Tuduhan Yang Sangat Menyakitkan

Tiga bulan kemudian....

Usia kehamilan Kiara sudah genap memasuki umur empat bulan.

Dia pun berinisiatif mengadakan syukuran kecil-kecilan dengan mengundang anak-anak panti asuhan yang ada di sebuah yayasan yang tak jauh dari rumahnya. Dan juga meminta doa dari seorang Ustadz di kawasan perumahan elite tersebut.

Kiara juga menyempatkan dirinya datang ke rumah Bima, ia menuruti kemauan orang tuanya untuk tidak lupa mengundang Bima hadir di acara syukuran empat bulan kehamilannya. Walaupun ia sempat sungkan.

"Mas Bima-mamah, semoga kalian mau datang sore ini juga di rumahku untuk acara syukuran empat bulan usia kehamilanku," ucap Kiara.

"Maaf ya, bukannya kamu sudah tahu jika aku tidak pernah menyukai dirimu apa lagi anak yang sedang kamu kandung. Belum tentu juga itu anak kandung dari Bima."

Mendengar apa yang dikatakan oleh Mamah Nindy, membuat Kiara sempat kesal. Akan tetapi ia berusaha menahan rasa kekesalannya tersebut.

"Astaghfirullah aladzim, jika mamah tak mau datang juga tidak apa-apa. Tetapi setidaknya jangan mengatakan hal buruk seperti itu. Sama saja menuduh aku telah menduakan Mas Bima."

"Aku tidak pernah terpikirkan untuk berbuat hal sekeji itu. Walaupun selama menikah dengan Mas Bima hingga detik ini, ia sama sekali tak memberikan nafkah lahir padaku."

"Tetapi aku tidak lantas melakukan perselingkuhan. Ini benar-benar anak biologis, Mas Bima. Dan kamu Mas Bima, apa kamu juga tidak akan datang seperti mamahmu?"

Sejenak Bima terdiam pada saat mendengar apa yang dikatakan oleh Kiara. Hingga Kiara terpaksa mengulang pertanyaan lagi.

"Mas, kamu dengar nggak sih yang barusan aku tanyakan?"

Pada saat Bima akan menjawab, tiba-tiba Mamah Nindy berkata.

"Heh, nggak sopan banget ya kamu berkata seperti itu! Bima pasti dengar apa yang barusan kamu katakan, jadi tak perlu lagi kamu mengulang kata-katamu itu!" bentak Mamah Nindy.

"Mah, sudah nggak perlu marah-marah seperti ini. Kiara, nanti sore aku akan datang ke acara syukuran empat bulanan anak kita," ucap Bima.

"Alhamdulillah, ya sudah jika begitu aku pamit pulang. Aku tunggu kedatangannya ya, mas."

Saat itu juga Kiara bangkit dari duduknya dan ia pergi dari rumah, Bima tanpa berpamitan pada Mamah Nindy.

Seperginya Kiara, Mamah Nindy merasa kesal.

"Kamu lihat barusan istrimu itu? pergi saja nggak pamit sama sekali dengan mamah, hanya kamu saja yang di pamiti. Nggak ada sopan santunnya sama mertua!" ucap ketus Mamah Nindy.

"Mah, sudahlah. Mau sampai kapan mamah bersikap seperti ini pada, Kiara. Ini sudah keterlaluan lho," ucap Bima.

"Jadi kamu masih saja membelanya? apa kamu tak ragu dengan anak yang di kandungnya? belum tentu juga itu anak kandungmu, bisa jadi itu anak dari bosnya. Kalau mamah sih nggak yakin sama sekali. Secara masa iya dalam waktu singkat Kiara naik pangkat dan juga mendapatkan mobil serta rumah mewah. Jika tidak ada hubungan spesial dengan bosnya itu," ucap Mamah Nindy mulai menghasut Bima.

Sejenak Bima diam, ia seolah sedang berpikir tentang apa yang barusan di katakan oleh Mamahnya.

"Apa yang mamah katakan ada benarnya juga. Bisa jadi anak yang saat ini di kandung oleh Kiara bukanlah anak kandungku. Pantas saja pada saat ia di ajak kembali ke rumah ini menolak mentah-mentah. Pasti selama ini, ia selalu jalani dengan bosnya itu secara sembunyi-sembunyi supaya tidak ada orang lain yang tahu," batin Bima.

"Hem, begini saja. Aku akan datang ke acara syukuran empat bulanan usia kehamilan Kiara. Dan jika di sana datang bosnya, berarti apa yang dikatakan oleh mamah ada benarnya."

Hingga tak terasa sore menjelang, Bima pun datang ke acara syukuran empat bulanan usia kehamilan Kiara. Dan ia begitu cemburu dan kesal pada saat melihat seseorang yang tak di inginkannya di rumah Kiara.

"Astaga, itu kan bos Kiara? apa yang mamah katakan ternyata benar. Tidak seharusnya aku datang di acara ini, karena yang ada di kandungan Kiara bukanlah anakku!" batin Bima kesal.

Hingga ia pun memutuskan untuk pergi saja dari acara syukuran yang akan segera di mulai. Akan tetapi langkahnya tertahan pada saat Kiara memanggil namanya.

"Mas Bima, kenapa nggak masuk? kenapa di luar saja, masuklah. Acara sebentar lagi akan di mulai. Kamu bisa mendampingi aku ya," ucap Kiara lembut.

Tetapi justru Bima menatap tajam ke arah Kiara dengan kilatan yang membunuh.

"Jahat kamu ya, Kiara? kamu tega melakukan hal ini padaku?"

Kiara memicingkan alisnya mendengar apa yang dikatakan oleh Bima.

"Mas, aku jahat kenapa dan apa yang aku lakukan? selama ini aku mengalah, bahkan di saat kamu masih saja tidak memberikan nafkah, aku masih menganggapmu suami dan ayah dari anakku," ucap Kiara kesal.

"Kamu jahat karena telah menduakan aku, hanya karena aku tak pernah memberimu nafkah. Kamu lari ke pelukan pria kaya raya yang bisa memberikan segalanya padamu."

"Sekarang aku percaya dengan apa yang dikatakan mamah. Jika saat ini anak yang kamu kandung itu bukanlah anakku, tetapi anak dari pria lain."

"PLAK!"

Satu tamparan mendarat di pipi Bima, bahkan hal ini bisa di lihat oleh Arya dan keluarga Kiara. Untung saja yang lain tidak melihat akan hal ini.

"Aku selama ini diam dengan perlakuan mu padaku! tetapi tidak dengan yang satu ini! tega sekali kamu menuduh aku berselingkuh!"

"Padahal aku mati-matian kerja banting tulang sendiri. Untuk menafkahi diri sendiri dan mencukupi kebutuhan anak yang aku kandung."

"Anak ini anak kandungmu tetapi secara terang-terangan kamu mengatakan bukan anakmu. Kamu telah menolak anak kandungmu sendiri."

"Baiklah, mas. Aku terima perlakuanmu ini. Dan kelak jika kamu tahu kebenaran tentang anak ini, aku tidak akan mengizinkanmu menemui anak ini!"

"Aku mencoba bertahan denganmu dengan pernikahan tak sehat ini. Aku pikir di usia kehamilanku yang memasuki umur empat bulan, kamu sudah berubah? ternyata kamu tetap saja sama, hanyalah boneka dari mamahmu!"

"Pergilah dari sini dan tak usah terlihat di depanku! aku juga tidak akan menganggapmu suamiku lagi. Setelah apa yang kamu katakan tentang anak ini!"

"Kelak setelah aku melahirkan, aku akan menggugat cerai dirimu!"

Setelah mengatakan banyak hal, Kiara pun berlalu pergi dari hadapan Bima. Dan Bima juga berlalu pergi dari rumah Kiara.

Kiara menarik napas dalam-dalam, ia berusaha untuk tidak menangis di hadapan orang banyak. Ia berusaha menahan untuk tidak melelehkan air matanya. Arya yang melihat kesedihan di wajah Kiara, merasa iba. Sebenarnya ia ingin sekali mengetahui apa yang telah terjadi antara Kiara dengan Bima barusan.

Episodes
1 Berselisih Paham
2 Cekcok
3 Bertemu Seseorang Di Masa Lalu
4 Hasutan Mamah Mertua
5 Memutuskan Pergi Dari Rumah
6 Memutuskan Untuk Kost
7 Usaha Bima Membujuk Kiara
8 Naik Jabatan
9 Kejutan Manis
10 Menempati Rumah Baru
11 Gelisah
12 Kembali Di Ejek Oleh Mertua
13 Hanya Bisa Menghakimi
14 Tegar & Pantang Mengeluh
15 Tuduhan Yang Sangat Menyakitkan
16 Menyembunyikan Kesedihan
17 Kecurigaan Orang Tua Kiara
18 Persahabatan Dengan Pacar Bima
19 Kiara Melahirkan
20 Bima Kecewa
21 Menjebak Bima
22 Cekcok
23 Masih Saja Berkilah
24 Bersyukur
25 Di Permalukan
26 Hasutan Mamah Nindy
27 Pertikaian Bima & Kiara
28 Kedatangan Meymey
29 Gagal Mengikuti Bima
30 Bima Terjebak Juga
31 Menikah Diam-Diam
32 Keguguran
33 Dendam Seseorang
34 Mulai Terjebak Oleh Musuh
35 Mati Kutu
36 Tertipu Juga
37 Gagal Bertemu
38 Pernyataan Cinta Arya
39 Tantangan Kiara Untuk Arya
40 Ribut
41 Kembali Ke Pelukan Bima
42 Putus Dengan Lisa
43 Balas Dendam Joni Mulai Berjalan
44 Mati Kutu
45 Jatuh Miskin
46 Tinggal Di Kontrakan
47 Kembalinya Sang Mantan
48 Mengejutkan
49 Tak Bisa Menerima
50 Resah & Gelisah
51 Dah Dig Dug
52 Gayung Bersambut
53 Kesusahan Yang Melanda Bima
54 Suatu Permintaan Maaf
55 Permintaan Maaf Di Tolak
56 Niat Mempermalukan Malah Di Permalukan
57 Honeymoon
58 Baby Alvaro Sakit
59 Alvaro Meninggal
60 Pemakaman Alvaro
61 Tidak Punya Etika
62 Bersikap Dingin
63 Tak Pernah Akur Lagi
64 Gagal Menyakiti Kiara
65 Bima Sakit
66 Pencobaan Bunuh Diri
67 Selalu Debat
68 Bima Bertemu Milka
69 Sejenak Curhat
70 Di Labrak
71 Mendapatkan Ancaman
72 Silih Berganti Rintangan Datang
73 Ketegaran Bima
74 Curhatan Joni
75 Akhirnya Risgn
76 Joni Kecewa
77 Pekerjaan Baru
78 Inventaris Kantor
79 Asisten Rumah Tangga Baru
80 Kiara Hamil
81 Dilema
82 Selalu Berulah
83 Ketahuan Juga
84 Berhasil Mendapatkan Maaf
85 Kisah Yang Rumit
86 Rasa Penasaran Kiara
87 Rasa Penasaran Terjawab
88 Meninggalnya Ibu, Mayang
89 Kebaikan Joni Terhadap Mayang
90 Bertemunya Milka Dengan Mayang
91 Tak Cocok
92 Nasehat Seorang Ibu
93 Kecurigaan Milka
94 Kembali Curiga
95 Penyelidikan Milka
96 Kebahagiaan Kiara
97 Ingin Meminta Maaf
98 Penuturan Milka Pada Mayang
99 Milka Kembali Curiga
100 Lapor Polisi
101 Akhir Kisah
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Berselisih Paham
2
Cekcok
3
Bertemu Seseorang Di Masa Lalu
4
Hasutan Mamah Mertua
5
Memutuskan Pergi Dari Rumah
6
Memutuskan Untuk Kost
7
Usaha Bima Membujuk Kiara
8
Naik Jabatan
9
Kejutan Manis
10
Menempati Rumah Baru
11
Gelisah
12
Kembali Di Ejek Oleh Mertua
13
Hanya Bisa Menghakimi
14
Tegar & Pantang Mengeluh
15
Tuduhan Yang Sangat Menyakitkan
16
Menyembunyikan Kesedihan
17
Kecurigaan Orang Tua Kiara
18
Persahabatan Dengan Pacar Bima
19
Kiara Melahirkan
20
Bima Kecewa
21
Menjebak Bima
22
Cekcok
23
Masih Saja Berkilah
24
Bersyukur
25
Di Permalukan
26
Hasutan Mamah Nindy
27
Pertikaian Bima & Kiara
28
Kedatangan Meymey
29
Gagal Mengikuti Bima
30
Bima Terjebak Juga
31
Menikah Diam-Diam
32
Keguguran
33
Dendam Seseorang
34
Mulai Terjebak Oleh Musuh
35
Mati Kutu
36
Tertipu Juga
37
Gagal Bertemu
38
Pernyataan Cinta Arya
39
Tantangan Kiara Untuk Arya
40
Ribut
41
Kembali Ke Pelukan Bima
42
Putus Dengan Lisa
43
Balas Dendam Joni Mulai Berjalan
44
Mati Kutu
45
Jatuh Miskin
46
Tinggal Di Kontrakan
47
Kembalinya Sang Mantan
48
Mengejutkan
49
Tak Bisa Menerima
50
Resah & Gelisah
51
Dah Dig Dug
52
Gayung Bersambut
53
Kesusahan Yang Melanda Bima
54
Suatu Permintaan Maaf
55
Permintaan Maaf Di Tolak
56
Niat Mempermalukan Malah Di Permalukan
57
Honeymoon
58
Baby Alvaro Sakit
59
Alvaro Meninggal
60
Pemakaman Alvaro
61
Tidak Punya Etika
62
Bersikap Dingin
63
Tak Pernah Akur Lagi
64
Gagal Menyakiti Kiara
65
Bima Sakit
66
Pencobaan Bunuh Diri
67
Selalu Debat
68
Bima Bertemu Milka
69
Sejenak Curhat
70
Di Labrak
71
Mendapatkan Ancaman
72
Silih Berganti Rintangan Datang
73
Ketegaran Bima
74
Curhatan Joni
75
Akhirnya Risgn
76
Joni Kecewa
77
Pekerjaan Baru
78
Inventaris Kantor
79
Asisten Rumah Tangga Baru
80
Kiara Hamil
81
Dilema
82
Selalu Berulah
83
Ketahuan Juga
84
Berhasil Mendapatkan Maaf
85
Kisah Yang Rumit
86
Rasa Penasaran Kiara
87
Rasa Penasaran Terjawab
88
Meninggalnya Ibu, Mayang
89
Kebaikan Joni Terhadap Mayang
90
Bertemunya Milka Dengan Mayang
91
Tak Cocok
92
Nasehat Seorang Ibu
93
Kecurigaan Milka
94
Kembali Curiga
95
Penyelidikan Milka
96
Kebahagiaan Kiara
97
Ingin Meminta Maaf
98
Penuturan Milka Pada Mayang
99
Milka Kembali Curiga
100
Lapor Polisi
101
Akhir Kisah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!