Kegundahan

Zach mengalah, pada akhirnya. Ia kini tengah berdiri di hamparan pasir putih berdua dengan Ivana, memandang lurus ke arah ombak yang berkejaran. Mereka menikmati waktu seakan mereka tengah berkencan sungguhan saat ini.

Bukankah mereka memang sedang berkencan? Ini merupakan momen langka yang tak pernah terjadi sejak mereka menikah, jadi baik Ivana maupun Zach tengah berusaha untuk menjadikan semua ini lebih berarti.

Salah satu caranya adalah dengan menghindari pertengkaran.

“Apa yang kau sukai dari pantai?” tanya Zach, seolah berusaha untuk mengenal Ivana lebih jauh.

Gadis itu memang sangat menyukai pantai, ombak, lautan ... semua itu melambangkan sebuah kebebasan. Tak ada sekat antara air laut dan pantai, yang baginya berarti bahwa manusia atau siapa pun itu, memiliki kedudukan yang sama.

Mereka bisa menjalin relasi, percintaan, atau apa pun tanpa memandang kasta.

Sama seperti Zach dan Ivana saat ini.

Seharusnya antara Ivana dan Zach tak ada lagi perbedaan. Mereka sudah menyatu, sekarang. Benar-benar menjadi satu jiwa, meski Zach belum juga yakin untuk menyerahkan hati pada Ivana.

“Kebebasan. Lihatlah ke depan, sejauh yang kau bisa! Kau tak akan pernah menemukan ujungnya. Sama seperti cinta yang tidak akan menemukan ujung, yang artinya tak perlu alasan untuk memulai.”

Ivana memang sengaja mengatakan itu, Ia ingin menguji, sekaligus menerangkan pada pria ini, bahwa sudah seharusnya pria itu memberikan hatinya untuk Ivana tanpa alasan. Bukan malah membuat Ivana menggantungkan harapan, tetapi membiarkannya tanpa kepastian.

“Apakah kau sedang menyindirku?” tebak Zach yang hanya dijawab dengan tatapan yang tak terdefinisi oleh Zach.

Zach tak mengerti apa yang sebenarnya ada di kepala gadis yang kini telah menjadi istrinya itu. Ia juga tak mengerti, mengapa takdir harus menjodohkan dirinya dan Ivana, gadis keras kepala yang bahkan nyaris menguasai separuh lebih otoritas yang sebelumnya dimiliki oleh Zach.

Sikap tegas dan keras Zach, sama sekali tidak mempan terhadap gadis ini.

Ivana kemudian memutar tubuhnya menghadap pada pria itu, menatap iris sewarna kayu oak yang menawan sejak semula. Ivana bisa katakan bahwa dirinya mungkin jatuh cinta pada pandangan pertama. Zach berhasil membuatnya jatuh, bahkan sebelum ia mengatakan apa tujuan kedatangannya ke kelab.

“Aku menginginkan hatimu, Zach. Sudah kukatakan sejak awal, bukan? Apakah kau sudah pikun?” ujar Ivana, yang tidak berusaha untuk mengikir jarak antara dirinya dan Zach. Mereka masih berdiri berjauhan. Zach memang tidak ingin mendekat, karena nantinya ia pasti tak akan bisa menolak gadis itu.

“Apa alasanmu menginginkan hal itu, yang sudah kutegaskan dari awal bahwa aku tak bisa berikan?” tanya Zach, menatap dalam-dalam iris berwarna hazel milik gadis cantik di hadapannya. “Seharusnya itu tak ada dalam perjanjian, karena aku hanya membutuhkan rahimmu saja.”

Sudah jelas apa yang dikatakan oleh Zach. Ia tak akan pernah memberikan cintanya untuk Ivana. Lantas mengapa Ivana tetap bersikeras meminta apa yang tak akan pria itu berikan?

“Kau bahkan tidak memiliki perasaan untukku, bukan?” Kali ini Ivana yang merasa terpojok dengan pertanyaan Zach. Bukan, bukan pertanyaan, melainkan sebuah tudingan.

Ivana lupa, bahwa jika ia meminta hati, maka ia harus memberikan miliknya juga. Ia harus menyerahkan hatinya untuk Zach sebelum meminta Zach memberi balasan. Namun, pertanyaan kini berjejalan di hati dan pikiran Ivana.

Apakah ia mencintai Zach? Ataukah hanya sebuah kekaguman?

“Aku ... aku bisa saja menyerahkan hatiku padamu dengan mudah, Zach. Namun, aku tidak mau jika tidak mendapat balasan yang sama. Aku sudah memberikan yang kau minta, tetapi kau tidak membalasnya dengan adil. Kau tidak menyerahkan apa yang menjadi syarat yang semula telah kau setujui sendiri.”

Zach terdiam dan mematung seketika. Ini memang tampak tak adil, karena Ivana telah memberikan segalanya, tetapi Zach telah mengingkari apa yang ia janjikan.

“Mari kita tidak bicarakan ini dulu. Kau tahu, aku masih mengusahakannya untukmu, Ivana. Dan mengenai kandidat yang kau bicarakan tadi ....” Zach menjeda kalimatnya, menyepak buih yang menyapu kulitnya. “Aku tidak pernah memiliki kandidat.”

Zach tidak sedang berbohong. Ia memang tidak merencanakan apa pun saat memutuskan untuk mendatangi Ivana. Tetuanya yang bernama Ange yang mengabarkan bahwa mungkin saja ia bisa mendapat keturunan dari Ivana.

Namun, berbeda dengan yang Ivana ketahui.

“Aku mendengarnya dari para pelayan. Bahwa kau pernah melakukan ini sebelumnya, dengan beberapa wanita.”

Pahit dan menyakitkan, Ivana ingin sekali menenggelamkan diri ke dasar lautan terdalam dan tak akan kembali lagi. Inikah yang namanya cemburu?

Zach mendengkus sembari menggeleng.

“Mengapa kau tidak menanyakannya padaku?”

“Karena kau penuh misteri. Kau sendiri yang mengatakan agar aku tidak banyak bertanya.”

Zach kemudian mengangguk, membenarkan apa yang dikatakan oleh Ivana.

“Memang benar aku mengatakan demikian. Namun, tidak semua hal kurahasiakan darimu. Suatu saat nanti kau akan tahu semuanya. Dan mengenai wanita-wanita itu ... memang benar. Namun, kalau kau berpikir aku sudah melakukan penyatuan dengan mereka ....” Zach menggeleng. “Tak pernah sama sekali.”

Ivana mengerutkan kening, tak mengerti akan apa yang dijelaskan oleh Zach sejak tadi. Mengapa Zach begitu misterius hingga memberi batas yang terlalu tinggi bagi Ivana untuk memahami dunianya?

“Aku tidak mengerti.”

“Mereka lebih dulu meninggalkanku sebelum aku bisa menyentuh mereka. Aku tak perlu menjelaskan lebih detail. Kurang lebih sama seperti apa yang kulakukan terhadapmu. Itu sebabnya, mereka membicarakanmu.”

Ivana hendak menjawab, tetapi Zach mendahuluinya setelah menengok ke atas, di mana rembulan mulai muncul di sana meski langit masih tampak begitu benderang.

“Lihatlah ... bulan tampak penuh dan malam nanti akan kemerahan. Apakah kau tahu maksudku?” tanya Zach. Wajahnya yang semula mengetat karena perdebatannya dengan Ivana, kini berubah teduh. Tak ada kemarahan di sana, bahkan sejak tadi. Hanya wajar jika terjadi sedikit ketegangan, Ivana hanya membutuhkan penjelasan dan Zach mengerti akan hal itu.

Ivana menggeleng cepat. Gadis itu juga tampaknya tidak lagi berada dalam kegundahan layaknya beberapa menit lalu. Ia sudah bisa menerima, mungkin, atau tak ingin menyiakan waktu dengan pertengkaran tak berarti.

“Memangnya apa maksud semua itu? Aku tidak mengerti.”

Zach tersenyum, kemudian menyelipkan helai rambut Ivana di balik telinganya.

“Malam nanti aku akan mendatangimu. Aku sudah menyiapkan pakaian yang indah untukmu agar kita bisa menikmati malam kita. Jangan bicarakan kegundahan hatimu untuk sementara waktu, aku sedang mengusahakannya, oke?”

Ivana mengangguk.

“Aku akan mencoba mengerti. Namun, aku tidak mau kau mendatangiku ke kamar. Aku mau kau membawaku ke kamarmu. Kita akan melakukannya di sana. Kalau kau tak pernah melakukannya dengan wanita mana pun di ruangan pribadimu, aku ingin menjadi yang pertama dan satu-satunya yang akan menyerahkan diri di sana.”

Terpopuler

Comments

Hasian Marbun Ian ayurafanisa

Hasian Marbun Ian ayurafanisa

gila ,kok aq kebayang dan makin penasaran🤒🤒

2023-01-22

2

Evi Sugianto

Evi Sugianto

karya mu bagus, membuat ku berfantasi ke sebuah novel dan film yang kusukai. maaf bukan menyamakan 🙏, ku kasih 🌹🌹🌹🍦🧁 .

2022-12-24

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!