GABRIEL KEMBALI PART 2

Semua tahu soal Gabriel dan gio.  Tapi Aurora sama sekali tak tahu.   Bayinya hanya menendang.  Aurora hanya sedikit kaget dan sedikit terkejut, sakit juga. 

"Kenapa?"

Gabriel sudah panik.  Tapi Aurora menggeleng.  Aurora menaruh tangannya di perut bagian dimana bayinya nanti menendang. 

"Anak kita dua laki-laki dan satu perempuan kan? Pasti yang laki-laki sama tampan dan hebatnya seperti aku.  Sementara yang perempuan pasti cantik dan baik seperti mommynya."

"Kenapa kemarin diam saja ketika di ruangan USG.  Itu menyebalkan.  Bahkan wajah kamu seperti tak senang.  Datar sekali."

"Maaf.  Banyak hal yang aku pikirkan kemarin.  Tapi semuanya sudah selesai sekarang.  Aku akan fokus ke kamu dan anak-anak kita."

Gabriel duduk di samping Aurora.  Dia mengusap perut Aurora.  Aurora tak sengaja menatap Gabriel dan menatap bibirnya. 

"Aku mau cium."

"Hemm?"

Gabriel terkejut mendengar itu.  Aurora juga.  Kenapa bisa mulutnya tiba-tiba mengatakan seperti itu. 

"Tidak jadi."

Aurora yang tadinya melingkarkan tangan ke leher Gabriel langsung membuang muka.  Dia mencoba menghindari Gabriel.  Dia ingat, dia masih ingin hidup sebagai manusia normal. 

"Sana pergi dari sini.  Saya sedang mau sendiri.  Saya mau istirahat.  Capek bawa tiga anak anda."

Aurora mendorong tubuh Gabriel untuk menjauh dari dia.  Gabriel pergi begitu saja.  Karena dia tahu, kalau moodnya Aurora bisa berubah sesuka hatinya.  Sekali tak boleh dekat, dia tak mau didekati. 

"Ok.  Istirahat yang cukup ya sayang.  Kalau ada apa-apa, panggil pelayan di depan."

Aurora tidur miring.  Dia tak mau melihat Gabriel.  Aurora tak menjawab sama sekali.  Padahal dia juga ingin dibujuk dan sedikit dipaksa. 

"Dasar, Daddy kalian tidak romantis sama sekali.  Ahh, menyebalkan."

Aurora mengajak ngobrol anaknya didalam perut.  Terdengar suara Gabriel membuka pintu lalu menutupnya. 

Aurora tidur saja.  Dia juga lelah dan capek bawa tiga anak itu.  Sementara' Gabriel menemui tetua karena Aurora sudah tak butuh dirinya.  Dia juga sedang istirahat. 

"Tuan gio apa benar sudah tiada tuan? Bagaimana ceritanya?"

Gabriel menceritakan semuanya.  Aurora terbangun.  Tidur sebentar capek.  Dia memutuskan untuk keliling sendiri. Dia tak sengaja mendengar semua cerita Gabriel dengan tetua.

"Yang kemarin dengan aku, itu kak gio? Kak gio itu celakain Gabriel? Dia yang..."

Aurora bingung sendiri mendengar cerita lengkapnya. Dia diam saja di depan ruang rapat kerajaan. Dia menguping.

"Jadi kak gio itu cuma pura-pura. Dia mau jebak Gabriel dan mau memakan anak aku? Mereka bertiga?"

"Kemarin Gabriel sempat sekarat, pura-pura meninggal untuk menyelidiki semuanya."

"Yang tidur semalam sama aku, itu kak gio? Yang peluk aku, sebelum hari kemarin itu kak gio?"

"Kenapa dia gak cerita. Dia benar-benar menyebalkan. Ayah kalian, sangat!"

Aurora tak tahan lagi. Dia membuka pintu ruang meeting begitu saja. Gabriel kaget melihat ada Aurora di sana. Sejak kapan dia disana. Gabriel berdiri dan segera mendekati Aurora.

"Sayang, kenapa kesini? Kamu perlu apa? Ada apa? Kamu butuh apa?"

"Kamu gak cerita semuanya ke aku dan kamu cerita ke semua orang. Semua yang ada di istana ini pasti sudah tahu kan. Aku benci dibohongi. Aku lebih benci tahu kebenarannya bukan dari mulut kamu sendiri. Aku kecewa sama kamu. Aku benci banget sama kamu."

"Kalau kita menikah, kamu tidak menceritakan semuanya, untuk apa?"

"Ah iya, lupa. Kamu kan hanya ingin aku melahirkan bayinya. Ahh iya, bagaimana aku bisa lupa."

"Aku tak berarti apa pun kan untuk kamu."

"Bukan begitu, Ra. Aurora."

Aurora kabur. Dia berlari dengan sangat cepat. Ketiga anaknya pasti yang memberikan kekuatan itu. Tapi kenapa, mereka juga kecewa dengan Gabriel kah?

Karena Gabriel tak memberitahu rencana dia dengan telepatinya, dengan mereka. Padahal itu bisa saja dia lakukan. Kalau ketiga anaknya tahu, Aurora juga akan merasa gelisah dan sedih. Dokter Maya bilang itu tak ada baik untuk Aurora.

"Aurora."

Gabriel mencoba untuk mencari dimana dia berada. Tapi ketiga anaknya seperti memblokir jalannya. Gabriel panik sekali.

"Tante, aku tidak bisa menemukan dimana Aurora."

Gabriel bercerita kepada Maya. Maya juga ikut membantu, mungkin saja anak-anak Gabriel mau berkomunikasi dengan dia.

Aurora menangis di pinggir pantai. Dia senang sekali disana. Dia bingung, dia bisa menggunakan alasan ini untuk pergi dari dunia werewolf. Dia senang, tapi maunya dia menunjukkan kepada semua orang, jalan-jalan juga di dunia manusia, normal seperti manusia biasa. Tapi kenapa kebahagiaan dia seperti ini.

Aurora duduk di pasir dan bersila disana. Dia diam saja dan melihat air laut. Sesekali menulis kata apa saja di atas pasir.

Sampai petang dan sampai matahari terbit dia masih ada di sana. Sampai Aurora merasa perutnya sakit.

"Ahh, ini kenapa? Sakit tiba-tiba. Sayang, kalian mau apa? Lapar?"

"Ahh. Tapi, emm."

Aurora yakin dia tak lapar. Tapi rasanya ada yang mau keluar. Aurora mencoba mengatur nafasnya dengan baik.

"Sayang, kalian marah dengan mommy? Karena mommy tak mau dengan kalian di dunia ini?"

"Mama mau dengan kalian, tapi di dunia manusia sayang. Ahh, jangan bikin mama sakit sayang. Mama mohon."

Aurora meluruskan kakinya. Dia membuka kakinya lebar. Satu tangannya mengusap perut besarnya yang memang sudah waktunya masuk trimester terakhir kehamilannya, sudah waktunya juga melahirkan. Tapi harusnya kalau normal dan sesuai hitungan, itu baru besok.

"Hah hah... Huft."

Satu tangan Aurora menyanggah dirinya yang duduk. Dia mencoba mengatur nafasnya. Aurora tak bisa menahannya lagi. Dia butuh bantuan.

Aurora tak henti mengejan. Dia memeriksa bagian bawahnya. Sudah ada benjolan disana. Seperti kepala bayi.

"Sayang, beritahu papa kalian mama disini. Mama tidak mau kalian kenapa-napa. Tante Maya harus membantu kalian keluar."

"Emmm."

Aurora sudah membaca beberapa artikel dan melihat beberapa Vidio melahirkan, ketika dia suntik di kastil sendiri. Untungnya masih ada ponsel. Dia cuti kuliah selama seminggu dan masih bisa melihat sosial media, dan menonton film atau apa pun di hp.

"Huh huh huftt..."

"Eeeeenggg..."

"Sayang, jangan dulu. Tunggu Daddy ok. Panggil Daddy kalian."

Aurora tak tahan lagi. Dia mengizinkan mereka memberitahu keberadaan Aurora.

***

Gabriel dengan pasukan dia, juga Tante Maya sedang keliling mencari Aurora. Gabriel mendapatkan panggilan.

"Tante, di pantai. Kenapa bisa tidak terpikirkan. Aurora senang disana."

"Ok."

Mereka langsung kesana. Dengan kecepatan penuh mereka ke pantai itu. Mereka mencari Aurora di sekitar pantai. Gabriel inget tempat yang Aurora suka. Dia mengajak Tante Maya ke sana.

"Aurora."

Tante Maya yang panik melihat Aurora sudah seperti mau melahirkan. Aurora menolah. Kakinya sudah dia posisikan terbuka lebar.

"Tante sakit. Aku merasakan kepalanya Tante."

Aurora mengulurkan tangannya meminta bantuan kepada Maya. Maya dan Gabriel langsung mendekati Aurora.

Terpopuler

Comments

Yuli Eka Puji R

Yuli Eka Puji R

keren ada sinyal ya berarti jaringannya smp kedunia lain

2023-04-30

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!