GIO PART 3

Walau raga gio ada di kastil tapi dia masih bisa mengontrol semua pengikut dia untuk tetap berburu manusia.  Dia bisa menggunakan telepatinya. 

Dia sedang makan di depan Gabriel dan juga Aurora.  Tapi pikirannya sedang menyusun strategi untuk menjalankan rencana dia.

"Ishh, makannya banyak sekali."

Gio tak mau mereka curiga.  Jadi dia bertingkah banyak di depan keduanya. 

"Sayang, kakak kamu."

Aurora mengadu dan merengek kepada Gabriel.  Gabriel yang hanya makan sedikit dan minum.  Sisanya dia sangat kenyang dan bahagia melihat Aurora makan banyak.  Tapi dia kaget, dia tak salah dengar? Aurora memanggil dia sayang. 

"Kak, berhenti kak. Jangan dijahili kak."

"Iya iya.  Sudah ahh, sudah kenyang. Aku mau ke kamar dan istirahat."

Gio bergegas pergi.  Dia bisa lebih bisa bebas di kamarnya bukan. Dia ke kamar, seakan tidur tapi telepatinya jalan. Dia memerintah anak buahnya untuk mulai mengacau seluruh kota. Kalau mereka mengacau kan Gabriel sendiri yang akan turun tangan. Dia bisa menghabisi Gabriel disana lalu menjadi Gabriel dan merubah semua aturan dalam dunia werewolf, dia bisa menguasai dunia manusia bahkan.

"Sudah makannya?"

Aurora berhenti makan. Dia duduk bersandar seperti lelah. Aurora mengangguk ditanya Gabriel. Gabriel tersenyum.

"Ini masih banyak."

Gabriel menunjuk makanan yang masih cukup banyak. Aurora meminta suaminya itu untuk membagikannya atau memberikannya kepada werewolf yang lain.

"Paman kemari. Nona, kemari juga."

Lucunya Aurora memanggil pelayan yang lewat dengan sembarang panggilan. Dia melambaikan tangan kepada semuanya yang lewat.

"Sini."

"Ada apa yang mulia ratu?"

Mereka berkumpul dan bertanya kepada Aurora. Gabriel diam saja. Dia juga tak tahu apa yang akan istrinya itu lakukan.

"Duduk makan. Bisa makan makanan manusia kan? Enak kok, ada daging juga, ayam juga."

"Bisa sayang. Mereka biasa makan makanan manusia kok. Duduk saja, makan semuanya. Istri saya sudah kenyang."

"Iya. Dari pada dibuang, kan sayang. Gak saya sentuh yang lain kok, saya juga ambilnya pakai cupit."

Aurora menjelaskannya dengan sangat lucu. Gabriel menggangguk-angguk saja melihat itu. Mereka menatap gabriel. Gabriel mengangguk kepada mereka. Dia mengizinkan semuanya makan, bebas.

"Aku mau jalan-jalan lagi, mau lihat udara diluar kalau malam-malam."

"Tidur saja, nanti capek."

"Gak mau, kekenyangan."

Gabriel mengangguk lagi. Kali ini Aurora memilih untuk jalan-jalan hanya di depan sekitar kastil. Karena bosan, dia mengajak main para penjaga.

"Ayo main susun dan lempar batu. Tapi jangan pakai kekuatan kalian. Kan saya tidak punya, kadang saja muncul kalau anak saya mau. Jadi jangan pakai kekuatan kalian, ok?"

Gabriel mengumpul semua yang sedang jaga karena Aurora yang meminta. Gabriel tak habis pikir dengan apa yang selalu istri manusianya itu lakukan. Ada-ada saja.

"Lakukan saja. Main sebentar."

Gabriel memerintahkan mereka. Mereka pun mengangguk. Ada yang menyusun batu, lalu melemparnya. Mereka malah ikut tertawa dengan Aurora. Mereka duduk-duduk di depan, sampai Gabriel meminta penjaga untuk menata kursi di depan kastil, beratapkan langit malam di hutan yang indah. Mereka main suit dan tebak-tebakan.

"Satu, dua, tiga."

Aurora yang menjelaskan permainannya. Mereka mengeluarkan jarinya dan dihitung sesuai abjad, ketika berhenti disalah satu abjad mereka harus menyebutkan nama depan sesuai kesepakatan.

"W, huruf w, nama hewan dengan huruf depan w."

Aurora yang paling semangat. Tapi dia kebingungan menyebutkan nama hewan dengan huruf w depannya?

"Satu, dua, tiga."

Yang tidak bisa menyebutkan akan dihukum. Sejak tadi Aurora bisa semua. Gabriel tak ikut, dia mengawasi sekitar.

"Werewolf."

Semua penjaga menyebutkan itu. Kecuali Aurora. Dia lupa, kenapa bisa tidak kepikiran kesana.

"Curang, werewolf bukan hewan."

Aurora membantah mereka. Mereka malah terdiam dan tersentuh dengan ucapan Aurora.

"Mereka manusia tapi berbeda saja. Mereka bukan hewan pokoknya."

Semua tersenyum dan setuju. Kali ini mereka yang kalah dan Aurora yang menangis. Sebagai hukumannya mereka harus menyanyi didepan Aurora.

"Dia bisa main gitar yang mulia."

"Dia suaranya bagus."

"Wahh."

Aurora senang sekali. Ternyata mereka banyak memiliki bakat yang terpendam. Aurora meminta mereka bernyanyi dan main gitar. Aurora sangat menikmatinya. V

Gio yang tak bisa konsen. Biasanya dia tinggal di lingkungan yang sepi. Tapi ini sangat ramai. Konsen gio buyar. Dia bangun dan melihat ada keributan apa. Gio melihat dari jendela kamarnya. Dia bisa melihat di bawah ada apa.

"Apa sih mereka, berisik nih anak manusia satu. Kerjain ahh, godain dia lucu ternyata."

Tanpa sadar gio malah senang dengan Aurora. Dia bergegas turun dan keluar kastil.

"Ada apa ini? Kenapa berisik sekali?"

Semua langsung diam. Semua juga tahu bagaimana sifat dan watak gio yang jauh berbeda dari Gabriel. Gabriel itu kejam, tapi masih ada sisi baik dan romantisnya. Kalau gio sangat menakutkan.

"Maaf yang mulia."

Mereka langsung menciut dan diam. Aurora yang menantang gio, dia mendongak menatap gio dengan kesal.

"Sedang bernyanyi dan bersenang-senang. Anda sedang apa disini, sana kembali ke kamar anda. Anda mengganggu saja."

Gabriel makin terkejut. Baru kali ini ada yang berani seperti itu kepada kakaknya. Lantang sekali. Bahkan nyalinya sama sekali tak mencium.

"Kamu berani sama saya. Kamu tidak tahu siapa saya? Kamu bukan ratu disini sekarang, tahu tidak."

"Maksudnya?"

"Kakak sudah kembali, jadi tahta kastil, pengusaha, pemimpin, itu dari awal milik kak gio."

"Gak bisa. Dia belum bisa dipercaya. Aku sebagai ratu menentang itu. Aku bisa menentang aturan itu kan? Salah sendiri main pergi dari, makannya ikuti aturan."

Gio naik pitam. Mata serigalanya sudah mau keluar. Gabriel yang maju dan menepuk pundak sang kakak.

"Kak, plis, mengalah ya dengan Aurora, dia tidak tahu apa-apa kak."

"Tidak tahu apa-apanya bagaimana? Aku baca semua aturannya sayang, bukunya tentang kastil ini, kelompoknya ini. Semuanya sudah baca."

Itu bukunya sangat tebal dan ada beberapa. Tapi gabriel tak heran kalau Aurora bisa membaca semuanya dengan cepat. Mungkin itu anaknya yang mau membaca.

"Tertulis di aturan, ratu boleh membuat kebijakan baru, dia berhak. Aku tidak mau dia yang menjadi pemimpin."

"Kak, pliss.."

Gio hilang kesabarannya. Tapi Gabriel memasang badan. Dia menarik kakaknya untuk kembali masuk.

"Maaf kalau mengganggu istirahat kakak. Tapi aku mohon kak, Aurora sedang hamil, dia suka minta yang aneh-aneh."

Gio pergi dari sana. Dalam hatinya kesal sekali. Awas saja nanti, dia akan membalasnya besok. Malam ini akan ada pembantaian banyak sekali manusia. Besok mungkin beritanya baru akan tersebar dan rencana gio baru akan di mulai.

Gio terpaksa mengalah malam ini. Dia kembali ke kamarnya. Gabriel kembali ke depan dan mencoba menenangkan Aurora.

"Sudah ahh, jadi gak mood. Mau tidur saja."

Gabriel mengantar Aurora untuk tidur. Dia juga memerintahkan semua kembali ke posisi masing-masing. Tak lupa berterima kasih kepada semuanya yang sudah menemani Aurora main.

Terpopuler

Comments

Ymn Goh

Ymn Goh

sayang sepi,padahal mantap juga hayalannya

2023-04-17

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!