"Lapor Jenderal, semua pembunuh sudah dibereskan. Menyisakan seorang pembunuh yang masih hidup" Seorang pengawal melaporkan dari luar kereta.
"Bawa ke kediaman, biar nanti aku interogasi sendiri" perintah Zhou Ming.
Masalah ini tidak sederhana. Sejak pulang dari istana, Jenderal telah memerintahkan beberapa pengawal untuk mengikuti Celine. Pengawal itu terluka dan pingsan. Dan ketika mengejar kemari beberapa pasukan pembunuh datang untuk memperlambat penyelamatan terhadap nona Marquis ini.
Zhou Ming menunduk menatap calon istrinya. Ditelitinya wajah itu. Tampak alis yang menarik dengan kelopak mata besar yang tertutup. Jika mata itu terbuka sinarnya sangat indah. Tadi dia sempat melihatnya. Pipinya yang montok dan wajah penuh jerawat. Terdapat bibir ranum seperti Cherry yang sangat menggoda. Zhou Ming menelan ludah. Ingin merasakannya.
'Sialan apa yang kupikirkan' wajah Zhou Ming memerah.
"Hhhhhhh,,,,,,," helaan nafas Zhou Ming terdengar.
Selama di Medan perang tak sedikit wanita yang dilihatnya. Bahkan mata-mata musuh sering menawarkan diri padanya dan mereka tidak membuatnya tertarik.
Mengapa dengan wanita ini dia tertarik? Padahal kata orang wanita ini gendut, jelek dan tidak bisa apa-apa. Mungkin karena dia adalah wanita pilihan ibunya. Hanya itu satu-satunya kemungkinan yang tersisa menurut Zhou Ming.
Zhou Ming merenung memikirkan bisikan terakhir Celine tadi. Sepertinya calon istrinya tahu jika dia akan datang, atau lebih tepatnya pasukan bantuannya akan datang. Apa calon istrinya ini tahu jika dirinya mengirim pasukan untuk mengawalnya pulang?
Dilihatnya pelayan Celine tergeletak di kursi dengan luka sayat di punggung. Dia berbalik kembali pada Celine. Ditelitinya luka Celine. Bekas darah di lengan membuat dahinya mengernyit. Dan luka di bahunya, membuatnya murung.
"Sepertinya tadi dia berjuang sekuat tenaga" gumam Jenderal.
Pandangannya beralih pada telapak tangan Celine. Di sana tampak dekrit kekaisaran tergenggam erat. Dan ada bekas benda tajam di pegangan dekrit tersebut. Jenderal Zhou tersenyum kecil.
"Rupanya istri kecilku sudah berubah. Sudah bisa melindungi diri sendiri. Apa lagi yang kau sembunyikan hhhmmmm?" Tangan sang Jenderal membelai pipi Celine dengan sayang.
"Bawa kembali kereta ke kediaman Marquis" perintahnya akhirnya.
Kereta berjalan dengan cepat. Tak berapa lama sampailah rombongan di kediaman Marquis.
Sementara itu di kediaman Marquis ~~~
Nyonya besar dan Tuan besar tampak menunggu kedatangan Celine. Ya. Celine yang belum pulang membuat mereka cemas. Bagaimanapun Celine adalah pembawa kemuliaan bagi kediaman karena memiliki dekrit kekaisaran bersamanya. Bagaimana mungkin mereka tidak khawatir?
"Mana kereta cucuku, Marquis? Bagaimana kau mengatur kereta untuknya? Bagaimana bisa keretanya berjalan terlalu lambat di belakang kita?" Nenek memarahi Marquis.
"Ibu, mungkin ban kereta kakak patah, apa sebaiknya kita jemput saja kakak, soalnya hari sudah malam. Takutnya banyak perampok yang suka memanfaatkan korbannya" Han Sheng Yi mencoba memberi pendapat.
Han Sheng Yi adalah nona ketiga kediaman Marquis. Usianya tidak beda jauh dari Han Cya Lin. Tapi karena ibunya memiliki kedudukan yang lebih rendah maka gelarnya adalah nona ketiga.
"Apa maksudmu? Beraninya kau memperkeruh suasana? Apa kau ingin reputasi kakakmu ternoda akibat dari perkataanmu yang sepihak itu" nenek memukulkan tongkatnya ke tubuh Sheng Yi hingga membuat Sheng Yi jatuh dan bajunya kotor.
"Ibu, mohon bersabar. Sheng Yi tidak bermaksud seperti itu. Dia hanya khawatir pada Lin'er" selir Yingtzi segera menghampiri Sheng Yi dan membela anaknya.
"Diam kamu! Dia hanya menambah kan minyak ke bara api. Suruh tutup mulutnya jika tidak ingin menerima hukuman cambuk!" Raut wajah nenek sangat tidak enak dilihat.
Marquis hanya diam dan berpikir keras. Apa yang menyebabkan kereta anak tertuanya belum kembali? Tapi dia sudah menempatkan beberapa pengawal senior untuk menjaganya. Seharusnya Han Cya Lin tidak apa-apa.
"Toplak,,,,,,toplak,,,,,," terdengar bunyi kereta berhenti di depan gerbang.
"Jenderal Zhou tiba" Pelayan mengumumkan kedatangan Jenderal.
'Mengapa Jenderal Zhou kemari?' batin nenek dan Marquis dalam hati.
Marquis berpandangan dengan nenek dan langsung menuju ke gerbang. Terlihat Jenderal menggendong Celine dengan gendongan putri.
"Cucuku Lin'er, apa yang terjadi" nenek berjalan tertatih-tatih menuju Jenderal Zhou.
"Tenanglah nyonya besar, Lin'er tidak apa-apa. Aku sudah memanggil tabib istana untuk kemari. Mari kita bicara di kamar Lin'er" Jenderal Zhou menenangkan nenek.
"Baiklah, terima kasih atas pertolongan Jenderal Zhou" nenek dan Marquis bicara bersamaan.
Sesampainya di dalam kamar Celine, Jenderal Zhou meletakkan Celine ke atas kasur. Ini kedua kalinya jenderal masuk ke kamar Celine sejak pertemuan mereka kembali.
"Ganti dan seka luka nona besar" perintah Nenek terdengar.
Segera pelayan mengambil baskom berisi air.
Setelah meletakkan Celine dan tirai selambu ditutup. Pelayan segera membersihkan badan dan luka Celine. Jenderal Zhou duduk di kursi dekat tempat tidur diikuti oleh Marquis dan nenek.
"Apa yang terjadi Jenderal? Mengapa anda yang membawa Lin'er?" Marquis bertanya hati-hati.
"Tadi Lin'er diserang oleh pembunuh bayaran. Entah siapa yang mengirim nya. Beruntung dia dan pelayannya dapat mempertahankan diri. Bagaimana pun sepertinya penyerangan ini sudah direncanakan. Karena aku dan beberapa pengawal ku yang mengikuti di belakang juga disergap oleh beberapa kelompok pembunuh" jelas Jenderal Zhou sambil menyesap teh yang disediakan di depannya.
Nenek dan Marquis yang mendengar cerita dari pangeran Zhou terkesiap kaget. Apakah nona besar dari kediaman mereka diincar pembunuh? Tapi mengapa?
"Mungkin berita tentang pernikahan kami adalah pemicunya. Hanya saja, lawan tidak boleh dianggap remeh. Terbukti mereka mampu menyewa pembunuh bayaran dari Jiangnan yang terkenal mahal dan bersih. Dengan kata lain jika mereka tidak mampu melaksanakan tugas, mereka lebih memilih untuk mengakhiri hidup mereka" penjelasan dari Jenderal membuat nenek dan Marquis semakin tegang.
"Beruntung kami berhasil menahan seorang pembunuh tetap hidup. Semoga ada informasi darinya. Tapi aku harap kalian menjaga Lin'er hingga hari pernikahan tiba. Setelah itu, dia akan menjadi tanggung jawabku sepenuhnya" kata-kata penutup dari Jenderal Zhou bagai batu besar yang membebani bahu nenek dan Marquis.
Mata Zhou Ming menatap Marquis dengan tajam. Menunggu jawaban segera.
"Hamba mengerti, Jenderal. Kami akan menjaga calon permaisuri Jenderal dengan sepenuh hati" jawab Marquis. Terlihat keringat menetes di dahinya. Meskipun usianya masih muda, aura Jenderal yang menekan dengan kuat benar-benar tidak dapat diremehkan.
"Baiklah. Sudah larut malam. Aku kembali dulu" pamit Jenderal Zhou pada nenek dan Marquis.
"Selamat jalan dan hati-hati Yang Mulia" nenek dan Marquis memberi hormat.
Tak lama tabib dari istana tiba. Dia mengatakan jika luka nona besar parah. Jika tidak segera diobati maka akan merenggut nyawa. Oleh karena itu diharapkan nona besar beristirahat total.
Nenek menghela napas kasar. Sepertinya pernikahan akan dilaksanakan meski tubuh Celine belum benar-benar pulih. Cedera seperti itu kemungkinan akan sembuh dalam waktu 3 bulan. Tapi dekrit kekaisaran mengatakan pernikahan dilaksanakan dalam 15 hari. Tadi tidak sempat bertanya pada Jenderal Zhou mengenai hal ini.
"Cucuku sangat menderita. Kamu harus mengawasinya Marquis Han. Jangan lupa dia anak dari istri sahmu" nenek mengingatkan putra tunggalnya. Dia membelai sayang pipi Celine.
"Baik ibu. Sebelum pernikahannya yang dilaksanakan 15 hari lagi, aku akan menambahkan jumlah pengawal di kediaman Lin'er" Suara Marquis tenang dan dalam.
"Baiklah, aku lelah. Aku akan kembali untuk beristirahat" nenek beranjak pergi dengan bibi Xun.
"Selamat jalan ibu. Selamat beristirahat" Marquis mengantar kepergian nenek.
Setelah memberi perintah penambahan pengawal, Marquis beranjak ke dalam kamar kerjanya. Dia berpikir. Apakah ada yang salah dalam pekerjaannya baru-baru ini hingga anaknya diincar?
"Pengawal" seru Marquis.
Seorang penjaga bayangan dengan cepat hadir di sebelah Marquis.
"Selidiki apa yang terjadi. Bagaimana rupa pembunuh dan sebenarnya apa yang mereka inginkan" perintah Marquis Han.
"Laksanakan tuanku" secepat dia datang secepat itu pula penjaga bayangan itu menghilang.
Tengah malam, dalam kamar Celine~
"Kreeek"
Sekelebat bayangan hitam masuk dari jendela. Bayangan itu langsung menuju ke kamar Celine. Dia duduk di sebelah Celine yang mengerutkan dahi. Keringat tampak berkumpul di sana. Dia menyeka keringat Celine.
"Yanzhi" panggil bayangan itu.
"Hamba Tuanku" seorang gadis berpakaian serba hitam muncul di kamar Celine.
"Pelayan pribadinya terluka dan belum bisa merawatnya. Kedepannya kamu yang menjaganya. Jaga dia baik-baik" Terdengar kata-kata rendah dan tajam keluar dari pria berbaju hitam itu.
"Baik, Yang Mulia" jawab Yanzhi.
"Sedangkan pelayan pribadinya, suruh Yunzhi merawatnya" sambung Jenderal Zhou.
"Baik, Yang Mulia" jawab Yanzhi kembali.
"Apa yang menyebabkan mereka juga mengincarmu?" Jenderal Zhou berkata lembut sembari melap buliran keringat di dahi Celine.
Ya,,,, ternyata siluet yang muncul di kamar Celine adalah Jenderal Zhou.
"Ganti pakaiannya. Bersihkan tubuhnya dengan air hangat" jenderal Zhou berkata sambil beranjak menuju tempat duduk di sebelah tempat tidur Celine.
Sambil menyesap teh hijau yang baru saja dihidangkan Yanzhi, dia berpikir. Hasil interogasinya mengarah pada mata-mata kerajaan lain yang mengincar kehancuran kerajaan ini. Tapi mengapa para pembunuh itu mengincar Han Cya Lin juga?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Wanda Wanda i
kereeen
2023-04-02
0