Acara demi acara dilakukan di rumah Kiara. Semua berjalan lancar tidak ada halangan apapun. Dan bahkan Kiara juga berhasil menahan kesedihannya, hingga ia tidak sampai meneteskan air matanya di hadapan banyak orang.
Selepas acara syukuran empat bulanan tersebut, Arya dan orang tua Kiara menghampirinya. Bahkan Arya tanpa ada rasa sungkan bertanya pada Kiara di hadapan orang tua Kiara.
"Kiara, kenapa barusan suamimu tidak jadi mengikuti acara empat bulanan kehamilanmu?" tanyanya menyelidik.
"Karena mendadak ia ada acara yang tak bisa di wakilkan, Tuan Arya," jawab Kiara seraya mencoba menutupi kesedihannya dengan senyuman keterpaksaan.
Arya pura-pura berhooh ria, padahal di dalam hatinya ia tahu jika saat ini Kiara sedang menyembunyikan sesuatu yang dirinya tak boleh tahu.
"Baiklah, Kiara. Jika kamu tak mau jujur padaku, aku akan mencari tahu sendiri apa yang telah membuat Bima mengurungkan niatnya untuk menghadiri acara syukuran empat bulanan kehamilanmu," batin Arya.
Setelah cukup lama, Arya ada di rumah Kiara. Ia pun berpamitan pulang, padahal ia ingin segera menyambangi rumah Bima, tanpa sepengetahuan Kiara dan orang tuanya.
Seperginya, Arya. Kiara pun segera melangkah ke kamarnya. Ia ingin menumpahkan air matanya di kamar. Ia tak ingin orang tuanya tahu akan kesedihannya.
"Ya Allah, selama ini aku selalu bertahan dengan Mas Bima. Aku pikir dengan usia kehamilanku yang memasuki umur empat bulan, Mas Bima akan berubah. Aku pikir, kedatangannya itu mencerminkan perubahan yang positif pada dirinya."
"Padahal aku ingin memberikan satu kali lagi kesempatan untuknya supaya berubah menjadi suami yang tanggung jawab. Ya walaupun tidak perhatian padaku, setidaknya perhatian pada calon anaknya. Tetapi malah seperti ini."
"Ya Allah, aku minta maaf jika pada akhirnya aku yang akan mengakhiri pernikahan kami. Kelak jika anak ini telah lahir, aku akan menggugat cerai dirinya."
"Aku minta maaf, ya Allah. Karena aku cuma manusia biasa yang punya batas sabar. Aku benar-benar sudah kecewa pada saat suamiku tidak mengakui anak yang sedang aku kandung adalah anaknya. Bahkan secara langsung, ia menuduhku selingkuh. Ini sudah tidak bisa di tolerir."
Terus saja Kiara melamun dan menumpahkan ai matanya di pembaringan. Ia sama sekali tidak menyangka jika pernikahannya dengan Bima yang ia pikir akan bahagia, malah menderita.
Segala hayalan indah tentang mahligai rumah tangga bersama Bima, kini hilang sudah bersama dengan segala kekecewaan yang telah di torehkan oleh Bima padanya.
Masa indah yang Kiara rasakan hanya pada saat berpacaran saja. Dulu calon mertuanya selalu ramah dan welcome padanya.
Kiara benar-benar tidak menyangka jika sifat asli mertuanya sangat buruk.
Berbeda situasi di rumah, Bima. Dimana saat ini ia sedang mengadu kekesalannya tentang Kiara pada Mamah Nindy. Hal ini malah digunakan oleh Mamahnya untuk menghasutnya supaya lebih membenci, Kiara.
"Mah, ternyata apa yang mamah katakan barusan benar. Pada saat aku datang di acara syukuran empat bulan kehamilan Kiara, ada bosnya di sana. Makanya aku langsung pulang, mah. Aku sudah yakin, jika anak yang saat ini ada di dalam kandungan Kiara adalah bukan darah dagingku sendiri. Aku sangat kecewa pada Kiara, mah."
Belum juga Mamah Nindy berkata, sudah ada orang lain yang telah menyela pembicaraan antara ibu dan anak ini. Orang ini tak lain adalah, Arya. Kebetulan pintu gerbang belum di tutup, hingga Arya bisa nyelonong masuk melangkah. Sementara mobil ia parkir di tepi jalan.
"Ohhhhh... jadi ini yang membuatmu pergi dari acara empat bulanan kehamilan, Kiara. Kamu ini keterlaluan ya, dengan menuduh Kiara berselingkuh denganku."
"Padahal aku tidak pernah tidur dengan Kiara. Tetapi kamu sampai hati tega mengatakan jika anak yang sedang di kanding oleh Kiara bukan anakmu."
"Kamu lihat saja ya, dengan tingkah mu seperti ini justru aku akan terang-terangan merebut Kiara darimu. Dan juga aku akan membuat kamu menyesal dengan penolakan terhadap anak kandungmu sendiri."
"Kamu juga wanita tua, seharusnya sebagai seorang ibu mengajarkan kebaikan pada anak. Bukan seperti ini, menghasut anak sendiri supaya membenci istrinya dan tak mengakui darah dagingnya sendiri!"
"Kalian berdua pasti kelak akan menyesal dengan perbuatan yang telah kalian lakukan pada Kiara dan janinnya. Dan di saat kalian menyesal, Kiara sudah tidak akan lagi peduli pada kalian!"
Melihat kedatangan Arya yang secara tiba-tiba, sontak saja membuat Bima dan Mamah Nindy emosi.
"Heh, lancang kamu ya! masuk rumah orang tanpa permisi dan tiba-tiba marah-marah! ambil saja sana Kiara, aku yakin dalam waktu cepat aku akan mendapatkan wanita yang lebih baik darinya!'
"Dan kamu pikir aku percaya dengan apa yang kamu katakan barusan bahwa kamu sama sekali tidak menyentuh, Kiara. Hah, mana ada maling ngaku. Yang ada nanti penjara penuh!"
Arya hampir saja tak bisa menahan rasa amarahnya, tangannya sudah hampir ia layangkan ke pipi Bima. Tetapi ia tahan dan menurunkan tangannya. Ia pun melangkah pergi dari rumah Bima tanpa permisi sama sekali.
"Bagus, Bima. Mamah suka dengan sikapmu yang tegas ini, kamu nggak usah sedih. Masih banyak gadis yang mengantri untuk menikah denganmu. Jadi buang saja wanita terkutuk seperti, Kiara."
"Untuk apa di pertahankan wanita pezinah seperti dirinya. Yang ada hanya buat malu mamah saja!"
Mamah Nindy begitu senang karena usahanya menghasut anaknya sendiri telah berhasil. Kini ia sudah tidak pusing lagi untuk memikirkan cara supaya bisa memisahkan Bima dari Kiara.
Selepas Arya mendengar sendiri aia yang di katakan Bima barusan. Sejenak ia duduk termenung di depan kemudi mobilnya.
"Astaga, Kiara. Suami seperti itu masih saja kamu tutupi belangnya. Kamu mengatakan tidak ada apa-apa, padahal dengan jelas tadi aku dengar sendiri. Aaahhhh ya Allah, sungguh keterlaluan sekali!"
"Di mana otaknya, kok ya menuduh Kiara selingkuh denganku? menolak darah daging sevdii seperti itu. Lebih aneh lagi, kenapa aku juga mengatakan hal seorang tadi ya?"
"Apa aku memang telah jatuh cinta dengan wanita yang dulu sering aku bully dengan mengatakan bahwa ia mirip sekali Bety Lafea?"
"Aku sama sekali tidak sadar jika barusan aku mengatakan akan merebut Kiara secara terang-terangan dari, Bima."
Sejenak Arya menghela napas panjang. Kemudian ia pun melajukan mobilnya menuju arah pulang. Ia sedang memikirkan cara supaya selalu bisa membuat Kiara bahagia.
Dia ingin selama kehamilan Kiara, tidak bersedih karena memikirkan sikap Bima padanya. Walaupun pada dasarnya, Kiara wanita yang sangat kuat. Ia mampu menyembunyikan kesedihannya dari semua orang.
Bahkan orang tuanya saja tidak tahu jika saat ini anaknya sedang bersedih karena ulah Bima.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments