Aurora terkejut ternyata ada manusia yang datang juga disana. Dia sudah didandani denga sangat cantik. Dengan gaun pengantinnya yang indah. Kali ini dia tak kabur lagi. Gabriel ada di tempatnya, dia sedang menunggu sang mempelai wanita sampai. Hingga Maya dan suamina yang menggandeng Aurora ke tempat acara, sampai dengan berhadapan Gabriel.
“yang mulia, mempelai wanita anda.”
Maya yang sejak tadi menggandeng tangan Aurora menyerahan aurora kepada gabriel, semua diam menyaksikan dengan hikmat pernikahan manusia dan werewolf ini. Para tetua bahkan mengusap kepala Aurora, secara tak kasat mata manusia, tidak bisa dilihat, tapi dikening Aurora, itu ada sebauh simbol mahkota atu werewolf.
“Saya meminta engkau, ratu Aurora untuk menjadi istri saya, bersediakah engkau?”
“Saya bersedia menjadi istri yang mulia.”
Aurora diajarkan oleh dokter maya juga beberapa tetua untuk prosesi pernikahan ini, hingga menyayat sedikit tangan dan ditempelkan diatas sebuah kertas tua. Sampai akhir prosesi, mereka harus berciuman didepan umum. Aurora menatap Gabriel. Dia menggeleng.
“saya tidak mau berciuman dengan anda.”
“harus.”
Gabriel tak perduli. Dia berbisik kepada Aurora, itu harus dilakukan didepan semua anggota kelompok. Gabriel yang nekat mendekat, tangannya menarik pinggang Aurora dan meraih bibirnya. Aurora malah keenakana melakukannya dan ikut menikmati bibir Gabriel. Sampai selesai pernikahan. Banyak yang datang dan mendoakan Aurora, mengusap perut Aurora.
“Laper.”
Sampai siang baru selesai, dia menarik tangan Gabriel yang sibuk entah berbicara dengans siapa.
“Mau makan apa? mau berburu?”
“Gak, makan daging mentah? gak mau. Mau makan stik yang enak, yang banyak.”
Gabriel malah menggoda aurora. Dia segera menggeleng. Gabriel meminta pelayannya juga koki khusus di istananya untuk membuatkan apap yang Aurora minta. Setelah pernikahan pun semua orang dan juga werewolf pergi dari istana. Mereka kembali ke kegiatan dan hidup mereka masing-masing.
***
“Gabriel menikah dengan seorang wanita dari dunia manusia?”
Dari kerajaan yang lain, di tempat yang jauh lebih gelap. Seorang yang mirip sekali dengan Gabriel murka mendengar salah satu anak buahnya datang. Dia tak lain adalah kembaran Gabriel.
“Bagaimana bisa dimenemukannya lebih dahulu. Arh!”
Dia mengamuk, apa saja yang ada didepan pandangannya dibanting dan diamuk semuanya. Dia pergi dari ruangan kosong itu, sepeti gudang, tapi sangat kotor dan luas. Di belakang dia dua orang ikut lagi.
***
Makanan yang dipesan oleh aurora sudah siap. Ada di meja makan kerajaan, banyak sekali. Aurora sedang di kamar, dia meminta bantuan pelayan untuk melepaskan baju pernikahannya yag berat dan sangat lebar.
“Ini gimana lepasnya?”
Aurora pikir dia bisa membukanya sendiri, dia hanya menyuruh pelayan kelua karen amau melepas gaunnya. Tapi tak bisa. Aurora terpaksa meminta bantuan, dia membuka pintu dan menarik satu tangan yang paling dekat dengan dia. Aurora tak tahu kalau itu adalah tangan gabriel.
“Tolong bukain resleting bajunya.”
Gabriel sengaja di depan untuk menunggu Aurora. Karena dia sedang tak ada hal yang penting juga yang harus dia lakukan. Dia kaget karena tangannya ditarik masuk, padahal dia tadi diluar sedang berbicara dengan pelayan, bagaimaa sikap Aurora selama hamil, dll.
“Tuan, kok tuan sih. Pelayan mana?”
“Siapa yang menarik tangan saya?”
“Kenapa juga ada didepan kamar, kan saya tidak tahu kalau ini tangan tuan.”
Gabriel menurunkan resletingnya. Aurora juga menurunkan gaunnya didepan Gabriel, dia baru melihat di depan kaca, dia kaget, kenapa gabriel yang dibelakang dia. Aurora menoleh kebelakang dan menatap gabriel dengan kesal. Bodohnya dia, kenapa tak melihat lebih dulu tadi.
“sana keluar. Walau pun anda raja, anda tak bisa berbuat seenaknya ya kepada saya. Saya juga ratu disini.”
“Oh, sekarang berani karena sudah menjadi ratu.”
Mata gabriel tak henti memandang Aurora dengan perut buncintnya. Dia mendekat, dia ingin sekali melihatnya langsung, tanpa baju. Gabriel berjalan mendekati Aurora, mendesak dia, tapi Aurora berusaha kabur dari Gabriel, dia terus mundur hingga mentok di meja.
“Raja, anda mau apa? jangan macam-macam ya. Ingat perjanjian kita. Hanya untuk bayi-bayi anda kan?”
“Kalau saya mau lebih?”
Gabriel sengaja menggoda dan menakuti Aurora. Aurora malah menangis. Gabriel ketakutan, dia mengangkat tangannya.
“Apa yang sakit? saya membuat kamu sakit?”
“Takut, jangan macem-macem.”
“Ok-ok sorry. Ganti pakaian dan cepat makan, mereka sudah lapar kan?”
Aurora mengangguk. Gabriel pergi, dia kelur kembali dan menunggu di depan. Aurora mengganti bajunya yang lebih ringan dan tak terlalu lebar. Dia keluar dari kamar. Aurora meraih tangan gabriel yang masih berdiri menunggu diluar. Dia menrik Gabriel untuk turun bersama.
“Mereka berat, anda harus menjaga saya yang mulia raja.”
Gabriel tersenyum mendengar ucapan Aurora. Dia mengangguk. Dia menggandeng Aurora dan menjaga Aurora menuruni tangga. Sampai di meja makan Aurora berlari duduk di kursiny.
“Katanya berat, tapi lari. Hati-hati.”
“Bukan saya yang lari, kadang anak-anak anda kan?”
Gabriel baru ingat. Dia menemani Aurora makan, dia benar-benar banyak makan. Gabriel hanya diam saja menatap wanita itu. Belum juga selesai makan, Aurora sudah mengoceh.
“yang mulia, saya bosan disini, saya mau jalan-jalan, mau melihat kedalam hutan, dipadang bunga itu, saya mau kesana lagi. Ada pantai juga kan, saya sepertinya pernah melihat pantai, saya mau kesana.”
“Jangan, berbahaya.”
Aurora yang sedang makan langsung membuang makananya ke piring dengan keras. Dia cemberut dan tak mau makan lagi.
“Buat apa menikah dengan anda kalau tidak bisa kemana-mana, kalau keluar tetap saja berbahaya. Saya tidak mau makan sebelum dibolehkan jalan-jalan.”
Gabriel ragu menceritakannya, Aurora belum tahu tentang saudaranya. Gio, yang tak bisa tak makan daging manusia. Dia yang memisahkan diri dari pernjanjian manusia dan werewolf, dia yang mengacau semuanya.
“Ok, dengan saya. Jangan pernah pergi tanpa izin dan tanpa bilang saya.”
“Ok.”
Aurora yang tadinya cemberut langsung tersenyum. Dia kembali mengambil makanannya dan menyuapi dirinya sendiri. Selesai makan dia langsung mencuci tangan dan mulutnya. Dia berdiri dengan riang, dia menarik tangan Gabriel.
“Ayo sekarang, ke padang bunganya, gak akan ada yang makan aku lagi dan menyerah aku lagi kan seperti kemarin? kans udah menikah dengan kamu?”
“Ke pantai juga, mau lihat matahari terbit.”
“Banyak mau.”
Aurora kesal. Dia langsung menepis lengan Gabriel yang dia rangkul. Dia mau kabur sendiri, dengan berkompromi bersama ketiga anaknya didalam perut, tapi Gabriel mengetahu itu, dia menahan tangan Aurora. Dia meminta lima pengawal untuk ikut dirinya.
Mereka jalan ke padang bunga lebih dulu. Aurora melihat banyak bunga, dia menciumi setiap baunya satu persatu, bahkan ada kelinci yang datang. Aurora langsung menangkapnya, dia duduk dan bermain dengan kelincinya.
“Itu pasti enak sekali, kemarikan, saya juga lapar.”
Gabriel mau memakan kelincinya. Aurora memeluk kelinci itu erat, dia melotot menata gabriel.
“kalian memakan mahluk lucu seperti kelinci ini, tidak boleh. Dia tak boleh dimakan. Lucu, menggemaskan. Awas kalau kelincinya tuan makan, saya tidak mau berbicara dengan tuan lagi.”
Aurora malah menciumi kelinci itu, lalu melepaskannya. Hari sudah mulai petang, Auror berdiri dengan susah payah, dia mengulurkan tangan untuk meminta bantuan Gabriel.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments