Gio pulang menjadi gabriel. Tapi tak ada yang tahu kalau yang mati adalah gabriel.
"Kak, plis. Aku mau lihat anak aku kak. Aku minta maaf kalau aku ada salah ke kakak, plis kak."
"Kak, kakak tega sama aku. Aku sayang dan sangat senang setelah kakak memutuskan untuk jadi vegetarian."
Tidak makan daging manusia. Tapi gio sudah bertekad. Dia membiarkan teman-temannya untuk menghabisi dan mengoyak tubuh Gabriel.
"Kak, tolong jaga anak-anakku. Setidaknya sayangi mereka, juga jaga Aurora. Bilang maaf ke dia ya kak, aku gak bisa tepatin janji untuk tidak kenapa-napa."
"Tidak, kakak saja yang pulang jadi aku. Jangan biarkan Aurora tahu yang sebenarnya kak, kalau aku sudah tiada."
"Awalnya aku memang melalukannya karena iseng dan ingin tahu rasanya, tapi dia manis dan lucu kak. Hidup kelam aku berwarna dengan ad dia kak."
"Hidup kakak juga pasti akan sama. Aku percaya kakak sebenarnya baik. Kakak hanya terpengaruh saja."
Gio masih ingat benar bagaimana dia diam saja melihat tubuh adiknya dikoyak oleh teman-temannya yang lain. Sesuai rencananya, dia kembali ke kastil. Tapi bukan sebagai gio, melainkan sebagai Gabriel.
Dia baru saja masuk ke dalam kastil. Dia sudah disambut dengan Aurora yang lari kearah dia melompat dan memeluk gio begitu saja. Gio mengenakan pakaian Gabriel. Dia melucuti dan menukarnya tadi.
"Sayang, kamu gak apa-apa kan? Ada yang luka? Mana? Kita obati ya?"
Gio merasa aneh. Tapi pelukan Aurora memang membuat dia sedikit berbunga dan nyaman. Kenapa hatinya?
"Tidak. Kamu-"
Dia lupa kalau dia harus berperan menjadi Gabriel, yang sangat manis kepada Aurora.
"Kak gio dimana?"
Aurora mencari gio. Dia melihat ke belakang. Tak ada gio disana, hanya ada pengawal dan beberapa.
"Dimana kak gio?"
Aurora bertanya kepada Gabriel palsu dan juga pengawal, tapi mereka hanya menunduk lesu.
"Katakan, dimana kak gio?"
"Tuan gio melindungi tuan Gabriel jadi dia-"
Aurora pingsan mendengar itu. Gio yang menyamar menjadi Gabriel dengan sigap menangkap tubuh Aurora. Dia menggendongnya dan membawanya masuk kedalam kamar. Menidurkannya disana.
Aurora tak tahu kenapa, tapi dia sangat sedih dan tak mau makan. Padahal gio yang tiada. Dia sudah mulai siuman. Gabriel palsu meminta tante Maya untuk memeriksa keadaan Aurora. Dia bilang Aurora hanya syok saja.
Gabriel palsu naik tahta. Kelompoknya menunggu perintah untuk menyerang. Tapi dia merasa bersalah kepada gio.
Aurora juga gak mau makan seharian. Gabriel palsu diam saja melihat itu. Kalau Gabriel asli sudah membujuk Aurora.
"Kamu mau makan apa sayang? Mau daging? Mau makan yang banyak? Makan ya? Demi anak-anak-"
Gabriel. Tapi gio ingat, dia yang menjadi Gabriel. Aurora hanya duduk melamun diatas ranjang, sampai malam. Dia menggeleng dan menangis.
"Om, Tante dan Chelsea baik-baik saja kan?"
"Iya."
Gio duduk di samping Aurora. Dia menarik Aurora kedalam pelukannya. Kenapa hatinya sangat sakit setelah dia balas dendam kepada Gabriel. Harusnya kan dia senang.
"Salah aku, kenapa aku minta kak gio untuk melindungi kamu lebih dari melindungi nyawa dia sendiri. Kak gio meninggal karena aku."
Aurora terus menyalahkan dirinya sendiri. Gio hanya diam, hatinya sakit sekali. Dia hanya bisa diam dan memeluk erat Aurora.
"Kita jalan-jalan keluar, mau? Mau lihat pantai atau bunga?"
Gio tahu itu yang dilakukan Gabriel dulu. Aurora mengangguk.
"Tapi makan sedikit. Aku suruh pelayan untuk membawa makanannya kesini ya sayang?"
"Tapi sedikit saja, aku sedang tidak nafsu makan."
"Aku suka lihat kamu makan banyak. Cepat makan banyak lagi ya? Kak gio meninggal itu mungkin sudah takdir."
Aurora hanya diam dan sesegukan menangis. Gabriel palsu memanggil pelayan. Dia meminta mereka membawakan stik daging untuk Aurora. Tak lama mereka datang.
"Ini yang mulia."
"Yang mulia harus banyak makan."
"Kami sayang dan perduli dengan yang mulia."
"Nanti kita main lagi. Bagaimana?"
Aurora tersenyum. Mereka baik sekali kepada dia. Dia mengambil makanannya. Tapi dia mau makan sedikit dulu kali ini.
"Mau aku suapi?"
Gabriel palsu yang menyuapinya. Untuk badan Aurora, Maya juga memberikan vitamin dan juga susu hamil manusia.
"Iya."
Aurora mengangguk menerima suapan demi suapan Gabriel palsu. Selesai makan, hanya lima stik, biasanya banyak sekali, Aurora menggeleng.
"Sudah, jalan-jalan yuk tuanku. Katanya mau ajak aku jalan-jalan."
"Iya."
Gabriel paslu turun dari ranjang. Dia mengulurkan tangannya kepada Aurora.
"Mau jalan biasa atau digendong supaya sampai di tempatnya dengan cepat."
"Digendong dulu biar cepat sampai. Mau ke pantai."
"Malam-malam?"
"Iya, mau lihat matahari terbit sekarang."
"Ok. Gunakan mantel."
Gio mengambil mantel untuk Aurora. Dia menggendong Aurora sampai ke pantai. Dia menunggu disana. Bahkan Gabriel palsu, alias gio, duduk bersila seperti gio dulu, dia membiarkan Aurora untuk duduk diatas pangkuannya, memeluk Aurora dari belakang dengan erat agar dia tak kedinginan.
Aurora benar-benar tak tidur. Dia menatap lautan dan langit diatas laut sepanjang malam. Sampai terdengar suara geraman. Mereka datang, anak buah gio. Ada beberapa pengawal yang gio minta ikut.
"Mau apa kalian kemari?"
Gabriel palsu meminta Aurora berdiri. Dia berhadapan dengan anak buahnya yang mengerang marah. Pengawal melindungi Aurora. melingkarinya.
Gio tahu mereka mau apa. Mau menagih janji gio yang akan menyerahkan Aurora dan ketiga bayinya untuk jadi makanan dan juga penyerangan di kastil. Gio menyerang seakan menyuruh mereka mundur dulu.
Nanti akan ada waktunya. Bersamaan dengan bayinya yang lahir.
Mereka pun pergi. Aurora dan Gabriel palsu kembali menikmati matahari terbit. Aurora terjaga untuk melihat itu. Baru setelah itu dia minta pulang.
"Sudah tuan. Ayo pulang?"
"Capek? Mau tidur di kamar?"
Aurora hanya mengangguk. Gio menggendong Aurora dan membawa dia secepatnya ke kastil. Aurora tidur nyenyak disana. Gio mau pergi, dia mau berbicara dengan kelompoknya.
"Jangan tinggalkan saya tuan." Aurora menahan tangan Gabriel palsu. "Saya takut tuan seperti."
Gio maksudnya. Tapi dia tak berani melanjutkan ucapannya itu. Membayangkan saja tak bisa. Aurora menangis disudut matanya.
Gio pun duduk di samping Aurora. Dia mengusap air matanya. Dia tidur di samping Aurora dan memeluknya. Seperti permintaan Aurora.
"Aku temani, sampai tidur."
"Jangan pergi kalau tidak bilang dan izin ke aku dulu, atau aku marah."
"Gak akan sayang. Sudah, tidur."
Gabriel palsu mencium kening Aurora. Aurora tidur dengan nyenyak memeluk gio. Tanpa tahu kalau itu gio.
Setelah Aurora tidur nyenyak, gio perlahan bangun. Dia pergi dari sana. Dia menemui kelompoknya secara diam-diam.
"Tuanku, kenapa jadi anda manis dengan istrinya tuan Gabriel."
"Ingat rencana kita."
"Tunggu beberapa hari. Dia akan segera melahirkan. Sabar."
Mereka bertengkar sendiri. "Setelah itu kita akan menguasai kastil dan dunia."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments
Yuli Eka Puji R
vegetarian baru tau aq srigala makan sayuran 😂🤣🤣🤣
2023-04-30
1
indy kalia
kenapa gabriel yg mati😟
2022-12-15
2