Sore menjelang sudah saatnya Kiara untuk kembali ke rumah, tetapi ia tidak bersukacita karena ia harus berhadapan dengan mertuanya yang sangat menyebalkan.
Pada saat Kiara sampai di pelataran rumah Bima, ia melihat Mamah mertuanya sedang asyik menyirami tanaman kesukaannya. Kiara sengaja tidak menyapanya, ia langsung melajukan motor matic nya masuk ke dalam garasi.
Sejenak Mamah Nindi melirik ke arah perginya Kiara ia pun langsung mengatakan hal yang sangat kasar pada saat Kiara telah sampai di hadapannya.
"Dasar menantu tidak punya rasa sopan santun atau menghargai terhadap mertuanya! main selonong saja tidak ada kata-kata sedikitpun!" ucapnya sinis menatap tajam ke arah Kiara.
Sejenak Kiara menghentikan langkahnya tepat di samping Mamah Nindi.
"Oh iya, maafkan aku mamah mertua tercinta aku lupa. Aku pikir tidak punya seorang Mamah mertua, karena sejak aku menikah tidak dianggap menantu di sini."
Kiara menepuk jidatnya sendiri tersenyum mengejek ke arah Mamah mertuanya. Dan pada saat ia akan melangkah masuk ke dalam rumah, tiba-tiba Mamah Nindi mengarahkan selang airnya ke arah Kiara hingga ia pun basah kuyup dibuatnya.
Kiara pun menghentikan langkahnya dan ia melotot ke arah Mamah Nindi seraya menghela napas panjang.
"Kenapa, mau marah mau membalas apa yang telah aku lakukan padamu? silakan saja, nanti bisa aku adukan pada Bima dan aku katakan bahwa kamu ini adalah menantu yang kurang ajar dan durhaka pada seorang mertua," ejek Mamah Nindi ia pun terkekeh.
Kiara tak menghiraukan apa yang dikatakan oleh Mamah mertuanya ia pun langsung melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah.
Kiara langsung masuk ke dalam kamarnya dan langsung membersihkan badannya karena sudah terlanjur basah kuyup oleh ulah Mamah mertuanya tersebut.
Tak berapa lama mamah mertuanya melangkah masuk, tetapi ia tak melihat lantai yang basah hingga Mamah Nindi pun terpeleset dan seketika itu juga jatuh terduduk.
BRUG...
Mamah Nindi jatuh terduduk dengan kaki menendang meja serta hampir saja kepala membentur lantai jika tidak di topang oleh Bima yang tiba-tiba berlari pada saat pulang kerja.
Pada saat Bima pulang kerja, ia tak sengaja melihat mamahnya terpeleset dan akan terjungkal untung saja Bima menopang kepala Mamah Nindi hingga tidak sampai membentur lantai.
"Astaghfirullah aladzim, kalau jalan hati-hati dong mah jadi nggak sampai seperti ini. Lah ini kenapa juga lantainya basah seperti ini?" tanya Bima melihat lantai basah karena ada genangan air.
"Siapa lagi kalau bukan ulah istri tercinta mu itu! jika lantai tidak basah seperti ini mana mungkin Mamah sampai terpeleset," ucap ketus Mamah Nindi.
Perlahan Bima mengangkat tubuh Mamah Nindy untuk membantunya bangkit berdiri dan memapahnya untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Mah, apa maksud perkataan Mamah tadi?" tanya Bima penasaran.
"Genangan air itu sengaja dilakukan oleh Kiara dia kan tidak suka sama mamah masa kamu tidak paham juga? Kiara sengaja melakukan itu supaya mamah cidera," ucap Mamah Nindi mulai menghasut Bima.
"Mamah jangan berburuk sangka terhadap Kiara, mana mungkin ia bertindak seperti itu. Aku tahu betul bagaimana sifat istriku, mah," ucap Bima membela Kiara.
"Kamu masih saja membela istrimu setelah kamu melihat sendiri perbuatannya pada mamah seperti ini," ucap Mamah Nindi kesal.
"Aku bukan membelanya, mah. Tetapi aku mengatakan yang sebenarnya. Mana mungkin Kiara melakukan hal sekeji ini pada mamah, dia itu wanita yang baik makanya aku menikahi dirinya," Bima masih tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh mamahnya.
"Sejak kamu menikah dengan Kiara sifatmu terhadap Mamah berubah drastis. Kamu sudah tidak lagi menyayangi Mamah apalagi peduli dengan Mamah. Apa kamu sama sekali tidak merasa kasihan dengan kondisi mamah sekarang ini? bukannya kamu iba melihat mamahmu yang kesakitan tetapi kamu terus saja membela istrimu itu."
Mamah Nindi berakting dengan menitikan air matanya.
Kalau sudah seperti ini, Bima merasa iba pada mamahnya. Ia pun berpamitan untuk ke kamar guna memberi pelajaran pada Kiara.
"Maafkan aku ya Mah. Ya sudah jangan menangis, nanti aku akan menasehati Kiara kalau perlu aku akan memberinya pelajaran yang setimpal atas apa yang telah ia lakukan pada Mamah barusan."
Bima pun melangkah menuju ke kamarnya dengan penuh rasa emosi yang membara terhadap Kiara. Sementara Mamah Nindi tersenyum sinis di dalam hatinya ia bersorak kegirangan. Karena telah berhasil membuat Bima percaya dengan segala yang ia katakan.
"Bagus Bima, aku harap kali ini kamu benar-benar memarahi Kiara, semoga saja hubungan kalian semakin berantakan karena aku tidak suka jika kamu menikahi dia apalagi sepenuhnya kamu menjadi milik Kiara."
"Aku ingin hanya aku yang kamu sayangi untuk selamanya aku tidak ingin kasih sayang anakku terbagi untuk siapapun. Apalagi keuangannya diatur oleh Kiara, karena hanya aku yang berhak mengatur anakku, tidak dengan orang lain termasuk Kiara."
Terus saja Mamah Nindi mengerutu di dalam hatinya. Ia berdoa supaya hubungan Kiara dan anaknya berantakan. Awalnya ia berpikir jika Kiara adalah wanita yang mudah diatur serra polis terima saja dengan perlakuan Mamah Nindi dimana segala sesuatu terutama keuangan di atur olehnya.
Tetapi pemikiran Mamah Nindi salah, karena Kiara tidak terima jika keuangan di atur oleh dirinya. Sejak terjadinya perselisihan ini, Mamah Nindi telah bertekad akan menyingkirkan Kiara dari sisi Bima dengan segala macam cara.
Bima membuka pintu kamarnya serta menutupnya dengan kasar hingga membuat Kiara yang sedang rebahan sambil menonton acara televisi terlonjak kaget.
"Mas, kasar sekali sih?" tegur Kiara.
"Apa kamu bilang barusan, aku kasar? justru kamu itu bukan lagi kasar tetapi jahat!" bentak Bima.
"Hah, jahat? memangnya aku jahat kenapa?" Kiara memicingkan alisnya.
"Kamu sengaja kan membuat lantai ruang tamu licin dengan genangan air supaya mamahku terjatuh dan cidera? Untung saja aku lekas menolongnya, jika tidak pasti mamah akan cidera," bentak Bima.
"Mas, aku tidak pernah melakukan hal itu. Oh ya, aku minta maaf karena lupa mengelap lantai pada saat aku basah kuyup di semprot air selang
oleh mamahmu sepulang aku kerja. Aku langsung saja berlari ke kamar dan mandi. Hingga aku lupa belum membersihkan lantai yang basah," ucap Kiara jujur.
"Kenapa malah kamu menuduh mamahku, hah?" bentak Bima.
"Mas, aku tidak menuduh mamahmu. Memang apa yang barusan aku katakan itu kenyataan. Aku di semprot oleh mamahmu hingga aku basah kuyup," ucap Kiara mencoba menjelaskan kekeliruan Bima.
"Pasti mamahmu yang mengadu bukan? padahal ia yang telah jahat padaku, kok malah aku yang menjadi tertuduh di sini,' ucap Kiara tersenyum sinis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments