"sayang, kamu mau melahirkan? Apa sudah waktunya? Sudah terasa?"
Maya lari menghampiri Aurora. Dia langsung berlutut di depan Aurora. Dia membuka dress Aurora.
"Sayang."
"Semuanya gara-gara kamu. Aku benci sama kamu!"
Gabriel juga dengan cepat mendekati Aurora. Tapi dia malah didorong oleh Aurora, dia tak mau dekat dengan Gabriel.
"Aurora, kamu butuh Gabriel sekarang. Kesampingkan masalah kalian dulu. Bayinya sudah mau keluar. Kamu sudah merasakan kepalanya kan. Kepalanya sudah diujung kamu kan?"
Maya mencoba melepaskan pakaian dalam Aurora. Dia mencoba memeriksanya.
"Tuan, duduk di belakang nona sekarang. Jadi sandaran untuk nona."
"Kita tidak ke kastil saja Tante. Supaya Aurora bisa melahirkan di istana saja Tante. Aku bisa membawanya dengan cepat."
Maya mengangguk. Lebih baik memang di istana. Takut ada apa-apa. Gabriel baru mau menggendong Aurora. Baru mau mengangkat dia. Tapi Auroranya menolak.
"Tante gak tahan. Mau keluar kepalanya. Ehhh."
Aurora menepis tangan Gabriel. Dia malah mengedan dengan susah payah. Gabriel panik.
"Ini mau keluar tante. Gak tahan, gak bisa. Jangan gerak dulu. Emmm.. keluar Tante kepalanya Tante. Sakit, panas Tante bawah aku."
Maya langsung meminta gabriel untuk kembali duduk di belakang Aurora. Dia pun menjadi sandaran Aurora.
"Pegangan tangan atau lengan gabriel sayang kalau kamu butuh pegangannya."
Maya memerintahkan Aurora. Aurora hanya mengangguk sambil mengedan. Dia memegangi lengan Gabriel dengan erat. Bahkan kukunya sampai mencakar lengan Gabriel. Itu tak seberapa untuk Gabriel. Dia membuatkannya.
"Euhhhh."
Aurora mengejan dengan sepenuh tenaganya. Sampai nafasnya tersengal, hampir habis. Bayi pertamanya keluar. Itu seorang bayi laki-laki. Dia menangis dengan lantang.
"Anak pertama kalian laki-laki. Selamat yang mulia rasa dan ratu."
Maya menaruh bayinya didada Aurora. Aurora senang sekali melihat bayinya yang berbentuk manusia. Gabriel meminta pengawal untuk memanggil para penjaga wanita, untuk membawa baku dan handuk bayi, dengan cepat mereka datang. Bahkan ada tetua juga yang kesana.
"Tante, euuhh euuhh... Sakit lagi Tante. Mau keluar lagi Tante."
Baru Aurora mau mencium bayinya. Tapi dia sudah mendapatkan rasa ingin mendorong lagi. Tante Maya memberikan bayinya kepada penjaga wanita disana. Bayinya dibersihkan dan dibaluti dengan handuk.
"Huhu, euhhhh."
Tanpa diberi aba-aba dari Tante Maya, Aurora sendiri sudah mengejan karena tak bisa dia tahan. Tapi kali ini bayinya tak mau keluar. Setiap kali aurora mengejang dan berhenti, kepala bayinya masuk lagi.
"Sepertinya kepala dia lebih besar. Kita lakukan perlahan ya sayang."
Tante maya memberitahu Aurora. Dia mengusap perut aurora. Aurora mengangguk. Aurora sampai menangis karena ini.
"Tante, yang ini tidak bisa. Kenapa kepalanya masuk lagi setiap aku berhenti mengejan Tante. Sakit Tante. Capek, gak kuat."
"Sayang, jangan seperti itu. Aku janji, setelah ini kamu bisa Kembali ke dunia manusia kamu. Kamu bebas. Plis, bertahan."
"Janji ya?"
"Iya."
"Tapi ini gak bisa. Gak mau keluar anak anda yang mulia raja."
Aurora menggeleng. Tak ada kontraksi lagi dan ketika dia mengejan pun tak juga keluar kepalanya.
"Mau coba berdiri atau mungkin dia mau lahir di istana? Mau kesana?"
"Iya coba ya sayang?"
Tanya Maya dan juga Gabriel mencoba membujuk Aurora. Dia mengangguk. Dia tak merasakan bayinya mau keluar. Jadi mungkin bisa ke istana.
Mereka bersiap ke istana. Gabriel menggendong ke istana. Dengan kekuatan dia. Tapi aurora meminta gabriel berhenti.
"Tuan, berhenti. Mau keluar kepalanya tiba-tiba. Euhhhhh..."
Gabriel panik. Aurora masih ada di gendongan dia. Tapi dia sudah mengejan. Mereka sampai di Padang bunga. Aurora terpaksa diturunkan disana. Dia memilih untuk berdiri. Dia melahirkan disana.
"Euhhhh... Tante... Euhhhh..."
Aurora berhadapan dengan gabriel. Tangan Aurora melingkar di leher Gabriel. Gabriel membantu memegangi badan Aurora agar tidak jatuh. Ketika Aurora menunduk ke bawah, membuka kakinya lebar, supaya bayinya cepat keluar, gabriel ikut menunduk ke bawah. Bersamaan dengan Aurora yang mengejan.
"Lagi sayang. Kepalanya sudah diujung."
"Euhhhhh..."
Aurora mengangguk. Dia mengejan panjang. Beberapa kali. Sampai bayi keduanya lahir.
"Laki-laki lagi."
Maya memperlihatkan kepada keduanya. Aurora menggendongnya dan menempelnya kedada. Gabriel berganti berdiri di belakang Aurora. Dia menjaga Aurora dari belakang.
Aurora senang sekali. Bayinya sehat-sehat. Dia memberikannya kepada Tante Maya. Tante Maya memberikannya kepada pelayan wanita yang juga perawatan di sana.
"Yang terakhir, apa sudah ingin keluar?"
"Tidak ada rasa apa pun Tante. Apa ini baik-baik saja?"
"Mungkin dia ingin memberikan waktu istirahat untuk mamanya. Mau ke istana saja dulu. Sambil menunggu?"
"Iya."
"Yakin mau ke istana, nanti tiba-tiba mau ngejan lagi?"
Gabriel yang ragu kali ini. Tapi Aurora malah memukul Gabriel dengan kesal. Kan dia yang mau melahirkan dan merasakannya. Dia pasti tahu.
"Cepat tuan. Dikira saya tidak capek berdiri seperti ini. Saya mau berbaring di tempat yang enak tuan."
Gabriel pun akhirnya menggendong Aurora lagi. Mereka dengan cepat menuju ke istana. Benar saja, sampai istana Aurora masih belum merasakan kontraksi.
Bahkan sampai dua bayinya sudah dibersihkan, dimandikan dan juga dipakaikan baju. Sampai Aurora juga sudah mandi dan mengganti bajunya yang cantik dan tidak kotor.
"Tante, kok belum ada kontraksi lagi? Apa bayinya baik-baik saja?"
"Iya. Tenang saja, mereka, bayi-bayi werewolf itu kuat-kuat. Mau coba dipancing kontraksinya?"
Aurora tak tahu caranya. Maya memberikan bayinya. Bayinya menyusu kepada Aurora. Tak lama kontraksinya datang.
"Tante, Tante. Mauu eughhhhh."
Aurora tak sengaja mengejan. Maya mengambil bayinya yang menyusu kepada aurora. Dia memberikannya kepada sang pelayan. Maya kembali fokus melihat kebawah Aurora.
Kali ini dia melahirkan di ranjang yang nyaman dan di ruangan yang bagus. Tinggal satu bayi perempuan mereka. Gabriel di samping Aurora. Dia kembali duduk di belakang aurora.
"Tante, euuhh mau keluar Tante kepalanya. Aku merasakannya Tante."
"Iya sayang. Pelan-pelan. Atur nafas, ini yang terakhir."
Aurora mengejan panjang. Bayi perempuan yang sangat cantik dan mungil keluar cukup mudah. Dia menangis dengan suara kecilnya.
"Cantik seperti mamanya."
Maya memberikan bayinya kepelukan Aurora. Aurora mengusap dan mencium anak ketiganya yang kini ada di dada dia.
"Makasih sayang."
Gabriel mencium kening Aurora. Aurora tersenyum. Bayinya kembali di bersihkan. Aurora juga kembali dibersihkan. Mengganti bajunya.
"Aku mau pulang, ke dunia manusia aku. Anda sudah janji kan yang mulia raja?"
Aurora tiba-tiba meminta seperti itu. Gabriel kaget mendengar itu. Apa dia tega meninggalkan bayinya. Anak-anaknya.
"Pasti ada kekuatan untuk memulihkan saya kan dengan cepat. Lakukan sekarang. Saya ingin segera kembali. Anda sudah janji, jadi tepati lah."
"Kalau kamu memilih pergi dari dunia ini, kamu akan kehilangan semua ingatan tentang aku, dan ketiga bayi kita, selama kamu disini, semua ingatannya akan dihapus."
Aurora terdiam. Dia mau jadi manusia biasa saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments