Semakin Jauh Melangkah

Mereka merasa heran karena kondisi rumah terlihat sangat sepi. Tidak ada si Mamang yang membukakan pintu gerbang.

"Bu, biasanya kan Mamang yang buka pintu. Kok ini tidak ada orang, bahkan pintu gerbangnya tidak dikunci," ucap Yuda memicing alisnya.

"Entahlah, mungkin Mamangnya lupa tidak menutup pintu gerbang. Tidur kali, ini bukan yang pertama kalinya terjadi hal seperti ini," ucap Bu Ida.

Yuda langsung melangkah ke kamarnya, sedangkan Bu Ida melangkah ke paviliun belakang ingin meminta bibi membuatkan minuman untuk dirinya.

"Loh, bibi kok nggak ada ya? lantas ke mana, di depan nggak ada di dapur juga nggak ada, di kamarnya nggak ada."

Bu Ida pun terus mencari keberadaan Bibi tetapi tidak menemukannya. Ia perpapasan dengan Yudha yang turun dari lantai dua.

"Kamu lihat bibi atau Mamang di atas nggak?" tanya Bu Ida.

"Nggak ada kok bu, di atas. Meysanya juga nggak ada, tadi aku bukan lemari semua pakaiannya juga tidak ada," ucap Yuda.

"Apa mungkin ya, Meysa pergi bersama bibi dan Mamang?" ucap Bu Ida.

"Entahlah, Bu. Aku sendiri juga tidak tahu, kenapa ibu tidak mencoba meneleponnya saja?" saran Yuda.

"Benar juga ya, kemungkinan saja bibi atau Mamang sedang keluar sebentar."

Bu Ida langsung memencet nomor ponsel bibi.

Kring kring kring kring

Satu panggilan telepon masuk ke nomor ponsel bibi.

"Pak, bagaimana ini? Nyonya Ida menelponku?" bibi mulai panik, ia tak berani mengangkat panggilan telepon dari Bu Ida.

"Sini biar bapak saja yang angkat." Mamang mengambil paksa ponsel yang masih ada di tangan istrinya.

"Bi, kamu sama Mamang lagi ada di mana sih? kok rumah kosong, pintu gerbang nggak ditutup?"

"Maaf, Nyonya Besar. Ini saya Mamang, sebelumnya kami mohon maaf karena tidak berpamitan dulu dengan nyonya. Kami memutuskan untuk pulang kampung, karena kebetulan kami mendapatkan kabar di kampung ada pekerjaan untuk kami."

"Oh ya sudah kalau begitu."

Saat itu juga Bu Ida menutup panggilan teleponnya, tanpa ia mengatakan apapun kembali.

"Mereka pulang kampung, tapi nggak pamitan. Ya sudahlah, gampang nanti cari asisten rumah tangga yang lain lagi di yayasan tenaga kerja," ucap Bu Ida.

"Lantas bagaimana dengan Meysa, Bu? sepertinya Meisya juga pergi?" tanya Yuda bingung.

"Biarin saja dia pergi, paling nanti dia pulang lagi. Toh dia nggak punya rumah," ucap Bu Ida singkat.

"Ya kalau pulang, kalau tidak pulang bagaimana Bu?" kembali lagi Yuda bertanya.

"Kok kamu jadi mikirin Meysa terus? ya sudah sana kamu cari Meysa, tapi tak usah kembali lagi ke rumah ini!" bentak Bu Ida seraya berlalu pergi dari hadapan Yuda.

Yuda pun kembali ke kamarnya, ia merebahkan tubuhnya di pembaringan seraya memainkan ponselnya dan ia memencet nomor ponsel milik, Meysa.

Tetapi nomor ponsel Meisya tidak juga bisa dihubungi.

Hingga pada akhirnya, Yuda menghentikan niatnya untuk menelpon Meisya. Ia pun tertidur saat itu juga.

Berbeda dengan Bu Ida, ia langsung menelpon pengacara pribadinya.

Kring kring kring kring

Satu panggilan telepon masuk ke nomor ponsel Pak Didi yakni pengacara pribadi keluarga Bu Ida.

"Pak Didi, saya ingin tanya tentang perusahaan peninggalan mendiang suami saya. Masih atas nama almarhum atau sebelum dia meninggal sudah di balik nama?"

"Untuk perusahaan bukannya masih atas nama almarhum suami ibu? Karena pada saat itu belum sempat dibalik nama atas nama anak anda, Bu?"

"Kalau begitu saya minta tolong sekarang juga, bapak mengurus semuanya. Di balik nama tetapi atas nama saya."

"Tetapi bukannya dulu sebelum meninggal, almarhum menginginkan jika semuanya akan di alihkan untuk Mba Meysa?"

"Sudah, kerjakan saja sesuai perintah saya. Dan saya ingin secepatnya sudah jadi ya."

"Tapi tidak semudah itu, Bu. Karena bagaimanapun dulu almarhum sempat berpesan pada saya untuk menyerahkan sepenuhnya semua harta pada, Mba Meysa setelah Mba Meysa menikah. Hanya saja pada saat itu Mba Meysa belum menikah. Dan sekarang saya berniat mengerjakan amanah dari almarhum suami, ibu."

"Ini juga atas perintah, Meysa. Sudah turuti saja perintah saya. Toh saya ini ibunya, Meysa."

"Maaf Bu, tidak bisa. Nanti Almarhum tidak tenang di alam nya jika saya tidak mengabulkan keinginannya yang terakhir."

"Heh, saya yang bayar kamu loh. Kenapa kesannya jadi kamu ini yang mengatur saya?"

Sejenak terjadi selisih paham antara Pak Didi dengan Bu Ida di dalam panggilan telpon. Dan pada akhirnya, Pak Didi pun menyetujui kemauan Bu Ida. Karena suatu ancaman yang membuat dirinya terpaksa melakukan hal itu.

Hati Bu Ida lega, ia sama sekali tidak merasa menyesal dengan kelakuan bejadnya dengan Yuda. Ia malah semakin menjadi dengan ingin menjadikan Yuda sebagai suaminya.

Senyum kemenangan tersungging di bibir Bu Ida.

"Bahagianya aku akan punya suami muda dan bahkan sangat muda. Hem, semoga saja perceraian Yuda dan Meysa cepat. Supaya cepat pula aku bisa menikah dengan Yuda."

"Memang benar pepatah ya, cinta itu buta. Bahkan aku sama sekali tak peduli jika Yuda itu suami Meysa. Karena aku sudah terlanjur cinta pada menantuku sendiri."

"Menantu yang sangat pandai dalam memberikan kepuasan di ranjang. Kata orang, jika menikah dengan yang lebih muda. Aura kita juga akan terbawa menjadi muda kembali."

Terus saja Bu Ida tersenyum penuh kemenangan. Membayangkan dirinya akan menikah dengan Yuda selepas Yuda bercerai dari Meysa.

*********

Esok harinya, Yosep datang ke kantor Meysa yakni kantor milik almarhum ayahnya.

Yosep datang dengan membawa surat cerai milik Meysa dan suaminya.

"Meysa, sudah jadi surat ceraimu. Tanpa harus kalian sidang terlebih dahulu. Hanya saja kamu perlu minta tanda tanda Yuda untuk surat cerai ini."

Yosep menyerahkan berkas berisikan surat cerai di meja kerja Meysa.

"Cepat sekali jadinya, berapa ongkos yang harus aku bayar?" tanya Meysa seraya mengecek surat cerai tersebut.

"Astaga, Meysa? kamu anggap aku ini apa? hingga tanya bayaran seperti itu? apa kamu tidak menganggap aku ini temanmu?" rajuk Yosep.

"Bukan begitu, Yosep. Ini kan pekerjaanmu, nanti kamu merugi karena aku," ucap Meysa memberikan pengertian pada Yosep.

"Nggak usah, aku nggak butuh uangmu karena aku ikhlas bantu kamu," ucap Yosep mengerucutkan bibirnya.

"Ya sudah kalau begitu, terima kasih ya atas bantuannya."

Sekilas tersungging senyuman manis di bibir Meysa. Kini ia sudah bisa ikhlas dengan apa yang telah menimpa dirinya.

Saat itu juga sepulang kerja, Meysa datang ke rumah ibunya. Karena ia sangat yakin, jika Yuda masih bada di rumah Ibunya.

Dia datang untuk mengantarkan surat cerai dan juga meminta tanda tangan dari Yuda.

Terpopuler

Comments

Eka Elisa

Eka Elisa

tapie mskipun pngen dpt brondong..
ya jgn mnantu suami dri ank mu cndiri dong bu ida...😏😏

2022-12-25

1

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 60 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!