Cahaya sangat gugup saat berhadapan dengan Doni . Apa lagi dari tadi mata Doni tidak berpindah dari nya . Cahaya hanya bisa menunduk dan membuang pandangannya ke arah lain. Sesekali Cahaya memainkan sedotan pada minumannya.
Kini mereka tinggal berdua dalam satu meja. Setelah memperkenalkan Doni pada Cahaya, Rania memilih menyingkir ke meja lain. Sambil menunggu , Rania mengerjakan sedikit pekerjaan yang tertunda di laptopnya.
" Permisi, ini pesanan anda Pak. " Seorang Waiters menaruh segelas Hot Cappuccino di hadapan Doni.
" Terima kasih. Bisa tambahkan Red Velvet Cake satu dan Choco Moist Cake dua. " Pinta Doni sama Waiters itu.
" Baik Pak, ada lagi ? " Tanya Waiters balik.
" Cukup , itu saja. " Jawab Doni pendek.
Sesaat kemudian situasi kembali senyap setelah pekerja Cafe itu berlalu meninggalkan meja mereka.
" Jadi, kamu bernama Cahaya dan pernah bertemu dengan ibuku. Heh... " Doni tersenyum kecil terkesan meremehkan.
" Kenapa ? Tak sesuai ekspektasi kamu ? " Cahaya merasa tidak nyaman dengan cara Doni tersenyum. Seperti merendahkan.
" Benar... aku tak menyangka jika kamu wanita bercadar. Tidak ada yang mengatakannya padaku. " Jawab Doni apa adanya.
" Ada yang salah dengan cadar ? " Tanya Cahaya . Lagi lagi dia merasa tidak terima.
" Bukan... bukan. Aku tidak masalah dengan cadar. Tapi aku rasa kamulah yang akan masalah jika tahu siapa aku. " Ucap Doni ambigu.
" Maksud nya... ? " Tanya Cahaya yang tak paham maksud Doni.
" Hmm... sepertinya kamu belum diberitahu tentang aku secara detail. Seperi aku yang tidak diberitahu tentang kamu secara lengkap. " Ucap Doni tanpa bermaksud menjawab pertanyaan Cahaya .
" Bukan kah pertemuan ini bertujuan untuk itu ? Saling mengenal. " Cahaya mencoba mengingatkan tujuan awal pertemuan mereka.
" Kamu benar. Baiklah , mungkin kita harus mulai dengan memperkenalkan diri. Aku atau kamu yang duluan ? " Ucap Doni .
" Kamu saja... " Jawab Cahaya. Pembicaraan mereka terhenti karena pesanan Doni baru saja datang.
" Tolong yang coklat satu potong antarkan ke meja itu, ya. " Doni menunjuk meja Rania agar Waiters mengantar ke sana. Setelah Waiters itu pergi barulah Doni kembali fokus ke Cahaya. Setelah menarik napas dalam Doni akhirnya berkata.....
" Baiklah, aku Ramadhoni aksa , panggil Doni saja. Aku duda tanpa anak karena... anak dan istri ku meninggal sepuluh tahun yang lalu karena kecelakaan pesawat. " Setelah nya Doni hanya menatap Cahaya menunggu responnya.
" Cahaya jingga, janda dua anak. Usia sepuluh dan tujuh tahun. Dan... aku bercerai. " Cahaya menunduk setelah kalimat terakhir nya.
" Ok... apa yang membuat kamu menerima perjodohan ini ? " Tanya Doni ingin tahu.
" Hanya ingin mencoba untuk membuka diri dan maaf... aku belum menerima sepenuhnya, ingin mengenal dulu baru nanti aku putuskan jika merasa siap. Banyak pertimbangan untuk sampai ke tahap menerima. " Jawab Cahaya tanpa ragu.
" Menarik ! Dan aku yakin sebentar lagi kamu akan mundur. " Ucapan Doni membuat kening Cahaya mengkerut .
" Kenapa ? Apa karena kamu belum bisa keluar dari masa lalu ? " Tanya Cahaya penasaran.
" Aku memang belum keluar dari masa lalu, tapi bukan itu alasannya. Aku bukan pria baik baik seperti yang kamu bayangkan. Aku punya kebiasaan Clubbing, dunia malam . Kamu mengerti kan maksud ku... ? " Doni tak berniat menjelaskan lebih detail.
" Kamu... suka minum ? Mak... maksudku ... khamar ? " Hancur sudah keinginan Cahaya untuk bisa melanjutkan perkenalkan ini ketika mendapat anggukan kepala dari Doni.
" Bagaimana ? Kamu kecewa... ? He... he sudah aku duga. " Doni terkekeh ringan melihat Cahaya tak lagi menjawab melainkan tersandar dengan bahu yang jatuh dan menatap dengan sorot mata yang tak bisa Doni artikan.
Doni memilih untuk memakan potongan cake yang tadi dipesan nya . Entah mengapa Doni juga kecewa dengan respon Cahaya.
" Kamu tidak suka Cake coklat ? Maaf aku tidak bertanya dulu apa yang kamu suka. Aku kira kamu dan Nia...
" Aku suka, tak usah dipikirkan. Aku tipe yang tidak pilih pilih makanan. " Cahaya meraih piring kecil yang berisikan Choco Moist Cake dan memakannya perlahan.
" Good ! "
Untuk beberapa saat keheningan tercipta di antara keduanya. Hanya di temani oleh dentingan sendok sesekali menemani acara makan mereka. Lebih tepatnya Coffee time.
" Baiklah Jingga, aku rasa hari ini cukup segini dulu. Lain waktu kita sambung. " Ucap Doni walau tidak yakin dengan kata " lain waktu ". " Maaf harus meninggalkan kamu dan tidak menawarkan pulang bersama, karena sebenarnya tadi aku menunda sebuah meeting penting. " Lanjut Doni berbasa basi.
" Nggak apa apa, kebetulan aku ada hanji dengan Rania. " Cahaya menanggapi seadanya.
Sebelum pergi Doni memanggil Rania terlebih dahulu, baru lah kemudian dia pamit pada kedua wanita itu.
" Bagaimana... ? " Tanya Rania tidak sabaran.
" Kami baru tahap pengenalan saja, Nia. " Ucap Cahaya santai. " Tapi... aku tidak yakin untuk selanjutnya. " Terdengar ******* lelah di akhir kalimat Cahaya.
" Apa yang membuat kamu tidak yakin , Ya. " Cahaya hanya menggeleng kan kepalanya. " Apa Kak Doni mengatakan semua kebiasaan nya dan membuatmu illfeel. " Selidik Rania.
" Begitulah ! Rania... aku punya kenangan buruk dengan minuman beralkohol. Dan bisa dibilang sebuah trauma. Maaf... ! " Cahaya merasa bersalah karena memang belum pernah cerita tentang trauma nya pada Rania .
" Ya ,aku memintamu untuk menikah dengan sepupuku bukan karena dia imam yang baik. Yang mampu membawa kamu dan anak anakmu ke Jannah nya Allah. Tapi aku butuh wanita yang kuat dan berprinsip tegas sepertimu untuk membawa sepupuku kembali ke jalan yang benar. Bantu aku mengembalikannya seperti dulu. Ibunya sudah terlalu tua untuk menyaksikan kelakuan buruknya. Aku kasihan beliau. Karena aku ingin beliau bahagia di ujung usianya yang mungkin tak lama lagi . "
Wajah Rania tampak sangat sedih mengingat wanita tua yang dipanggilnya Ibuk. Wanita yang sudah sangat lelah dengan keterpurukan Doni yang tak kunjung insaf. Perasaan gagal sebagai ibu membuat Ibu Ratih selalu menyalahkan dirinya sendiri. Sayangnya belum ada yang mampu membawa Doni keluar dari lembah yang menenggelamkan nya.
" Mungkin aku terlalu egois jika meminta kamu berkorban. Tapi aku sangat kenal Kak Doni, dia bukan orang yang kasar dan main tangan. Bahkan kami adik adiknya saja belum pernah mendengar nya meninggi kan suaranya. Dan entah kenapa aku dan Ibuk begitu yakin kamu mampu membawanya kembali. Mungkin kedengarannya terlalu berlebihan. Tapi percayalah Kak Doni hanya kehilangan dan kesepian. Terlalu larut dengan rasa bersalah hingga mencari pengalihan. "
Ucapan Rania hanya dapat Cahaya dengarkan tanpa bisa memberikan tanggapan. Pikiran Cahaya terasa penuh dan tak bisa untuk bereaksi.
Sementara Doni yang sedang mengendarai mobilnya menuju kantornya, larut dengan lamunannya. Perubahan sorot mata Cahaya ketika mengetahui kebiasaan buruknya masih bisa Doni ingat. Doni yang mengetahui cerita masa lalu Cahaya bisa memaklumi nya.
Hanya saja Doni sedikit kecewa karena Cahaya terkesan enggan padanya . Terlihat dari cara Cahaya yang tidak lagi banyak bicara setelahnya. Hanya menjawab pertanyaan sekedarnya saja.
Padahal Doni sedari awal tidak serius dengan rencana Perjodohan ini. Dari awal niatnya hanya memenuhi keinginan sang Ibu. Tapi entah mengapa sekarang Doni merasa di tolak dan ada yang nyeri di sudut hatinya.
...****************...
Happy Reading 💕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Sabaku No Gaara
lahhh...bknx kmu jg mau menolak don
2024-05-27
0
Zainab Ddi
nyeri nih ye kaysky Doni ada rasa walaupun baru sedikit
2024-02-27
2
Maryam Renhoran
makin penasaran dirikuu 😍
2024-01-31
0