Mendengar ocehan dari Mamah Nindi, sebenarnya Kiara sangat kesal. Apa lagi Bima hanya diam bagai patung tak bergeming sama sekali.
Kiara memutuskan untuk berlalu pergi dari hadapan Mamah Nindi. Dan Bima tak tinggal diam, ia pun mengejar kepergian Istrinya ke arah kamar.
"Sayang, aku....
"Apa? maaf bukan? hanya itu yang kamu bisa katakan tanpa ada pergerakan sama sekali," ucap Kiara sudah tak bisa menahan rasa amarahnya.
"Sayang, memang selama ini aku selalu memberikan uang pada mamah," ucap Bima ia bingung mau berkata seperti apa pada Kiara apa lagi melihat sorot wajah Kiara yang penuh dengan amarah.
"Ya aku tahu, tetapi seharusnya kamu itu pintar sedikitlah. Jika kamu mau memberikan jatah bulanan padaku setidaknya jangan di hadapan mamah."
"Atur kek bagaimana caranya supaya adil. Begini saja, kamu transfer ke nomor rekening aku apa nggak bisa, mas? nggak perlu menonjolkan bahwa kamu memberikan jatah bulanan padaku di depan mamah!"
"Pokoknya mulai sekarang kamu transferin saja ke nomor rekeningku hingga tak terjadi lagi hal seperti ini. Mas iya kita baru menikah satu bulan tapi sudah tak karuan seperti ini karena ulah mamahmu, mas?"
"Tegas sedikit kamu nggak bisa sama, mamah? selalu saja kamu diam dan diam."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Kiara, sejenak Bima hanya diam dan beberapa detik kemudian ia pun berkata.
"Baiklah, mulai bulan depan aku akan transfer jatah bulanan ke nomor rekeningmu. Sudah ya sayang, kamu jangan marah lagi seperti ini nanti lekas tua."
Untuk sementara, amarah Kiara mereda dengan kata-kata Bima barusan. Akhirnya Kiara pun mengikhlaskan tidak mendapatkan jatah bulanan yang pertama dari suaminya.
Semua uang di pegang oleh Mamah Nindi, tetapi pada saat Kiara akan makan ia kembali di buat kesal oleh tingkah mamah mertuanya tersebut.
"Eits...tarok daging ayamnya! kamu nggak boleh makan!ini hanya khusus untuk Bima dan mamah, toh Bima yang memberi uang untuk belanja sementara kamu apa? hanya bisanya menjadi benalu di rumah ini!"
Ucapan Mamah Nindi benar-benar sangat menyakitkan hati Kiara. Tetapi ia bukanlah wanita yang cengeng yang gampang di tindak.
"Mah, apa aku nggak salah dengar dengan apa yang barusan mamah katakan padaku?" tanya Kiara seraya sengaja menjatuhkan sendok dan garpunya di piringnya.
'Hello, telingamu masih waras dan nggak tuli bukan? apa perlu aku ulang lagi? kamu ini cuma benalu, parasit di rumah ini!" ejek Mamah Nindi.
"Mah, aku ini istri dari anakmu! anak kesayangmu itu! masa iya aku di katakan benalu? sudah tua itu seharusnya mamah perbanyak amal dan ibadah, bukan perbanyak dosa seperti ini."
Setelah mengucap kata seperti itu, Kiara bangkit berdiri dan meninggalkan ruang makan tesebut. Kembali lagi, Bima hanya diam bagai sebuah boneka yang tak bisa apa-apa.
"Kamu lihat kan, seperti itu wanita yang kamu nikahi? sama sekali tak menghormati mamah sebagai ibu yang telah melahirkanmu," ucap Mamah Nindi.
"Lagi pula itu kan salah mamah sendiri, masa iya Kiara mau makan daging ayam saja nggak boleh? Sebenarnya Kiara itu benar loh, mah. Ia kan istriku, kenapa pula mamah mengatakan bahwa ia benalu dan parasit di rumah ini?"
Mendengar apa yang dikatakan oleh Bima, langsung saja Mamah Nindi menghentikan aktifitas sarapannya. Dan ia mulai berakting dengan menitikkan air mata buayanya.
"Tega kamu mengatakan hal ini pada mamah? baru satu bulan kamu menikah dengan Kiara, tetapi sejak itu juga kamu selalu membelanya dan membangkang mamah. Apa kamu ingin menjadi anak yang durhaka?"
"Mah, kok malah menangis? aku minta maaf jika membuat mamah sedih seperti ini. Aku hanya ingin menengahi, mah. Di sini aku tidak membela siapa-siapa. Aku hanya ingin mamah dan Kiara akur, itu saja."
"Padahal saat aku masih pacaran dengan Kiara, mamah juga selalu baik padanya bukan? kenapa setelah kami menikah malah seperti ini? bagai anjing dan kucing saja?"
Mamah Nindi mengusap air matanya, ia semakin kesal mendengar apa yang dikatakan oleh Bima.
"Kurang ajar, masa mamah ini di samakan dengan binatang? pokoknya mulai bulan depan semua pendapatan kantor, kamu serahkan untuk mamah! mulai bulan depan, bukan hanya jatah bulanan saja, tetapi semua uang dari hasil perusahaan kamu serahkan pada Mamah?" bentak Mamah Nindi.
"Mamah tidak bisa seenaknya seperti itu dong, urusan kantor jangan di campur adukkan dengan urusan rumah. Jika semua uang kantor di pegang oleh mamah, aku pasti akan bingung mengelolanya."
"Bagaimana dengan gaji karyawan dan lain sebagainya. Masa iya setiap aku melakukan transaksi harus minta sama mamah dan laporan?"
"Tolong mamah jangan keterlaluan seperti ini. Bukannya sebelumnya juga tidak di pegang oleh mamah?"
Mamah Nindi sejenak menghela napas panjang.
"Memang sebelumnya mamah percaya sepenuhnya padamu. Tapi sekarang mamah sudah tak percaya lagi sejak kamu menikah dengan Kiara. Mamah nggak ingin ya, diam-diam kamu ambil uang perusahaan dan diberikan pada Kiara."
"Apa lagi mamah tahu jika Kiara anak orang miskin, bisa saja tanpa sepengetahuan mamah kamu memberikan uang pada orang tuanya."
Bima menggelengkan kepalanya mendengar segala yang di katakan oleh Mamah Nindi.
'Kenapa nggak mamah sekalian yang mengurus semua urusan di kantor. Dan biarkan aku di rumah saja duduk diam," ucap Bima ketus.
Pyang....pyang....
Mamah Nindi melemparkan dua piring ke lantai tanda ia sudah tidak bisa menahan rasa amarahnya.
"Dasar anak durhaka!" bentak Mamah Nindi
Jika sudah seperti ini barulah Bima ketakutan. Dan ia pun minta maaf dan berjanji akan melakukan apapun yang mamahnya inginkan.
Bunyi piring dan ocehan Mamah Nindi terdengar hingga ke kamar Kiara. Ia hanya diam saja dan mempercepat diri supaya segera pergi dari rumah itu menuju ke kantornya.
"Hem, nggak pernah aku bermimpi sebelumnya jika aku akan memiliki seorang ibu mertua yang seperti ini. Dan aku juga tidak pernah menyangka punya suami seperti boneka di hadapan ibunya tidak bisa berbuat apa-apa."
"Entahlah, bagaimana kehidupan rumah tangga aku kedepannya seperti apa setelah melihat perangai ibu mertuaku juga sifat suamiku yang monoton dan kaku bagai patung."
Gumam Kiara dan melangkahkan kaki keluar dari kamarnya. Ia pun melangkah ke ruang makan di mana masih ada suami dan ibu mertuanya.
"Mas, aku minta maaf ya. Aku berangkat terlebih dahulu karena akan ada meeting seluruh devisi karyawan kantor. Jadi aku harus berangkat lebih awal."
Kiara mencium punggung tangan suaminya.
"Halah pegawai biasa saja, gayanya seperti seorang manajer atau direktur utama," ejek Mamah Nindi.
Kiara tak merespon, ia hanya melirik sinis ke arah mertuanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments