Orang tuanya menghampiri Kiara dan duduk di tepi ranjang. Melihat wajah serius orang tuanya, Kiara memutuskan untuk mematikan acara televisinya.
"Ayah-ibu, sudah pulang dari hajatannya?" tanya Kiara tersenyum.
"Maafkan kami ya, Kiara. Sejujurnya kami tidak pergi ke acara hajatan, itu hanya untuk alasan kami saja. Tetapi baru saja kami menyambangi rumah, Bima," ucap Ayah Darwo.
"Ayah-ibu, untuk apa sih kalian repot-repot jauh-jauh banyak untuk ke rumah Mas Bima?" tanya Kiara seraya memicingkan alisnya.
"Karena kami merasa curiga, kenapa pula Bima tidak datang di acara syukuran tujuh bulanan kehamilanmu," ucap Ibu Darti.
Setelah mendengar tujuan orang tuanya yang datang ke rumah Bima, ia diam membisu tak bisa berkata-kata lagi.
"Kiara, seharusnya kamu tidak usah menyembunyikan permasalahanmu pada kami. Ceritakan saja semuanya, kenapa kamu memendam permasalahanmu sendiri, itu tidak baik Kiara," tegur Ayah Darwo.
"Ayah-ibu, aku minta maaf ya? aku melakukan itu semua hanya sebatas tak ingin ayah dan ibu memikirkan permasalahan yang terjadi dalam rumah tanggaku. Aku tak ingin menambah beban pikiran kalian berdua, bukannya aku sok kuat dengan menahan rasa ini sendiri," ucap Kiara.
"Kami sama sekali tak menyangka jika sifat Bima begitu kejam padamu, jika tahu seperti ini dulu kami tidak akan membiarkanmu menikah dengan pria sekejam, Bima," ucap Ibu Darti.
"Sudahlah, Ayah-ibu. Tak usah membicarakan Mas Bima lagi, karena aku sudah ikhlas dengan semua yang telah menimpaku ini. Dan aku juga telah putuskan jika kelak anak ini lahir, aku akan mengurus perceraianku dengan, Mas Bima," ucap Kiara.
"Baiklah, nak. Kami minta maaf ya, dan apapun yang menjadi keputusan bagi dirimu, kami akan selalu mendukungnya," ucap Ayah Darwo.
Orang tua Kiara, bisa memahami akan langkah yang di ambil oleh Kiara. Karena mereka juga berpikir sana, untuk apa pula bertahan dengan pernikahan yang tak sehat. Punya suami tapi serasa tak punya suami, karena dari awal pernikahan tidak ada jatah lahir dari suami. Kiara menghidupi dirinya sendiri.
Bahkan hingga Kiara hamil, bukannya Bima sadar aman kekeliruannya dan lekas memperbaiki kesalahannya. Tetapi malah semakin parah dengan menuduh anak yang ada di dalam kandungannya, bukanlah anak biologis dari, Bima. Tuduhan ini yang membuat Kiara semakin benci dan sakit hati pada, Bima.
Sejak saat itu, baik Ayah Darwo ataupun Ibu Darti tak menyinggung lagi tentang Bima. Karena mereka tak ingin membuat sedih Kiara. Justru mereka ingin membuat bahagia anak sulungnya yang saat ini sedang hamil tujuh bulan.
Mereka ingin memberikan kebahagiaan kepada, Kiara. Seperti apa yang telah Kiara lakukan pada mereka selama ini.
Bima juga sudah benar-benar di butakan dengan hasutan mamah nya tentang Kiara, hingga ia sama sekali sudah lupa dengan istrinya sendiri. Bahkan ia kini mulai bermain api dengan menjalin hanya hubungan dengan seorang wanita rekan kerjanya. Padahal statusnya masih suami sah, Kiara.
Hingga suatu hari, tanpa sengaja Kiara berkenalan dengan seorang wanita muda yang seusia dirinya. Bahkan wanita ini mengadakan kerjasama dengan perusahaan Arya. Hingga ia bertemu dengan, Kiara. Mereka satu sama lain tidak tahu menahu jika Kiara adalah istri Bima, dan Kiara juga tidak tahu jika rekan kerjanya ini adalah pacar, Bima.
"Mba Kiara, aku salut loh sama mba. Di usia kehamilan mba yang sudah bedar seperti ini masih saja bekerja?" ucap Milka.
"Biasa saja, mba. Semua karena tuntutan hidup, jika tidak seperti ini lantas saya harus menghidupi diri sendiri dan anak saya dengan apa? tidak ada yang bisa aku andalkan atau aku harapakan dari siapapun, Mba Milka."
Mendengar apa yang di katakan oleh Kiara, sontak saja membuat Milka merasa iba. Sejak saat itu ia pun berteman baik dengannya.
Dan pada saat makan siang, dimana dirinya menyempatkan waktunya makan siang bersama dengan, Bima. Ia pun tak sungkan bercerita tentang Kiara.
"Mas, aku punya teman baru. Tetapi kasihan sekali. Nasibnya itu miris, hingga aku kok takut jika ingin menjalin hubungan yang serius denganmu. Aku jadi takut dengan pernikahan," ucapnya tiba-tiba.
"Lho kok bisa begitu? memangnya apa yang telah menimpa pada teman barumu itu, kamu bisa mengatakan seperti itu?" tanya Bima penasaran.
Milka menceritakan semuanya yang menimpa Kiara, pada Bima. Tanpa ia mengatakan nama Kiara. Hingga Bima sana sekali tak tahu jika yang sedang di ceritakan oleh Milka adalah Kiara.
"Memangnya kamu pikir setiap pria itu sifatnya sama, seperti suami dari teman itu? hingga kamu menyama ratakan termasuk aku sifatnya seperti itu?" ucap Bima.
"Bukan seperti itu, Mas Bima. Aku kan sedang menceritakan apa yang telah menimpa temanku, bukan berarti aku menyamakan sifatmu seperti suami temanku itu. Hanya saja aku perasaan khawatir menghinggapi dirimu ini," ucak Milka yang tahu jika Bima itu adalah suami dari Kiara.
Karena Kiara tidak pernah menyebut nama suaminya, jika ia sedang bercerita pada, Milka.
Bima mencoba meyakinkan pada, Milka. Jika dirinya itu sifatnya tidak sama seperti suami dari teman barunya Milka.
"Syukurlah jika sifatmu itu tidak sana seperti pria dari suami temanku itu. Lantas apa maksud kamu meyakinkan aku akan hal ini?" tanya Milka seolah tak tahu maksid dari perkataan Bima.
Bima pun menjelaskan jika dirinya ingin menikah dengan Milka. Selepas ia bercerai dengan istrinya.
"Maksud aku ingin menikdhi dirimu. Kamu sudah tahu kan cerita hidup diriku, dimana istriku malah berselingkuh hingga ia hamil. Dan jika ia sedang tidak hamil, pasti aku sudah menceraikannya. Aku mau kan, menungguku?" ucap Bima.
"Iya, mas. Kamu yang sabar ya mas, aku janji tidak akan menyakitimu dengan selingkuh seperti apa yang di lakukan oleh istrimu itu. Kok nggak ada malunya sama sekali ya?" ucap Milka menghujat istri Bima yang tak lain adalah teman barunya itu.
Bima merasa lega, karena ia sudah punya calon istri. Apa lagi calon istrinya ini juga seorang direktur seperti halnya dengan Kiara. Bahkan Milka ini masih lajang, yang membuat dirinya bangga menjalin hubungan dengan Milka.
Bahkan Mamah Nindy sangat setuju, dengan pilihan Bima kali ini. Ia bahkan kerap kali memuji Bima.
"Nah, cari istri itu seperti Milka. Status kerjaan baik, apa lagi perusahaan sendiri. Dan ia juga anak semata wayang. Enak banget itu, jika kamu bisa menikah dengan Milka. Kamu akan memperoleh semua yang kamu inginkan."
"Istri cantik, kaya raya turunan ningrat. Jadi bisa mengangkat derajatmu bahkan kelam kekayaaanmu akan menjadi berlimpah."
Mamah Nindy sangat mendukung apa yang akan di lakukan oleh, Bima.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments