan denganmu, seolah semudah itu.”
Jackson menjeda kalimat yang hendak ia ucapkan, sementara Zach tak tahan untuk mendengar kelanjutan dari apa yang sudah dimulai oleh Jackson.
“Mungkin ia menginginkan hatimu, Tuan.”
Zach didera kegamangan setelah mendengar perkataan Jackson. Memang benar itu yang diinginkan Ivana. Namun, mampukah ia berikan itu? Meski satu hal yang belum ia berikan itu merupakan salah satu dari sekian hal yang menjadi syarat dari Ivana jika menginginkan bayi darinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments