Kecurigaan Orang Tua Kiara

Kiara terus saja menyembunyikan kesedihannya. Dan mulai kini ia tak berharap lagi pada Bima setelah apa yang di lakukan olehnya pada waktu itu. Rasa sakit hati yang telah Bima toreh padanya begitu dalam dan tak bisa lagi termaafkan.

Hingga tak terasa sudah tujuh bulan kini usia kehamilan, Kiara. Dan pada saat Kiara melakukan syukuran tujuh bulanan, ia sengaja tak memberi tahukan hal ini pada, Bima.

Ketidak hadiran Bima di acara tujuh bulanan Kiara, membuat orang tuanya menjadi penasaran dan curiga. Apa lagi selama ini, mereka juga tidak pernah melihat Bima datang ke rumah untuk sekedar menjenguk Kiara dan bayinya.

Setelah acara tujuh bulanan selesai, Ayah Darwo berbisik-bisik pada istrinya. Ia mengajak istrinya ke rumah Bima tanpa sepengetahuan Kiara. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada pernikahan mereka. Karena selama ini Kiara sama sekali tak mengatakan apapun.

Bahkan kerap kali, Kiara menutupi keburukan dari Bima. Jika orang tuanya bertanya pasti Kiara mengatakan bahwa Bima rutin menemui dirinya di kantor bahkan Bima juga sudah berubah, dengan rutin memberikan jatah bulanan padanya.

Kiara sengaja berbohong seperti ini karena tak ingin orang tuanya sedih dan ikut memikirkan nasib rumah tangganya. Bahkan ia selalu ceria dan tersenyum di hadapan orang tuanya supaya tidak terlihat kesedihan hatinya.

Tapi tanpa sepengetahuan Kiara, hati orang tuanya itu lebih peka. Ia bisa merasakan jika ada yang tak beres dengan rumah tangga anaknya.

"Kiara, ayah dan ibu ingin pergi sebentar ya. Karena kebetulan ada hajatan teman hari ini. Kami di undang, dan jika tak datang kan tidak enak," ucap Ayah Darwo berbohong.

"Apa nggak sebaiknya aku antar ayah dan ibu saja ya? biar cepat sampai."

Tapi Ayah Darwo menolak tawaran dari Kiara dengan alasan ia tak ingin melihat Kiara kecapean. Apa lagi cara tujuh bulanan tadi begitu menguras waktu. Hingga Ayah Darwo meminta Kiara untuk beristirahat saja di kamarnya.

Kiara pun tak berani memaksakan diri lagi untuk mengantar orang tuanya. Ia hanya bisa berpesan pada orang tuanya supaya berhati-hati di jalan.

Saat itu juga, Ayah Darwo dengan berboncengan pergi ke rumah Bima. Mereka hanya menaiki motor matic milik Kiara. Dan hanya beberapa menit saja, mereka telah sampai di pelataran rumah, Bima. Bima yang sedang duduk di teras halaman bersama dengan Mamah Nindy menjadi terhenyak kaget pada saat melihat kedatangan orang tua, Kiara.

Bima dan Mamah Nindy hanya menatap sinis pada orang tua Kiara. Mereka sama sekali tidak mengatakan apapun. Tidak menyapa sama sekali, hingga Ayah Darwo yang memulai berkata.

"Bima, kenapa kamu tak datang di acara syukuran tujuh bulanan kehamilan Kiara?" tanya Ayah Darwo menyelidik.

"Astaga, apa Kiara yang meminta kalian untuk datang kemari?"

Mamah Nindy menyela pertanyaan dari Ayah Darwo.

Belum juga Ayah Darwo berkata lagi, Mamah Nindy sudah nyerocos seperti petasan.

"Asal anda tahu ya, saya melarang Bima untuk datang di acara syukuran empat bulanan atau tujuh bulanan, Kiara. Apalagi nanti jika proses melahirkan. Toh anak yang di kandung Kiara itu bukan darah daging, Bima. Makanya pada saat acara syukuran empat bulanan, Bima pulang."

Mendengar apa yang di tuduhkan oleh Mamah Nindy pada Kiara, sangat membuat hati Ayah Darwo sakit. Ia pun tak terima begitu saja dengan apa yang di katakan oleh Mamah Nindy.

"Astaghfirullah aladzim, sekeji ini ibu menuduh anak saya? dan kamu Bima, percaya saja dengan apa yang dikatakan ibumu? apa buktinya jika anak yang di kandung oleh Kiara itu bukan darah dagingmu?"

"Ooohhh..apa kamu hanya ingin mengelak dari tanggung jawab? hingga kamu mengatakan hal keji seperti ini."

Bima tak lantas diam mendengar apa yang dikatakan oleh mertuanya barusan. Ia pun membalas segala yang di katakan oleh ayah mertuanya.

"Aku memang belum punya bukti kuat, tapi hati nurani suami tidak bisa di bohongi. Apa lagi melihat kesuksesan Kiara yang di dapat secara mendadak. Dan kini aku telah sadar, jika selama ini Kiara telah selingkuh dengan bosnya."

"Aku sangat yakin akan hal itu. Jika memang anak itu bukan anak dari bosnya, mana mungkin bosnya datang waktu itu di acara syukuran empat bulanan kehamilan, Kiara."

"Pantas saja Kiara mendapatkan inventaris mobil mewah dan rumah mewah serta naik jabatan."

"Semua itu tidak akan bisa di miliki oleh Kiara jika ia tidak menjual dirinya pada bosnya. Hanya karena aku beberapa bulan tidak memberi nafkah, ia lantas selingkuh supaya mendapatkan apa yang ia mau."

PLAKKK!

Satu tamparan mendarat di pipi Bima. Ayah Darwo tak terima dengan tuduhan dari Bima pada Kiara.

"Seperti ini sikapmu sebagai seorang suami? sudah lari dari tanggung jawab, dan kamu mencoba menutupi kesalahanmu dengan mencari kesalahan Kiara. Kamu dengan seenaknya menuduh, Kiara! dasar suami tidak berguna dan juga boneka hidup!" umpat Ayah Darwo.

"Apa, boneka hidup? kenapa kamu dengan seenaknya mengatakan anakku boneka hidup?" tanya Mamah Nindy tak suka.

"Memang iya, Bima ini tak ubahnya seperti boneka hidup milik anda. Karena apa yang ia lakukan itu sesuai dengan perintah anda, bahkan ia juga tega menyakiti istrinya sendiri karena memang ia itu hanyalah sebuah boneka hingga tak punya hati nurani sama sekali!"

"Ayah... sudah ayok kita pergi. Kita sudah tahu apa alasan Bima tak datang di acara syukuran tujuh bulanan kehamilan, Kiara. Untuk apa berlama-lama di sini."

Ayah Darwo menuruti kemauan istrinya, ia pergi tanpa pamit dari rumah mewah milik Bima.

"Astaghfirullah aladzim, Bu. Ayah sama sekali tidak menyangka jika perbuatan Bima sejauh ini pada, Kiara. Kenapa juga selama ini Kiara selalu menutupi aib, Bima?"

"Iya, ayah. Ibu juga tak habis pikir dengan Kiara. Setiap kali kita tanya tentang Bima, ia selalu jawab yang baik-baik tentang Bima. Padahal sikap Bima seperti ini."

Kini orang tua Kiara sudah mengetahui sendiri bagaimana sifat dan perilaku Bima. Dan kini mereka sudah tidak percaya dengan apa yang pernah Kiara katakan tentang Bima, dimana ia selalu mengatakan jika Bima selalu menjenguk dirinya di kantor. Bahkan memberinya nafkah bulanan.

Orang tua Kiara begitu iba pada nasib yang telah menimpa pada anak sulung mereka. Mereka sungguh tidak menyangka jika selama ini Kiara selalu menanggung kesakitannya sendiri.

Sesampainya di rumah, orang tuanya langsung menemui Kiara yang sedang asik menonton acara televisi di kamarnya. Bahkan orang tuanya masih bisa melihat Kiara tertawa. Mereka sungguh salut dan kagum pada Kiara yang bisa mengatasi permasalahannya tanpa air mata tapi dengan senyuman.

Episodes
1 Berselisih Paham
2 Cekcok
3 Bertemu Seseorang Di Masa Lalu
4 Hasutan Mamah Mertua
5 Memutuskan Pergi Dari Rumah
6 Memutuskan Untuk Kost
7 Usaha Bima Membujuk Kiara
8 Naik Jabatan
9 Kejutan Manis
10 Menempati Rumah Baru
11 Gelisah
12 Kembali Di Ejek Oleh Mertua
13 Hanya Bisa Menghakimi
14 Tegar & Pantang Mengeluh
15 Tuduhan Yang Sangat Menyakitkan
16 Menyembunyikan Kesedihan
17 Kecurigaan Orang Tua Kiara
18 Persahabatan Dengan Pacar Bima
19 Kiara Melahirkan
20 Bima Kecewa
21 Menjebak Bima
22 Cekcok
23 Masih Saja Berkilah
24 Bersyukur
25 Di Permalukan
26 Hasutan Mamah Nindy
27 Pertikaian Bima & Kiara
28 Kedatangan Meymey
29 Gagal Mengikuti Bima
30 Bima Terjebak Juga
31 Menikah Diam-Diam
32 Keguguran
33 Dendam Seseorang
34 Mulai Terjebak Oleh Musuh
35 Mati Kutu
36 Tertipu Juga
37 Gagal Bertemu
38 Pernyataan Cinta Arya
39 Tantangan Kiara Untuk Arya
40 Ribut
41 Kembali Ke Pelukan Bima
42 Putus Dengan Lisa
43 Balas Dendam Joni Mulai Berjalan
44 Mati Kutu
45 Jatuh Miskin
46 Tinggal Di Kontrakan
47 Kembalinya Sang Mantan
48 Mengejutkan
49 Tak Bisa Menerima
50 Resah & Gelisah
51 Dah Dig Dug
52 Gayung Bersambut
53 Kesusahan Yang Melanda Bima
54 Suatu Permintaan Maaf
55 Permintaan Maaf Di Tolak
56 Niat Mempermalukan Malah Di Permalukan
57 Honeymoon
58 Baby Alvaro Sakit
59 Alvaro Meninggal
60 Pemakaman Alvaro
61 Tidak Punya Etika
62 Bersikap Dingin
63 Tak Pernah Akur Lagi
64 Gagal Menyakiti Kiara
65 Bima Sakit
66 Pencobaan Bunuh Diri
67 Selalu Debat
68 Bima Bertemu Milka
69 Sejenak Curhat
70 Di Labrak
71 Mendapatkan Ancaman
72 Silih Berganti Rintangan Datang
73 Ketegaran Bima
74 Curhatan Joni
75 Akhirnya Risgn
76 Joni Kecewa
77 Pekerjaan Baru
78 Inventaris Kantor
79 Asisten Rumah Tangga Baru
80 Kiara Hamil
81 Dilema
82 Selalu Berulah
83 Ketahuan Juga
84 Berhasil Mendapatkan Maaf
85 Kisah Yang Rumit
86 Rasa Penasaran Kiara
87 Rasa Penasaran Terjawab
88 Meninggalnya Ibu, Mayang
89 Kebaikan Joni Terhadap Mayang
90 Bertemunya Milka Dengan Mayang
91 Tak Cocok
92 Nasehat Seorang Ibu
93 Kecurigaan Milka
94 Kembali Curiga
95 Penyelidikan Milka
96 Kebahagiaan Kiara
97 Ingin Meminta Maaf
98 Penuturan Milka Pada Mayang
99 Milka Kembali Curiga
100 Lapor Polisi
101 Akhir Kisah
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Berselisih Paham
2
Cekcok
3
Bertemu Seseorang Di Masa Lalu
4
Hasutan Mamah Mertua
5
Memutuskan Pergi Dari Rumah
6
Memutuskan Untuk Kost
7
Usaha Bima Membujuk Kiara
8
Naik Jabatan
9
Kejutan Manis
10
Menempati Rumah Baru
11
Gelisah
12
Kembali Di Ejek Oleh Mertua
13
Hanya Bisa Menghakimi
14
Tegar & Pantang Mengeluh
15
Tuduhan Yang Sangat Menyakitkan
16
Menyembunyikan Kesedihan
17
Kecurigaan Orang Tua Kiara
18
Persahabatan Dengan Pacar Bima
19
Kiara Melahirkan
20
Bima Kecewa
21
Menjebak Bima
22
Cekcok
23
Masih Saja Berkilah
24
Bersyukur
25
Di Permalukan
26
Hasutan Mamah Nindy
27
Pertikaian Bima & Kiara
28
Kedatangan Meymey
29
Gagal Mengikuti Bima
30
Bima Terjebak Juga
31
Menikah Diam-Diam
32
Keguguran
33
Dendam Seseorang
34
Mulai Terjebak Oleh Musuh
35
Mati Kutu
36
Tertipu Juga
37
Gagal Bertemu
38
Pernyataan Cinta Arya
39
Tantangan Kiara Untuk Arya
40
Ribut
41
Kembali Ke Pelukan Bima
42
Putus Dengan Lisa
43
Balas Dendam Joni Mulai Berjalan
44
Mati Kutu
45
Jatuh Miskin
46
Tinggal Di Kontrakan
47
Kembalinya Sang Mantan
48
Mengejutkan
49
Tak Bisa Menerima
50
Resah & Gelisah
51
Dah Dig Dug
52
Gayung Bersambut
53
Kesusahan Yang Melanda Bima
54
Suatu Permintaan Maaf
55
Permintaan Maaf Di Tolak
56
Niat Mempermalukan Malah Di Permalukan
57
Honeymoon
58
Baby Alvaro Sakit
59
Alvaro Meninggal
60
Pemakaman Alvaro
61
Tidak Punya Etika
62
Bersikap Dingin
63
Tak Pernah Akur Lagi
64
Gagal Menyakiti Kiara
65
Bima Sakit
66
Pencobaan Bunuh Diri
67
Selalu Debat
68
Bima Bertemu Milka
69
Sejenak Curhat
70
Di Labrak
71
Mendapatkan Ancaman
72
Silih Berganti Rintangan Datang
73
Ketegaran Bima
74
Curhatan Joni
75
Akhirnya Risgn
76
Joni Kecewa
77
Pekerjaan Baru
78
Inventaris Kantor
79
Asisten Rumah Tangga Baru
80
Kiara Hamil
81
Dilema
82
Selalu Berulah
83
Ketahuan Juga
84
Berhasil Mendapatkan Maaf
85
Kisah Yang Rumit
86
Rasa Penasaran Kiara
87
Rasa Penasaran Terjawab
88
Meninggalnya Ibu, Mayang
89
Kebaikan Joni Terhadap Mayang
90
Bertemunya Milka Dengan Mayang
91
Tak Cocok
92
Nasehat Seorang Ibu
93
Kecurigaan Milka
94
Kembali Curiga
95
Penyelidikan Milka
96
Kebahagiaan Kiara
97
Ingin Meminta Maaf
98
Penuturan Milka Pada Mayang
99
Milka Kembali Curiga
100
Lapor Polisi
101
Akhir Kisah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!