Memutuskan Pergi Dari Rumah

"Memang mamah barusan yang mengatakannya, aku percaya padanya karena mamah tidak akan pernah berbohong padaku," ucap lantang Bima.

"Kamu ingin tahu kebenarannya, cek saja rekaman video CCTV yang ada di pelataran rumah. Jadi jelas di sini siapa yang benar dan siapa yang salah," ucap Kiara dengan santainya.

Tanpa berkata lagi Bima pun meraih ponselnya untuk mengecek rekaman video CCTV yang ada di pelataran rumah sehingga ia tahu siapa yang benar dan siapa yang salah.

Matanya membola pada saat melihat apa yang terjadi di pelataran rumah tepatnya d di depan teras di mana Mamah Nindi sedang menyirami tanaman kesukaannya.

Setelah tahu kebenarannya Bima pun melangkah keluar dari kamar untuk menemui mamahnya yang masih duduk di ruang tamu.

"Kenapa mamah berkata bohong padaku?" tanya Bima menatap tajam Mamah Nindi.

"Memang kebohongan apa yang mamah katakan padamu, selama ini Mamah tidak pernah membohongi dirimu," ucap Mamah Nindi memicingkan alisnya.

"Lihat ini!" Bima menunjukkan rekaman video CCTV yang ada di pelataran rumah kepada Mamah Nindi.

"Sialan, aku baru tahu jika di pelataran namun dipasang CCTV oleh Bagas. Aku pikir hanya di dalam rumah saja yang dipasang CCTV," batin Mamah Nindi mulai gelisah.

"Mamah sudah tidak bisa mengelak lagi bukan? dengan apa yang telah Mamah lakukan pada Kiara. Apa yang terjadi pada mamah hari ini karena ulah Mamah sendiri terhadap Kiara. Jika Mamah tidak bersikap buruk pada Kiara, mamah tidak akan mengalami hal buruk juga," ucap Bagas ketus.

"Apa kamu tidak melihat jelas di rekaman video CCTV tersebut. Kalau Kiara dulu yang membuat mamah kesal. Masa iya sama mamah mertua tidak punya etika dan sopan santun sama sekali," ucap Mamah Nindi masih bisa membela diri.

Segala perkataan antara Bima dan Mamah Nindi terdengar hingga ke kamar Kiara. Ia pun memutuskan untuk keluar karena telinganya panas juga.

"Mas Bima, jika mamah tetap tidak mengakui kesalahannya ya sudah tak usah di perpanjang lagi. Hanya ada satu jalan supaya tidak ada keributan lagi," ucap Kiara.

Mamah Nindi sudah sumringah dengan perkataan Kiara, ia memikirkan hal lain yang sama sekali tidak terpikirkan oleh Kiara.

"Kamu sadar juga, jika memang sudah tidak ada lagi jalan yang terbaik supaya tidak terjadi keributan lagi. Cepatlah kamu urus perceraianmu dengan Bima, aku juga sudah muak dengan adanya kamu di sini," ucap Mamah Nindi.

"Mamah salah, aku barusan mengatakan seperti itu bukan berarti aku ingin menggugat cerai, Mas Bima. Justru aku ingin mengajak Mas Bima pergi dari rumah ini supaya aman," ucap Kiara.

"Oh tidak bisa, Bima adalah anak satu-satunya. Aku tidak akan mengizinkannya pergi dari sini, jika kamu ingin pergi maka pergilah sendiri jangan mengajak Bima!" bentak Mamah Nindi.

"Sudah diam, kalian berdua membuat kepalaku pusing saja. Mau sampai kapan kalian terus bertengkar seperti ini?" Bima kalang kabut melihat pertikaian antara istri dan ibunya.

"Kamu ingin tahu mau sampai kapan pertengkaran ini terjadi

? sampai kamu benar-benar berpisah dengan menantu yang tak tahu diri ini," ucap Mamah Nindi seraya menunjuk kasar pada Kiara.

"Mah, janganlah seperti itu. Cobalah untuk bersikap baik pada istriku. Dan kamu juga Kiara cobalah sedikit menghargai dan menghormati mamahku. Cobalah kalian berdua saling mengalah satu sama lain, dan mengoreksi kesalahan kalian masing-masing," ucap Bima menengahi.

"Sudahlah, mas. Jika kamu tidak mau menuruti apa yang barusan aku sarankan, lebih baik aku memang pergi saja dari rumah ini," ucap Kiara.

"Kiara, bukan aku tak mau menuruti kemauanmu tetapi aku tak tega meninggalkan Mamah sendiri di rumah ini," ucap Bima.

Sebenarnya saat ini Bima bingung karena ia dihadapkan dengan pilihan yang sangat sulit.

"Kalau kamu memang lebih memilih Mamah, ya sudah aku pergi saja dari rumah ini. Itulah jalan yang terbaik, karena aku memberikan suatu saat tidak kamu dengarkan," ucap Kiara mulai lelah dengan rumah tangganya yang baru dibina satu bulan.

"Tidak bisa seperti itu, Kiara. Kita kan baru menikah satu bulan masa iya langsung pisah ranjang, malah pisah rumah?" ucap Bima.

"Makanya jadi suami itu yang bijaksana dalam mengambil sebuah keputusan, supaya tidak menyakiti salah satu pihak. Bukannya kamu pernah cerita padaku, punya rumah yang dekat dari sini. Kita bisa pindah dekat dari sini dan setiap saat kamu bisa menjenguk Mamah," ucap Kiara.

"Oh iya kenapa aku tidak terpikirkan dari tadi, apalagi rumah itu tinggal menyeberang dari sini saja."

Bima menepuk jidatnya sendiri.

"Tidak bisa, karena rumah yang di seberang jalan telah dikontrakkan," ucap lantang Mamah Nindi.

"Tapi aku sama sekali tidak pernah menyewakan rumah itu, mah," ucap Bima heran.

"Mamah yang telah menyewakannya kepada kerabat mamah. Bahkan mereka telah membayar untuk satu tahun ke depan," ucap Mamah Nindi.

"Astaga, mah. Kenapa tidak membicarakan hal ini padaku terlebih dahulu? aku membeli rumah itu memang niatnya untuk kami tempati. Sekarang mana uang sewanya, mah?" tanya Bima.

"Sudah habislah, mamah pakai untuk kebutuhan mamah yang tak sedikit," ucap Mamah Nindi dengan entengnya.

"Astaga, mah. Boros sekali sih, padahal kan setiap bulan aku memberi jatah pada mamah," ucap Bima kesal tapi ia tahan rasa kekesalannya.

Selama ibu dan anak ini berdebat, Kiara melangkah pergi dari hadapan mereka. Ia sudah memutuskan untuk pergi dari rumah itu, dari pada nanti cekcok terus dengan mamah mertuanya. Ia mengemasi semua pakaiannya saat itu juga. Dan pada saat ia melangkah keluar dengan membawa kopernya, Bima menghadang langkahnya.

"Sayang, kamu mau kemana? masa iya kamu nekad mau pergi?" tanya Bima.

"Iya, mas. Aku nggak mau suatu saat nanti aku di fitnah seperti tadi oleh mamahmu. Dan aku juga nggak mau, suatu saat nanti mamahmu bertindak buruk lagi padaku."

"Kamu nggak perlu khawatir, mas. Aku tidak akan pulang ke rumah orang tuaku karena aku juga tak mau orang tuaku sedih jika melihat kepulanganku."

"Aku akan mencari tempat kost, supaya aku tidur dan beraktivitas nyaman tidak ada gangguan."

Mendengar apa yang dikatakan oleh Kiara, Bima sebenarnya berat hati. Tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Kiara juga sengaja ingin mengetes Bima, apa yang akan Bima lakukan jika dirinya nekad pergi.

Ternyata Bima sama sekali tak mencegah atau bahkan berinisiatif ikut dengan Kiara. Ia hanya bengong saja, membuat Kiara geram dan ia pun pergi begitu saja.

"Heran, punya suami kok nggak punya prinsip sama sekali. Masih saja tergantung dengan mamahnya. Dasar anak mamah!" batin Kiara kesal.

Terpopuler

Comments

Yuni Ngsih

Yuni Ngsih

maju trs kiara biar si Bima berpikir....

2024-11-23

0

lihat semua
Episodes
1 Berselisih Paham
2 Cekcok
3 Bertemu Seseorang Di Masa Lalu
4 Hasutan Mamah Mertua
5 Memutuskan Pergi Dari Rumah
6 Memutuskan Untuk Kost
7 Usaha Bima Membujuk Kiara
8 Naik Jabatan
9 Kejutan Manis
10 Menempati Rumah Baru
11 Gelisah
12 Kembali Di Ejek Oleh Mertua
13 Hanya Bisa Menghakimi
14 Tegar & Pantang Mengeluh
15 Tuduhan Yang Sangat Menyakitkan
16 Menyembunyikan Kesedihan
17 Kecurigaan Orang Tua Kiara
18 Persahabatan Dengan Pacar Bima
19 Kiara Melahirkan
20 Bima Kecewa
21 Menjebak Bima
22 Cekcok
23 Masih Saja Berkilah
24 Bersyukur
25 Di Permalukan
26 Hasutan Mamah Nindy
27 Pertikaian Bima & Kiara
28 Kedatangan Meymey
29 Gagal Mengikuti Bima
30 Bima Terjebak Juga
31 Menikah Diam-Diam
32 Keguguran
33 Dendam Seseorang
34 Mulai Terjebak Oleh Musuh
35 Mati Kutu
36 Tertipu Juga
37 Gagal Bertemu
38 Pernyataan Cinta Arya
39 Tantangan Kiara Untuk Arya
40 Ribut
41 Kembali Ke Pelukan Bima
42 Putus Dengan Lisa
43 Balas Dendam Joni Mulai Berjalan
44 Mati Kutu
45 Jatuh Miskin
46 Tinggal Di Kontrakan
47 Kembalinya Sang Mantan
48 Mengejutkan
49 Tak Bisa Menerima
50 Resah & Gelisah
51 Dah Dig Dug
52 Gayung Bersambut
53 Kesusahan Yang Melanda Bima
54 Suatu Permintaan Maaf
55 Permintaan Maaf Di Tolak
56 Niat Mempermalukan Malah Di Permalukan
57 Honeymoon
58 Baby Alvaro Sakit
59 Alvaro Meninggal
60 Pemakaman Alvaro
61 Tidak Punya Etika
62 Bersikap Dingin
63 Tak Pernah Akur Lagi
64 Gagal Menyakiti Kiara
65 Bima Sakit
66 Pencobaan Bunuh Diri
67 Selalu Debat
68 Bima Bertemu Milka
69 Sejenak Curhat
70 Di Labrak
71 Mendapatkan Ancaman
72 Silih Berganti Rintangan Datang
73 Ketegaran Bima
74 Curhatan Joni
75 Akhirnya Risgn
76 Joni Kecewa
77 Pekerjaan Baru
78 Inventaris Kantor
79 Asisten Rumah Tangga Baru
80 Kiara Hamil
81 Dilema
82 Selalu Berulah
83 Ketahuan Juga
84 Berhasil Mendapatkan Maaf
85 Kisah Yang Rumit
86 Rasa Penasaran Kiara
87 Rasa Penasaran Terjawab
88 Meninggalnya Ibu, Mayang
89 Kebaikan Joni Terhadap Mayang
90 Bertemunya Milka Dengan Mayang
91 Tak Cocok
92 Nasehat Seorang Ibu
93 Kecurigaan Milka
94 Kembali Curiga
95 Penyelidikan Milka
96 Kebahagiaan Kiara
97 Ingin Meminta Maaf
98 Penuturan Milka Pada Mayang
99 Milka Kembali Curiga
100 Lapor Polisi
101 Akhir Kisah
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Berselisih Paham
2
Cekcok
3
Bertemu Seseorang Di Masa Lalu
4
Hasutan Mamah Mertua
5
Memutuskan Pergi Dari Rumah
6
Memutuskan Untuk Kost
7
Usaha Bima Membujuk Kiara
8
Naik Jabatan
9
Kejutan Manis
10
Menempati Rumah Baru
11
Gelisah
12
Kembali Di Ejek Oleh Mertua
13
Hanya Bisa Menghakimi
14
Tegar & Pantang Mengeluh
15
Tuduhan Yang Sangat Menyakitkan
16
Menyembunyikan Kesedihan
17
Kecurigaan Orang Tua Kiara
18
Persahabatan Dengan Pacar Bima
19
Kiara Melahirkan
20
Bima Kecewa
21
Menjebak Bima
22
Cekcok
23
Masih Saja Berkilah
24
Bersyukur
25
Di Permalukan
26
Hasutan Mamah Nindy
27
Pertikaian Bima & Kiara
28
Kedatangan Meymey
29
Gagal Mengikuti Bima
30
Bima Terjebak Juga
31
Menikah Diam-Diam
32
Keguguran
33
Dendam Seseorang
34
Mulai Terjebak Oleh Musuh
35
Mati Kutu
36
Tertipu Juga
37
Gagal Bertemu
38
Pernyataan Cinta Arya
39
Tantangan Kiara Untuk Arya
40
Ribut
41
Kembali Ke Pelukan Bima
42
Putus Dengan Lisa
43
Balas Dendam Joni Mulai Berjalan
44
Mati Kutu
45
Jatuh Miskin
46
Tinggal Di Kontrakan
47
Kembalinya Sang Mantan
48
Mengejutkan
49
Tak Bisa Menerima
50
Resah & Gelisah
51
Dah Dig Dug
52
Gayung Bersambut
53
Kesusahan Yang Melanda Bima
54
Suatu Permintaan Maaf
55
Permintaan Maaf Di Tolak
56
Niat Mempermalukan Malah Di Permalukan
57
Honeymoon
58
Baby Alvaro Sakit
59
Alvaro Meninggal
60
Pemakaman Alvaro
61
Tidak Punya Etika
62
Bersikap Dingin
63
Tak Pernah Akur Lagi
64
Gagal Menyakiti Kiara
65
Bima Sakit
66
Pencobaan Bunuh Diri
67
Selalu Debat
68
Bima Bertemu Milka
69
Sejenak Curhat
70
Di Labrak
71
Mendapatkan Ancaman
72
Silih Berganti Rintangan Datang
73
Ketegaran Bima
74
Curhatan Joni
75
Akhirnya Risgn
76
Joni Kecewa
77
Pekerjaan Baru
78
Inventaris Kantor
79
Asisten Rumah Tangga Baru
80
Kiara Hamil
81
Dilema
82
Selalu Berulah
83
Ketahuan Juga
84
Berhasil Mendapatkan Maaf
85
Kisah Yang Rumit
86
Rasa Penasaran Kiara
87
Rasa Penasaran Terjawab
88
Meninggalnya Ibu, Mayang
89
Kebaikan Joni Terhadap Mayang
90
Bertemunya Milka Dengan Mayang
91
Tak Cocok
92
Nasehat Seorang Ibu
93
Kecurigaan Milka
94
Kembali Curiga
95
Penyelidikan Milka
96
Kebahagiaan Kiara
97
Ingin Meminta Maaf
98
Penuturan Milka Pada Mayang
99
Milka Kembali Curiga
100
Lapor Polisi
101
Akhir Kisah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!