“Kau yakin aku yang menentukan ke mana kita akan pergi hari ini?” Ivana tampak gembira saat mendengar perkataan Zach yang membolehkan gadis itu untuk mengajaknya ke mana pun ia mau.
Zach mengangguk, kemudian mengambil kunci mobilnya dan siapa membawa Ivana ke mana pun dia mau.
Namun, Ivana mengambil alih kunci mobil dari tangan Zach.
“Aku mau kita naik motor saja.” Gadis itu tersenyum, menatap ke arah sepasang bola mata suaminya dan menunggu jawaban.
“Ayolah, Zach ... ini akan jadi kencan pertama kita setelah resmi menjadi sepasang suami-istri. Kau juga sudah berjanji akan menuruti dan memberi apa pun yang kuminta, kan?" desak Ivana, tetapi tak juga mendapat respon dari sang suami. "Baiklah, diammu kuanggap kau setuju. Ayo!”
Ivana mengambil kunci motor dari tempat penyimpanan khusus, menyodorkan pada lelaki yang sejak tadi hanya mematung, kemudian menyeret lengan lelaki itu hingga tiba di garasi.
“Ivana, kau akan kepanasan kalau kita berkeliling dengan menggunakan sepeda motor. Lagi pula, terlalu banyak angin. Kau lihat pakaian yang kau kenakan!” Zach menghentikan kalimatnya, lalu memandangi dress sifon sebatas lutut yang melekat cantik di tubuh Ivana
“Memangnya kenapa dengan pakaian ini? Bukankah kau sendiri yang menyediakannya di lemari pakaianku? Oh, iya, kau bisa lihat ....” Ivana berputar, menunjukkan bagaimana pakaian itu melekat apik di tubuhnya. “Ini pas sekali! Bagaimana kau bisa tahu ukurannya? Kau bahkan belum pernah menyentuhku.”
Zach hanya bungkam dan menaikkan sebelah alisnya.
Ivana kemudian mendekat pada lelaki itu.
“Katakan padaku, bagaimana bisa kau tahu dengan pasti ukuran tubuhku, hm?”
Pertanyaan Ivana seharusnya membuat Zach gugup atau bingung bagaimana memberikan jawaban pada gadis itu. Namun, Zach meresponsnya dengan tenang.
“Aku bisa tahu ukuranmu hanya dengan melingkarkan lengan di pinggangmu seperti ini.” Zach mendekat pada Ivana, kemudian melakukan seperti yang baru saja diucapkannya. Ia melingkarkan lengan di pinggang Ivana, kemudian menarik gadis itu hingga mendekat padanya.
Tak berjarak sedikit pun.
Gugup, Ivana memandangi sepasang bola mata jernih yang dibingkai tatapan tajam bak elang yang terus mengunci tatapannya pada Ivana.
“A-apa yang kau lakukan, Zach. Tolong lepaskan aku. S-sebaiknya kita berangkat sekarang.”
Ivana menyingkirkan lengan kokoh pria itu, kemudian menoleh pada beberapa kendaraan roda dua yang ada di garasi Zach.
“Apakah ini semua milikmu?”
Zach tak menjawab. Tentu saja milik pria itu, meski tak semuanya pernah ia gunakan. Terkadang Andrew, orang kepercayaannya, yang memakai kendaraan itu untuk mengawalnya.
“Anggap saja begitu. Apakah kau sudah memilih, mana yang akan kau gunakan?”
“Hm-mm ... pakai yang sesuai dengan kunci yang kubawa tadi saja. Aku hanya penasaran, karenanya aku ikut denganmu kemari.” Ivana menoleh ke arah Zach kali ini, kemudian mengangguk dan memberi kode pada Zach untuk langsung saja mengendarai kuda besinya.
Zach naik ke sebuah motor sport berwarna hitam dan mulai mengaktifkan mesinnya. Ia lalu mengulurkan tangan pada Ivana dan membantu gadis itu untuk naik yang langsung kemudian ia lajukan menerobos jalanan yang cukup padat di seputar Eastonville.
Zach memang tampak fokus pada apa yang ada di hadapannya, tetapi otaknya tak henti memikirkan tentang Ivana. Ia tak tahu dari mana datangnya perasaan itu, tetapi tak pernah sebelumnya ia begitu patuh akan keinginan seorang wanita.
Bisa jadi Ivana begitu istimewa. Memang, karena dia telah menjadi istri Zach Levy—seorang pengusaha muda, billionaire, tampan, mapan, dan berkelas. Jangan lupakan juga kalau dia digandrungi para wanita. Ditambah lagi pribadi Ivana yang unik, membuat Zach sering kali merasa bahwa dirinya dan Ivana tidak sedang bersandiwara.
Ia merasa seakan pernikahan ini dibangun atas dasar cinta yang membuat mereka melakukan segalanya tanpa diminta.
Hal lain yang membuat Zach tak mampu berhenti berpikir adalah bagaimana gadis itu meminta hati Zach sebagai syarat agar dirinya setuju untuk menjadi ibu dari bayi-bayi Zach.
Gadis itu hanya tak tahu kisah kelam yang menjadi alasan Zach memilihnya menjadi pasangannya saat ini—salah satu alasan yang mendasari dirinya tak bisa setuju begitu saja dengan permintaan Ivana yang satu itu.
Memberikan hati, artinya Zach harus siap jika terjadi sesuatu pada Ivana, seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya.
Bagaimana Zach bisa hadapi itu jika nanti ia sungguh-sungguh sudah memberikan hatinya dan mencintai gadis itu? Bagaimana jika ternyata apa yang terjadi tak seindah yang ia bayangkan?
Zach menghentikan kendaraan tepat di depan sebuah restoran dan mengajak Ivana untuk turun dan berjalan bersamanya, naik menggunakan lift dan menampakkan pemandangan rooftop di hadapan mereka. Pria itu kemudian memilih tempat yang dekat dengan jendela kaca besar yang menampakkan pemandangan kota dari ketinggian.
Ivana mencengkeram lengan blazer Zach dan menyembunyikan wajah di balik punggung pria itu.
“Kenapa kau mengajakku kemari, Zach? Apakah kau tidak tahu kalau aku takut ketinggian?” tanya Ivana, memberengut. Namun Zach tak bisa melihat bibirnya yang mulai mengerucut karena Ivana masih bersembunyi di balik punggungnya.
“Oh, benarkah? Kupikir gadis berani sepertimu tidak takut apa pun.” Zach memutar tubuhnya hingga menghadap Ivana dan barulah ia bisa melihat air muka gadis itu yang memucat. “Kau tak perlu takut, gedung ini aman. Atau kita bisa memilih tempat yang jauh dari jendela.”
Ivana mengangguk, kemudian Zach menautkan jemarinya pada jemari Ivana dan menggandengnya menuju kursi yang lain.
Mereka menikmati makanan di restoran itu sembari mengobrol membicarakan hal yang belum sempat mereka bicarakan. Hingga pertanyaan Ivana merujuk pada apa yang dikatakan oleh Elia di malam setelah pernikahannya dan Zach.
“Ehm ... aku ingin menanyakan satu hal yang mengganggu pikiranku selama ini, Zach. Ada seseorang yang mengatakan kalau kau pernah mengalami kegagalan cinta. Apakah itu yang membuatmu enggan memberikan hati untukku?”
Pertanyaan Ivana membuat Zach terenyak untuk sesaat. Namun, segera, ia mengembalikan ekspresi wajahnya seperti semula dan melanjutkan menikmati makanan di hadapannya.
“Mengapa kau bertanya?” tanya pria itu, tanpa mengangkat wajah, seolah ia memang tengah disibukkan dengan sajian yang tengah ia nikmati. Padahal, perasaannya sudah tak karuan saat ini.
“Karena aku ingin tahu. Bukankah suami istri seharusnya membagi apa yang mereka punya? Termasuk rahasia ... juga hati.” Kali ini tujuan Ivana mengungkit tentang itu memang agar Zach merasa tersindir dan mempertimbangkan kembali untuk memberikan apa yang diinginkan olehnya.
Namun, Zach tampaknya tidak tertarik untuk membahas apakah itu mengenai patah hati, ataukah mengenai tema yang diinginkan oleh gadis itu.
Nyatanya, bagi Ivana, sekadar memberikan hati tak akn sulit bagi Zach.
Tipe pria seperti Zach pastilah digandrungi banyak gadis. Maka tak mungkin jika ia tak tertarik pada salah satu dari mereka, bukan?
“Bukankah suami istri seharusnya melakukan malam pertama? Tapi kita bahkan belum memulainya sama sekali. Benar begitu, kan, Ivana? Jadi ... kalau kau berharap aku mau membuka hati, kurasa itu bukan hal mudah. Bukan perkara apakah kau harus bersedia tidur denganku agar aku bisa mencintaimu, tidak seperti itu.” Zach menjeda kalimatnya sebentar.
“Aku bukan orang yang pemilih, tetapi untuk hal yang berbau romansa, aku bukan orang yang tepat.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments