Kembali Di Ejek Oleh Mertua

Mendengar apa yang dikatakan oleh orang tuanya membuat Kiara terharu. Padahal Kiara sama sekali tidak mempermasalahkan tentang nafkah. Dia bisa memberikan nafkah pada orang tuanya dan adiknya. Ia juga tidak pernah berkeluh kesah, ia ikhlas dengan semua itu.

"Baiklah, tetapi aku ingin ayah dan ibu utamakan kesehatan ya. Aku tak ingin ada yang sakit diantara kalian berdua," ucap Kiara.

"Ya Kiara, kami akan selalu menjaga kesehatan kami karena kami juga ingin panjang umur supaya bisa menimang cucu," ucap Ayah Darwo meyakinkan Kiara.

Setelah tidak ada lagi yang ingin di bicarakan, Ayah Darwo mengizinkan Kiara untuk istirahat.

**********

Pagi menjelang, kebetulan di pagi ini adalah hari libur. Kiara berniat mengajak orang tuanya sejenak jalan-jalan ke GOR. Dimana setiap hari Minggu, GOR ramai di penuhi oleh para pedagang beraneka ragam dagangan.

Juga ada pula senam kesehatan untuk ibu hamil, untuk orang tua, dan juga untuk para remaja. Semua di lakukan terpisah di gedung GOR.

"Ayah dan ibu mau ikut senam ya, Kiara. Kamu nggak kemana-mana kan?" tanya Ayah Darwo memastikan.

"Tidak, Ayah. Aku hanya sejenak itu senam khusus ibu hamil di sini ya. Nanti jika ayah dan ibu telah selesai, datang saja kemari. Aku akan menunggu di sini," ucap Kiara.

Kedua orang tuanya mengiyakan dan mereka pun melangkah ke gedung dimana diadakan senam untuk para orang tua.

Kiara sengaja melakukan hal ini supaya orang tuanya tidak bosan di rumah dan juga mereka bisa selalu menjaga kesehatan badan.

Satu jam kemudian...

Acara senam telah usai, Kiara mengajak orang tuanya untuk sejenak berkeliling di sekitar para pedagang. Dan mengajak orang tuanya untuk sarapan lontong sayur.

"Ayah-ibu, kita makan di sini nggak apa-apa kan?" tanya Kiara.

"Nggak apa-apa, Kiara. Nggak makan di sini juga nggak apa-apa, kita makan di rumah saja," ucap Ibu Darti.

Namun Kiara hanya mengulas senyuman mendengar apa yang di katakan oleh ibunya. Kiara segera memesan lontong sayur untuk dirinya dan orang tuanya.

Setelah beberapa menit menikmati lontong sayur, barulah Kiara mengajak orang tuanya jalan-jalan kembali ke tempat dimana terdapat banyak para pedagang aksesoris, perabot, atau pakaian.

"Ayah-ibu, jika ada yang ingin di beli tak usah sungkan. Pilih saja nanti aku yang akan membayarnya," ucap Kiara.

Namun orang tuanya justru menolak dengan alasan untuk saat ini mereka tidak membutuhkan itu semua. Hingga akhirnya Kiara dan orang tuanya memutuskan untuk pulang. Kiara tidak lupa membeli sarapan untuk Riko.

Karena kebetulan Riko tidak ikut, ia sedang tidak ingin keluar rumah.

Pada saat Kiara dan orang tuanya ada di parkiran mobil. Mereka tak sengaja berpapasan dengan Bima dan juga Mamah Nindy.

"Wah, ketemu menantu durhaka disini. Sekarang bergaya juga ya memakai mobil. Paling juga menyewa," ejek Mamah Nindy ketus.

"Mah, kenapa sih berkata seperti itu pada Kiara? bagaimana pun, ia masih istri sah aku dan apa lagi saat ini sedang mengandung anakku!" tegur Bima.

"Mas, tak perlu sok membelaku. Jika sikapmu saja tak mencerminkan seorang suami yang tanggung jawab," ucap Kiara ketus.

"Heh, apa yang kamu katakan barusan tentang anakku? justru anakku ini sangat patuh dan berbakti pada orang tua," puji Mamah Nindy.

Mendengar apa yang dikatakan oleh Mamah Nindy, Bu Darti tersenyum sinis.

"Hhaaa...patuh sih iya. Tapi sama istri sama sekali hilang rasa tanggung jawab dan bahkan telah abai hingga tak memberikan nafkah lahir sejak awal menikah. Apa kamu memikirkan tentang kehamilan, Kiara? memikirkan kebutuhannya selama ia hamil?" ucap Bu Darti.

"Iya, Bima. Masa iya kamu seperti menjadi boneka mamahmu? apa yang ia katakan selalu kamu lakukan. Tapi kamu lupa porsi untuk memanjakan mamahmu yang kelewat batas hingga kamu abai dan lalai terhadap istrimu sendiri," ucap Ayah Darwo.

Mamah Nindy menjadi kesal pada saat mendengar orang tua Kiara menasehati Bima.

"Heh, kalian pikir aku senang yah anakku menikah dengan Kiara? tidak sama sekali, aku malah berharap mereka lekas bercerai. Belum juga bercerai malah Kiara hamil," ucap lantang Mamah Nindy.

Sementara sejenak Bima dan Kiara hanya melihat perdebatan itu. Akan tetapi Kiara lekas tersadar dan ia pun segera mengajak orang tuanya untuk segera pergi dari tempat itu. Karena Kiara tak ingin terjadi perdebatan lagi antara orang tuanya dengan Mamah Nindy.

"Ayah-ibu, sebaiknya kita lekas pulang. Pasti saat ini Riko sedang menunggu kita," ucap Kiara.

Mereka lekas masuk ke dalam mobil dan Kiara langsung melajukannya.

"Bima, lekas kamu ikuti laju mobil Kiara. Supaya kita tahu dimana mereka saat ini tinggal," perintah Mamah Nindy lekas masuk ke dalam mobil Bima.

Tanpa menunggu lama, Bima pun melajukan mobilnya mengikuti arah laju mobil Kiara. Dan tak berapa lama, sampailah Kiara di sebuah perumahan elite. Ia menghentikan laju mobilnya di salah satu rumah mewah yang ada di perumahan tersebut.

"Bima, ternyata apa yang kamu katakan benar. Mereka saat ini tinggal di rumah mewah. Tetapi aneh loh, masa iya rumah inventaris kok semewah ini ya?" ucap Mamah Nindy.

"Maksud mamah apa sih?" tanya Bima tak mengerti dengan arah pembicaraan dari mamahnya.

"Sudahlah, nanti mamah yang akan menyelidiki tentang hal ini. Kamu fokus saja dengan pekerjaanmu," ucap Mamah Nindy.

Setelah cukup lama mengintai rumah mewah yang ditempati oleh Kiara dan orang tuanya, Mamah Nindy mengajak pulang Bima.

Sementara Kiara dan orang tuanya terperangah pada saat masuk ruang tamu. Di mana di meja ruang tamu banyak makanan enak dan juga Riko menikmati makanan tersebut seorang diri.

"Astaga Riko, apa kamu telah membeli begitu banyak makanan? bukannya kamu pesan sama mbak untuk dibelikan lontong sayur?" tanya Kiara memicingkan alisnya.

"Duduklah, mba-ayah-ibu. Ayo temani aku sarapan," pinta Riko masih asik dengan makannya.

"Riko, mbak tanya kenapa nggak dijawab?" tegur Kiara seraya menjatuhkan pantatnya di sofa ruang tamu.

"Duduklah dulu, mbak. Nanti aku jelaskan," ucap Riko.

Setelah melihat Kiara dan orang tuanya duduk, barulah Riko menjelaskan bahwa makanan yang berserakan di meja tersebut bukan dia membeli. Tetapi dari pemberian seseorang yakni orang itu adalah Arya.

"Astaga jadi, Tuan Arya yang mengirim semua ini?"

"Siapa itu Tuan Arya, Kiara?" tanya Ayah Darwo.

"Presiden Direktur di tempat aku kerja, ayah. Yang telah mengangkat aku menjadi seorang direktur dan memberikan fasilitas rumah serta mobil padaku," ucap Kiara menjelaskan.

Ayah Darwo dan Bu Darti hanya berhooh ria pada saat mendengar apa yang barusan di katakan oleh Kiara.

Episodes
1 Berselisih Paham
2 Cekcok
3 Bertemu Seseorang Di Masa Lalu
4 Hasutan Mamah Mertua
5 Memutuskan Pergi Dari Rumah
6 Memutuskan Untuk Kost
7 Usaha Bima Membujuk Kiara
8 Naik Jabatan
9 Kejutan Manis
10 Menempati Rumah Baru
11 Gelisah
12 Kembali Di Ejek Oleh Mertua
13 Hanya Bisa Menghakimi
14 Tegar & Pantang Mengeluh
15 Tuduhan Yang Sangat Menyakitkan
16 Menyembunyikan Kesedihan
17 Kecurigaan Orang Tua Kiara
18 Persahabatan Dengan Pacar Bima
19 Kiara Melahirkan
20 Bima Kecewa
21 Menjebak Bima
22 Cekcok
23 Masih Saja Berkilah
24 Bersyukur
25 Di Permalukan
26 Hasutan Mamah Nindy
27 Pertikaian Bima & Kiara
28 Kedatangan Meymey
29 Gagal Mengikuti Bima
30 Bima Terjebak Juga
31 Menikah Diam-Diam
32 Keguguran
33 Dendam Seseorang
34 Mulai Terjebak Oleh Musuh
35 Mati Kutu
36 Tertipu Juga
37 Gagal Bertemu
38 Pernyataan Cinta Arya
39 Tantangan Kiara Untuk Arya
40 Ribut
41 Kembali Ke Pelukan Bima
42 Putus Dengan Lisa
43 Balas Dendam Joni Mulai Berjalan
44 Mati Kutu
45 Jatuh Miskin
46 Tinggal Di Kontrakan
47 Kembalinya Sang Mantan
48 Mengejutkan
49 Tak Bisa Menerima
50 Resah & Gelisah
51 Dah Dig Dug
52 Gayung Bersambut
53 Kesusahan Yang Melanda Bima
54 Suatu Permintaan Maaf
55 Permintaan Maaf Di Tolak
56 Niat Mempermalukan Malah Di Permalukan
57 Honeymoon
58 Baby Alvaro Sakit
59 Alvaro Meninggal
60 Pemakaman Alvaro
61 Tidak Punya Etika
62 Bersikap Dingin
63 Tak Pernah Akur Lagi
64 Gagal Menyakiti Kiara
65 Bima Sakit
66 Pencobaan Bunuh Diri
67 Selalu Debat
68 Bima Bertemu Milka
69 Sejenak Curhat
70 Di Labrak
71 Mendapatkan Ancaman
72 Silih Berganti Rintangan Datang
73 Ketegaran Bima
74 Curhatan Joni
75 Akhirnya Risgn
76 Joni Kecewa
77 Pekerjaan Baru
78 Inventaris Kantor
79 Asisten Rumah Tangga Baru
80 Kiara Hamil
81 Dilema
82 Selalu Berulah
83 Ketahuan Juga
84 Berhasil Mendapatkan Maaf
85 Kisah Yang Rumit
86 Rasa Penasaran Kiara
87 Rasa Penasaran Terjawab
88 Meninggalnya Ibu, Mayang
89 Kebaikan Joni Terhadap Mayang
90 Bertemunya Milka Dengan Mayang
91 Tak Cocok
92 Nasehat Seorang Ibu
93 Kecurigaan Milka
94 Kembali Curiga
95 Penyelidikan Milka
96 Kebahagiaan Kiara
97 Ingin Meminta Maaf
98 Penuturan Milka Pada Mayang
99 Milka Kembali Curiga
100 Lapor Polisi
101 Akhir Kisah
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Berselisih Paham
2
Cekcok
3
Bertemu Seseorang Di Masa Lalu
4
Hasutan Mamah Mertua
5
Memutuskan Pergi Dari Rumah
6
Memutuskan Untuk Kost
7
Usaha Bima Membujuk Kiara
8
Naik Jabatan
9
Kejutan Manis
10
Menempati Rumah Baru
11
Gelisah
12
Kembali Di Ejek Oleh Mertua
13
Hanya Bisa Menghakimi
14
Tegar & Pantang Mengeluh
15
Tuduhan Yang Sangat Menyakitkan
16
Menyembunyikan Kesedihan
17
Kecurigaan Orang Tua Kiara
18
Persahabatan Dengan Pacar Bima
19
Kiara Melahirkan
20
Bima Kecewa
21
Menjebak Bima
22
Cekcok
23
Masih Saja Berkilah
24
Bersyukur
25
Di Permalukan
26
Hasutan Mamah Nindy
27
Pertikaian Bima & Kiara
28
Kedatangan Meymey
29
Gagal Mengikuti Bima
30
Bima Terjebak Juga
31
Menikah Diam-Diam
32
Keguguran
33
Dendam Seseorang
34
Mulai Terjebak Oleh Musuh
35
Mati Kutu
36
Tertipu Juga
37
Gagal Bertemu
38
Pernyataan Cinta Arya
39
Tantangan Kiara Untuk Arya
40
Ribut
41
Kembali Ke Pelukan Bima
42
Putus Dengan Lisa
43
Balas Dendam Joni Mulai Berjalan
44
Mati Kutu
45
Jatuh Miskin
46
Tinggal Di Kontrakan
47
Kembalinya Sang Mantan
48
Mengejutkan
49
Tak Bisa Menerima
50
Resah & Gelisah
51
Dah Dig Dug
52
Gayung Bersambut
53
Kesusahan Yang Melanda Bima
54
Suatu Permintaan Maaf
55
Permintaan Maaf Di Tolak
56
Niat Mempermalukan Malah Di Permalukan
57
Honeymoon
58
Baby Alvaro Sakit
59
Alvaro Meninggal
60
Pemakaman Alvaro
61
Tidak Punya Etika
62
Bersikap Dingin
63
Tak Pernah Akur Lagi
64
Gagal Menyakiti Kiara
65
Bima Sakit
66
Pencobaan Bunuh Diri
67
Selalu Debat
68
Bima Bertemu Milka
69
Sejenak Curhat
70
Di Labrak
71
Mendapatkan Ancaman
72
Silih Berganti Rintangan Datang
73
Ketegaran Bima
74
Curhatan Joni
75
Akhirnya Risgn
76
Joni Kecewa
77
Pekerjaan Baru
78
Inventaris Kantor
79
Asisten Rumah Tangga Baru
80
Kiara Hamil
81
Dilema
82
Selalu Berulah
83
Ketahuan Juga
84
Berhasil Mendapatkan Maaf
85
Kisah Yang Rumit
86
Rasa Penasaran Kiara
87
Rasa Penasaran Terjawab
88
Meninggalnya Ibu, Mayang
89
Kebaikan Joni Terhadap Mayang
90
Bertemunya Milka Dengan Mayang
91
Tak Cocok
92
Nasehat Seorang Ibu
93
Kecurigaan Milka
94
Kembali Curiga
95
Penyelidikan Milka
96
Kebahagiaan Kiara
97
Ingin Meminta Maaf
98
Penuturan Milka Pada Mayang
99
Milka Kembali Curiga
100
Lapor Polisi
101
Akhir Kisah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!