Bu Ida sama sekali tidak berpikir jernih pada saat ia mengatakan banyak hal pada, Dewi. Ia tidak memikirkan sebab dan akibat yang akan terjadi jika Dewi mengadu pada Yudha.
Di sore hari tatkala, Bu Ida sedang fokus menyirami tanaman di teras halaman. Ia harus menelan rasa cemburu melihat keromantisan Dewi bersama dengan Yudha.
Dimana Yudha baru pulang dari kantor dan disambut hangat oleh Dewi yang sengaja menunggu kepulangannya di teras halaman.
Kecupan mesra mendarat di bibir dan di kening Dewi. Serta Dewi begitu mesranya bergelayut manja di lengan Yudha seraya satu tangannya menenteng tas kerja suaminya.
Mereka masuk ke dalam rumah tanpa melihat ke arah Bu Ida sama sekali. Bu Ida merasa kesal, ia pun melempar selang air begitu saja.
"Kurang ajar, aku sudah di buat seperti asisten rumah tangga di rumahku sendiri. Padahal di rumah ini sudah ada asisten rumah tangga. Kini Yudha sengaja mengumbar kemesraan depanku!" batinnya kesal seraya melangkah masuk menuju ke kamarnya.
Dan lagi-lagi Bu Ida harus kesal dan kecewa tat kala tak sengaja ia mendengar suara cekikikan Yudha dan Dewi dari arah kamarnya.
"Ist, Mas Yudha. Apa sudah ingin sih? ini masih sore loh, dan mas juga baru pulang dari kantor. Memangnya nggak cape?" ucap genit Dewi di sertai erangan kenikmatan karena saat ini Yudha sedang menyusuri leher jenjangnya dan seraya tangannya meremas dua benda kenyal yang ada di dadanya.
"Hem, untuk yang satu ini aku tidak ada rasa lelah atau cape, sayang. Karena tubuhmu sudah menjadi candu bagi diriku ini," ucap Yudha.
Bu Ida sangat kesal, ia terus saja memukul-mukul kedua tangannya di kasurnya seraya menggertakan giginya karena menahan rasa amarahnya pada kedua insan yang sedang di mabuk cinta tersebut.
Bu Ida pun akhirnya keluar dari kamarnya dan ia melangkah menuju ke teras halaman karena tak ingin mendengar suara sepasang suami istri yang sedang melakukan olah raga ranjang di sore hari.
Perlahan air matanya menetes, dan entah bagaimana ia teringat dengan anak semata wayangnya.
"Pasti dulu, ini yang di rasakan oleh Meysa. Pada saat aku sedang melakukan hal serupa dengan Yudha. Ternyata memang rasanya sakit luar biasa. Apa lagi Meysa memasang CCTV, pasti ia lebih sakit karena bisa melihat secara langsung adegan panas yang aku lakukan bersama Yudha."
"Entah setan apa yang dulu merasuki aku, hingga aku begitu mudahnya menyakiti anak kandungku sendiri. Bahkan aku rela merampas hak Meysa dan memberikannya suka rela pada, Yudha."
"Dan pada akhirnya, kini aku di buat menderita, sengsara, serta sakit hati oleh Yudha terang-terangan seperti ini."
"Malu rasa hati tat kala ingin meminta maaf pada, Meysa. Malu juga jika aku menceritakan apa yang telah di lakukan Yudha padaku. Aku yakin sekali, pasti Meysa malah akan menertawakanku bahkan akan mencibir keadaanku saat ini."
Terus saja, Bu Ida merutuki diri sendiri tanpa hentinya.
Satu jam kemudian, percintaan yang dilakukan oleh Yudha dan Dewi telah usai. Bahkan keduanya telah selesai mandi bersama dan sedang bercengkrama di balkon kamar sembari menunggu waktu makan malam.
"Mas Yudha, ada banyak hal yang ingin aku tanyakan dan ceritakan padamu. Dan aku minta kamu jawab dengan jujur ya? karena aku paling benci dengan kebohongan," ucap Dewi seraya menatap tajam wajah Yudha.
"Ok, aku pasti jawab dengan sejujurnya tabla ada suatu kebohongan," ucapnya meyakinkan Dewi.
"Mas, apakah semua harta yang kamu miliki ini bukan seutuhnya milikmu? maksudku kamu mendapatkan semuanya bukan dari hasil jerih payahmu sendiri?" tanya Dewi mulai menyelidik.
"Astaga, sayang. Kenapa kamu bertanya seperti ini sih? padahal aku berusaha banting tulang dengan usahaku sendiri dari nol. Masa kamu tak percaya dengan suamimu ini?"
"Maafkan aku ya, mas. Karena ada seseorang yang mengatakan bahwa semua harta yang mas milliki bukan sepenuhnya milik, Mas Yudha," ucap Dewi jujur.
"Hem, siapa orangnya biar aku rompez tuh mulutnya! kalau perlu aku cabein biar ia tidak mengatakan hal buruk lagi tentangku padamu," ucap Yudha kesal.
"Bu Ida, mas. Asisten rumah tanggamu yang tua itu. Bahkan ia mengatakan padaku jika sebelum kamu menikah denganku, kamu telah menikah siri dengannya. Dan semua hartamu ini adalah miliknya," ucap Dewi mulai mengadu.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Dewi, darah Yudha seakan mendidih. Ia begitu ingin mencabik-cabik tubuh Bu Ida.
"Kurang ajar, masih untung aku biarkan ia tinggal di rumah ini. Coba jika aku kejam pasti sudah aku usir dari jalanan ini!" batinnya kesal seraya tangannya mengepalkan tinju.
Melihat sikap diamnya Yudha, membuat Dewi semakin penasaran.
"Mas Yudha, kenapa kan diam saja? apakah sikap diammu ini menandakan bahwa apa yang barusan aku katakan itu benar adanya?" tegur Dewi mengagetkan lamunan Yudha akan Bu Ida.
"Astaga, jadi kamu percaya dengan apa yang dikatakan oleh Bu Ida? kamu percaya aku doyan dengan wanita tua itu? ya ampun Dewi, sebegitu mudahnya kamu di hasut oleh orang lain."
"Asal kamu tahu ya, aku ini menolong Bu Ida. Pada saat ia hidup di jalanan sebatang kara menjadi pemulung. Dan ia menangis memohon padaku, untuk memberinya sebuah pekerjaan."
"Kamu tahu kan, di rumah ini sudah ada bibi. Tapi karena rasa kemanusiaan dan aku orangnya tak tegaan, makanya aku ajak saja Bu Ida tinggal di sini."
"Dan aku malah memberinya kamar yang spesial karena aku sudah anggap ia sebagai Ibuku sendiri. Astaga, Bu Ida-Bu Ida. Kenapa kebaikanku malah di balas dengan perkataan burukmu pada istriku."
Yudha pura-pura mengusap dadanya seraya menghela napas panjang. Padahal ia lakukan hal itu untuk bisa menahan rasa amarahnya pada, Bu Ida.
Mendengar segala perkataan dari, Yudha. Membuat Dewi merasa bangga dengan kebaikan dari Yudha pada, Bu Ida. Ia percaya saja dengan apa yang dikatakan oleh Yudha.
"Mas, aku bangga banget punya suami sepertimu yang berhati emas mau menolong orang lain hingga sebegitunya menganggapnya layaknya ibumu sendiri. Mas, aku minta kamu tak usah mengatakan apa pun pada, Bu Ida ya? mungkin saja saat ini ia sedang alami masa puber ke dua eh ketiga," ucap Dewi terkekeh.
"Iya, sayang. Kamu tak usah khawatir, aku tak akan bicara apapun padanya. Terima kasih ya sayang, kamu telah percaya padaku. Mulai sekarang, kamu tak usah dengarkan jika Bu Ida atau siapa pun orangnya yang berkata buruk tentangku. Mereka itu intinya itu dengan kesuksesanku, selain sukses di bidang usahaku. Juga sukses punya istri secantik kamu," goda Yudha yang membuat melayang hati Dewi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Nony Suzana
karma Sanga instan ibu ida
2023-03-17
1
Eka Elisa
yach...dewi kna modus...yuda. ....hdewh...
2022-12-27
3