Sesampainya di rumah.
Dengan langkah gontai Hayati memasuki halaman rumah, di teras sudah ada mertuanya yang sedang bercengkrama.
" Hayati ! , sudah pulang nak ?" tanya ibu mertuanya penasaran.
" Hayati izin pulang bu, lagi gak enak badan, " ucapnya ,sembari menyalami kedua mertuanya.
" Kau pucat sekali, istirahatlah .Si kembar juga sedang tidur.Emak mu lagi nungguin mereka di kamar." ucap pa Ahmad .
" Baik, pak.."
" Mak,,," sapa Hayati saat memasuki kamar tidur si kembar.Saat itu mak Fatimah sedang melipat pakaian si kembar.
" Hayati, tumben sudah pulang ,apa kamu sakit ? kau pucat sekali !" tanya emak khawatir.
" Iya, mak.aku gak enak badan, pusing, "
" Ya sudah sini berbaringlah, emak pijitin lalu minum obat ,," ucap emak.
" Mak, ada yang ingin aku sampaikan sama emak, " ucap Hayati ragu.
" Katakanlah, nak.Ada apa?"
" Mak, aku hamil lagi mak." ucap Hayati sambil memeluk ibunya, air matanya mengalir begitu saja.
" Apa? kamu hamil lagi ?!" tanya emak Fatimah , seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar .
Hayati hanya mengangguk pilu.
" Apa kamu tidak KB , nak ?"
" Bulan lalu Hayati lupa mak, saat itu Hayati berencana suntik Kb besok pagi nya, tapi tidak di sangka- sangka suamiku memaksaku untuk melayaninya, saat aku sedang masa- masa subur." jelas Hayati .
" Ya mau gimana lagi, ini sudah takdir , kamu akan memiliki keturunan lagi.
Sudah jangan di pikirkan lagi , emak tahu apa yang sedang kau pikirkan.
Kamu tidak usah khawatir, selama emak masih ada dan sehat. Emak akan selalu menjaga dan merawat anak - anakmu.
Emak di takdirkan tidak memiliki keturunan, tapi darimu emak akan memiliki banyak cucu ." ucap Fatimah .
Mereka pun berpelukan untuk saling menguatkan.
Sore harinya, saat semua berkumpul di ruang tengah, Hayati bergabung dengan mereka, dan ia menceritakan tentang kehamilannya pada semuanya.
ibu mertuanya sedikit terkejut, begitupun dengan ayah mertuanya dan juga adik iparnya, tapi mau bagaimana lagi mereka hanya bisa pasrah dan menerima kehamilan Hayati dengan suka cita.
" Hayati, kamu jangan patah semangat ,ya ! kami akan selalu mendukungmu, jangan bersedih atas suamimu, ada kami yang akan selalu menjagamu dan anak - anakmu ." Ucap pak Ahmad sedih.
" Iya, nak. Kamu harus kuat ya,,!"
" Ibu yakin suamimu pasti kembali."
" Bu, sebenarnya kemana suamiku, apa dia cerita pada ibu tentang sesuatu, sebelum ia pergi ? apa ia punya saudara lain yang hendak ia kunjungi ?!" tanya Hayati sambil meneteskan air mata .
Sudah berhari - hari suaminya tidak pulang,tanpa kabar, nomor teleponnya sudah tidak bisa di hubungi.
" Tidak , Hayati. Bukankah kau yang terakhir melihatnya pergi.?"
" Iya, bu .Saat itu ia pulang, lalu pergi lagi ,aku melihatnya memasukan dokumen dalam map biru , lalu membawanya pergi." jelas Hayati , sembari mengingat - ingat kembali apa yang di bawa suaminya saat pergi .
" Map biru ?" tanya pak Ahmad penasaran.
" Iya, pak."
" Bu, antar bapak ke kamar !" seru pak Ahmad.
Bu Komala lalu mendorong kursi roda yang di duduki suaminya menuju ke kamar mereka .
Didalam pak Ahmad membuka lemari pakaiannya.
" Tolong turunkan kotak hitam itu, " pintanya pada sang istri.
" Untuk apa pak ?"
" Sudah , turunkan saja, bapak mau periksa !" serunya lagi.
Lalu ,pak Ahmad membuka satu persatu amplop besar yang ada dalam kotak hitam itu, ia memeriksanya satu persatu.
" Bu, sertifikat sawah kita kok gak ada ? " tanya pak Ahmad resah.
" Masa ,Pak. Kan semuanya di situ ,"
" Coba ibu periksa lagi, map yang berwarna biru tidak ada."katanya lagi.
Setelah dua kali memeriksa, benar saja map biru yang berisi sertifikat tanah pesawahan miliknya hilang.
" Bagaimana ini pak, sertifikatnya hilang ?" ucap Bu Komala cemas.
" Bu, seperti yang di ceritakan Hayati tadi, bapak yakin Bambang yang mengambilnya." ucap pak Ahmad geram, sambil mengepalkan telapak tangannya.
" Ya, Allah...apa yang akan anak itu lakukan dengan sertifikat tanah kita pak ?!" ucap bu Komala sedih.
" Anak kurang ajar !" geram pak Ahmad.
" Bapak !!" panggil Sari .
" Pak di luar ada tamu , ingin bertemu bapak !" ucap Sari .
Mereka pun turun untuk menemui tamu yang datang.
" Pak Rojali ?"
" Pak Ahmad, apa kabar ?"
" Baik, silahkan duduk ,"
" Terima kasih pak, kedatangan saya kemari ingin menyampaikan berita buruk pak." ucap Pak Rojali sedih.
" Ada apa pak Rojali ? katakanlah !"
" Begini pak, tadi saat saya sedang bekerja di sawah, tiba - tiba tiga orang laki - laki datang menemui saya dan mengatakan bahwa sawah ini sudah di jual kepada bos mereka." tutur Pak Rojali menjelaskan.
" Apa ? " Pak Ahmad berteriak sambil memegang dadanya yang terasa sakit.
" Anak tidak tahu diri, !" rintih Pak Ahmad sambil menahan sakit di dadanya.
" Bapak..!!" teriak ibu Komala, melihat suaminya kesakitan.
Hayati yang menyaksikan semuanya sangatlah terkejut, ia yakin kalau Bambang lah yang telah menjual sawah orangtuanya.
Tiba - tiba dua orang laki - laki masuk dan langsung menerobos ke dalam .
" Permisi , Pak .Kenalkan nama saya Wibowo, saya adalah orang yang sudah membeli sawah itu, anak anda yang bernama Bambang sudah menjualnya kepada saya 5 hari yang lalu, dan ini adalah bukti pembayaran dan juga sertifikat yang sudah saya terima dari anak bapak .
Ini Pak Mulyadi selaku kuasa hukum saya.
Semua sudah jelas ya, pak.
Sekarang sawah itu sudah menjadi hak milik saya .
Jadi saya minta kerja samanya kepada anda dan juga orang yang sedang menggarap sawah itu.
Bagai mendengar petir di siang bolong , kabar itu cukup membuat Pak Ahmad serangan jantung .
Semua orang histeris .
Dan pak Ahmad pun segera di larikan ke rumah sakit.
" Bapak..!!!" teriak semuanya.
Di rumah sakit,
Pak Ahmad menghembuskan napas terakhirnya.
" Innalilahi , kami turut berduka , kami sudah melakukan yang terbaik yang kami bisa, tapi Tuhan berkehendak lain, semoga keluarga yang di tinggalkan di beri kesabaran." ucap dokter yang menangani pak Ahmad.
" Tidak..k..k.., bapak !!" Komala, Sari ,Rosidah dan juga Hayati ,mereka semua histeris , larut dalam kesedihan, seakan tidak rela bapak mereka pergi begitu cepat.
" Bapak, maafin Hayati..! isak Hayati.
Bu Komala jatuh pingsan,ia sama sekali tidak menyangka suami nya pergi untuk selama- lamanya, suami yang sangat ia cintai, suami yang begitu baik dan bertanggung jawab .
" Bawa ibu bersama mu pak !" rintih bu Komala sesaat setelah ia siuman.
" Bu,, ibu harus kuat .Hik..hik..!" ucap Sari .
Setelah semua administrasi selesai , jenazah pak Ahmad di bawa pulang.
Semua orang sudah berkumpul di rumah mereka, para tetangga dan juga sanak saudara sudah hadir untuk melihat jenazah pak Ahmad untuk yang terakhir kali.
" Pak Ahmad orang baik, gak nyangka ya, ternyata anak nya sendiri yang membuatnya meninggal ." bisik - bisik tetangga yang melayat.
" Iya, kasihan, sekarang si Bambang kabur membawa uang hasil menjual sawah orang tuanya, meninggalkan istri dan anak - anaknya yang masih kecil." bisik yang lain.
" Anak durhaka ."
Hayati yang mendengar obrolan para pelayat itu hanya bisa pasrah .
Air matanya tak berhenti mengalir, sungguh tragis kehidupan rumah tangga yang ia jalani, kini mertua yang sudah ia anggap bapak sendiri. Kini sudah pergi untuk selama- lamanya.
" Dimana kau , bang..? kenapa kau begitu jahat , menyakiti keluargamu sendiri,," batin Hayati pilu.
" Selamat jalan Pak, semoga Allah menempatkan bapak di tempat terindah , di Surganya Allah SWT. Amin."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments