Setelah cukup puas membaca surat yang di tulis Dewi untuk Yudha, segera Bu Ida meletakkan kembali surat tersebut di tempatnya semula, ia pun. segera keluar dari kamar Yudha. Dia masuk ke dalam kamarnya sendiri.
Dan pada saat sore menjelang, di saat Yudha pulang. Ia terhenyak kaget pada saat melihat tidak ada Dewi di dalam kamarnya. Ia mencari di semua sudut ruangan, tapi tidak di ketemuinya. Setelah merasa lelah tak menemukan keberadaan Dewi, Yudha memutuskan untuk melepas lelah dengan melakukan ritual mandi sorenya.
Tetapi matanya tak sengaja menatap ke arah meja dimana ada secarik kertas putih yang berisikan sesuatu. Yudha pun meraihnya dan membacanya. Ia begitu geram dan kesal pada saat mengetahui isi surat tersebut.
"Astaga, Dewi pergi. Pantas saja dari tadi aku mencarinya tak ketemu juga. Pasti ia saat ini sudah sampai di kampungnya. Sialan, ternyata waktu itu ia mendengar semua pembicaraan antara aku dengan sekretaris pribadiku. Ini semua gara-gara sekretaris sialan itu!" batin Yudha kesal seraya meremas surat dari, Dewi.
Ia pun menelpon sekretarisnya, tetapi tidak juga di angkatnya. Hingga ia emosi dan melempar ponselnya ke pembaringan, setelah itu ia pun melanjutkan untuk mandi sore. Ia akan menegurnya esok hari pada saat bertemu di kantor.
"Esok aku temui sekretarisku dulu atau sebaiknya aku ke kampung saja dulu ya? aku benar-benar cinta pada, Dewi walaupun ia seorang janda beranak satu. Aku telah nyaman dengannya. Sedangkan kebersamaan ku dengan wanita lain hanyalah pengisi waktu kosongku. Atau di saat aku sedang bosan dengan, Dewi. Karena kadang kala aku merasakan bosan dengan, Dewi."
Yudha pun melangkah ke kamar mandi, ia segera mandi sore. Pada saat ia akan sejenak merebahkan tubuhnya di pembaringan, ia tak pun terus saja teringat wajah, Dewi.
Wajahnya terus saja bermain di pelupuk matanya. Hingga ia memutuskan untuk segera ke kampung walaupun sebenarnya tubuhnya sangat lelah sekali.
Dia ke kampung tidak mengemudikan mobilnya sendiri, tetapi ia membawa sopir pribadinya. Karena selama dalam perjalanan ke kampung, ia ingin memejamkan matanya di dalam mobil.
Empat jam perjalanan.....
Yudha telah sampai di kampung kelahiran, Dewi. Ia lekas melangkah ke bangunsn rumah yang sangat tua milik orang tua, Dewi.
Dan pada saat ia sampai di depan pintu rumahnya. Ia sedang melihat Dewi bermsin dengan anak semata wayangnya yang baru berusia lima tahun. Tepatnya seorang anak laki-laki.
Dewi kaget pada saat melihat kedatangan, Yudha. Ia pun segera menyerahkan anaknya pada Ibunya karena ia ingin berbicara empat mata dengan Yudha.
"Mas Yudha, ada apa datang kemari? apakah kamu tidak membaca surat yang aku letakkan di meja kamar?" tanya Dewi ketus.
"Aku membacanya, sayang. Tetapi aku tidak mau berpisah denganmu, karena aku benar-benar cinta padamu," ucap Yudha halus mulai merayu Dewi.
Dewi tersenyum sinis pada saat menerima kata cinta yang terlontar dari mulut, Yudha. Ia kini sudah tidak orvay lagi dengan kata bualan manis dari mulut, Yudha.
Yudha pun heran kenapa Dewi malah tersenyum mengejek, dan seolah tak percaya dengan apa yang barusan ia katakan.
"Sayang, apa kamu tak percaya dengan yang aku katakan barusan? kedatangan sekretarisku pada waktu itu hanya untuk memintaku menilai hasil aktingnya. Karena ia berkata padaku, ingin sekali menjadi artis dan ada suatu tawaran film di sela kerjanya di kantor," ucap Yudha berbohong.
Namun Dewi semakin mencibir kata-kata yang di katakan oleh, Yudha. Ia sama sekali sudah tidak percaya lagi dengan segala yang di katakan oleh, Yudha.
"Mas, kamu pikir aku masih percaya dengan segala bualanmu itu? tolong tak usah lagi berkata-kata manis kepadaku, karena aku sudah tidak percaya dengan segala apa yang kamu katakan. Kembali saja kamu ke kota, karena aku sudah memutuskan untuk tetap bercerai dari mu," ucap Dewi kesal.
Sebenarnya Dewi ingin mengatakan banyak hal tentang apa yang dikatakan oleh sekretaris pribadi Yudha pada waktu itu. Tetapi ia tak ingin terjadi hal buruk pada wanita itu hingga ia pun hanya diam saja.
Mendengar Dewi mengusir dirinya, tak lantas membuat Yudha pergi dari rumah Dewi, tetapi ia terus saja berkata manis membujuknya supaya mau kembali ke kota bersamanya.
Tetapi Dewi berkeras hati untuk tidak menerima ajakan Yudha kembali bersamanya. Hingga pada akhirnya yudhapun menyerah dalam membujuk Dewi. Ia pun akhirnya kembali ke kota dengan tangan hampa.
"Biarkan saja Dewi seperti itu, pasti besok ia telah berubah pikiran dan akan kembali dengan sendirinya ke kota untuk menemuiku. Karena aku yakin dia hanya emosi sesaat saja."
"Apalagi kondisi ekonominya sangat kekurangan. Ia tidak akan mungkin bisa bertahan hidup terlalu lama tinggal di desa. Ia pasti akan mengejarku dan mengurungkan niatnya untuk berpisah denganku."
dengan penuh percaya diri Yudha kembali ke kota. Ia sangat yakin jika suatu saat nanti Dewi akan menemuinya dan membatalkan niatnya untuk berpisah dengannya.
********
Berjalannya waktu cepat sekali, tak terasa sudah seminggu berlalu. Tetapi Dewi tak juga kunjung kembali ke rumah mewah milik Bu Ida yang kini telah menjadi milik pribadi, Yudha.
"Aku pikir Dewi akan segera datang kembali lagi tetapi ternyata pemikiranku salah. Ya sudahlah, aku ikhlaskan saja jika memang ia ingin berpisah denganku. Lagi pula di dunia ini masih banyak wanita cantik yang pasti mau menjadi istriku."
"Untuk apa aku terus memohon padanya. Membuat harga diriku ini terasa di injak-injak olehnya. Walaupun aku menikah dengannya atas dasar cinta."
"Dewi, padahal kamu akuntansi hidup enak dan mewah. Tetapi malah kamu seperti ini, tetap saja ingat berpisah denganku. Baiklah, aku akan menuruti kemauan dirimu."
"Aku akan segera melayangkan gugatan cerai padamu. Karena aku tahu, walaupun kamu ingin berpisah denganku. Kamu tidak akan sanggup mengurus perceraiannya karena kamu itu miskin tak punya uang."
"Aku akan berbaik hati mengurus perceraian kita. Supaya kamu lega dan aku pun bisa bebas untuk mencari gd ti dirimu."
Esok harinya, Yudha memibta tolong pada salah satu pengacara untuk mengurus gugatan cerainya pada, Dewi. Ia hanya sebentar saja merasa kehilangan, Dewi. Akan tetapi setelah itu, ia bersikap biasa lagi seolah tidak terjadi apa-apa sama sekali.
Dia selalu berbangga diri bahwa dia kaya dan tampan, pasti akan lekas bisa mendapatkan pengganti Dewi yang lebih baik. Ia tripikal pria yang mudah bosan dengan wanita, walaupun ia cinta dengan seseorang. Ia tetap tidak bisa setia dengan wanita yang ia cintai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments