Hanya Bisa Menghakimi

Pagi menjelang, Kiara melakukan aktifitasnya seperti hari biasa. Pagi ini ia ingin sekali mengatakan hal yang telah mengganjal di dalam hatinya.

Dia ingin meminta pada Arya supaya tidak mengirim apa pun ke rumahnya. Karena ia tidak ingin terbebani sama sekali.

Hal serupa juga sedang di pikirkan oleh Bima, ia akan datang ke kantor tetapi untuk menemui Kiara, karena ia tak bebas jika berbicara di rumah Kiara, pasti orang tuanya ikut saja berbicara.

Pada saat Kiara akan keluar dari ruang kerjanya, tiba-tiba pintu ruangan di buka seseorang. Hampir saja dirinya bertabrakan dengan orang itu, yang tak lain adalah suaminya.

"Kiara, apa kamu akan pergi?" tanya Bima.

"Ya, aku ada urusan ke ruangan presiden direktur," jawab Kiara singkat.

"Kiara, tolong luangkan waktumu sebentar. Aku ingin berbicara denganmu sebentar saja," ucap Bima memelas.

Hingga pada akhirnya, Kiara mengurungkan niatnya untuk ke ruangan Arya. Ia pun masuk kembali ke dalam ruang kerjanya.

"Kiara, kenapa kamu menceritakan hal pribadi kepada orang lain? apa kamu tidak bisa sedikit saja menjaga tutur katamu itu?"

Perkataan Bima membuat Kiara tertegun.

"Kamu datang-datang hanya ingin menegurku untuk hal yang aku tak tahu?" ucap Kiara mulai terpancing emosi.

"Kiara, apa kamu sengaja menceritakan tentang permasalahan rumah tangga kita pada bosmu itu. Pantas saja, ia langsung memberikan inventaris rumah dan jabatan bagus padamu. Itu semua pasti karena ia merasa kasihan padamu," ucap Bima.

"Mas, aku sama sekali tak pernah cerita apapun pada bos aku. Jadi jangan asal tuduh ya? kalau kedatanganmu kemari hanya untuk menghakimiku, sebaiknya kamu pergi saja dari sini!" usir Kiara kesal.

"Kamu itu kelapa keluarga, tetapi sikapmu sama sekali tidak mencerminkan dirimu seorang kepala keluarga. Kamu merasa dirimu ini benar dan malah melimpahkan kesalahanmu padaku. Sudah aku katakan aku sama sekali tak bercerita apa pun pada bosku. Mungkin saja ia tahu dari orang lain yang dekat denganku," ucap Kiara.

"Sama saja, Kiara. Seharusnya kamu tak perlu curhat pada siapapun tentang permasalahan rumah tangga kita. Seperti ini aku malu tahu nggak?"

Mendengar apa yang dikatakan oleh Bima, membuat emosi Kiara semakin memuncak.

"Kenapa kamu terus memojokkan diriku? jika kamu masih punya rasa malu seharusnya kamu perbaiki sikapmu. Mana tanggung jawabmu sebagai kepala keluarga? tidak ada sama sekali! apa lagi sejak aku hamil seperti ini, tidak sepeserpun kamu berikan padaku! lantas untuk apa aku berumah tangga denganmu jika ternyata aku harus mencari nafkah untuk diriku sendiri? percuma saja kita menikah jika demikian," ucap Kiara sudah tak bisa lagi membendung rasa kesalnya.

"Kamu sekarang sombong ya, Kiara. Mentang-mentang sudah menjadi seorang direktur, hingga kamu seolah tidak membutuhkanku sama sekali," ucap ketus Bima.

"Aku rasa sudah tidak perlu panjang lebar bicara denganmu, karena dari tadi pembicaraan kita tidak pernah nyambung. Kamu tidak pernah bisa mengoreksi dirimu sendiri atas kesalahanmu, tetapi dari tadi kamu selalu menyalahkan aku memojokkan aku."

Saat itu juga Kiara, bangkit dari duduk. Ia pun meminta Bima untuk segera pergi dari ruangannya karena dirinya akan segera ke ruang presiden direktur. Kiara lantas mengunci ruang kerjanya, tanpa menghiraukan tatapan tajam dari suaminya. Ia pun segera melangkah ke ruang presiden direktur untuk menemui, Arya.

Bima hanya terpaku diam, terus menatap kepergian Kiara sampai tidak terlihat batang hidungnya sama sekali.

"Tok tok tok tok tok."

Kiara mengetuk pintu ruang kerja, Arya.

"Masuk."

Terdengar suara Arya dari dalam ruangan memerintahkan Kiara untuk segera masuk.

"Kiara, apa ada yang perlu dibicarakan?" tanya Arya memicingkan alisnya.

"Iya, Tuan Arya. Mohon maaf jika saya ingin mengganggu waktu anda sebentar saja," pintanya tersenyum.

"Baiklah, silahkan duduk."

Kiara pun langsung duduk di hadapan, Arya.

"Begini, Tuan Arya. Saya mohon pada Tuan, supaya tidak lagi mengirimkan makanan yang terlalu banyak untuk keluarga saya, karena saya merasa tidak enak hati. Saya tidak ingin terlalu merepotkan anda, Tuan Arya," ucap Kiara.

"Kiara, saya melakukan hal itu secara sukarela tidak ada paksaan tidak ada unsur lain. Intinya saya ikhlas, biarkanlah saya memberikan apapun yang ingin saya berikan padamu atau pada keluargamu. Tolong jangan pernah menolak sesuatu yang saya berikan karena sama saja kamu menolak rezeki," ucap Arya.

"Tapi saya tidak akan bisa membalas kebaikan anda, Tuan Arya," ucap Kiara.

"Sudah saya katakan barusan, saya ikhlas memberikannya. Dan saya tidak berharap untuk mendapatkan balasan darimu atau keluargamu," ucap Arya.

"Sekali lagi saya tegaskan kepadamu, Kiara. Saya tulus, bukan memberikan karena merasa kasihan padamu atau keluargamu. Janganlah kamu berprasangka buruk terhadap saya," ucap Arya mencoba memberikan pengertian kepada, Kiara.

"Baiklah kalau begitu, Tuan Arya. Tapi ada satu hal lagi yang ingin saya katakan pada anda, dari mana anda tahu tentang segala permasalahan kehidupan rumah tangga saya? karena tadi tiba-tiba suami saya datang dan menuduh bahwa saya yang mengatakan langsung pada anda, saya merasa tidak terima karena saya tidak pernah curhat apapun pada anda," ucap Kiara.

"Oh jadi baru saja suamimu datang menegurmu? sebaiknya kamu tak usah lagi memikirkannya, yang hanya membuat kesehatanmu menjadi terganggu. Apalagi saat ini kamu sedang hamil, itu juga tidak baik jika terlalu banyak beban pikiran."

"Aku tahu dari seseorang, walaupun kamu tidak menceritakannya padaku. Aku memang sempat menegur suamimu pada saat bertemu di pelataran kost waktu itu. Maksud aku supaya suamimu sadar dan berubah menjadi lebih baik. Rupanya malah ia menegurmu dan pasti telah marah padamu ya?"

"Jika memang suami yang baik, ia akan mengoreksi kesalahan yang ada pada dirinya dan memperbaikinya bukan malah marah. Aku minta maaf, Kiara. Tentang hal ini, aku mohon kamu jangan marah. Dan aku berjanji tidak akan mencampuri urusan rumah tanggamu lagi."

Mendengar apa yang dikatakan oleh Arya panjang lebar, Kiara tidak tega jika ingin marah pada Arya.

"Baiklah, Tuan Arya. Terima kasih atas perhatian anda ya selama ini padaku."

"Kiara, bagaimana kondisi kehancuranmu? ingat selalu jaga kesehatan ya, dan selalu makan makanan sehat supaya kamu dan janinmu sehat selalu," ucap Arya begitu perhatiannya.

"Alhamdulillah, sehat selalu. Kalau begitu saya pamit kembali keruang kerja saya, Tuan Arya," ucap Kiara seraya bangkit dari duduknya.

"Sebentar, Kiara."

"Ada apa ya, Tuan?"

"Jangan lupa rajin kontrol kandunganmu ya," ucap Arya.

"Pasti, Tuan Arya. Terima kasih atas perhatiannya."

Saat itu juga Kiara kini benar-benar ke luar dari ruang kerja Arya. Di dalam hatinya heran, atas sikap Arya. Yang dulu selalu bully dirinya, kini malah perhatian padanya.

Episodes
1 Berselisih Paham
2 Cekcok
3 Bertemu Seseorang Di Masa Lalu
4 Hasutan Mamah Mertua
5 Memutuskan Pergi Dari Rumah
6 Memutuskan Untuk Kost
7 Usaha Bima Membujuk Kiara
8 Naik Jabatan
9 Kejutan Manis
10 Menempati Rumah Baru
11 Gelisah
12 Kembali Di Ejek Oleh Mertua
13 Hanya Bisa Menghakimi
14 Tegar & Pantang Mengeluh
15 Tuduhan Yang Sangat Menyakitkan
16 Menyembunyikan Kesedihan
17 Kecurigaan Orang Tua Kiara
18 Persahabatan Dengan Pacar Bima
19 Kiara Melahirkan
20 Bima Kecewa
21 Menjebak Bima
22 Cekcok
23 Masih Saja Berkilah
24 Bersyukur
25 Di Permalukan
26 Hasutan Mamah Nindy
27 Pertikaian Bima & Kiara
28 Kedatangan Meymey
29 Gagal Mengikuti Bima
30 Bima Terjebak Juga
31 Menikah Diam-Diam
32 Keguguran
33 Dendam Seseorang
34 Mulai Terjebak Oleh Musuh
35 Mati Kutu
36 Tertipu Juga
37 Gagal Bertemu
38 Pernyataan Cinta Arya
39 Tantangan Kiara Untuk Arya
40 Ribut
41 Kembali Ke Pelukan Bima
42 Putus Dengan Lisa
43 Balas Dendam Joni Mulai Berjalan
44 Mati Kutu
45 Jatuh Miskin
46 Tinggal Di Kontrakan
47 Kembalinya Sang Mantan
48 Mengejutkan
49 Tak Bisa Menerima
50 Resah & Gelisah
51 Dah Dig Dug
52 Gayung Bersambut
53 Kesusahan Yang Melanda Bima
54 Suatu Permintaan Maaf
55 Permintaan Maaf Di Tolak
56 Niat Mempermalukan Malah Di Permalukan
57 Honeymoon
58 Baby Alvaro Sakit
59 Alvaro Meninggal
60 Pemakaman Alvaro
61 Tidak Punya Etika
62 Bersikap Dingin
63 Tak Pernah Akur Lagi
64 Gagal Menyakiti Kiara
65 Bima Sakit
66 Pencobaan Bunuh Diri
67 Selalu Debat
68 Bima Bertemu Milka
69 Sejenak Curhat
70 Di Labrak
71 Mendapatkan Ancaman
72 Silih Berganti Rintangan Datang
73 Ketegaran Bima
74 Curhatan Joni
75 Akhirnya Risgn
76 Joni Kecewa
77 Pekerjaan Baru
78 Inventaris Kantor
79 Asisten Rumah Tangga Baru
80 Kiara Hamil
81 Dilema
82 Selalu Berulah
83 Ketahuan Juga
84 Berhasil Mendapatkan Maaf
85 Kisah Yang Rumit
86 Rasa Penasaran Kiara
87 Rasa Penasaran Terjawab
88 Meninggalnya Ibu, Mayang
89 Kebaikan Joni Terhadap Mayang
90 Bertemunya Milka Dengan Mayang
91 Tak Cocok
92 Nasehat Seorang Ibu
93 Kecurigaan Milka
94 Kembali Curiga
95 Penyelidikan Milka
96 Kebahagiaan Kiara
97 Ingin Meminta Maaf
98 Penuturan Milka Pada Mayang
99 Milka Kembali Curiga
100 Lapor Polisi
101 Akhir Kisah
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Berselisih Paham
2
Cekcok
3
Bertemu Seseorang Di Masa Lalu
4
Hasutan Mamah Mertua
5
Memutuskan Pergi Dari Rumah
6
Memutuskan Untuk Kost
7
Usaha Bima Membujuk Kiara
8
Naik Jabatan
9
Kejutan Manis
10
Menempati Rumah Baru
11
Gelisah
12
Kembali Di Ejek Oleh Mertua
13
Hanya Bisa Menghakimi
14
Tegar & Pantang Mengeluh
15
Tuduhan Yang Sangat Menyakitkan
16
Menyembunyikan Kesedihan
17
Kecurigaan Orang Tua Kiara
18
Persahabatan Dengan Pacar Bima
19
Kiara Melahirkan
20
Bima Kecewa
21
Menjebak Bima
22
Cekcok
23
Masih Saja Berkilah
24
Bersyukur
25
Di Permalukan
26
Hasutan Mamah Nindy
27
Pertikaian Bima & Kiara
28
Kedatangan Meymey
29
Gagal Mengikuti Bima
30
Bima Terjebak Juga
31
Menikah Diam-Diam
32
Keguguran
33
Dendam Seseorang
34
Mulai Terjebak Oleh Musuh
35
Mati Kutu
36
Tertipu Juga
37
Gagal Bertemu
38
Pernyataan Cinta Arya
39
Tantangan Kiara Untuk Arya
40
Ribut
41
Kembali Ke Pelukan Bima
42
Putus Dengan Lisa
43
Balas Dendam Joni Mulai Berjalan
44
Mati Kutu
45
Jatuh Miskin
46
Tinggal Di Kontrakan
47
Kembalinya Sang Mantan
48
Mengejutkan
49
Tak Bisa Menerima
50
Resah & Gelisah
51
Dah Dig Dug
52
Gayung Bersambut
53
Kesusahan Yang Melanda Bima
54
Suatu Permintaan Maaf
55
Permintaan Maaf Di Tolak
56
Niat Mempermalukan Malah Di Permalukan
57
Honeymoon
58
Baby Alvaro Sakit
59
Alvaro Meninggal
60
Pemakaman Alvaro
61
Tidak Punya Etika
62
Bersikap Dingin
63
Tak Pernah Akur Lagi
64
Gagal Menyakiti Kiara
65
Bima Sakit
66
Pencobaan Bunuh Diri
67
Selalu Debat
68
Bima Bertemu Milka
69
Sejenak Curhat
70
Di Labrak
71
Mendapatkan Ancaman
72
Silih Berganti Rintangan Datang
73
Ketegaran Bima
74
Curhatan Joni
75
Akhirnya Risgn
76
Joni Kecewa
77
Pekerjaan Baru
78
Inventaris Kantor
79
Asisten Rumah Tangga Baru
80
Kiara Hamil
81
Dilema
82
Selalu Berulah
83
Ketahuan Juga
84
Berhasil Mendapatkan Maaf
85
Kisah Yang Rumit
86
Rasa Penasaran Kiara
87
Rasa Penasaran Terjawab
88
Meninggalnya Ibu, Mayang
89
Kebaikan Joni Terhadap Mayang
90
Bertemunya Milka Dengan Mayang
91
Tak Cocok
92
Nasehat Seorang Ibu
93
Kecurigaan Milka
94
Kembali Curiga
95
Penyelidikan Milka
96
Kebahagiaan Kiara
97
Ingin Meminta Maaf
98
Penuturan Milka Pada Mayang
99
Milka Kembali Curiga
100
Lapor Polisi
101
Akhir Kisah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!