Serigala Berbulu Domba

Esok harinya, tat kala Dewi sedang keluar sebentar. Yudha pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia gunakan untuk segera mendekati Bu Ida yang kebetulan sedang berada di balkon kamarnya.

Dari dulu hingga sekarang letak kamarnya bersebelahan dengan kamar Yudha hingga ia mudah dengan begitu saja menemui, Bu Ida.

"Yudha, ada apa kamu kemari? jangan katakan jika kamu....

"Apa nenek tua? kamu pikir aku datang kemari ingin mengatakan apa? mencintai dirimu dan menyesali tindakanku selama ini padamu? tidak, Bu Ida! aku kemari karena ingin memberimu peringatan, jika sekali lagi kamu mengadu macam-macam pada, Dewi. Aku tidak akan segan untuk mengusir dirimu dari rumahmu sendiri!" ancam Yudha seraya mencengkram rahang Bu Ida.

"Aaaah....sakit Yudha, lepaskan! kenapa sih kamu kasar sekali padaku setelah apa yang aku lakukan untukmu? aku sudah berkorban banyak untukmu, bahkan aku rela menyakiti anak kandungku sendiri demi dirimu. Tetapi kenapa seperti ini balasan darimu, hah?" ucap Bu Ida dengan beraninya.

"Siapa yang memintanya? aku tak pernah meminta apa pun darimu, bukannya kamu memberikan semuanya dengan suka rela. Dan kamu juga yang pertama mendekati diriku, bukan? kamu yang tergila-gila dengan ketampanan diriku!"

Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Yudha, Bu Ida sudah tidak bisa mengatakan apa pun lagi. Ia hanya bisa diam, karena memang dari awal, ia dulu yang tergoda dengan Yudha, dan bahkan ia yang menggodanya.

Yudha pun berlalu pergi dari kamar Bu Ida karena ia mendengar langkah kaki Dewi menuju ke kamarnya sendiri. Yudha pura-pura memejamkan matanya di ranjangnya. Ia begitu mudah kembali ke kamarnya hanya dengan melompat dari balkon kamar Bu Ida ke balkon kamarnya sendiri.

"Mas, katanya kita akan healing sejenak. Dan aku ingin mengirimkan paket untuk anakku di kampung," Dewi mengusap manja pipi Yudha hingga Yudha membuka matanya.

"Maaf ya sayang, aku ketiduran. Karena permainan gilamu semalam. Memangnya kamu sudah membeli barang yang akan di kirim ke kampung?" tanya Yudha.

"Sudah, mas. Bahkan sudah aku packing dan tinggal kirim saja."

Yudha tersenyum, di dalam hati mulai berpikiran picik. Ia ingin membawa Dewi ke kantor expedisi milik, Meysa. Ia ingin memamerkan Dewi pada Meysa.

Saat itu juga, Yudha pergi bersama dengan Dewi ke sebuah expedisi yang ternyata adalah milik, Meysa. Dan di sana ia ketemu dengan, Meysa. Ia sengaja pura-pura tidak kenal dengan Meysa. Hanya saja ia sengaja mengumbar kemesraan dengan Dewi di depan mata, Meysa.

Melihat akan hal itu, Meysa sama sekali tidak ada rasa cemburu atau pun marah. Justru ia tersenyum sinis seraya menggelengkan kepalanya. Dan setelah itu berlalu pergi dari hadapan, Yudha dan istrinya.

Dewi sempat melihat gelagat aneh, Meysa yang menatap tak suka kearah dirinya dan Yudha, hingga ia memutuskan untuk segera menyelidiki akan hal ini.

"Sepertinya pemilik expedisi ini kenal dengan Mas Yudha. Dan tak suka dengan hubunganku dengan Mas Yudha. Apakah mereka ini pernah ada hubungan yang spesial? astaga, kenapa aku berprasangka hingga sejauh ini sejak Bu Ida mengatakan banyak hal padaku."

"Sejak saat itu, kepercayaanku kepada Mas Yudha terombang ambing dan agak meragukan kesetiaan suami sendiri."

Terus saja Dewi melamun dan melamun hingga ia tak mendengar apa pun yang barusan di katakan oleh, Yudha. Hingga satu tepukan di bahunya barulah mengagetkan lamunannya.

"Sayang, ayuk kita pergi dari sini katanya mau healing? dari tadi aku ajak pergi, kamu malah berdiri saja di sini bengong."

Mendengar teguran dari Yudha, Dewi tak berkata apa pun. Ia hanya menyunggingkan senyuman dan melangkah mengikuti arah langkah kaki suaminya itu. Ia juga tidak menanyakan apa pun pada suaminya tentang kecurigaannya pada, Meysa.

Berbeda dengan, Meysa yang sedari tadi menatap kebersamaan Yudha dengan Dewi. Ia sudah sangat yakin jika Dewi itu wanita barunya Yudha.

"Apakah ibu tahu tentang hal ini? pasti wanita tadi pacar barunya. Ah, untuk apa juga aku masih memikirkan ibu, toh belum tentu ia memikirkan aku. Setelah apa yang ia lakukan padaku tempo dulu saja itu sudah membuktikan bahwa ibu tidak pernah memikirkan kebahagiaanku, bahkan ia merampas kebahagiaanku. Jadi untuk apa pula aku memikirkan keadaannya sekarang."

"Jika memang ibu sudah tahu tentang wanita barunya Yudha, biarkan saja. Anggap saja itu sebagai buah dari apa yang telah ia tanam sendiri. Dan kini ia juga yang telah memetiknya."

Setelah sejenak memantau gerak gerik dari Yudha dan Dewi, Meysa lantas melangkah ke ruang kerjanya. Sementara Yudha di dalam hatinya sedang berbangga diri. Ia sangat yakin jika Meysa saat ini sedang panas hatinya melihat kebersamaan Yudha dengan Dewi.

Sepanjang perjalanan, Yudha tersenyum bahagia. Ia begitu bangga dengan ketampanan yang ia miliki hingga begitu banyak wanita yang bertekuk lutut padanya. Tanpa sepengetahuan, Dewi. Di luaran sana, Yudha juga banyak melakukan hubungan dengan wanita lain. Hubungan gelapnya dengan sekretaris pribadinya juga hingga kini masih berlanjut, tetapi tidak ada yang tahu sama sekali.

*******

Beberapa hari kemudian...

Sekretaris cantiknya ini datang ke rumah di saat Yudha dan Dewi sedang bersantai di teras halaman. Yudha sempat kaget pada saat melihat kedatangan, sekretarisnya.

"Astaga, kenapa hari libur seperti ini ia datang kemari? seharusnya jika ada yang ingin di bahas untuk masalah kantor, bisa kan telpon saja?" batin Yudha kesal karena kebersamaan dirinya dengan Dewi terusik.

Dewi pun merasa heran dengan kedatangan sekretaris pribadi, Yudha. Karena tidak biasanya di hari libur seperti ini, sekretaris itu datang kerumah.

"Tuan Yudha, maaf saya mengganggu waktunya sebentar," ucapnya lembut.

Yudha sengaja meminta Dewi untuk masuk ke dalam rumah. Dengan alasan, ingin berbicara dengan sekretarisnya mengenai urusan kantor. Dewi pun masuk, akan tetapi ia mulai curiga. Hingga ia memutuskan untuk mendengarkan perbincangan antara Yudha dan sekretaris pribadinya itu dari balik hordeng ruang tamu.

"Heh, kenapa kamu datang kemari? sudah aku katakan supaya tidak usah datang kemari!" ucap Yudha lirih tapi masih bisa di dengar oleh Dewi.

"Mas, aku tak akan datang kemari jika kamu tak lepas dari tanggung jawab. Dari bulan lalu aku sudah mengatakan bahwa aku ini hamil. Tapi kamu hanya mengatakan akan tanggungjawab padaku. Ini sudah dua bulan loh, usia kehamilanku ini? kamu mau beralasan apa lagi, mas? jangan sampai aku bongkar kebusukanmu ini pada istrimu itu! dan juga aibmu dengan Bu Ida, mantan mertuamu sendiri yang kamu pacari dan sempat kamu jadikan selingkuhanmu," ucap lantang sekretaris pribadi Yudha.

Yudha mulai panik, apa lagi sekretarisnya itu berkata lantang hingga Yudha terpaksa membungkam mulutnya seraya celingukan kesana kemari khawatir ada yang mendengarnya.

Terpopuler

Comments

Eka Elisa

Eka Elisa

nah kn yuda hmilin skrtris y psti yuda gk mau ngakuin tu ank..
kn dia lki"...durjana

2022-12-27

1

Pertiwi Tiwi

Pertiwi Tiwi

najis .rasanya aku itu pengen bejek bejek si yuda.masukin karung .buang ke sungai amazon.biar di telan sama anaconda

2022-12-18

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 60 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!