RENCANA GIO

Aurora ke kamar dia. Dia ingin tidur segera karena moodnya yang dirusak oleh gio. Gabriel membantu Aurora ke kamar, menggandeng dia naik tangga. Sampai di kamar membantu Aurora berbaring dan menyelimuti dia.

"Tunggu."

Gabriel kita Aurora tak mau satu kamar dengan dia. Tak mau tidur dengan dia. Jadi dia mau pergi. Tapi aurora menahan tangan Gabriel yang mau pergi.

"Ada apa?"

Dia tak jadi pergi. Dia menoleh menatap istrinya itu. Rasanya belum dia cintai, tapi ada perasaan itu sedikit di hatinya. Entah lah. Gabriel hanya mencoba menyayangi dan memperlakukan Aurora dengan baik karena dia hamil tiga anaknya.

"Tidur sini. Mau ditemani tidurnya. Tidak tahu kenapa."

Dia merengek lagi dengan manis. Gabriel tersenyum. Dia juga tak keberatan. Dia pun ikut bertanding di samping Aurora. Aurora langsung miring dan memeluk Gabriel. Aurora tak tahu kenapa. Tapi perasaannya, dia ingin selalu berada di samping gabriel dan memegangi Gabriel saja. Seperti takut dia pergi.

"Jangan ditinggal sebelum aku bangun. Tidak boleh pergi seperti kemarin, tunggu aku bangun dulu baru pergi dari kamar. Kalau belum, jangan. Kalau pergi, aku dan ketiga anak tuan akan marah."

Aurora mendongak menatap Gabriel. Gabriel mengangguk. Dia mengusap perut buncit Aurora.

"Iya, saya janji tidak akan pergi tanya izin kamu dan sebelum kalian bangun besok. Ok?"

"Ok. Janji harus ditepati."

Aurora menunjukkan jari kelingkingnya. Gabriel tahu itu di dunia manusia. Dia pernah melihat beberapa kali. Gabriel pun mengkaitkan jari kelingkingnya ke kelingking Aurora. Aurora tidur dengan memeluk Gabriel.

***

Sementara di banyak kota. Semua werewolf suruhan gio sedang bersiap. Mereka menyerang satu perkampungan. Tepatnya mereka mengincar keluarga Aurora untuk memancing gabriel keluar sendiri. Semalaman mereka melalukan pembantaian.

Gio puas sekali memantau dari jauh. Paginya semua heboh karena ini. Bahkan kastil juga.

"Yang mulia."

Beberapa pengawal datang ke kamar Gabriel. Gabriel tertidur, tapi dia dapat mendengarnya. Gabriel perlahan melepaskan pelukan Aurora yang masih tidur di samping dia. Dia turun dari ranjang perlahan.

"Ada apa?"

Gabriel membuka pintu kamarnya. Pengawal menceritakan semuanya. Ulah anak buah gio dulu. Gabriel baru mau pergi, dia harus turun tangan. Dia menoleh melihat aurora, dia terpaksa melanggar janjinya.

"Mau kemana? Ada apa?"

Aurora terbangun. Dia melihat Gabriel yang mengingkari janjinya. Aurora turun dari ranjang dan mendekati Gabriel.

"Sayang, aku harus keluar sebentar. Tidak apa-apa ya? Kamu lapar? Nanti ada pelayan yang akan menemani kamu makan."

"Tapi aku mau tuanku yang menemani. Tidak mau yang lain."

"Plis, ini keadaan ..."

Gabriel tak mau membuat Aurora khawatir. Dia berhenti mengatakannya.

"Apa? Keadaan apa? Kenapa? Kenapa sampai kamu mau mengingkari janji kamu semalam. Kamu gak boleh pergi."

Aurora menahan tangan Gabriel. Dia memegang tangan Gabriel erat.

"Tapi sayang, aku harus pergi. Maaf ya."

"Kata mereka kamu gak boleh pergi. Plis."

Aurora mengusap perutnya. Gabriel tahu. Tapi sebagai pemimpin dia harus pergi.

"Aku harus pergi sayang."

"Tapi kenapa? Ada apa?"

"Kalau aku ceritakan apa boleh pergi?"

Aurora mengangguk. Bukannya dibolehkan, setelah Gabriel cerita, dia malah melarangnya.

"Gak boleh. Kamu gak boleh pergi. Aku gak mau kamu kenapa-napa dan pergi ke sana. Kan banyak yang lain, tugaskan saja yang lain."

"Gak bisa sayang ini tanggung jawab aku."

"El, sudah dengar beritanya?"

Gio menghampiri Gabriel di kamar. Gio membawa kabar baru, kalau mereka menyerang tanpa henti di satu wilayah.

"Itu rumah om dan Tante juga Chelsea, dekat disana. Mereka bagaimana? Aku mau kesana. Aku gak mau mereka kenapa-napa."

"Kan, kamu juga mau kesana kan. Kamu tunggu disini, aku janji aku akan melindungi mereka."

Gabriel menahan tangan Aurora yang mau pergi begitu saja. Mungkin juga akan melesat kencang tiba-tiba karena anak-anak didalam perutnya ingin membantu sang ibu.

"Tapi."

"Aku janji akan melindungi suami kamu. Saya janji, lebih dari melindungi saya sendiri. Untuk anak-anak El."

"Tapi-"

Aurora masih saja takut. Gabriel terus meyakinkan. Dia akan baik-baik saja. Ada banyak yang menjaga dia. Semua tak akan membiarkan raja mereka terluka.

Aurora pun terpaksa melepaskan Gabriel. Dia meminta Gabriel menunduk. Dia mencium bibir Gabriel juga pipinya.

"Aku gak mau Daddy dari anak-anak aku celaka. Kamu harus pulang dengan selamat dan tidak terluka sedikit pun."

"Ok. Aku janji tidak akan membiarkan mereka melukai diriku. Ya sayang, tunggu Daddy pulang, ok. Jaga mommy selama Daddy pergi."

Gabriel menunduk. Dia mengusap perut Aurora. Dia bahkan mencium perut Aurora. Setelah itu beralih mencium bibir Aurora dan pipinya.

"Daa sayang."

"Cepet El."

Gio melihat sejak tadi. Dia sudah menunggu sejak tadi. Mereka pun berangkat bersama. Aurora menahan tangan gio kali ini.

"Tuan, saya mohon. Jaga suami dan ayah dari anak-anak saya."

"Tentu."

Gio mengangguk. Dia terlihat sangat meyakinkan. Sampai Aurora melepaskan tangan gio. Dia merasa percaya kepada gio. Mereka berlari dengan cepat ke tempat kejadian.

***

Banyak sekali korban disana. Aurora hanya bisa diam dan menunggu kabar dari mereka. Dia sudah ada di ruang makan kastil. Banyak yang menemani Aurora. Tapi dia diam saja dan melamun.

"Yang mulia, yang mulia ratu harus makan."

Beberapa dari mereka terus membujuk Aurora. Tapi dia diam dan menggeleng.

"Tunggu sampai suami saya pulang dulu. Saya mau makan dengan dia."

"Tapi yang mulia, kasihan si kembar di perut anda yang mulia."

Tante Maya juga dengar. Dia ke kastil untuk menjaga Aurora. Dia diminta Gabriel untuk menjaga dan memastikan Aurora makan.

"Makan sayang, Gabriel selalu menepati janjinya."

Aurora malah menangis dipelukan dokter Maya. Dia makan sedikit. Bukan dia yang menolak makan, tapi anak-anak diperutnya yang sekarang makin besar saja yang menolak makan sepertinya. Rasanya Aurora tak nafsu makan saja.

Sementara disisi lain, sesuai rencana, Mereka menggiring Gabriel untuk menjauh sendiri, dengan gio yang sekana menemani. Tapi setelah dia di tengah hutan, dia dikepung. Bahkan dengan kakaknya sendiri.

"Kak. Kakak apa ini? Apa-apaan ini?"

Gio malah tertawa puas. Dia menjelaskan semua rencana yang sudah dia buat.

"Kak, aku adik kakak kak."

Gabriel mencoba memohon. Tapi gio sama sekali tak menghiraukannya. Mereka menyerang Gabriel. Bahkan habis tak tersisa.

"Sekarang giliran rencana kedua. Tarik mundur semuanya."

Gio memerintahkan anak buahnya Munduk. Gio muncul sebagai Gabriel, mereka punya mahkota yang sama.

"Yang mulia. Dimana tuan gio?"

Gabriel sengaja menukar pakaiannya sebelum gabriel diterkam habis oleh mangsanya.

"Kak gio."

Dia pura-pura menangis. Mereka kembali ke istana. Aurora menyambutnya. Dia lega dibaris depan ada suaminya.

"Kak gio mana?"

Tapi Aurora tak melihat itu. Gio yang menjadi Gabriel mulai menangis dan menceritakan kebohongan. Karena gio melindungi gabriel, jadi dia tak selamat. Entah kenapa hati Aurora yang merasa hancur mendengar itu.

Terpopuler

Comments

Yuli Eka Puji R

Yuli Eka Puji R

coba lebih teliti lg thor itu maksut dr kata"nya gimana bicara untuk siapa

2023-04-30

1

Ymn Goh

Ymn Goh

seharusnya baunya lain

2023-04-17

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!