Kiara kini menjalani hari-harinya bagai tak bersuami. Karena Bima sama sekali tak peduli padanya. Padahal saat ini dirinya sedang hamil muda, yang benar-benar butuh di perhatikan oleh suami. Untung saja, Kiara bukanlah seorang wanita yang manja ataupun cengeng.
Walaupun kerap kali ia alami ngidam, juga muntah dan setiap pagi alami morning sickness. Tetapi ia tak pernah mengasihani diri sendiri. Ia selalu tegar dan ia adalah wanita yang kuat.
"Hoek hoek hoek"
Menjelang akan berangkat ke kantor, Kiara muntah-muntah pada saat ia paksakan untuk menelan sarapannya.
Ibunya yang melihat kejadian itu, lekas mengejar Kiara yang berlari ke arah wastafel dapur. Dengan penuh kelembutan, Bu Darti memijit tengkuk leher Kiara. Dan memerintahkan Riko mengambilkan minyak kayu putih untuk membalur tengkuk leher Kiara.
"Apa nggak sebaiknya kamu libur dulu, Kiara. Lihatlah kondisimu seperti ini, pasti kepalamu pusing sekali kan?"
Kiara pun menyudahi muntahnya karena perut sudah tak mual lagi. Ia mengusap mulutnya dengan tisue yang tersedia di kotak kecil yang ada di atas wastafel.
"Ibu, ini nggak berlangsung lama kok. Paling nanti sekitar jam sepuluh pagi sudah tidak seperti ini. Ibu nggak usah khawatir, cucu ibu ini kan penurut. Ia kan, nak?" Kiara tersenyum seraya beberapa kali mengusap perutnya yang masih rata.
"Hem, ya sudah jika seperti itu. Tetapi kamu harus extra hati-hati ya? ingat saat ini kamu tidak sendiri tetapi ada anak di dalam perutmu itu," pesan Bu Darti.
Kiara menyungging senyuman, ia pun lekas berangkat ke kantor dengan menyalami kedua orang tuanya. Ia sama sekali tak memikirkan Bima yang sudah tak pernah jenguk dirinya beberapa hari terakhir.
Kiara sengaja tak memikirkan hal itu, karena ia tak ingin terlalu banyak pikiran. Ia hanya fokus dengan pekerjaannya saja dan tumbuh kembang janin yang ada di dalam perutnya.
Dengan penuh semangat, Kiara berangkat ke kantor. Walaupun ia merasakan perutnya lapar, tetapi ia telah membawa bekal makanan untuk nanti siang dan juga membawa buah-buahan serta susu ibu hamil dan vitamin.
Sesampainya di kantor, ia langsung menuju ke ruang kerjanya. Dan ia pun lekas mulai dengan aktifitasnya. Sesekali sembari makan buah yang ia bawa. Karena setiap pagi ia tidak bisa sarapan di karenakan selalu saja memuntahkan makanannya. Hingga ia makan buah di pagi hari. Dan siang harinya baru ia makan siang.
Tanpa sepengetahuan Kiara, segala aktifitasnya di dalam ruang kerjanya bisa di lihat oleh Arya. Sesekali Arya juga melihat Kiara berlari ke toilet karena muntah dan sesekali Arya juga melihat Kiara memijit tengkuknya serta pelipisnya sendiri dengan minyak kayu putih yang selalu ia bawa.
"Kasihan sekali, Kiara. Di saat ia hamil muda dan alami ngidam, ia tetap semangat bekerja. Bahkan aku tak pernah melihat ia sedikitpun meneteskan air matanya. Yang aku lihat, ia selalu mengajak janinnya berinteraksi dengan di ajak ngobrol olehnya."
"Semoga kamu dan calon anakmu selalu sehat ya, Kiara. Astaga, kenapa sejak awal aku bertemu dengannya hingga saat ini aku tak bisa berhenti untuk selalu perhatian padanya?"
Memang benar, selama ini Arya diam-diam selalu perhatian pada Kiara. Bahkan selama Kiara hamil, ia juga sering memberikan makanan yang Kiara inginkan. Arya seperti tahu saja dengan apa yang Kiara inginkan. Seperti saat ini, padahal ia telah menghabiskan dua buah apel. Tiba-tiba ia ingin makan lotek.
"Astaga, kenapa aku ingin sekali makam lotek ya?"
Selagi ingin mencari tahu dimana yang ada tukang lotek. Tiba-tiba pintu ruang kerjanya di ketuk oleh seseorang.
"Tok tok tok tok tok"
"Masuk"
Asisten pribadi, Arya datang dengan membawa bungkusan di tangannya.
"Non Kiara, ini ada titipan dari Tuan Arya. Katanya Non sedang ingin makan ini. Jadi ia meminta saya membelinya untuk Non Kiara. Semoga saja pedasnya sesuai dengan selera, Non Kiara."
Asisten pribadi Arya meletakkannya di meja kerja Kiara.
"Pak, ini apa ya?" tanya Kiara heran.
"Itu lotek, Non."
Kiara terperangah, sontak wajahnya langsung berseri. Dan tanpa ada rasa malu, ia segera membuka bungkusan tersebut. Dan mencicipinya.
"Hemmmm, wenak pak. Ini pedasnya pas, nggak terlalu pedas. Tolong sampaikan terima kasih saya pada, Tuan Arya."
Kiara mengacungkan kedua ibu jarinya seraya langsung memakan lotek tersebut dengan antusiasnya.
"Baiklah, Non. Kalau begitu saya permisi ya Non."
Kiara hanya menyunggingkan senyuman seraya mengangguk. Dan ia terus makan lotek tersebut dengan sangat lahap.
Arya bisa melihat dari rekaman video CCTV yang ada di ruang kerja Kiara. Ia juga tersenyum senang karena bisa membuat Kiara tersenyum bahagia.
"Syukurlah, kamu menyukainya Kiara. Sebisa mungkin aku akan selalu memberikan apa pun yang bayimu inginkan. Aku tidak mempermasalahkan jika bayi itu bukan anakku. Entah kenapa aku menjadi seperti ini padamu dan bayimu. Aku tak ingin melihat kesedihan di raut wajahmu. Aku akan berusaha untuk selalu membuatmu tersenyum."
Arya puas karena pemberiannya tidak sia-sia. Kiara bahkan menyantap habis lotek tersebut.
"Heran, kenapa Mas Arya tahu saja apa yang sedang aku inginkan ya? ia seperti seorang cenayang saja," batin Kiara.
Berbeda situasi di kantor Bima, dimana saat ini Mamah Nindy sedang ada di kantor. Mereka sedang berdebat hebat.
"Mah, sudah beberapa hari aku tidak menjenguk Kiara. Bahkan aku juga tidak pernah memberikan uang sepeserpun padanya. Masa iya, mamah tega pada cucu sendiri?" rengek Bima membujuk Mamah Nindy untuk memberikan uang padanya.
Karena selama ini, semua uang di handle oleh Mamah Nindy.
"Biarkan saja, toh salah ia sendiri nggak mau di minta tinggal lagi dengan kita. Bahkan sekarang ia sombong mentang-mentang sudah mendapatkan inventaris mobil dan rumah mewah serta naik jabatan," ucap Mamah Nindy.
"Mah, jika seperti ini sama saja aku seperti lepas tanggung jawab. Dari awal kita menikah loh, mah. Aku sama sekali tidak pernah memberinya uang sepeserpun."
Namun Mamah Nindy tetap tidak peduli dengan segala yang di katakan oleh Bima. Dia malah asik sendiri dengan ponsel barunya yang ia beli dengan harga fantastis.
Bima sebagai seorang anak laki-laki tidak bisa bersikap tegas dan benar-benar anak mamah. Ia benar-benar menurut dengan segala aturan mamahnya. Hingga walaupun ia sadar apa yang ia lakukan pada Kiara adalah suatu kesalahan. Ia tetap saja melakukannya.
"Bagaimana ini, semua keuangan kantor di pegang oleh mamah. Bahkan aku sama jika ingin membeli sesuatu harus minta mamah dulu. Aku sebenarnya juga tak tega pada Kiara, apa lagi ia saat ini sedang hamil," keluh kesah Bima di dalam hatinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments