" Tidak mak,abang tidak pernah melarang Hayati menemui emak, hanya saja akhir- akhir ini abang kurang enak badan mak." tutur Hayati,menyembunyikan fakta sebenarnya, ia tak mau ibunya sedih kalau ia menceritakan yang sebenarnya.Biarlah cukup ia yang merasakan penderitaan ini,ibunya sudah tua, ia takut kalau banyak pikiran nanti ibunya jatuh sakit.
" Oh ,ya sudah tidak apa - apa nak, kewajibanmu mengurus suami dengan baik, emak senang kamu sudah dewasa sekarang,bisa melaksanakan tanggung jawab seorang istri dengan baik.Emak bersyukur kamu memiliki suami seperti nak Bambang yang sangat baik." tutur Fatimah penuh semangat.
Mendengar ucapan ibunya itu,hati Hayati seperti di sayat sembilu, perih rasanya jika membayangkan perlakuan suami dan ibu mertuanya terhadapnya.Tapi ia harus kuat,ia tidak boleh terlihat sedih di depan ibunya.
" Iya mak Alhamdulillah, doakan terus Hayati ya mak, supaya Hayati selalu di beri kemudahan oleh Allah untuk menjalani rumah tangga ini." pinta Hayati sambil memeluk ibunya.
" Aamiin...emak selalu mendoakan mu nak." ucap Fatimah sambil mengelus rambut putri semata wayangnya.
" Dimana suamimu ,Hayati ?" tanya Fatimah .
" Mm...itu mak abang sedang keluar ,mungkin sebentar lagi pulang. " jawab Hayati berbohong, ia tidak mau Fatimah sampai tau bahwa suaminya kerjaannya hanya tidur saja ,tanpa melakukan apapun.
" Ya sudah, emak pamit dulu.Ini jangan lupa di makan kue wajit nya,terus bagi - bagi ke yang lain ya,emak minta maaf tidak membawa sesuatu yang lebih." ucap Fatimah berpamitan .
" Iya mak, terimakasih kue buatan emak selalu paling enak." ucap Hayati memuji semua buatan emaknya memang lezat karena Fatimah sangat pandai memasak maupun bikin kue.
Lalu mereka pun berpelukan ,rasanya Hayati ingin ikut pulang bersama ibunya,menjalani hari - hari seperti dulu, penuh suka cita tidak pernah sedikit pun Hayati merasakan kesedihan selama bersama Fatimah, karena Fatimah selalu berusaha membahagiakan Hayati meskipun hidup mereka jauh dari kata cukup,tapi mereka selalu bersyukur dengan apa yang mereka miliki,itulah yang membuat mereka selalu bahagia.
Tapi sekarang,saat ia telah menikah,semuanya berbanding terbalik.
Bayangannya, bisa menjalani kehidupan rumah tangga yang bahagia pupus sudah.
Saat suami yang di kira mampu menjadi imam yang baik ,ternyata hanya seorang pria pemalas dengan watak tempramental.
Siapa sangka dulu laki- laki itu begitu manis,dan bersahaja, sehingga Hayati terpikat dan jatuh kedalam janji manisnya.
' Ah, sudahlah.Ini sudah jadi takdirku,aku harus sabar menjalaninya,mungkin di balik ini semua Allah sedang merencanakan sesuatu yang lebih indah untukku. Aamiin.' batin Hayati .
\*\*\*
" Pak guru !" teriak seorang anak memanggil gurunya.
"Ya, ada apa Yudi ?" tanya Bima pada anak yang bernama Yudi itu.
" Bapak di panggil kepala sekolah keruangan nya." jawab anak itu.
" Oh, iya baiklah, terimakasih Yudi !" ucap Bima.
" Sama - sama pak." lalu anak itu pun berlari meninggalkan Bima yang tengah termenung.
' Ada apa ya ,kepala sekolah memanggilku.' ucap Bima dalam hati.
" Permisi Pak !" ucap Bima sambil melangkah masuk kedalam ruang Kepala Sekolah .
" Ya, silahkan duduk pak Bima !" perintah kepala sekolah .
" Begini pak Bima , ada yang ingin saya sampaikan kepada anda, ini tentang keluhan orang tua murid." jelas Kepala Sekolah.
" Ada apa ya, Pak ?" tanya Bima sedikit terkejut.
" Begini, orang tua murid mendapatkan laporan dari anak - anak mereka ,katanya saat mengajar anda tidak fokus,terkadang anda juga salah memberi nilai.Dan juga akhir - akhir ini anda jarang masuk untuk mengajar pak. Bisa anda jelaskan kepada saya ?" tanya Kepala Sekolah.
Bima termenung mendengar penuturan Kepala Sekolah,ia sadar bahwa akhir-akhir ini ia lalai sebagai seorang guru.
" Saya benar - benar minta maaf pak, akhir - akhir ini saya kurang sehat pak, sekali lagi saya mohon maaf ! " ucap Bima menyesal.
" Baiklah pak Bima,kalau anda memang sedang tidak sehat sebaiknya anda istirahat saja di rumah ,untuk sementara biar bu Ina yang mengajar di kelas anda." ucap Kepala Sekolah .
" Terima kasih pak.Sekali lagi saya mohon maaf..!" ucap Bima sembari menjabat tangan Kepala Sekolah.
" Saya permisi pak." pamit Bima.
" Silahkan." jawab Kepala Sekolah. Ia heran melihat Bima yang banyak berubah ,tidak seperti dulu lagi, bahkan sekarang pakaian nya pun sedikit berantakan, dulu ia di kenal sangat rapi dan berwibawa.
'entah apa yang terjadi padanya.' pikir Kepala Sekolah.
Dengan gontai Bima melangkahkan kakinya menuju parkiran motor miliknya, sayup - sayup ia dengar suara perempuan memanggilnya.
" Pak Bima..!" teriak seorang wanita .
Bima menoleh ke arah suara yang semakin mendekat .
" Bu ina !" ucap Bima. Melihat wanita yang kini berada tepat di depannya.
" Tunggu sebentar pak Bima, bisa kita bicara sebentar ?" tanya Ina .
" Ada apa ya bu ?"tanya Bima keheranan.
" Bisa kita duduk dulu di sana?" ajak Ina sambil menunjuk tempat duduk yang ada di bawah pohon di samping parkiran.
" Baiklah bu." jawab Bima singkat.
Mereka pun duduk saling berhadapan .Ina memperhatikan Bima dari ujung kepala sampai kaki.Ia terlihat sedih dengan kondisi Bima saat ini.
"Karena kita hanya berdua saja ,bolehkah saya memanggilmu Bima saja? " tanya Ina memulai pembicaraan.
" Iya silahkan ,terserah bu Ina." jawab Bima tak bersemangat.
" Panggil Ina saja ya !" pinta Ina.
" Iya Ina , ada apa ?"tanya Bima lesu.
"Bima ,kamu kenapa ,apa kamu ada masalah ? " tanya Ina .
" Enggak ." jawan Bima singkat.
" Tolong jujur sama aku, kamu kenapa , sekarang kamu berubah Bim, kami terlihat kacau, kamu jarang masuk, dan lagi penampilanmu tidak seperti biasanya." tanya Ina penasaran.
Bima hanya diam saja mendapat pertanyaan bertubi - tubi dari Ina .
" Bima, bicaralah. Kita kenal sudah lama ,sejak masa kuliah dulu kita selalu sama - sama ,aku tidak percaya kamu bilang tidak ada apa - apa ,melihat begitu banyak perubahan pada dirimu.Aku tidak bisa diam saja melihat kamu seperti hancur seperti itu." Tutur Ina panjang lebar, berharap Bima mau bercerita kepadanya tentang yang terjadi pada dirinya .
" Aku hanya sedang tidak enak badan, kamu tidak perlu cemas." jawab Bima
" Tidak mungkin, kamu bohong .Kamu tidak percaya padaku kan? " tanya Ina lagi.
"Bima, kamu tahu, aku sayang sama kamu ,sejak kita sama - sama kuliah dulu, aku sudah menyukai kamu." ucap Ina mengungkapkan isi hatinya yang selama ini ia pendam.
Ia berharap Bima juga memiliki perasaan terhadapnya,selama ini ia selalu menunggu Bima menyatakan perasaannya, tapi hari itu tak kunjung tiba.
Hingga akhirnya Ina duluan yang menyatakan tentang perasaannya pada Bima.
Memang sedikit memalukan,wanita menyatakan duluan perasaannya, tapi mau bagaimana lagi melihat kondisi Bima yang seperti itu, ingin sekali Ina berada di sampingnya .
Bima yang mendengar pengakuan cinta Ina sedikit terkejut, ia tidak tau kalau selama ini Ina mencintainya.
" Apa yang kau katakan Ina ?" ucap Bima bingung.
" Ya, Bima aku mencintaimu, sangat mencintaimu, dari dulu Bim, saat kita kuliah sama - sama. Bahkan sampai saat ini.Perasaanku tidak pernah berubah.Aku melakukan segala cara agar aku bisa di tugas kan di sekolah ini bersamamu." ucap Ina sambil meneteskan air mata,ia tak sanggup menahan perasaannya.
" Ina ..." ucap Bima menatap Ina dengan seksama.
" Maafkan aku Ina, sudah ada gadis lain di hatiku." ucap Bima berterus terang.
Ia tidak ingin membohongi hatinya, mau pun Ina, walaupun ia sadar betul bahwa gadis yang di cintai nya sudah jadi milik orang lain.
" Apa ??" Ucap Ina terkejut dengan pengakuan Bima begitu terus terang.
Hati wanita mana yang tak perih mengetahui laki- laki yang di cintainya ,mencintai wanita lain.
Ina tak kuat lagi membendung air matanya,akhirnya cairan bening itu mengalir di pipinya .
sambil menarik napas Ina berusaha untuk kuat dan melanjutkan pembicaraan itu.
" Siapa gadis itu, Bima ? " tanya Ina sambil menahan isak tangisnya.
Bima hanya diam saja ,dia tidak ada niat untuk memberi tahu siapapun tentang gadis itu, ia takut itu akan akan jadi masalah kedepannya.
" Sudahlah Ina ,kamu tidak perlu tahu siapa dia. " ucap Bima singkat.
" Tapi Bim, aku mohon cerita padaku apa yang terjadi padamu? apa gadis yang kau cintai itu yang membuatmu seperti ini ? " tanya Ina penuh keyakinan.
Bima termenung sejenak,dalam hati ia membenarkan ucapan Ina.
" Bima kalau kamu mencintai gadis itu, kenapa kamu jadi seperti ini, seharusnya kamu bahagia , apa gadis itu menolak cintamu ? " tanya Ina lagi.
Bima menggeleng, tanpa sadar Bima meneteskan air mata.
" Dia sudah menjadi milik orang lain ." ucap Bima sedih.
Ina terkejut dengan pengakuan Bima,dia merasa kasihan pada Bima, tapi di sisi lain dia bahagia karena gadis yang di cintai Bima sudah menikah dengan laki - laki lain.
Itu berarti kesempatan Ina untuk mendapatkan Bima masih ada .
Dalam hati ia bersyukur.
Dan bertekad untuk mendapatkan laki - laki yang selama ini ia cintai itu.
" Bima, aku turut bersedih, ternyata itu yang membuatmu jadi seperti ini ?" tanya Ina pura - pura peduli.
Lalu Ina mengusap tangan Bima, mencoba menguatkan laki- laki itu.
" Yang sabar ya Bim, aku yakin ada hikmah dibalik semua ini." ucap Ina.
" Gadis itu kini tengah berbahagia dengan suaminya, kamu tidak boleh terpuruk terlalu lama, seharusnya kamu ikut bahagia melihat gadis yang kau cintai bahagia.
Bukannya cinta tidak harus memiliki ? mungkin dia bukan jodohmu Bima.
Bangkitlah ,tataplah masa depanmu, mau sampai kapan kamu seperti ini ? apa kamu tidak kasihan pada anak didik mu ? mereka sangat merindukan guru mereka yang bersahaja ,baik hati dan selalu ceria.
Percayalah padaku ,kau juga layak bahagia, dan aku akan selalu ada di sampingmu Bima." ucap Ina panjang lebar, memberi pengertian kepada Bima.
Sesaat Bima mencerna semua ucapan Ina, ia mulai sadar bahwa selama ini ia terlalu terbawa perasaan .Perasaan cinta yang begitu besar terhadap seorang gadis yang tak mungkin ia miliki.
" Iya , Ina terima kasih kamu sudah mau mengerti, maafkan aku saat ini aku belum bisa membuka hatiku untuk wanita lain." ucap Bima pilu.
" Iya , Bim...tidak apa - apa, kamu tidak usah memikirkan ucapanku tadi , hanya satu yang perlu kamu tahu, aku akan selalu mencintaimu,
dan aku akan menunggu sampai hatimu terbuka untukku." ungkap Ina penuh harapan.
Mereka pun saling melempar senyum.
Entah kenapa perasaan Ina terhadap Bima semakin besar setelah tau apa yang di alami Bima,ia semakin bertekad untuk mendapatkan Bima.
' Selama ini aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan, bahkan aku melakukan segala cara agar aku selalu dekat denganmu.' batin Ina.
\*\*\*
Pagi itu di rumah keluarga Bambang.
" Pak..pak ! " teriak Komala dari dalam kamarnya.
" Ada apa sih bu, pagi - pagi teriak - teriak ?" tanya pak Ahmad sambil mendatangi istrinya.
" Pak , gelang ibu gak ada !" ucap Komala panik.
" Emang ibu taruh di mana?" tanya suaminya.
" Ya di sinilah ,di tempat biasa ibu simpan, ini gak ada ,ibu sudah cari kemana - mana ,tetap gak ketemu !" jelas bu Komala.
" Biar bapak bantu cari, pasti ketemu." ucap pak Ahmad menenangkan istrinya.
Setelah berjam- jam mencari tapi tak kunjung di temukan.
" Bagaimana ini pak, itu perhiasan ibu satu - satunya, hilang. Sekarang ibu tidak punya perhiasan lagi " isak Komala .
" Sabar bu, mungkin jatuh di jalan, kapan terakhir kali ibu memakainya?" tanya pak Ahmad.
" Kemarin waktu ke undangan pernikahan saudara kita ibu masih memakainya, malamnya ibu taruh di sini ." jelas Komala .
" Ya sudah kita cari di ruangan lain mungkin jatuh." ajak pak Ahmad .
Mereka pun mencari di seluruh sudut rumah, tak terkecuali dapur tempat saat ini Hayati memasak.
" Hayati..apa kamu lihat gelang emas ibu ?" tanya Komala ketus.
" Tidak ,bu ..memangnya gelang emas ibu kemana? tanya Hayati.
" Gelang ibu hilang..!!" teriak Komala.
" Ko bisa hilang bu ?" tanya Hayati lagi.
" Pasti ada yang ngambil..!" jawab Komala sinis .
" Siapa bu..? " tanya Hayati lagi.
"Kalo ibu tau, ibu sudah menyeretnya ke kantor polisi..!"
jawab Komala sambil menatap tajam pada Hayati.
" Biar Hayati bantu cari bu..!" ucap Hayati lalu mematikan kompor yang masih menyala.
"Hayati....!!" teriak Bambang .
" Dimana kamu..?" Bambang mencari Hayati ke dapur .
" Iya ,bang..." jawab Hayati.
" Aku lapar , cepat siapkan makanan..!" perintah Bambang ketus.
" Baik, bang. Sebentar aku sedang mencari gelang ibu yang hilang." ucap Hayati.
" Apa ? gelang ibu hilang? " tanya Bambang kaget.
" Iya ,bang." jawab Hayati.
" Bang, gelang emas ibu ada yang ngambil ." isak ibunya
" Ibu ada - ada aja deh ,emas pake di hilangin segala.Harusnya tuh di jual biar jadi duit ..!" ucap Bambang .
" Kamu jangan asal ngomong ya, siapa juga yang sengaja ngilangin." jelas ibunya kesal.
" Ibu yakin pasti ada yang mengambilnya ..!" ucap bu Komala melirik ke arah Hayati .
" Sudah - sudah jangan berpikir buruk dulu, siapa tau nanti ketemu."jawab pak Ahmad.
" Bagaimana ini pak, kenapa cobaan terus - terusan datang di keluarga kita, pertama semua harta kita di ambil mbak Arini, sekarang gelas emas ibu satu -satunya hilang.
Sekarang kita benar- benar miskin pak..!" isak Komala.
" Sudahlah bu, dari dulu kita memang tidak punya apa - apa, semuanya harta titipan milik adikku Gilang." ucap pak Ahmad.
Hayati terkejut mendengar fakta itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments