Serial Killer

Ivana terdiam mendengar pernyataan Zach yang seakan jelas bahwa dirinya tengah membangun dinding tinggi agar Ivana tak akan bisa mendakinya. Atau gadis mana pun, jika Zach tak menghendaki.

Namun, jika pria itu berharap sekali Ivana setuju untuk menjadi ladang di mana dirinya menanamkan benih, bukankah itu artinya dirinya setuju untuk membuka hati bagi Ivana?

“Jadi maksudmu, kau tidak kan pernah mengabulkan syarat keempatku?” tanya Ivana yang sejak tadi belum juga menyentuh makanan di hadapannya.

Zach menghentikan kunyahannya, kemudian menautkan alis kala mendengar pertanyaan Ivana yang lebih terdengar seperti sebuah tudingan.

“Lebih tepatnya, tidak menjanjikan. Kuharap kau tahu perbedaannya. Jika tak ingin mengabulkan itu artinya—“

“Aku tahu. Tidak usah kau jelaskan, Zach. Aku mengerti apa yang kau maksudkan. Aku tidak bodoh, meski tidak sekaya kau!” Gadis itu menekankan, yang terkesan bahwa ia tak suka dengan apa pun pernyataan Zach.

“Kau tidak perlu marah, Ivana. Aku sudah menjelaskan sejak awal, bukan?”

“Dan aku sudah meminta sejak awal juga, bahwa itu merupakan syarat aku akan memberikan rahimku untuk benihmu dan itu—“

“Ssh ... jangan keras-keras, Ivana! Kau akan menarik perhatian semua orang di sini. Mereka punya pendengaran yang tajam. Mari kita pergi ke tempat lain untuk membicarakan ini, lebih bebas.”

Zach mengulurkan tangan pada Ivana yang masih mengambek—gadis itu hanya memandang ke arah uluran lengan Zach, kemudian pada Zach, secara bergantian. Ia lalu bangkit, tidak sama sekali meraih uluran jemari pria itu.

“Aku bisa jalan sendiri!”

Keduanya kemudian menuju ke sudut, masih berada di rooftop, hanya saja Zach menyewanya untuk mereka bicara.

Well ... semudah itu, kalau kau memiliki uang.

Mereka berdua duduk berhadapan, secangkir kopi tersedia di meja, dengan secawan gula balok untuk tambahan jika kurang manis. Namun, Zach jelas tidak butuh itu.

Ia terbiasa dengan hal pahit. Jangan memintanya bersabar akan ujian hidup, jika ia terlahir dengan harta melimpah di kedua tangannya, itu jelas bukan salahnya, bukan? Ia pernah rasakan pahit, meski bukan perkara harta, melainkan cinta.

Sudah pernah, dan ia tak ingin merasakannya lagi.

“Jadi apa yang ingin kau jelaskan padaku? Jelas kau sudah melanggar perjanjian!” ketus Ivana. Zach menghirup kopinya, tanpa banyak bicara. Namun, di detik berikutnya, ia mulai buka suara.

“Hanya jika kau mengartikannya secara sempit, Ivana.”

“Oh, sempit, katamu?” Ivana menoleh ke kanan dan kiri, seakan mencari benda yang bisa ia lemparkan pada Zach untuk memberinya pelajaran.

Kopi yang ada di hadapannya juga tak apa. Tidak! Itu terlalu panas, pastinya Ivana tak mau suaminya berubah menjadi pria berwajah buruk. Meski perangai Zach buruk di mata Ivana, setidaknya tidak dengan parasnya.

Gadis itu lalu mengambil satu balok gula yang tersedia. Ia bukan penggemar kopi. Jadi, berhubung hanya itu yang disediakan, tak masalah kalau ia mencoba.

Hatinya masih dongkol, satu balok gula saja cukup. Gadis itu menyeruput kopinya sedikit dan hampir meringis karena rasanya yang terlalu pahit. Sungguh tidak bersahabat di lidahnya.

Zach masih menunggu, apa yang akan dikatakan gadis cantik di hadapannya. Ia duduk bersandar, tangannya bersedekap di depan dada. Namun, Ivana tetap bungkam dan hanya bertingkah aneh dengan memasukkan beberapa balok gula ke dalam kopinya.

“Itu terlalu manis, Ivana, cukup,” ucap Zach, berusaha memperingatkan gadis itu.

“Kalau kau suka minuman pahit, itu kau! Sama seperti karaktermu yang getir dan sama sekali tidak suka bersikap manis! Kau memang seorang pengecut yang bersembunyi di balik masa lalu. Hanya karena kau patah hati, lantas kau menjauhi semua perempuan bahkan mengingkari janji yang sudah kau setujui!” Dada Ivana naik turun karena kesal.

Ivana bisa gila kalau terus-menerus berhadapan dengan Zach seperti ini. Tak bisa ia ungkiri bahwa pria ini sudah melebihi kriteria pria idaman Ivana. Wajar saja jika ia menginginkan tak hanya apa yang ditawarkan pria itu, harta dan segala kemewahan—Ivana tidak membutuhkan itu semua—ia ingin memiliki semuanya—tubuh dan hati Zach.

Jangan tanyakan alasannya. Ivana tak percaya cinta pandangan pertama, mulanya. Namun, sejak bertemu Zach, semua berubah.

“Hanya karena cintamu ditolak dan patah hati, lalu kau menjadikanku sebagai sasaran balas dendammu pada wanita itu, hebat sekali kau, Zach?!” Gadis itu melanjutkan, masih dengan emosi yang memuncak.

Zach masih bungkam. Namun, ketika Ivana tak juga mengatakan hal lain, Zach mulai berani bicara.

“Apakah sudah? Kalau sudah, sekarang giliranku.” Zach mencondongkan tubuh ke depan, agar ia tak perlu bicara dengan volume keras. “Kau salah kalau mengatakan bahwa aku patah hati hanya karena cintaku ditolak.”

Pria itu menggeleng, menyanggah setiap ucapan Ivana yang terkesan menyudutkannya, seolah Zach adalah pria pengecut dan bermental jelly.

“Wanita itu pergi meninggalkanku, bukan karena menolak cinta, atau karena lelaki lain." Zach tampak tenang, tatapannya masih intens tertuju pada Ivana yang masih menanti kelanjutan kisah cinta Zach yang tragis. "Ia meregang nyawa, di tanganku sendiri.”

...➿〰️➿...

Ivana masih galau mendengar penjelasan Zach mengenai wanita yang pernah menjadi kekasihnya. Semua anggapan Ivana mengenai Zach salah besar. Namun, segala penuturan Zach bukan membuat Ivana iba terhadap pria itu, melainkan didera kengerian yang hebat.

Saat ini saja, berada di atas motor yang melaju kencang, membuat Ivana berpikiran buruk mengenai nasibnya.

Bagaimana jika pria itu dengan sengaja menabrakkan kendaraannya pada pohon besar, atau bahkan kendaraan berat yang melaju berlawanan arah, hanya agar Ivana tewas di tempat? Seperti yang terjadi pada wanita mantan kekasih Zach.

Pria itu sendiri yang mengatakan bahwa kekasihnya dulu meninggal di tangannya, dalam dekapannya. Apa yang ia lakukan sampai itu bisa terjadi?

Apakah Zach adalah seorang serial killer yang akan mencari korban dengan motif yang sama dan melakukan hal yang tak jauh berbeda dengan satu tujuan, sebuah kepuasan?

Ivana terus menggumamkan doa di dalam hatinya, agar pria ini tidak melakukan hal yang bisa membahayakan nyawa Ivana, meski sebenarnya tak masalah jika Ivana mati sekali pun. Tak ada yang menyayanginya sejak ibunya meninggal.

Ayahnya justru menjualnya untuk menjadi wanita penghibur. Beruntungnya, mendiang ibu Ivana dulu sering memuji suara Ivana yang menjadikan gadis itu terbebas dari kemungkinan menjadi seorang pelac*r.

Dan kini, ia hanya ingin mendapatkan cinta Zach, sebagai bukti bahwa ia diinginkan, dicintai. Bukan hanya sekadar dimanfaatkan untuk sesuatu, sama seperti yang dilakukan ayahnya terhadapnya.

“Kenapa kau hanya siam sepanjang perjalanan? Dan lihat, kau berkeringat. Bukankah di jalan terlalu banyak angin? Mengapa kau tampak pucat dan berkeringat dingin?” tanya Zach yang tak mengerti apa yang menyebabkan Ivana bersikap seaneh itu.

Gadis itu tak memberi respon atas pertanyaan Zach, melainkan melangkah cepat memasuki mansionnya, kemudian segera masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam.

Tok Tok Tok!

“Ivana, buka pintunya! Bukankah masih banyak hal yang ingin kau ketahui dariku? Banyak hal yang harus kita bicarakan.”

Ivana naik ke atas ranjang dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

“Ivana!”

“Aku sudah tidur, lain kali saja kita bahas. Selamat malam, Zach!”

Terpopuler

Comments

Hasian Marbun Ian ayurafanisa

Hasian Marbun Ian ayurafanisa

keren ni novel , sebenernya aq agak kurang suka cerita serigala, dan iseng aja baca ini karna gabut, dan aq bacanya lompat, taunya malah bikin penasaran , trus kalimat2nya bagus banget sayang banget yg baca masih sedikit 😒

2023-01-22

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!