GIO PART 2

“Untuk apa sih matahari ditunggu terbenam.”

Mereka diam disana, sampai menunggu matahari terbenam, hanya untuk Aurora. Aurora menatap Gio dengan kesal, dia menunjuk telunjuknya kepada Gio.

“Diam anda, jangan merusak suasana sunset saya yang indah.”

Gabriel geleng kepala, dia saja tak berani membentak kakaknya, tak ada satu pun yang berani, tapi Aurora mengalahkan gio. Gio diam saja.

“Kalau bukan istri adik saya, saya mak-“

Aurora meminta gio diam. Gabriel pun memberi kode kepada kakaknya untuk mengalah dan diam. Ketiganya hanya duduk dipinggir pantai dan menunggu mataharinya terbenam. Perlahan matahari mulai terbenam.

“Sudah kan, ayo pulang.”

Gio tak sabar kembali ke kastil. Dia berdiri lebih dulu. Aurora mau berdiri, tapi dia kesusahan. Dia mengulurkan tangan kepada Gio. Gio menatap Aurora dengan acuh, sok tak tahu saja.

“Bantuin, gak peka banget sih.” Aurora merengek kepada gio.

“Untuk apa, masak Cuma bangun sendiri tidak bisa sih manusia.”

“Kan susah lagi hamil, perutnya gede, bawa tiga bayi, anda pikir.”

Gio sepertinya mau menolak dan marah, sedikit berdebat lagi dengan Aurora, tapi Gabriel yang duduk di belakang Aurora, yang memangku Aurora memberi kode agar kakaknya mengalah dan membantu istrinya. Gio mengeram kesal, dia terpaksa karena diminta sang adik, gio mengulurkan tangannya kepada Aurora. Dia membantu Aurora berdiri, menarik tubuh aurora.

“Buset, berat banget.”

Aurora kesal sekali dibilang seperti itu, dia menginjak kaki gio dengan kesal. Gio hampir hilang kendali, tapi Gabriel yang menghentikan kakaknya. Dia bangun dan menggandeng Aurora untuk pergi dari sana.

“Kita pulang. Kakak juga mau ke istana kan? mau ketemu tetua dan yang lain? jadi jangan banyak bertengkar dengan aurora ya kak. Ikuti saja apa mau dia, maklum, dia juga sedang hamil kan.”

“Hemm..”

Gio sebenarnya tak mau. Untuk dendamnya, dia diam saja. Dia memilih berjalan lebih dulu dengan tiga orang yang dia bawa tak mau ikut karena mereka tak bisa tak makan daging manusia, Gio juga meminta mereka untuk menjadi dia mengawasi yang lain. Gio hanya masuk ke kastil itu sendiri.

“Tuan, capek jalan terus. Capek jalan bawa tiga bayi.”

Baru jalan beberapa meter dari pantai, Aurora sudah mengeluh. Dia menahan tangan Gabriel membuat sang empunya tangan berhenti dan menoleh Aurora.

“Manja banget, gunakan saja kekuatan tiga anak kamu untuk cepat sampai ke kastil.”

“Tapi maunya digendong dan jalan biasa aja seperti manusia.”

Gio dan aurora lagi-lagi berantem. Gabriel yang selalu menengahi mereka, gabriel mengalah, dia menggendong aurora ala bidal style. Dia pun ikut karena aurora katanya mau jalan dan menikmati pemandangan.

“el, duluan ya.”

Gio tak tahan lagi. Gabriel mempersilakan kakaknya pergi dengan salah satu pengawal agar mereka yang di kastil percaya kalau kakaknya datang dengan baik-baik.

“Tuan, percepat saja, saya lapar. Mau cepat sampai ke kastil dan makan.”

“Ok.”

Aurora yang memintanya, gabriel pun menggunakan kemampuannya, dia membawa aurora dengan cepat untuk sampai ke kastil. Gio sudah sampai di depan kastil, para penjaga kaget melihat gio, mereka semua menghadang gio dan menatap gio dengan waspada.

“Tuan gio datang dengan tuan gabriel, dia ingin berdamai.”

“Iya, kakak ingin kembali bersama kita. Hanya makan daging hewan saja.”

Gabriel baru sampai, dia berhenti di samping gio. Gabriel menurunkan aurora yang ada digendongannya, gabriel menjelaskan kepada penjaga disana. Salah satu penjaga memangggil tetua, mereka sendiri yang menyambut Gio.

“Apa benar itu tuanku?”

“Bohong, saya tidak percaya kenapa tiba-tiba dia berubah.”

Tetua bertanya kepada gio, tapi aurora yang menjawab, semua menatap aurora, terutama gio yang menatap marah ke arah dia. Gabriel memeluk aurora.

“kamu tidak boleh seperti ini, jangan bercanda.”

Gabriel menjelaskan kepada tetua kalau aurora hanya bercanda, karena memang dia tak suka dengan kakaknya sejak tadi, pertama bertemu dan mendengar kakaknya yang menjadi ketua werewolf untuk makan manusia.

“sayang, kamu laparkan? Kita ke ruang makan saja ya? Biat kak gio dengan para tetua. Kamu mau makan apa?”

“sayang? perasaan aku mengatakan seperti itu tuanku.”

“Ok, aku tahu. Tapi kita makan dulu, mereka bertiga sudah lapar kan?”

“Ok.”

Aurora kalah dengan laparnya, dia bahkan sudah mencium bau daging yang dimasak dengan harumnya. Dia dan gabriel ke ruang makan kastil, sementara urusan gio dengan tetua. Gabriel sudah meminta pelayan secara telepati untuk mempersiapkan makanannya.

“Aku mau pizza dan juga burger, juga kentang goreng, Ayam goreng, sosis, soup, es kopi semua menu di restoran.”

“Ok. Tunggu saya pesankan, saya minta pelayang yang memesankan, kamu tunggu disini ok?”

Aurora mengangguk, sambil menunggu semua pesanan dia datang, dia masih saja makan daging yang sudah disiapkan. Aurora benar-benar makan banyak, gabriel sampai tak sanggung membayangkan, untuk dia sendiri saja dia bisa makan itu satu minggu ke depan.

“Tolong belikan ini.”

Gabriel berbicara dengan beberapa pelayan, dia harus menyuruh beberapa karena permintaan aurora yang sangat banyak. Mereka mengangguk dan bergegas pergi dari sana. Sementara Gio sedang ada di ruang pertemuan dengan para tetua. Gio berjanji kepada mereka, dia ingin berubah. Dia ingin membantu Gabriel untuk hidup damai dengan manusia. Selesai dari ruangan itu dia dibolehkan keliling istana dan juga ke kamar yang memang sejak awal milik dia, ada satu kamar untuk gio dan satu kamar untuk gabriel.

Gio keliling dan sampai ke ruang makan. Banyak sekali pelayan yang bolak-balik ke sana, mereka membawa banyak sekali bingkisan, sepertinya makanan. Gio juga lapar, dia biasanya beburu manusia, tapi dia harus tahan sekarang. Dia ingin minta makan sedikit.

“wah makanannya banyak sekali.”

Gio mengambil satu daging yang ada di atas piring di meja makan itu, yang punya marah besar, dia menggebrak meja. Dia menatap gio, siapa lagi kalau bukan aurora.

“Itu makanan milikku dan anak-anak, bukan untuk anda. Kembalikan, jangan dimakan, anda pesan sendiri dan minta dibuatkan sendiri.”

Aurora marah-marah. Dia menatap gabriel seakan ingin menangis mengadu kepada gabriel. Gabriel pun meminta kakaknya menaruhnya kembali.

“Cuma satu el. Istri lo parah banget sih, pelit banget.”

“Kak, plis.”

“Iya ini dibalikin.”

“Kakak minta ke pelayan saja, banyak kok stok dagingnya, mau dimasak atau tidak?”

“dimasak boleh. Seperti itu baunya harum.”

Gio menunjuk stiknya aurora. Gabriel senang sekali, dia melihat perubahan yang sesungguhnya kepada sang kakak. Gio pun duduk dan menunggu makanannya.

“Ini semua, bisa dihabiskan sama istri lo el? Yang monster siapa deh, kita atau istri lo? Kita saja tidak makan sebanyak ini.”

Gio heran dengan banyaknya makanan yang bisa masuk ke perut aurora. Aurora yang dibicarakan menatap dengan kesal.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!