Bu Kost langsung membawa semua makanan itu ke kamar kost, Kiara.
"Tok tok tok tok tok"
Bu kost mengetuk pintu kamar kost Kiara.
"Kreeeekkkk"
Kiara membukanya dan tersentak kaget pada saat melihat siapa yang datang.
"Ibu, silahkan masuk."
"Nggak usah, ibu cuma mau mengantarkan makanan, buah,dan susu ini untukmu. Ibu harap kamu tidak menolaknya ya."
"Tapi, Bu. Ibu sudah sering loh, memberikan makanan padaku? aku jadi tak enak hati."
"Kiara, ibu itu sudah menganggapmu anak. Karena ibu tak punya anak perempuan. Jadi tolong jangan tolak pemberian dari ibu ya."
Hingga pada akhirnya, Kiara tidak menolak pemberian dari Ibu kost.
"Terima kasih banyak ya, Bu. Aku selalu saja merepotkan ibu dan juga ibu selalu membuatku senang," ucap Kiara terkekeh.
"Ya sudah, ibu pamit ya. Karena di rumah masih banyak kerjaan. Di makan loh ya, ingat untuk kesehatan janinmu juga," ucap Bu Kost seraya mengusap sejenak perut Kiara.
"Terima kasih, ibu."
********
Esok harinya, ada kejutan manis dari presiden direktur yang sangat tampan dan masih muda.
"Kring kring kring kring kring"
Telpon di ruang kerja Kiara berbunyi. Ia pun langsung mengangkatnya.
"Kiara, lekas ke ruanganku. Karena ada yang ingin aku bicarakan dengan dirimu."
"Baik, Tuan. Segera saya ke ruangan anda."
Kiara langsung melangkah ke luar ruang kerjanya tanpa lupa mengunci pintunya terlebih dahulu. Setelah itu ia langsung melangkah ke ruangan presiden direktur.
"Tok tok tok tok"
Kiara mengetuk pintu ruangan tersebut.
"Masuk saja"
Kiara pun masuk dan langsung duduk di hadapan presiden direktur yang sangat tampan tersebut.
"Kiara, aku minta maaf. Kemarin tidak sekalian mengatakan padamu tentang hal ini. Ada inventaris dari kantor berupa rumah dan mobil untuk menunjang kerjamu. Jadi kamu tak usah lagi tinggal di kost."
"Ini kontak mobilnya beserta surat-suratnya, dan ini kontak rumah. Nanti sepulang kerja, asistenku yang akan membantumu untuk pindah dari kost ke rumah itu ya."
"Kamu nggak usah khawatir, kamu tidak dikenai biaya apapun. Tinggal menempati saja. Jika kamu ingin ajak keluargamu juga nggak apa-apa."
"Karena rumah lumayan besar, supaya kamu tidak kesepian jika mengajak keluargamu."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Arya, tiba-tiba wajah Kiara memancarkan rona bahagia.
"Tuan, serius? jika saya boleh ajak orang tua dan adik saya tinggal di rumah inventaris dari kantor itu?" tanya Kiara seakan tidak percaya.
"Iya, Kiara. Aku serius, masa iya aku berbohong padamu," ucap Arya.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Tuan." Tanpa sadar Kiara menyalami Arya bahkan Arya tanpa sadar pula menggenggam erat tangan Kiara.
"Sama-sama, Kiara," ucapnya seraya terus menatap ke wajah ayu Kiara.
Kiara pun langsung mengalihkan pandangannya entah kemana dan meraih tangannya sendiri dari genggaman tangan Arya.
"Apakah sudah tidak ada lagi yang ingin anda sampaikan, Tuan?" tanya Kiara.
"Tidak ada, Kiara."
"Kalau begitu saya kembali ke ruangan ya. Karena masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan dengan segera," ucap Kiara.
"Baiklah, kalau begitu. Jangan terlalu keras dalam bekerja ya, jika cape kamu istirahat sejenak. Ingat selalu dengan janin yang ada di dalam kandunganmu. Karena aku tidak pernah memaksa semua karyawanku untuk bekerja terlalu keras," pesan Arya.
"Baik, Tuan."
Segera Kiara keluar dari ruang kerja Arya dan ia kembali ke ruang kerjanya sendiri dengan hati yang penuh sukacita.
"Kiara, aku memang sengaja memberikan inventaris rumah yang begityi mewah itu hanya padamu tidak dengan karyawan yang lain. Aku lakukan itu, supaya kamu mau mengajak orang tua dan adikmu tinggal bersamamu."
"Aku sudah tahu kesusahan orang tuamu, juga aku tak ingin selamanya kamu tinggal seorang diri. Aku heran saja dengan suamimu yang benar-benar tak punya hati nurani membiarkan istrinya yang sedang hamil berjuang sendirian bahkan tinggal di tempat kost."
Arya terus saja menggerutu selepas Kiara pergi dari ruang kerjanya. Sementara kini Kiara yang sedang ada di ruang kerjanya ingin memberi tahu kabar gembira , tetapi bukan pada suaminya melainkan pada orang tuanya.
"Alhamdulillah ya Allah, ini anugerah terindah dariMu. Selama ini kami tinggal di rumah kontrakan. Dan ayah harus bekerja keras, aku akan memberi tahu pada, ayah, ibu serta adikku untuk tinggal bersamaku."
"Supaya ayah tak pusing lagi memikirkan untuk membayar kontrakan. Nak, kehadiran dirimu benar-benar membawa keberuntungan yang beruntun buat mamah."
"Pertama, mamah di pertemukan dengan orang-orang yang baik yang ada di kost. Ibu Kost dan teman-teman kost baik semua."
"Kedua, mamah naik jabatan. Dan ketiga, mamah mendapatkan inventaris berupa rumah dan mobil."
"Sebaiknya aku beritahukan nanti saja pada saat aku juga pindah. Aku akan jemput orang tuaku serta adikku."
Kiara terus saja tersenyum bahagia dengan segala kebaikan yang saat ini dengan ia rasakan, bahkan ia melupakan kesedihannya pada suaminya yang yang benar-benar tidak perhatian padanya.
Hingga sore pun menjelang, Kiara di dampingi oleh asisten pribadi Arya. Menyambangi rumah barunya dan mobil barunya. Untung saja Kiara sudah bisa menyopir pada saat tinggal sejenak di rumah Bima. Ia hampir tiap hari mengemudikan mobil Bima.
Orang tua dan adiknya kaget pada saat melihat kedatangan, Kiara bersama dengan asisten pribadi Arya. Mereka membawa mobil sendiri-sendiri.
"Kiara, kamu sama sapa?" tanya Ayah Darwo.
"Dia itu asisten pribadi presiden direktur di tempat aku kerja, ayah. Aku sengaja mengajak kemari. Karena aku membutuhkan tenaganya," ucap Kiara.
"Ayah-ibu, dan Riko. Kalian cepat kemasi semua barang-barang kalian. Karena akan aku ajak tinggal di rumahku."
"Alhamdulillah, aku naik jabatan menjadi seorang direktur dan aku mendapatkan inventaris berupa mobil serta rumah."
"Kebetulan rumahnya besar, hingga tak mungkin aku tinggal sendirian. Ceritanya nanti lagi, ayah. Ayok kalian lekas berkemas sekarang juga. Aku tidak enak jika asisten pribadi Tuan Arya terlalu lama menunggu."
Hingga pada akhirnya Ayah-ibu serta Riko menuruti kemauan Kiara. Mereka lekas mengemasi semuanya. Supaya tidak terlalu lama menyita waktu.
Semua barang-barang yang perlu di bawa di masukkan ke mobil yang di kemudian oleh asisten pribadi Arya. Sedangkan Ayah-ibu dan Riko masuk ke dalam mobil Kiara.
Saat itu juga dua mobil ini berjalan beriringan melaju ke sebuah perumahan elite. Dan alangkah terkejutnya keluarga Kiara pada saat melihat rumah mewah tersebut.
"Kiara, apa benar kita tinggal di rumah ini?" tanya Ayah Darwo.
"Benar, ayah."
"Bu, coba ibu cubit tangan ayah. Kok ayah masih saja belum percaya, seperti mimpi."
Bu Darti mencubit lengan suaminya dengan kerasnya.
"Aaahhh ...sakit Bu!" rintih Ayah Darwo
"Loh, katanya pengen di cubit? sudah di cubit kok protes?" ucap Bu Darti seraya memicingkan alisnya.
"Cubit sih cibut tapi ya masa keras banget," protes Ayah Darwo kembali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Yuni Ngsih
Kiara.....good....👍👍👍💪💪💪
2024-11-23
0