Bertemu Seseorang Di Masa Lalu

Tak berapa lama, Kiara telah sampai di kantor. Tetapi ia merasakan perutnya masih terasa lapar.

"Duh, perutku lapar sekali."

Batinnya seraya mengusap perutnya sendiri.

Karena pada saat sarapan terganggu oleh Mamah Nindi hingga ia pun mengurungkan sarapannya. Tetapi memang pagi ini akan ada meeting ada presiden direktur dari perusahaan tempatnya bekerja. Hingga ia tidak berani untuk memesan makan sepagi itu.

Semua orang sudah berkumpul di ruangan meeting, untuk menunggu presiden direktur perusahaan tersebut memimpin meeting tersebut.

Kasak kusuk mulai terdengar, dimana para pegawai wanita membicarakan presiden direktur tersebut.

"Kiara, sayang sekali kamu sudah menikah ya? kalau tidak kamu masih ada kesempatan untuk bisa mendapatkan cinta Presdir kita," bisik Mita.

"Apa maksudmu?" tanya Kiara lirih.

"Secara di kantor ini yang paling cantik dan sangat menggoda itu cuma kamu, sementara Presdir kita itu pria tampan dan rupawan status masih lajang pula,"

bisik Mita terkekeh pelan.

Kiara hanya tersenyum kecil seraya menggelengkan kepalanya. Ia sama sekali tidak tertarik dengan hal itu. Saat ini yang ia pikirkan, meeting cepat di lakukan supaya ia bisa lekas membeli makanan untuk sarapan.

"Ihhh.... nggak disiplin banget sih! katanya Presdir dan tak mengizinkan semua karyawan telat datang di acara meeting ini. Sendirinya lambat, apa karena mentang-mentang ia itu seorang Presdir jadi seenaknya sendiri ya?" batin Kiara kesal karena harus menahan laparnya lebih lama lagi.

Hingga tak berselsng lama, pintu ruangan tersebut di buka oleh seorang asisten pribadi dari Presdir tersebut. Dan terlihatlah seorang pria tampan melangkah dengan senyuman manisnya menyapa semua para karyawan dan karyawati.

Hampir semua karyawati menatap tak berkedip, akan tetapi tidak dengan Kiara. Ia tak sadar dengan kedatangan sang Presdir karena ia terus saja tertunduk seraya tiada hentinya mengusap perutnya. Hingga Mita menyikut lengannya sebagai kode bahwa Presdir telah datang. Kiara pun mendongakkan kepalanya, tetapi ia sama sekali tidak tertarik dengan Presdir tersebut.

Bahkan ia memicingkan alisnya, seolah mengenal pria yang ada di depan matanya tersebut.

"Astaga...jadi dia Presdir di perusahaan ini? kok aku sama sekali tidak tahu ya?" batin Kiara heran.

Pria tampan yang menjadi Presdir tersebut adalah pria yang pernah menjadi kakak kelasnya di kampus dimana dulu ia kuliah. Dan pria ini pula yang selalu mengejek dirinya gadis cupu berkacamata.

"Hem, pria ini ternyata! kenapa aku harus bertemu dengannya lagi? aku jadi ingat pada saat dulu ia hina aku karena penampilan aku. Bahkan aku di katakan Bety Lafea," batin Kiara kesal pada saat ingat masa lalunya.

Pada saat Presdir tersebut menjelaskan materi meeting kali ini, ia pun matanya terus menatap sekeliling semua karyawan dan karyawati. Pada saat ia menatap ke arah Kiara, dirinya sejenak menghentikan perkataannya.

"Astaga, gadis itu sepertinya aku pernah bertemu dengannya tapi aku lupa dimana ya, mungkin cuma perasaanku saja," batin Presdir tersebut.

Dia pun fokus lagi menerangkan semua materi meeting kepada para karyawan dan karyawati serta direktur yang ada di perusahaan tersebut.

Pada akhirnya satu jam berlalu meeting di tutup. Hati Kiara bisa bernapas lega karena ia akan segera bisa untuk membeli makanan guna sarapan.

Presdir tersebut keluar dari ruangan meeting tetapi ia membisikkan sesuatu kepada asisten pribadinya.

Karyawan dan karyawati perusahaan tersebut termasuk Kiara segera kembali ke ruang kerjanya masing-masing, akan tetapi pada saat Kiara akan melangkah ke ruang kerjanya, langkahnya terhenti oleh asisten pribadi presdir tersebut.

"Nona, mari ikut saya ke ruangan Presdir karena beliau ingin bicara dengan anda," ajak asisten pribadi presdir.

"Baiklah, pak."

"Aduh, kenapa hari ini aku apes sekali? padahal sudah senang meeting selesai, tetapi malah aku harus menghadap Presdir, ada apa sebenarnya ya?" batin Kiara penuh tanda tanya.

Setelah sampai di ruangan Presdir, Kiara langsung duduk di kursi di hadapan Presdir. Presdir memerintah asisten pribadinya untuk segera keluar ruangan karena ia ingin berbicara dengan Kiara empat mata saja.

"Halo, kamu masih ingat aku nggak? kakak kelas kamu yang selalu membuly kamu dengan penampilan cupumu dahulu. Ternyata usahaku berhasil juga ya, membuatmu menjadi berubah lebih baik," ucapnya menyunggingkan senyumnya pada Kiara.

"Maaf Tuan Arya yang terhormat, apakah anda hanya ingin mengajak saya bicara mengenang masa lalu di mana anda sering menghina saya dengan mengatakan si cupu kacamata?" ucap Kiara berani.

"Hei-hei-hei, kenapa kamu berkata seperti itu? di sini akulah pemimpin, jika kamu lancang seperti tadi aku bisa saja langsung memecatmu saat ini juga," ucap Arya.

"Bukan begitu maksud saya, Tuan."

Kiara sedikit meringis karena merasakan maghnya kumat dan ia tak bisa lagi menahan perutnya yang lapar hingga berbunyi di hadapan Arya.

"Astaga, apakah kamu merasakan lapar hingga perutmu bunyi seperti itu, memangnya sebelum berangkat ke kantor kamu tidak sarapan dulu?" tanya Arya merasa iba.

"Maafkan saya Tuan Arya, karena saya lancang tiba-tiba perut saya berbunyi. Karena suatu hal, saya tidak sempat sarapan," ucap Kiara tertunduk malu.

"Hem, kasihan sekali kamu. Ya sudah, kamu tak usah risau. Duduk manis saja nanti aku akan meminta asistenku membelikan makanan dan obat magh untukmu," ucap Arya.

"Tidak usah repot-repot, Tuan. Saya minta izin saja keluar dari sini jika sudah tidak ada lagi yang ingin anda bicarakan dengan saya," ucap Kiara dengan beraninya.

"Aku memintamu duduk saja itu karena masih banyak yang ingin aku bicarakan denganmu, jadi menurut saja jika tidak ingin aku pecat kamu sekarang juga," ucap Arya mengancam Kiara.

Hingga pada akhirnya Kiara pun diam saja, ia tak berani berkata-kata lagi. Sementara Arya dengan cekatan ia langsung menelpon salah satu asisten pribadinya untuk mencarikan makanan dan obat pereda sakit maag.

Tak butuh waktu lama datanglah asisten pribadi Arya dengan membawa makanan serta obat untuk Kiara.

"Minumlah obat maag ini dulu, setelah itu kamu secepat makan. Sembari makan aku ingin mengajakmu bercengkrama sejenak."

Dengan rasa sungkan, Kiara menuruti kemauan Arya. Walaupun sebenarnya ia malas berhadapan dengan pria yang dulu terus saja menghina penampilan dirinya.

"Kiara, apa kamu sudah bersuami?" tanya Arya menyelidik.

"Sudah, Tuan Arya. Saya baru menikah satu bulan yang lalu," ucapnya seraya sesekali menyantap makanan di hadapannya.

"Hem, berarti sedang indah-indahnya ya? hingga kamu telat makan seperti ini, pasti kamu bangun kesiangan ya?"

"Uhuk uhuk"

Perkataan Arya membuat Kiara sejenak tersedak. Secara tidak langsung ia jadi teringat akan mamah mertuanta yang sangat menyebalkan sekali.

Arya lekas meraih Aqua gelas dan memberikannya pada Kiara.

Episodes
1 Berselisih Paham
2 Cekcok
3 Bertemu Seseorang Di Masa Lalu
4 Hasutan Mamah Mertua
5 Memutuskan Pergi Dari Rumah
6 Memutuskan Untuk Kost
7 Usaha Bima Membujuk Kiara
8 Naik Jabatan
9 Kejutan Manis
10 Menempati Rumah Baru
11 Gelisah
12 Kembali Di Ejek Oleh Mertua
13 Hanya Bisa Menghakimi
14 Tegar & Pantang Mengeluh
15 Tuduhan Yang Sangat Menyakitkan
16 Menyembunyikan Kesedihan
17 Kecurigaan Orang Tua Kiara
18 Persahabatan Dengan Pacar Bima
19 Kiara Melahirkan
20 Bima Kecewa
21 Menjebak Bima
22 Cekcok
23 Masih Saja Berkilah
24 Bersyukur
25 Di Permalukan
26 Hasutan Mamah Nindy
27 Pertikaian Bima & Kiara
28 Kedatangan Meymey
29 Gagal Mengikuti Bima
30 Bima Terjebak Juga
31 Menikah Diam-Diam
32 Keguguran
33 Dendam Seseorang
34 Mulai Terjebak Oleh Musuh
35 Mati Kutu
36 Tertipu Juga
37 Gagal Bertemu
38 Pernyataan Cinta Arya
39 Tantangan Kiara Untuk Arya
40 Ribut
41 Kembali Ke Pelukan Bima
42 Putus Dengan Lisa
43 Balas Dendam Joni Mulai Berjalan
44 Mati Kutu
45 Jatuh Miskin
46 Tinggal Di Kontrakan
47 Kembalinya Sang Mantan
48 Mengejutkan
49 Tak Bisa Menerima
50 Resah & Gelisah
51 Dah Dig Dug
52 Gayung Bersambut
53 Kesusahan Yang Melanda Bima
54 Suatu Permintaan Maaf
55 Permintaan Maaf Di Tolak
56 Niat Mempermalukan Malah Di Permalukan
57 Honeymoon
58 Baby Alvaro Sakit
59 Alvaro Meninggal
60 Pemakaman Alvaro
61 Tidak Punya Etika
62 Bersikap Dingin
63 Tak Pernah Akur Lagi
64 Gagal Menyakiti Kiara
65 Bima Sakit
66 Pencobaan Bunuh Diri
67 Selalu Debat
68 Bima Bertemu Milka
69 Sejenak Curhat
70 Di Labrak
71 Mendapatkan Ancaman
72 Silih Berganti Rintangan Datang
73 Ketegaran Bima
74 Curhatan Joni
75 Akhirnya Risgn
76 Joni Kecewa
77 Pekerjaan Baru
78 Inventaris Kantor
79 Asisten Rumah Tangga Baru
80 Kiara Hamil
81 Dilema
82 Selalu Berulah
83 Ketahuan Juga
84 Berhasil Mendapatkan Maaf
85 Kisah Yang Rumit
86 Rasa Penasaran Kiara
87 Rasa Penasaran Terjawab
88 Meninggalnya Ibu, Mayang
89 Kebaikan Joni Terhadap Mayang
90 Bertemunya Milka Dengan Mayang
91 Tak Cocok
92 Nasehat Seorang Ibu
93 Kecurigaan Milka
94 Kembali Curiga
95 Penyelidikan Milka
96 Kebahagiaan Kiara
97 Ingin Meminta Maaf
98 Penuturan Milka Pada Mayang
99 Milka Kembali Curiga
100 Lapor Polisi
101 Akhir Kisah
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Berselisih Paham
2
Cekcok
3
Bertemu Seseorang Di Masa Lalu
4
Hasutan Mamah Mertua
5
Memutuskan Pergi Dari Rumah
6
Memutuskan Untuk Kost
7
Usaha Bima Membujuk Kiara
8
Naik Jabatan
9
Kejutan Manis
10
Menempati Rumah Baru
11
Gelisah
12
Kembali Di Ejek Oleh Mertua
13
Hanya Bisa Menghakimi
14
Tegar & Pantang Mengeluh
15
Tuduhan Yang Sangat Menyakitkan
16
Menyembunyikan Kesedihan
17
Kecurigaan Orang Tua Kiara
18
Persahabatan Dengan Pacar Bima
19
Kiara Melahirkan
20
Bima Kecewa
21
Menjebak Bima
22
Cekcok
23
Masih Saja Berkilah
24
Bersyukur
25
Di Permalukan
26
Hasutan Mamah Nindy
27
Pertikaian Bima & Kiara
28
Kedatangan Meymey
29
Gagal Mengikuti Bima
30
Bima Terjebak Juga
31
Menikah Diam-Diam
32
Keguguran
33
Dendam Seseorang
34
Mulai Terjebak Oleh Musuh
35
Mati Kutu
36
Tertipu Juga
37
Gagal Bertemu
38
Pernyataan Cinta Arya
39
Tantangan Kiara Untuk Arya
40
Ribut
41
Kembali Ke Pelukan Bima
42
Putus Dengan Lisa
43
Balas Dendam Joni Mulai Berjalan
44
Mati Kutu
45
Jatuh Miskin
46
Tinggal Di Kontrakan
47
Kembalinya Sang Mantan
48
Mengejutkan
49
Tak Bisa Menerima
50
Resah & Gelisah
51
Dah Dig Dug
52
Gayung Bersambut
53
Kesusahan Yang Melanda Bima
54
Suatu Permintaan Maaf
55
Permintaan Maaf Di Tolak
56
Niat Mempermalukan Malah Di Permalukan
57
Honeymoon
58
Baby Alvaro Sakit
59
Alvaro Meninggal
60
Pemakaman Alvaro
61
Tidak Punya Etika
62
Bersikap Dingin
63
Tak Pernah Akur Lagi
64
Gagal Menyakiti Kiara
65
Bima Sakit
66
Pencobaan Bunuh Diri
67
Selalu Debat
68
Bima Bertemu Milka
69
Sejenak Curhat
70
Di Labrak
71
Mendapatkan Ancaman
72
Silih Berganti Rintangan Datang
73
Ketegaran Bima
74
Curhatan Joni
75
Akhirnya Risgn
76
Joni Kecewa
77
Pekerjaan Baru
78
Inventaris Kantor
79
Asisten Rumah Tangga Baru
80
Kiara Hamil
81
Dilema
82
Selalu Berulah
83
Ketahuan Juga
84
Berhasil Mendapatkan Maaf
85
Kisah Yang Rumit
86
Rasa Penasaran Kiara
87
Rasa Penasaran Terjawab
88
Meninggalnya Ibu, Mayang
89
Kebaikan Joni Terhadap Mayang
90
Bertemunya Milka Dengan Mayang
91
Tak Cocok
92
Nasehat Seorang Ibu
93
Kecurigaan Milka
94
Kembali Curiga
95
Penyelidikan Milka
96
Kebahagiaan Kiara
97
Ingin Meminta Maaf
98
Penuturan Milka Pada Mayang
99
Milka Kembali Curiga
100
Lapor Polisi
101
Akhir Kisah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!