GABRIEL KEMBALI

"sayang, ada keadaan darurat lagi."

"Bisa gak, jangan kamu yang turun tangan langsung. Plis."

"Gak bisa. Aku harus pergi."

"Kan masih banyak pengawal atau yang lainnya."

"AURORA!"

Gio itu pemarah. Dia kelepasan membentak Aurora. Gio meminta kepada Maya untuk menemani Aurora di kastil. Mengontrol selama tiga hari ini. Aurora menangis.  Maya mencoba menenangkan dia. 

"Sayang, tolong mengerti posisi Gabriel juga.  Dia juga pemimpin disini.  Itu tanggung jawab dia."

"Tapi aku takut Tante, dia kalau sama seperti kak gio.  Aku gak bisa kehilangan dia Tante.  Aku gak mau."

"Artinya kamu sudah mencintai dia? Kamu tidak mau kembali ke dunia manusia kah?"

Aurora terdiam.  Apa iya artinya dia sudah mencintai Gabriel.  Tapi dia juga masih mau menyelesaikan kuliah dia dan hidup normal seperti manusia. 

"Tidak.  Aku mau kembali ke dunia manusia.  Seperti perjanjian awal Tante.  Ini hanya terbawa suasana saja.  Pasti karena anak-anaknya yang ada diperut aku."

"Terserah dia mau bagaimana.  Aku tidak perduli, yang penting tugasku selesai, perjanjiannya selesai.  Semuanya akan berakhir dalam beberapa hari lagi."

Aurora melepaskan pelukannya kepada Tante Maya.  Dia mengusap air matanya dan pergi  dari ruang makan.  Dengan langkah lebar yang sudah cukup sudah untuk dia jalan. Dia ditemani pelayan naik ke lantai dua kastil untuk menuju ke kamarnya. 

"Saya mau sendiri.  Jangan ada yang masuk kecuali saya panggil."

Aurora memerintahkan para pelayannya.  Dia masuk dan mengunci pintu kamarnya.  Dia merenung didalam.

"Apa benar aku sudah mencintai monster itu. Tidak mungkin."

Aurora berbicara sendiri.  Tapi Gabriel yang asli, mendengar itu ketika dia sedang bertarung. Dia jadi tambah semangat setelah itu. 

"El, Lo masih hidup.  Bagaimana bisa?"

"Karena janji ku kepada Aurora kak.  Kakak tega sekali, bahkan tak berani satu lawan satu."

"Aku tidak perduli."

Mereka kembali bertarung.  Gabriel memanggil pengawalnya dengan telepati.  Mereka datang ke markas yang selama ini Gabriel cari. 

Mereka berkelahi hebat.  Bahkan sampai beberapa hari hanya untuk membasmi semuanya.  Werewolf yang jahat dan membantai manusia. 

Bahkan sampai dua hari tak pulang.  Aurora bingung mencari Gabriel.   Sudah dua hari dia mendiamkan dan tak perduli dengan keberadaan Gabriel. 

Dia mencoba acuh.  Tapi tetap saja khawatir.  Dia sedang ada di ruang makan.  Makan dengan Tante Maya dan pelayan. 

"Tuan Gabriel dimana? Kenapa dia tak datang ke kamar hanya untuk menjenguk anak-anaknya."

"Tuan belum pulang nona."

"Dari kemarin?"

Mereka mengangguk.  Aurora khawatir sekali.  Dia menangis ketakutan. 

"Tante, dia akan baik-baik saja kan.  Bukankah monster seperti itu harusnya tidak pernah bisa mati, lenyap atau terluka?"

***

Gabriel dan gio masih berkelahi. Kali ini satu lawan satu. Banyak kelompok gio yang mati dan tumbang. Mereka semua dimusnahkan.

"Yang mulia, anda tidak apa-apa."

Mereka juga mencoba melindungi raja mereka. Gabriel mengangguk. Gabriel terpaksa membakar kakaknya sendiri.

"Maaf kak. Kakak sudah sangat keterlaluan. Kakak bahkan berencana memakan ketiga anakku ketika mereka lahir nanti kan."

"El."

Gio mencoba memelas menatap Gabriel. Tapi kali ini dia tak mau percaya lagi.

Gabriel yang asli pulang dengan kemenangan. Dia membersihkan dirinya dari darah-darah werewolf yang mengenai tubuhnya. Dia ke kastil bagian selatan, jauh dari tempat utama dia tidur dengan Aurora. Dia menemui tetua dan menceritakan yang sebenarnya. Dia minta maaf karena harus membunuh kakak kandungnya sendiri.

"Tuan, itu pilihan yang baik untuk semuanya. Semoga setelah ini, tak ada lagi werewolf yang masih memangsa manusia."

"Iya. Saya harap seperti itu. Saya permisi dulu. Saya harus kembali ke istana saya, saya ingin menemui nona. Jangan ada yang cerita soal ini kepada nona ya, tolong sembunyikan."

"Baik tuan."

Gabriel kembali ke istana Aurora. Dimana dia dan Aurora tinggal, disisi istana itu.

***

"Aku benci sekali dengan dia Tante. Tapi kan bukan berarti tak pulang, membuat aku khawatir saja. Dia dimana dan apa baik-baik saja ya Tante?"

"Tidak akan. Tuh! Bisa tanya sendiri sama orangnya."

Maya menunjuk Gabriel yang baru pulang.  Dia masuk dari pintu utama kastil.  Gabriel rindu sekali dengan Aurora dan ketiga anaknya. 

"Hai sayang, aku rindu sekali kepada kamu dan anak-anak kita."

Gabriel tersenyum tanpa dosa, dengan polosnya dan mendekati Aurora.  Dia mau mencium kening Aurora.  Tapi wanita itu menepisnya. 

"Jangan cium.  Jangan dekat-dekat.  Aku benci kamu.  Aku gak mau lihat kamu.  Kamu juga tidak pulang tidak apa-apa."

Aurora menahan tubuh Gabriel yang mau mendekati dia.  Aurora memilih pergi dari sana.  Gabriel bingung harus bagaimana.  Tante Maya menjelaskan semaunya.  Selama Gabriel tak ada. 

"Pasti dia sangat takut dan khawatir sama kamu."

"Aku tahu semuanya Tante.  Dia mulai sayang dengan aku kan?"

Tante Maya mengangguk. Gabriel izin mengajar Aurora.  Pintunya malah ditutup dengan keras. 

"Sayang, aku minta maaf.  Untuk semuanya. Apa saja salah aku."

"Apa salahnya? Sebutkan dulu dari depan, kalau ingat semuanya dan tahu semuanya aku maafkan."

"Emm, aku minta maaf karena gak pulang.  Tapi kan aku pulang dan tidak apa-apa kan? Itu yang paling penting."

Gabriel mencoba mengingat kesalahan dia.  Dia Gabriel yang asli.  Dia tak tahu kalau Gio membentak Aurora.  Itu yang paling Aurora ingat dan ingin Gabriel minta maaf. 

"Lalu apa lagi?"

"Apa lagi? Minta maaf karena pergi."

"Terus?"

"Apa lagi? Sudah tidak ada kan? Minta maaf ingkar janji, gak pulang, karena harus pergi untuk tugas, apa lagi?"

"Masih kurang. Gak boleh masuk. Jangan rusak pintu tuan Monster."

Gabriel diam di depan.  Dia mendekati Maya dan cerita soal semuanya. 

"Kemarin kamu membentak Aurora, tak ingat? Dia sampai menangis sesegukan dan tak bisa berhenti, mengurung diri di kamar seharian."

"Serius."

Gabriel kaget.  Maksudnya kak gio yang membentak dia.  Gabriel kembali ke depan kamar. Dia mengetuk pintu kamarnya Aurora lagi.

"Sayang, aku lupa kesalahan yang paling penting kan? Aku membentak kamu. Aku minta maaf ya sayang. Tapi Ini sudah tugasku."

"Masuk. Aku mau kasih hukuman."

Aurora menjawab dengan kesal dari dalam. Gabriel senang, walau pun dia mau dihukum. Gabriel membuka pintunya. Kalau dia mau, dia juga bisa membukanya sejak tadi. Tapi dia tak mau membuat Aurora semakin kesal.

"Sayang."

"Berhenti disitu."

Gabriel mau mendekati dia. Tapi Aurora melarangnya. Dia meminta Gabriel bernyanyi disana. Berdiri dengan satu kaki, dan kedua tangan yang memegang kepala.

"Sambil nyanyi. Monster tahu lagu balonku ada lima tidak? Tapi huruf vokalnya diganti O semua."

"Ok. Bisa."

Aurora tak henti tertawa mendengar nyanyian Gabriel, dia begitu seimbang berdiri sampai bernyanyi lagu balonku ada lima dengan bolak o.

"Auhh."

Sampai Aurora berteriak kesakitan memegangi perutnya. Gabriel mendekati Aurora, lupa dengan hukumannya karena refleks.

"Kenapa? Apa sudah waktunya mau melahirkan?" Tanya Gabriel mengusap perut Aurora.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!