Sejenak Bima hanya diam terpaku menatap kepergian mobil, Arya. Ia merasa heran dengan pria yang barusan menegurnya secara kasar.
"Sebenarnya siapa pria tadi kenapa iya bahkan tahu tentang rumah tanggaku? aku akan menanyakannya sejenak pada ibu kost barangkali ia tahu tentang pria yang barusan datang kemari."
Saat itu juga Bima melangkah ke rumah ibu kost untuk bertandang sejenak. Akan tetapi sambutan dari bu kost sama sekali tidak bersahabat, karena ibu kost menatap sinis kepada Bima.
"Untuk apa kamu datang kemari, bukankah kamu sudah tahu jika Kiara sudah tidak ada di sini dia sudah pindah?" ucap ketus Bu kost menatap suka pada Bima.
"Moohon maaf Bu, jika kedatangan saya mengganggu waktu Ibu. Saya hanya ingin bertanya, apakah Ibu tahu tentang pria yang barusan berpapasan dengan saya?" tanya Bima seraya menahan rasa kesalnya pada bu Kost.
"Yang barusan berpapasan denganmu itu pemilik tempat kost ini, sekaligus presiden direktur di mana istrimu bekerja," ucap Bu kost.
"Baiklah kalau begitu, terima kasih ya Bu. Oh ya apakah Ibu tahu di mana saat ini istri saya tinggal?" tanya Bima kembali.
"Astaga... bukankah kamu barusan bertemu dengan istrimu? kenapa kamu tidak bertanya langsung padanya, setidaknya kenapa kamu tidak mengikutinya tadi supaya tahu di mana saat ini istrimu tinggal. Sudah ya, aku sedang banyak pekerjaan."
Saat itu juga Bu kost berlalu pergi dari hadapan Bima.
"Betapa bodohnya aku! benar juga apa yang dikatakan ibu kost barusan. Kenapa tadi aku hanya diam saja tidak mengikuti laju mobil Kiara supaya aku tahu di mana saat ini dia tinggal."
Bima menepuk jidatnya sendiri seraya melangkah pergi menghampiri mobilnya dan masuk ke dalam mobilnya serta melajukannya arah pulang. Hanya beberapa menit saja, ia telah sampai di rumah.
"Kenapa wajahmu cemberut, Bima? mana Kiara, apa kdu tidak bertemu dengannya ataukah ia tak mau lagi menerima tawaran darimu?" tanya Mamah Nindi.
"Aku bertemu dengan Kiara, mah. Tetapi dia tidak mau ikut tinggal di sini lagi. Bahkan dia menawarkan diri jika mau, aku yang ikut tinggal dengannya."
"Apa nggak salah ngomong itu Kiara? masa iya kamu disuruh tinggal di tempat kost yang sempit?" ucap Mamah Nindy memotong perkataan dari Bima yang belum selesai.
"Mah, aku kan belum selesai ngomongnya. Dengarkan dulu jangan langsung dipotong begitu saja apa yang aku sedang katakan."
"Saat ini Kiara sudah tinggal di rumah, tidak lagi di kost. Ia barusan mengatakan telah naik jabatan menjadi seorang direktur dan mendapatkan inventaris mobil serta rumah."
Mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Bima, Mamah Nindy pun tertawa ngakak. Tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Bima.
"Kenapa malah Mamah menertawakan apa yang barusan aku katakan? Mamah pikir ini sebuah lelucon?" tanya Bima heran.
"Ya jelaslah ini sebuah lelucon, mana mungkin hanya dalam waktu singkat Kiara bisa naik pangkat dan mendapatkan inventaris mobil serta rumah," ucap Mamah Nindy masih juga tak percaya.
"Tetapi Kiara sudah tidak ada di tempat kostnya, mah. Pada saat terakhir bertemu denganku barusan dia juga naik sebuah mobil kok, sedangkan motor yang biasa ia kendarai di naiki oleh, Riko," ucap Bima menjelaskan.
"Mamah percaya jika mamah lihat dengan mata kepala sendiri jika Kiara menempati rumah inventaris dari kantor. Bisa saja Kiara menyewa sebuah mobil hanya untuk pamer di depan kamu,' ucap Mamah Nindy belum juga percaya dengan apa yang dikatakan oleh Bima.
"Nah itu, mah. Tadi aku lupa mengikuti Kiara ke rumah barunya. Besok dech aku ikutin dia ke rumah barunya. Jika sudah tahu, aku akan ajak mamah ke sana," ucap Bima.
"Hem, boleh dech. Mamah juga penasaran dengan apa yang kamu katakan," ucap Mamah Nindy.
Sementara saat ini Kiara sudah sampai di rumah barunya. Akan tetapi ia tidak ceria setelah bertemu dengan Bima. Ia duduk murung di kursi teras halaman. Orang tuanya yang sedang asik berkeliling mengitari rumah menjadi heran dan menghampiri Kiara.
"Kiara, sebenarnya ada apa? kenapa selepas ambil motor wajahmu di tekuk seperti itu? apa karena Bima, karena tadi Riko bercerita bahwa ada Bima di tempat kost kamu," tegur Ayah Darwo.
"Iya, ayah. Mas Bima datang katanya untuk jennguk kondisi aku dan anak yang sedang aku kandung. Tetapi ia datang dengan tangan kosong."
"Dia sama sekali tidak membawa apa pun. Sama sekali tidak ada rasa tanggung jawabnya."
"Katanya ingin menjadi suami yang siaga, tetapi di ajak tinggal di sini nggak ada respon sama sekali."
Mendengar keluh kesah Kiara tentang suaminya, membuat Ayah Darwo dan Bu Darti merasa iba pada anak sulungnya.
"Kiara, sudahlah tak perlu kamu bersedih seperti itu. Jika Bima tetap taksu tinggal di sini, ya sudah biarkan saja. Sekarang kamu fokus saja dengan kehamilanmu dan pekerjaanmu. Jangan terlalu di pikirkan, yang terpenting saat ini kamu tidak tinggal sendiri di rumah ini " ucap Ayah Darwo berusaha menghibur Kiara.
"Iya, Kiara. Fokus saja dengan diri sendiri. Kalau kamu masih memikirkan Bima, biarkan ayah dan ibu datang ke rumahnya ya?" ucap Bu Darti.
"Untuk apa datang kesana, Bu? untuk membujuknya supaya mau tinggal di sini? nggak usahlah, Bu. Aku saja yang berkali-kali membujuknya tidak pernah berhasil," ucap Kiara menilsk niat Bu Darti untuk mengajak Ayah Darwo menyambangi rumah Bima.
"Ya sudah jika begitu, tapi kami minta kamu jangan murung terus seperti ini. Kami juga merasa sedih jika seperti ini," ucap Ayah Darwo.
"Iya ayah, aku akan berusaha untuk tidak bersedih terus. Oh iya, aku akan istirahat ya ayah-ibu."
Namun pada saat Kiara akan beranjak pergi, Irang tuanya menahannya.
"Tunggu dulu, Kiara. Kami ingin bicara sejenak denganmu, karena ada hal penting yang ingin kami bicarakan," Ical Ayah Darwo.
"Katakan saja, ayah. Ada apa?" Kiara kembali duduk.
'Kiara, ayah ingin minta izin untuk memakai motormu. Ayah mau ngojek di sela tidak ada kerja jadi kuli bangunan. Lagi pula tenaga ayah juga sudah tidak kuat bekerja menjadi kuli bangunan," ucap Ayah Darwo.
"Sebenarnya tanpa ayah bekerja pun tidak apa-apa, aku bisa kok menghidupi ayah, ibu, dan Riko. Kan sekarang aku sudah menjadi seorang direktur,' ucap Kiara.
"Jangan Kiara, selama ini saja kami sudah merepotkan dirimu. Kamu kan sedang hamil, kamu kumpulkan saja hasil kerjamu untukmi dan anakmu. Ayah tetap akan ngojek. Dan ibu berniat menerima catering. Iya kan, Bu?" ucap Ayah Darwo.
"Iya, Kiara. Supaya kami tidak begitu membebani kamu. Dan Riko juga bersedia berjualan nasi rames sembari sekolah. Nanti ibu buat nasi rames dan di titipkan di kantin sekolah," ucap Bu Darti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments