Menempati Rumah Baru

Melihat tingkah ayah dan ibunya, Kiara hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya menghela napas panjang dan tersenyum senang.

Mereka masuk ke dalam rumah setelah asisten pribadi Arya sejenak membantu membawakan semua barang yang ada di dalam mobil.

"Non Kiara, berhubung semua sudah selesai. Saya izin pulang ya, karena Tuan Arya telah menanti saya," pamit asisten pribadi Arya.

"Baiklah, pak. Sekali lagi terima kasih ya pak, dan mohon maaf telah merepotkan."

Kiara tersenyum manis seraya menangkupkan kedua tangannya di dada.

Asisten pribadi Arya, lekas pergi dari rumah Kiara. Sementara orang tua dan adiknya masih terpana dengan rumah mewah tersebut.

Apalagi dengan ruangan yang ada di dalam rumah tersebut. Begitu bersih, begitu luas bahkan banyak sekali kosong dan juga ada dua lantai.

Sejenak mereka melihat-lihat seisi rumah dan pada saat di dapur, Bu Darti iseng membuka kulkas dan ia begitu terperangah.

"Kiara, kok kulkasnya sudah isi penuh. Dan ini kok kulkas lagi, ada dua kulkas?" ucap Bu Darti.

"Bu, yang satu bukan kulkas. Tetapi ini freezer. Coba di buka saja."

Bu Darti membuka freezer yang ternyata juga penuh isinya ada daging sapi, daging ayam, sosis, naget, ikan, dan lain sebagainya.

Sedang Riko membuka almari yang ada di atas dapur. Ternyata berisi mie instan, susu, bumbu dapur, minyak, beras, dan bahkan ada berbagai macam Snack.

Setelah cukup puas mengelilingi semua isi rumah. Dan sudah memilih kamar masing-masing, Kiara mengajak orang tuanya sejenak berbicara. Sementara Riko asik di kamar barunya.

"Kiara, kok kamu sendiri? mana Bima?" tanya Ayah Darwo.

"Justru ini yang ingin aku katakan pada ayah dan ibu," ucap Kiara sejenak diam karena merasa ragu untuk berkata.

"Katakan saja, nak. Kami tidak akan marah padamu jika memang ada hal yang meresahkan hatimu," ucap Bu Darti lembut.

"Iya Kiara, ayah bisa melihat dari wajahmu kalau kamu sedang ada masalah," ucap Ayah Darwo.

Kiara pun akhirnya memberanikan diri menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada saat awal pernikahan tinggal di rumah mewah milik Bima. Mendengar cerita dari anaknya, orang tua Kiara merasa iba pada anaknya.

"Astaghfirullah aladzim, kami tidak menyangka jika mertuamu seperti itu. Kamu yang sabar ya, Kiara," ucap Bu Darti menghibur anaknya.

"Ya Kiara, kamu harus bisa tegar menghadapi ujian hidupmu ini. Apa lagi ada anak di dalam kandunganmu itu. Jadi kamu sebagai seorang ibu harus kuat," ucap Ayah Darwo.

"Jelas itu, ayah-ibu. Aku tidak akan bersedih kok. Apalagi Allah sangat baik padaku. Di saat aku sempat bingung memikirkan uang Kost. Di saat itu pula Allah memberikan aku berbagai rezeki yang melimpah."

"Aku mau punya anak, jabatan naik, dan kita bisa tinggal di rumah ini secara bersama-sama. Aku tidak sepi seperti pada saat di kost."

"Sampai sekarang, aku masih tidak percaya dengan semua yang telah aku dapatkan. Sekarang gajiku sudah besar, hingga aku tak perlu lagi memohon meminta jatah pada suami yang tak perhatian.'

Kiara bisa tegar karena ia harus bekerja demi anak dan orang tuanya serta adiknya. Walaupun ayahnya bekerja tetapi penghasilan tidak seberapa. Ibunya juga dagang kecil-kecilan.

"Kiara, kami akan selalu ada untukmu. Ingat ya, selalu semangat. Perbanyak rasa bersyukur, hindari mengeluh," ucap Ayah Darwo.

"Pasti itu, ayah. Oh iya, motor masih ketinggalan di Kost." Kiara menepuk jidatnya sendiri.

"Kamu ajak Riko untuk ambil motornya gih. Kalian ke tempat kost naik mobil bareng. Setelah itu Riko yang bawa motornya," saran Ayah Darwo.

Saat itu juga Kiara mengajak Riko ke tempat kost untuk mengambil motor maticnya. Dan pada saat sampai di tempat kost, ia berpapasan dengan datangnya Bima.

"De, kamu pulang dulu ya. Bawa motornya hati-hati," pesan Kiara.

"Iya, mbak."

Riko lekas melakukan motornya arah ke perumahan elite.

Sementara Kiara menemui Bima.

"Ada apa, mas?" tanya Kiara.

"Kok ada apa? aku datang untuk menjenguk kamu dan anak kita." Bima mengusap perut Kiara yang masih rata.

"Kamu bilang ini anakmu? tapi kamu sama sekali tidak memikirkan dirinya. Mana janjimu akan selalu menjadi suami siaga?"

"Kamu bahkan tidak memberikan nafkah padaku sepeserpun! apa kamu membelikan aku vitamin, buah, atau susu ibu hamil?

"Kamu sama sekali tidak memberikan apapun. Padahal kamu kaya, seorang direktur utama. Tapi kamu sangat pelit pada anak dan istrimu."

Mendengar apa yang dikatakan oleh Kiara, Bima mulai gelagapan.

"Sayang, jangan terus memojokkan diriku ini. Aku sedang usaha meminta uang pada mamah, tetapi belum di respon sama sekali," ucap Bima mulai beralasan.

"Sudahlah, mas. Aku tidak ada waktu lagi. Aku harus pulang," ucap Kiara akan masuk ke dalam mobil akan tetapi langkahnya terhenti.

"Kiara, aku datang kemari juga ingin mengajakmu supaya mau tinggal di rumah lagi. Mamah sudah mengizinkan apa lagi saat ia tahu kamu hamil. Mamah sangat senang akan punya cucu," ucap Bima antusias.

"Maaf, mas. Aku tidak akan kembali ke rumahmu lagi. Jika kamu mau, tinggal saja bersamaku. Karena kebetulan aku mendapatkan inventaris rumah dan mobil ini dari kantor," ucap Kiara.

"Kamu kan cuma karyawan biasa? mana mungkin dapat inventaris?" ejek Bima.

"Alhamdulillah, kehadiran anak ini membawa keberuntungan bagiku. Aku sudah naik jabatan menjadi seorang direktur," ucap Kiara.

"Secepat itu kamu naik jabatan? yang benar saja, Kiara," ucap Bima terkekeh.

"Jika tak percaya ya sudah, aku akan pergi."

Saat itu juga Kiara berlalu dari hadapan Bima dan masuk ke dalam mobilnya serta melajukannya arah ke perumahan elite

Bima pun memutuskan untuk kembali ke rumahnya, pada saat dirinya akan melajukan mobilnya, laju mobil terhenti karena terhalang mobil milik Arya. Hingga terpaksa Bima keluar dari dalam mobilnya. Begitu pula dengan Arya, ia pun keluar dari dalam mobil.

"Maaf, mas. Mobil anda menghalangi laju mobil saya yang akan keluar," ucap Bima seraya tersenyum.

"Aku memang sengaja melakukan hal itu, karena aku ingin bicara denganmu sebentar," ucap Arya menatap tajam pada Bima tanpa ada senyuman sama sekali.

"Memangnya apa yang ingin anda katakan? lekas katakan saja karena waktu saya tida banyak," jawab Bima.

"Jika kamu tak bisa menjadi suami yang bertanggung jawab seharusnya tak usah menikah. Yang hanya membuat sengsara istrimu saja," sindir Arya.

"Apa maksud dari perkataan anda, kenapa juga anda turut campur urusan rumah tangga saya?" tanya Bima memicingkan alisnya.

"Tak usah berlagak bego di hadapanku. Kamu itu bukan suami yang baik. Masa iya membiarkan seorang istri yang sedang hamil tinggal di Kost. Dan kamu sama sekali tidak pernah memberinya nafkah lahir! suami macam apa kamu ini?" ejek Arya setelah itu pergi berlalu dari hadapan Bima, ia masuk ke dalam mobilnya sendiri.

Terpopuler

Comments

Nonny

Nonny

terima kasih KK syantik😘😘😘

2022-12-11

0

Sneha♥️

Sneha♥️

semangat kak udah ku tambah favorit ♥️

2022-12-11

0

lihat semua
Episodes
1 Berselisih Paham
2 Cekcok
3 Bertemu Seseorang Di Masa Lalu
4 Hasutan Mamah Mertua
5 Memutuskan Pergi Dari Rumah
6 Memutuskan Untuk Kost
7 Usaha Bima Membujuk Kiara
8 Naik Jabatan
9 Kejutan Manis
10 Menempati Rumah Baru
11 Gelisah
12 Kembali Di Ejek Oleh Mertua
13 Hanya Bisa Menghakimi
14 Tegar & Pantang Mengeluh
15 Tuduhan Yang Sangat Menyakitkan
16 Menyembunyikan Kesedihan
17 Kecurigaan Orang Tua Kiara
18 Persahabatan Dengan Pacar Bima
19 Kiara Melahirkan
20 Bima Kecewa
21 Menjebak Bima
22 Cekcok
23 Masih Saja Berkilah
24 Bersyukur
25 Di Permalukan
26 Hasutan Mamah Nindy
27 Pertikaian Bima & Kiara
28 Kedatangan Meymey
29 Gagal Mengikuti Bima
30 Bima Terjebak Juga
31 Menikah Diam-Diam
32 Keguguran
33 Dendam Seseorang
34 Mulai Terjebak Oleh Musuh
35 Mati Kutu
36 Tertipu Juga
37 Gagal Bertemu
38 Pernyataan Cinta Arya
39 Tantangan Kiara Untuk Arya
40 Ribut
41 Kembali Ke Pelukan Bima
42 Putus Dengan Lisa
43 Balas Dendam Joni Mulai Berjalan
44 Mati Kutu
45 Jatuh Miskin
46 Tinggal Di Kontrakan
47 Kembalinya Sang Mantan
48 Mengejutkan
49 Tak Bisa Menerima
50 Resah & Gelisah
51 Dah Dig Dug
52 Gayung Bersambut
53 Kesusahan Yang Melanda Bima
54 Suatu Permintaan Maaf
55 Permintaan Maaf Di Tolak
56 Niat Mempermalukan Malah Di Permalukan
57 Honeymoon
58 Baby Alvaro Sakit
59 Alvaro Meninggal
60 Pemakaman Alvaro
61 Tidak Punya Etika
62 Bersikap Dingin
63 Tak Pernah Akur Lagi
64 Gagal Menyakiti Kiara
65 Bima Sakit
66 Pencobaan Bunuh Diri
67 Selalu Debat
68 Bima Bertemu Milka
69 Sejenak Curhat
70 Di Labrak
71 Mendapatkan Ancaman
72 Silih Berganti Rintangan Datang
73 Ketegaran Bima
74 Curhatan Joni
75 Akhirnya Risgn
76 Joni Kecewa
77 Pekerjaan Baru
78 Inventaris Kantor
79 Asisten Rumah Tangga Baru
80 Kiara Hamil
81 Dilema
82 Selalu Berulah
83 Ketahuan Juga
84 Berhasil Mendapatkan Maaf
85 Kisah Yang Rumit
86 Rasa Penasaran Kiara
87 Rasa Penasaran Terjawab
88 Meninggalnya Ibu, Mayang
89 Kebaikan Joni Terhadap Mayang
90 Bertemunya Milka Dengan Mayang
91 Tak Cocok
92 Nasehat Seorang Ibu
93 Kecurigaan Milka
94 Kembali Curiga
95 Penyelidikan Milka
96 Kebahagiaan Kiara
97 Ingin Meminta Maaf
98 Penuturan Milka Pada Mayang
99 Milka Kembali Curiga
100 Lapor Polisi
101 Akhir Kisah
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Berselisih Paham
2
Cekcok
3
Bertemu Seseorang Di Masa Lalu
4
Hasutan Mamah Mertua
5
Memutuskan Pergi Dari Rumah
6
Memutuskan Untuk Kost
7
Usaha Bima Membujuk Kiara
8
Naik Jabatan
9
Kejutan Manis
10
Menempati Rumah Baru
11
Gelisah
12
Kembali Di Ejek Oleh Mertua
13
Hanya Bisa Menghakimi
14
Tegar & Pantang Mengeluh
15
Tuduhan Yang Sangat Menyakitkan
16
Menyembunyikan Kesedihan
17
Kecurigaan Orang Tua Kiara
18
Persahabatan Dengan Pacar Bima
19
Kiara Melahirkan
20
Bima Kecewa
21
Menjebak Bima
22
Cekcok
23
Masih Saja Berkilah
24
Bersyukur
25
Di Permalukan
26
Hasutan Mamah Nindy
27
Pertikaian Bima & Kiara
28
Kedatangan Meymey
29
Gagal Mengikuti Bima
30
Bima Terjebak Juga
31
Menikah Diam-Diam
32
Keguguran
33
Dendam Seseorang
34
Mulai Terjebak Oleh Musuh
35
Mati Kutu
36
Tertipu Juga
37
Gagal Bertemu
38
Pernyataan Cinta Arya
39
Tantangan Kiara Untuk Arya
40
Ribut
41
Kembali Ke Pelukan Bima
42
Putus Dengan Lisa
43
Balas Dendam Joni Mulai Berjalan
44
Mati Kutu
45
Jatuh Miskin
46
Tinggal Di Kontrakan
47
Kembalinya Sang Mantan
48
Mengejutkan
49
Tak Bisa Menerima
50
Resah & Gelisah
51
Dah Dig Dug
52
Gayung Bersambut
53
Kesusahan Yang Melanda Bima
54
Suatu Permintaan Maaf
55
Permintaan Maaf Di Tolak
56
Niat Mempermalukan Malah Di Permalukan
57
Honeymoon
58
Baby Alvaro Sakit
59
Alvaro Meninggal
60
Pemakaman Alvaro
61
Tidak Punya Etika
62
Bersikap Dingin
63
Tak Pernah Akur Lagi
64
Gagal Menyakiti Kiara
65
Bima Sakit
66
Pencobaan Bunuh Diri
67
Selalu Debat
68
Bima Bertemu Milka
69
Sejenak Curhat
70
Di Labrak
71
Mendapatkan Ancaman
72
Silih Berganti Rintangan Datang
73
Ketegaran Bima
74
Curhatan Joni
75
Akhirnya Risgn
76
Joni Kecewa
77
Pekerjaan Baru
78
Inventaris Kantor
79
Asisten Rumah Tangga Baru
80
Kiara Hamil
81
Dilema
82
Selalu Berulah
83
Ketahuan Juga
84
Berhasil Mendapatkan Maaf
85
Kisah Yang Rumit
86
Rasa Penasaran Kiara
87
Rasa Penasaran Terjawab
88
Meninggalnya Ibu, Mayang
89
Kebaikan Joni Terhadap Mayang
90
Bertemunya Milka Dengan Mayang
91
Tak Cocok
92
Nasehat Seorang Ibu
93
Kecurigaan Milka
94
Kembali Curiga
95
Penyelidikan Milka
96
Kebahagiaan Kiara
97
Ingin Meminta Maaf
98
Penuturan Milka Pada Mayang
99
Milka Kembali Curiga
100
Lapor Polisi
101
Akhir Kisah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!