Kekejaman Seorang Ibu

Bu Ida tersenyum sinis pada saat melihat kedatangan, Meysa. Tetapi Meysa hanya diam saja, ia masuk ke rumah mencari keberadaan Yuda.

Bu Ida mengikuti kemana pun Meysa melangkah, hingga pada akhirnya Meysa menghentikan langkah kakinya.

"Kenapa mengikuti diriku?"

"Kamu tanya sama siapa, Meysa?" Bu Ida celingukan mencari orang.

Meysa tak menjawab apa yang barusan di tanyakan oleh Bu Ida. Hingga ia pun berkata lagi.

"Meysa, barusan kamu bertanya pada ibu? kenapa cara bertanyamu seperti itu? aku ini adalah ibumu loh, masa iya kamu berkata tak sopan seperti itu?" tegur Bu Ida.

"Seorang ibu itu tidak sejahat anda, setelah apa yang anda lakukan padaku masih ingin di panggil ibu olehku? menurutmu aku tak sopan dalam berkata? tetapi apakah kamu tidak merasa juga dengan apa yang telah kamu perbuat? bukan lagi kata sopan bagimu, tetapi perbuatanmu itu bagaikan binatang. Hanya binatang yang bisa berbuat seperti ini pada anaknya."

"Kamu tak perlu mengikuti diriku, karena aku datang kemari hanya untuk meminta tanda tangan dari pacar gelapmu itu. Tanda tangan untuk surat cerai."

Mendengar apa yang dikatakan oleh Meysa tak lantas membuat ibunya sadar. Ia justru semakin menjadi.

"Plak Plak "

Dua tamparan mendarat di pipi, Meysa.

"Dasar anak durhaka, jika aku tahu kamu akan seberani ini padaku. Aku tidak akan melahirkanmu di dunia ini. Apa salahnya kamu berkorban sedikit demi ibumu. Kamu masih muda bisa mencari pemuda lagi."

"Pengorbananmu ini belum seberapa di banding dengan pengorbanan ibu untuk hidupmu. Begini saja lantas kamu kurang ajar pada ibu!"

Mesya mengusap pipinya yang terasa perih oleh tamparan dari Bu Ida.

"Astaghfirullah aladzim, aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Terserah kamu mengatakan apa tentang diriku. Kamu pikir dengan apa yang kamu lakukan itu benar dan aku yang salah?"

"Baru kali ini aku tahu ada seorang ibu seperti ini. Luar biasa perbuatan yang anda lakukan pada anak anda."

Setelah mengatakan hal itu, Meysa kembali melangkah mencari keberadaan Yuda. Dan ia mendapati Yuda ada di dalam kamarnya sedang tidur. Untung saja pintu kamar tidak dikunci hingga ia bisa masuk. Tetapi Bu Ida masih saja mengikuti dirinya.

Meysa melempar surst cerainya tepat ke wajah Yuda, hingga ia terhenyak kaget.

"Meysa, akhirnya kamu pulang. Dari tadi aku telpon kamu tapi nomor tidak bisa di hubungi,' ucap Yuda seraya mengusap matanya.

"Tolong tanda tangani itu, aku akan membebaskan dirimu melakukan semua yang kamu inginkan sesuka hatimu," ucap Meysa.

Yuda sejenak meraih keras putih yang sempat di lempar ke wajahnya. Dan ia pun menuruti kemauan Meysa. Setelah Meysa yakin dirinya sudah mendapatkan tanda tangan, ia pun berlalu pergi begitu saja tanpa pamit sama sekali pada Yuda ataupun Bu Ida.

"Akhirnya kamu cerai juga dengan Meysa. Kamu nggak usah khawatir ya Yuda, selepas ini aku akan membuatmu menjadi direktur di perusahaan mendiang suamiku," ucap Bu Ida lantang hingga terdengar ke telinga Meysa.

Tetali Meysa tetap melanjutkan langkahnya. Ia kini sudah lega karena sudah bisa lepas dari Yuda. Dan ia sama sekali tidak takut jika memang suatu saat nanti, Bu Ida benar-benar mendepak dirinya dari perusahaan milik almarhum ayah.

"Astaghfirullah aladzim, ikhlaskan aku untuk bisa menerima kenyataan pahit ini ya Allah. Karena hingga detik ini aku belum bisa merelakan semuanya. Aku tidak ingin seperti ini, dendan pada Mas Yuda dan Ibu."

"Hanya saja aku masih saja belum percaya dengan apa yang telah menimpa diriku ini. Aku masih belum percaya, jika suamiku selingkuh dengan ibu kandungku sendiri."

Mata Meysa berkaca-kaca, ia pun lekas melajukan mobilnya menuju arah pulang ke rumah barunya.

Selepas kepergian Meysa, justru Yuda hanya diam saja. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu, hingga membuat Bu Ida memicingkan alisnya.

"Yuda, kamu kenapa diam? apa kamu menyesal jika Meysa menggugat cerai dirimu?" tegur Bu Ida mengagetkan lamunan Yuda.

"Bu, bagaimana pun Meysa itu kan anak kandung ibu. Lantas jika ia keluar dari rumah ini, ia akan tinggal dimana Bu? apa ibu tidak khawatir sama sekali dengan, Meysa?" tanya Yuda.

"Apa kamu masih cinta padanya? sehingga kamu masih memikirkan dirinya seperti ini?" tanya Bu Ida ketus.

"Bukan begitu, Bu. Bagaimana pun, Meysa itu Risa salah. Tetapi kita yang salah karena telah....

"Ah sudahlah, jika kamu terus seperti ini aku akan mengurungkan niatku untuk mengangkat dirimu menjadi seorang direktur di perusahaan mendiabg suamiku!" Bu Ida memotong perkataan dari Yuda, lantas ia berlalu pergi dari kamar Yuda.

******

Tak terasa pagi menjelang, di saat Meysa sedang fokus dengan urusan kantor. Tiba-tiba datang pengacara dan Bu Ida.

"Meysa, semua peninggalan almarhum ayah sudah di balik nama menjadi milik ibu termasuk perusahaan ini. Jadi sekarang juga kamu harus angkat kaki dari kantor ini ," usir Bu Ida.

"Iya, baiklah. Aku juga sudah tahu kok akan hal ini. Pak Toni sudah mengatakannya kok," ucap Meysa.

Di dalam hati Bu Ida merasa heran. Kenapa di wajah Meysa sama sekali tidak ada rasa sedih.

'Kenapa Meysa biasa saja ya, tidak ada rasa sedih sedikitpun dengan apa yang telah menimpa dirinya. Ah biarkan sajalah, yang penting niatku ini terlaksana," batin Bu Ida.

Setelah itu Meysa berlalu pergi dari ruangan direktur. Perbuatan kejam Bu Ida sangat membuat heran Pak Tony yakni pengacara pribadi keluarga Bu Ida.

"Untung saja sebelum aku membuat surat balik nama untuk harta warisan milik almarhum, aku sudah menghubungi Non Meysa. Dan untung saja aku juga punya ide hingga tidak semua milik almarhum jatuh ke tangan Bu Ida."

"Ada beberapa saham dan harta warisan yang tidak diketahui oleh Bu Ida. Yang sengaja aku balik nama sekalian untuk Non Meysa."

"Baru kali ini aku menemui seorang ibu kandung yang jahat pada anak kandungnya sendiri. Hingga tega berselingkuh dengan menantunya."

"Yang aku herankan, kenapa juga si menantu mau saja dengan mertuanya? astaga di luar pemikiran manusia."

Terus saja Pak Tony mengerutu Du dalam hatinya dengan sikap dan perilaku Bu Ida. Sementara saat ini Bu Ida juga meminta Yuda untuk segera datang ke perusahaan.

Dan hanya beberapa menit saja, Yuda sudah datang di kantor yang semula di pimpin oleh Meysa.

Tanpa ada rasa malu sama sekali, Bu Ida bergelayut manja di lengan Yuda dan ia memberitahu pada semua karyawan yang ada di kantor itu, jika mulai detik ini dan seterusnya Yudalah yang menjadi direktur utama.

Terpopuler

Comments

Eka Elisa

Eka Elisa

ibu ida udh di butakn ma nafsu ma cinta nya ma yuda....pk tony mknya bisa brbuat hl bodoh sprti ini

2022-12-25

2

Arhon Sanaba

Arhon Sanaba

lanj

2022-12-11

0

Annisa Chaer

Annisa Chaer

no comment takut salah apa lagi ini seorang IBU.... tak bisa berkata kata 😷😷😷😷😷😷😷

2022-12-11

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 60 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!