Yuda Mengadu

Yuda lekas menghampiri, Bu Ida. Ia sengaja bersikap manis padanya karena tak ingin ketahuan belangnya.

"Kebetulan sekali istriku yang sangat aku cintai datang ke kantor. Kamu tahu nggak, kenapa aku membuka pintunya lama sekali? karena aku sedang bersolo karir gara-gara melihat konten di YouTube, film yang begituan."

Tangan Yuda mulai nakal meraba dua gundukan di dada Bu Ida.

"Hem, pantas saja kamu langsung mengajakku masuk kemari. Pasti solo karirnya belum tuntas ya?" goda Bu Ida terkekeh.

"Pintar sekali istriku tercinta, hheee memang iya belum tuntas. Makanya aku ingin mengajakmu untuk menuntaskannya sekarang juga. Mau kan, sayang?"

Tanpa Bu Ida menjawab, Yuda tahu betul apa jawabannya. Karena mereka berdua sama-sama memiliki hasrat yang besar. Walaupun Yuda barusan sudah bermain dengan sekretaris pribadinya, tetapi ia mampu melakukannya lagi.

Dan hal yang sama juga di rasakan oleh Bu Ida. Walaupun usianya tidak muda lagi, tetapi ia juga berhasrat besar seperti halnya anak muda. Makanya ia masih suka dengan permainan ranjang tersebut.

Hingga beberapa menit kemudian mereka bergulat di ranjang yang ada di ruang kantor Yuda.

"Ibu, ada apa datang kemari?" tanya Yuda seraya merapikan kembali pakaiannya.

"Aku bosan saja di rumah tidak ada aktifitas apapun, hingga datang kemari."

Bu Ida pun merapikan pakaiannya juga.

Kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Yuda. Ia pun menceritakan kegelisahan dirinya setelah bertemu dengan Meysa.

Semua Yuda ceritakan pada Bu Ida.

"Apa, jadi saat ini Meysa membuka usaha expedisi? terus ia sempat mengatakan mempunyai rekaman video kita? ya sudah, nanti aku akan crn di rumah apakah memang ada CCTV atau tidak. Jika ada, nanti aku akan minta tolong pada orang yang ahlinya untuk mencopotnya," ucap Bu Ida sedikit kesal mendengar apa yang dikatakan oleh Yuda.

Dan saat itu juga Bu Ida berpamitan pulang, ia langsung ke rumah karena rasa penasarannya. Kebetulan ia datang ke kantor dengan diantar oleh sopir pribadinya. Hingga tak perlu repot untuk bisa lekas sampai di rumah.

Tanpa lupa, Bu Ida membawa orang yang berpengalaman memasang dan melepas CCTV. Saat itu juga semua ruangan di cek. Dan memang terbukti di setiap ruangan terdapat CCTV.

"Astaga, ternyata apa yang di katakan oleh Meysa benar. Ia punya rekamannya karena di setiap ruangan di pasang CCTV. Sejak kapan Meysa memasang CCTV, kok aku sana sekali tidak tahu ya?"

Bu Ida terus saja memikirkan hal itu, hingga ia lelah sendiri. Semua CCTV di lepas sesuai kemauan Bu Ida. Karena menurutnya itu tidak penting. Tanpa ia melupakan untuk memberitahu pada, Yuda jika memang semua ruangan telah terpasang CCTV.

Kring kring kring kring kring

Satu panggilan telepon masuk ke nomor ponsel Yuda yang ternyata dari Bu Ida. Walaupun sebenarnya enggan untuk mengangkatnya , tetapi ia tetap mengangkat panggilan telepon tersebut.

"Yuda, ternyata kecurigaanmu ada benarnya juga. Meysa diam-diam memasang CCTV di semua ruangan mdi rumah. Tetapi semua CCTV sudah di lepas, karena menurutku itu tidak penting."

"Baguslah kalau begitu, tetapi bagaimana dengan yang ada di Meysa? aku khawatir suatu saat nanti, ia bisa menyebarkan video tersebut. Hal ini bisa membuat reputasi kita buruk."

"Kamu fokus bener saja, Yuda. Tunjukkan saja dimana letak kantor expedisi, Meysa. Biar ibu yang akan kesana untuk meminta pada Meysa menghapus rekaman videonya."

Sejenak panggilan telepon dimatikan oleh kedua belah pihak, baik oleh Bu Ida maupun oleh Yudha. Saat itu juga Yudha mengirimkan alamat kantor ekspedisi milik, Meysa.

Setelah mendapatkan alamat kantor ekspedisi tersebut, Bu Ida langsung memerintah sopir pribadinya untuk segera mengantarkannya ke alamat tersebut.

Perjalanan tak butuh waktu lama, hanya beberapa menit saja sudah sampai di lokasi tersebut. Bu Ida melangkah pasti menuju ke kantor expedisi tersebut. Dan kebetulan Meysa sedang ada di luar ruang kerjanya. Ia sedang asik melihat para pegawainya mencatat semua packing yang aman di kirim hari ini juga.

Meysa begitu kaget pada saat melihat ibunya ada di kantornya. Akan tetapi ia sengaja tak menghiraukan kedatangan ibunya. Ia bahkan pura-pura tidak tahu. Ia sengaja tak mendekati ibunya, tetapi membiarkan ibunya yang mendekatinya terlebih dahulu.

"Meysa, ibu ingin bicara sebentar denganmu. Tolong luangkan waktunya bener menit saja," pinta Bu Ida.

"Silahkan, katakan saja apa yang ingin di katakan. Hanya beberapa menit saja ya," ucap Meysa.

"Iya, Meysa. Tetapi jangan di tempat umum seperti ini. Karena yang ingin ibu katakan bersifat pribadi. Apa tidak ada tempat yang tertutup?" ucap Bu Ida.

Karena rasa penasaran yang teramat sangat dengan apa yan ingin di katakan oleh Bu Ida. Hingga akhirnya Meysa pun mengajak ibunya menuju ke ruang kerjanya.

"Meysa, ibu dengar dari Yuda jika kamu menyimpan rekaman video antara ibu dan Yuda. Mana ibu lihat dan ibu minta kamu hapus segera videonya sekarang juga," ucap Bu Ida to the point saja.

"Hem, jadi Yuda telah mengadu pada ibu ya? padahal aku sama sekali tidak menyimpan apapun. Asal ibu perlu tahu ya, aku melakukan itu karena Yuda menggangguku. Supaya dia tak lagi mengganggu hidupku."

Mendengar apa yang barusan di katakan oleh Meysa, membuat Bu Ida memicingkan alisnya.

"Kamu jangan berbohong pada ibu, Meysa. Ibu lebih percaya pada Yuda dari pada kepadamu."

Meysa hanya tersenyum sinis pada saat mendengar apa yang barusan di katakan oleh Bu Ida. Ia hanya heran dengan ibunya yang telah di butakan cintanya pada Yuda. Hingga ia tega melupakan anak kandung dan memilih Yuda.

"Ya sudah, jika anda lebih percaya pada Yuda nggak apa-apa. Aku sudah tidak ada waktu lagi, hanya untuk mengurus hal yang tak penting seperti ini," ucap Meysa tersenyum sinis.

"Bagimu ini tak penting, tetapi bagi ibu dan Yuda ini sangatlah penting. Karena ini menyangkut nama baik kami. Kami tak ingin reputasi kami tercemar gara-gara ulahmu!" bentak Bu Ida.

"Jika tak ingin reputasi buruk seharusnya bisa menjaga kehormatan diri. Bukan malah bertindak seperti orang yang tak punya harga diri sama sekali."

Bu Ida merasa tersinggung, ia pun marah dan memutuskan untuk pergi dari ruang kerja Meysa. Ia tak berkata lagi.

Meysa hanya bisa menatap kepergian Bu Ida dengan menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya.

"Astaghfirullah aladzim, semoga saja ibu cepat menyadari akan kesalahannya. Supaya ia tidak selamanya di bodohi oleh, Yuda."

"Sejelek apa pun, ia tetap ibuku. Dan aku tak ingin sesuatu yang buruk menimpa pada diri ibu."

Terpopuler

Comments

Eka Elisa

Eka Elisa

astaga...bu..lok ibu tau klakuan licik yuda ibu bkln mnyesal tau..
udh tega...skiti hati meysya..

2022-12-27

1

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 60 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!