Sudah hampir sebulan Hayati bekerja,dia sangat giat dan telaten dalam bekerja, sehingga para atasannya sangat menyukai Hayati.
Selama itu pula Hayati sering merasakan badannya agak sedikit berbeda, gampang capek dan lelah belum lagi selera makannya belum kembali normal, sehingga berat badannya sedikit berkurang.
Seperti kata Fatimah saat datang mengunjunginya di rumah mertuanya.
" Kamu semakin kurus nak , apa kamu makan teratur ?" tanya Fatimah khawatir melihat keadaan Hayati yang sedikit berbeda , agak kurus dan wajahnya pucat.
" Akhir - akhir ini Hayati gak enak makan mak, mungkin kecapean kali mak, jadi nafsu makanku berkurang." imbuh Hayati.
" Wajahmu juga pucat gitu , Hayati apa kamu sudah datang bulan ,bulan ini ?" tanya Fatimah penasaran.
" Belum mak, ini sudah mau bulan ke dua Hayati belum datang bulan." jelas Hayati sambil terus mengusap perutnya karena mual.
" Jangan - jangan kamu hamil nak !" seru Fatimah sumringah.
" Apa ? kok Hayati nggak kepikiran ke situ ya mak, ?" ucap Hayati kaget.
" Ya sudah ,cepat kamu periksa ke dokter , ajak suamimu, mumpung hari ini libur kerja !" seru Fatimah.
" Iya, mak ..! "
" Bang anterin aku ke dokter yuk, aku mau periksa kandungan ,,!" ucap Hayati sambil menggoyang - goyangkan tubuh suaminya yang masih tertidur .
" Apa ? dokter kandungan? siapa yang melahirkan ?!" tanya Bambang bingung.
" Aku udah mau 2 bulan belum datang bulang, bang .Di tambah gejala sering mual dan pusing.Emak bilang itu tanda - tanda kehamilan." jelas Hayati.
" Aduh, Hayati. Kenapa kamu mesti hamil sih, dengan keadaan kita seperti ini, anak itu harus di kasih makan, harusnya itu kamu tunda dulu ,,!" ucap Bambang sedikit menekan Hayati.
" Abang kok ngomongnya gitu sih, seharusnya abang berpikir , kalau benar aku hamil, abang harus lebih giat lagi cari kerjanya , jangan bermalas - malasan terus, malu sama ibu dan bapak." tegas Hayati yang sudah kesal dengan tingkah suaminya itu.
" Ingat ya bang, di luar ada ibu ku, kalau kamu berani macam - macam sama aku, aku gak akan segan- segan berteriak ." ancam Hayati.
" Oh, sudah berani ya sekarang kamu, mentang - mentang ada ibumu ,,!!" ucap Bambang geram.
" Dengar ya bang... kemarin- kemarin aku mengalah sama kamu ,karena aku masih menghormatimu, tapi sekarang ,aku gak akan diam saja kalau kau berani menyakitiku lagi, karena aku yakin aku sedang mengandung anakmu, dan aku akan melindungi anakku dari seorang ayah sepertimu,, !!" ancam Hayati, sekarang ia memiliki keberanian , setelah yakin kalau dirinya sedang mengandung.
" Baiklah ,aku akan pergi sendiri ...!" kata Hayati sambil pergi meninggalkan suaminya yang masih bengong.
Bambang tidak percaya dengan apa yang dia lihat dan dengar barusan, seorang Hayati berani mengancam ku? Hayati yang polos ,yang lembut, ternyata dia bisa marah juga.
" Bagaimana Bambang mau mengantarmu nak, ? " tanya Fatimah setelah melihat Hayati keluar dari kamarnya.
" Tidak ,mak .Dia tidak mau mengantar Hayati, apa mak mau mengantar Hayati ? " tanya Hayati pilu.
" Keterlaluan sekali suamimu itu, baiklah ayo kita pergi sekarang." jawab Fatimah kesal.
" iya mak,"
Akhirnya mereka pergi ke dokter berdua, meninggalkan Bambang yang masih kesal terhadap Hayati.
"Seandainya tidak ada mak Fatimah sudah ku kasih pelajaran wanita kurang ajar itu,," ucap Bambang pada dirinya sendiri.
Sesampainya di ruang pemeriksaan , Hayati di minta untuk mengambil air seni nya, untuk di tes.
Dokter kemudian memberitahu hasil tes itu.
" Selamat ya, bu. Hasilnya Positif, saat ini ibu sedang mengandung ,usia kandungan ibu memasuki bulan ke dua,," ucap dokter cantik itu dengan tersenyum ramah.
" Alhamdulillah..!" ucap Hayati dan Fatimah hampir bersamaan.
" Maaf bu dokter boleh saya bertanya?" ucap Hayati .
" Boleh, silahkan !"
" Saya kerja , apa tidak masalah bagi kandungan saya dok?" tanya Hayati penasaran.
" Boleh - boleh saja, asal jangan kerja yang berat- berat, jangan terlalu capek dan jangan stress, usahakan ibu cukup waktu untuk istirahat,makan makanan bergizi." jelas dokter .
" Baik, bu dokter .Terima- kasih banyak ,," ucap Hayati sambil berjabat tangan dengan dokter cantik itu.
" Sama- sama ."
Mereka pun sampai di rumah.
"Alhamdulillah ,nak. Sekarang kamu sedang mengandung, ingat ucapan dokter tadi , jangan stress , jaga kesehatanmu !" ujar Fatimah sambil mengelus perut Hayati.
" Iya, mak."
" Kapan mertuamu pulang ? "
" Mungkin sebentar lagi mak, tadi sih katanya cuma mau cek up bapak ke rumah sakit, mungkin mampir ke tempat saudaranya ."
"Ya sudah, kalau begitu emak pulang dulu yah, udah sore .Nanti kalau kamu libur, emak datang lagi." pamit mak Fatimah ,setelah memeluk sayang putrinya itu.
"Hati - hati ,mak !"
Bambang sudah menunggunya dengan tangan di silangkan di dada.
"Bagaimana hasilnya ?" tanya nya penasaran.
" Alhamdulillah, aku hamil bang ,,!"
Bambang terperangah mendengar penuturan Hayati, rasanya ia belum siap punya anak, dengan keadaannya saat ini.
" Ah, semuanya membuatku gila ,," ucap Bambang sambil ******* - ***** kepalanya.
" Bang, aku mohon sama kamu,sebentar lagi kita akan punya anak, aku minta kamu harus bisa memperbaiki diri kamu , jadilah suami dan ayah yang bertanggung jawab, suami yang sayang pada anak istri serta keluarga. Jadilah imam yang baik untukku, aku mohon bang. !" ucap Hayati lirih .
Tanpa sadar, Bambang pun meneteskan air matanya, tersentuh oleh perkataan Hayati .
"Maaf kan aku Hayati, aku benar - benar tidak sanggup menghadapi ini semua, aku benar - benar terpuruk, aku takut anak kita tidak tercukupi kebutuhannya ,karena kondisi keuangan kita. " ujar Bambang pilu .
" Hayati senang dengan kehamilanku ini abang sadar, semoga kedepannya abang bisa berubah menjadi lebih baik lagi."
" Lalu apa kamu akan berhenti bekerja ? "
" Tidak bang, kalau aku berhenti ,dari mana untuk sehari - hari kita ?Di perusahaan ada kebijakan boleh bekerja walaupun sedang mengandung, menjelang persalinan di kasih cuti selama 3 bulan. Begitu yang ku dengar ." jelas Hayati .
" Baiklah terserah kamu,nanti setelah aku dapat kerjaan , kamu tidak perlu bekerja lagi ." ucap Bambang .
Tapi hari itu tidak kunjung tiba,sampai usia kandungan Hayati 7 bulan, Bambang belum juga bekerja, terpaksa Hayati kerja banting tulang untuk menghidupi suami dan seluruh keluarganya ,
masih untung mertuanya masih memiliki beberapa petak sawah, jadi mereka tidak perlu membeli beras, hanya untuk makan mereka berlima .Dan terkadang Rosidah pun suka meminta beras saat musim panen tiba.
***
Sore itu hujan sangat deras, Hayati yang sedang menunggu jemputan suaminya, sedikit kesal, karena Bambang selalu saja telat menjemputnya, kadang Hayati harus menunggu berjam- jam sampai suaminya itu datang.
Hingga sebuah pesan masuk ke ponselnya. " Hujan deras sekali, sebaiknya kamu naik angkutan umum saja dari pabrik, nanti abang jemput di depan jalan raya. " pesan dari Bambang .
"Ah, selalu begitu." rutuk Hayati kesal.
Bambang memang tidak pernah mau berubah, masih pemalas. Hayati pikir ia akan benar - benar berubah ,tapi nyatanya suaminya itu masih saja egois, tidak memikirkan dirinya sama sekali.
Terkadang Hayati berpikir, kenapa nasibnya seperti ini? dari kecil ia hidup susah. Yah, karena hidup tanpa sosok ayah yang menjadi tulang punggung keluarga itu sangatlah sulit, saat itu ia dan Fatimah berjuang keras untuk bertahan hidup.
Sekarang pun demikian, ia harus tetap berjuang untuk hidupnya juga calon anak nya. Hayati Menjadi "tulang punggung " yang seharusnya gelar itu untuk seorang suami .Kini ia menyandang gelar itu.
Sungguh miris nasibnya, di saat ibu muda lain sedang menikmati masa kehamilannya, ia masih harus banting tulang untuk bertahan hidup dari kerasnya dunia.
"Seandainya bapak masih hidup, mungkin nasibku tidak akan sepahit ini. " rintih Hayati ,menangis tanpa suara, diiringi derasnya hujan .Langit pun menangis menyaksikan kepedihan yang di rasakan Hayati.
Tanpa sadar hujan pun reda, Hayati segera bangkit dari duduknya, ia berjalan perlahan ke pinggir jalan menyetop angkot lewat, tapi semua angkot penuh karena memang ,ini waktu pulang para karyawan ,Hayati yang berjalan lambat selalu tidak kebagian tempat duduk .
" Hayati ..!" tiba - tiba seseorang memanggilnya.
" Bang Bima ?!" ucap Hayati saat melihat sebuah motor NMax berhenti tepat di depannya.
" Kamu sedang apa di sini?" tanya Bima khawatir.
" Aku habis pulang kerja bang, ini lagi nunggu angkot." jawab Hayati lembut .
" Apa ? kerja ?!" Bima terkejut dengan pengakuan Hayati , terlebih lagi saat melihat perut Hayati yang membesar ,ia yakin Hayati sedang mengandung .
" Bagaimana mungkin, kamu lagi hamil kan ?" tanya Bambang.
Hayati hanya tertunduk pilu .
"Ayo kita duduk dulu di warung itu,,!" ajak Bima.
Hayati pun mengikuti Bima, mereka memesan minuman hangat.
Bima semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada Hayati.
" Ceritakan padaku apa yang terjadi padamu ,Hayati ?" ucap Bima penasaran, yang ia tahu Hayati menikah dengan orang kaya, tapi kenapa ia seperti ini, harus bekerja saat tengah hamil besar .
" Tidak apa- apa bang, suamiku sedang tidak bekerja , sebelum ia mendapat pekerjaan baru, aku yang bekerja untuk sementara." ucap Hayati ,menyembunyikan fakta .
" Tapi walaupun begitu ,kenapa suamimu begitu tega membiarkanmu bekerja saat hamil tua gini.Apa tidak ada cara lain ?" tanya Bima geram, ia tidak terima wanita yang di cintainya hidup menderita, dulu ia menyerah,karena ia pikir Hayati sudah bahagia dengan suaminya. Tapi kini ia tidak rela Hayati di sia - sia kan oleh laki - laki bernama Bambang itu .
Hayati tidak bisa menjawab,ia merasa malu jika harus menceritakan keadaan yang sebenarnya pada Bima,
karena mereka dulu sangat dekat, Bima selalu ada untuk Hayati, saat Hayati tengah dalam masalah apapun Bima selalu membantu dirinya dan ibunya.Bima dan ibunya sangat baik kepada Hayati dan Fatimah, bahkan Hayati dan Bima tumbuh bersama dalam lingkungan itu. Hanya saja Bima tidak pernah mengungkapkan perasaannya kepada Hayati, meski hatinya benar - benar tulus mencintai Hayati.
" Hayati, apa kamu bahagia dengan pernikahanmu ?" tanya Bima, ia tidak menyia- nyiakan kesempatan untuk berbicara dengan Hayati, karena selama Hayati menikah, Bima sudah jarang bertemu Hayati lagi , apalagi mengobrol.
Hayati masih tetap diam, bibirnya terasa kelu ,untuk menjawab semua pertanyaan Bima,
Bima paham, dengan diamnya Hayati, ia bisa menebak kalau pernikahan mereka tidak bahagia.
" Baiklah Hayati, aku tidak akan memaksamu untuk bicara, tapi aku minta sama kamu, kalau kamu perlu bantuanku ,jangan segan - segan untuk menghubungiku,,!" pinta Bima sambil menyerahkan kartu namanya.
Hayati hanya mengangguk lalu kembali melihat ke arah lain, mencoba menyembunyikan kesedihannya .
" Ayo abang antar kamu pulang ,,!" seru Bima .
" Iya ,bang terima - kasih."
" Abang habis darimana ?" tanya Hayati yang terlihat canggung di depan Bima, dulu mereka begitu akrab, tapi sekarang semua tak sama lagi , setelah Hayati menikah, ia harus menjaga jarak dengan Bima, saat ini ia menerima tawaran Bima untuk mengantarnya pulang karena ia takut kemalaman tidak ada angkutan umum lagi. Dalam hati ia was - was ,takut suaminya tak terima ,dirinya di antar pulang oleh laki - laki lain. 'Tapi, masa bodo ah, siapa suruh dia gak mau jemput aku ,' batin Hayati.
"Pegangan lah Hayati, nanti kalau jatuh gimana ?!" seru Bima.
" Tapi bang,, "
Hayati pun menurut, ia berpegangan pada jaket kulit Bima .
Bima yang tidak pernah menyangka akan bertemu dengan wanita pujaannya itu, bahkan saat ini ia begitu dekat dengannya .
'Ah, andai saja waktu bisa di putar kembali ' batin Bima pilu.
Sepanjang perjalanan mereka hanya membisu.
Hembusan angin menusuk kalbu,menciptakan ruang rindu.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments