Semakin Menjadi

Sejak percintaan saat itu, hubungan antara Yuda dan ibu mertuanya semakin lengket saja.

"Meysa, ini kan hari libur. Ibi pinjam suamimu sebentar boleh nggak?" tanya Bu Ida melirik ke arah Yuda sejenak di sela sarapan.

"Pinjam, kaya barang saja? aku tahu maksud ibu, ingin minta Mas Yuda menjadi sopir ibu kan?" ucap Meysa terkekeh.

"Iya benar sekali, anak ibu memang pintar." Puji Bu Ida seraya mengacungkan kedua ibu jarinya ke arah Meysa.

"Ya tahu lah, bukannya sudah sering ibu pergi di temani Mas Yuda kan? memangnya ibu mau kemana?" tanya Meysa menyelidik.

"Hem, ibu akan jenguk teman yang kebetulan sedang sakit. Sekalian belanja bulanan juga, biar kamu itu tak kecapean. Ibu nggak tega loh, melihatmu sudah lelah bekerja lalu lelah belanja. Sementara ibu kan tidak melakukan aktifitas apapun di rumah," ucap Bu Ida berbohong.

"Hem, baiklah kalau begitu. Mas Yuda mau kan temani ibu? aku juga entah kenapa akhir-akhir ini gampang sekali lelah," ucap Meysa.

"Baiklah, sayang. Apa sih yang nggak buat ibu mertuaku yang super baik ini," canda Yuda terkekeh.

"Meysa, jika kamu merasa kurang sehat sebaiknya kamu ke dokter. Biar Yuda antar kamu dulu ke dokter bagaimana, setelah itu baru antar ibu," saran Bu Ida.

"Nggak usah, bu. Aku cuma butuh istirahat saja, toh di bawa tidur juga nanti rasa lelahnya hilang," ucap Meysa.

Tak berapa lama acara sarapan telah selesai. Dan Yuda segera ke garasi mobilnya untuk memanasi terlebih dahulu mobilnya.

Sementara bibi sedang membereskan meja makan. Ia ingin sekali bicara pada Meysa tapi bingung cara penyampaiannya.

"Aku kasihan lihat Non Meysa., tapi aku bingung bagaimana cara ngomongnya ke Non Meysa. Tentang apa yang telah aku lihat beberapa hari ini."

"Aku juga ragu jika Non Meysa akan percaya dengan perkataanku ya? secara aku cuma asisten rumah tangga. Dan....aa... pusing juga aku kalau ingat akan hal ini."

"Tetapi ada perasaan bersalah jika ingat semua ini. Serasa aku menyembunyikan bangkai."

Terus saja bibi mengoceh sendiri di dalam hatinya seraya merapikan meja makan. Sementara saat ini Bu Ida telah pergi bersama Yuda. Dan Meysa sama sekali tidak ada rasa curiga pada ibu dan suaminya, ia malah langsung masuk ke kamarnya dan beristirahat.

"Bu, pasti sudah kepengen ya?" canda Yuda melirik genit dari kaca spion.

"Hhee kamu pintar sekali, tahu saja jika ibu sudah menginginkan benda tumpul milikmu yang super gede dan nikmat itu," ucap Bu Ida tanpa ada rasa malu.

"Hem, kita mau kemana nech Bu?" tanya Yuda.

"Haduh...kok masih saja tanya mau kemana? yang jelas ya ke hotel lah sayang," ucap Bu Ida kesal dengan pertanyaan Yuda.

"Bu, jangan cemberut begitu..Apa ibu mau lekas tua?" goda Yuda.

Tak berapa lama, mereka telah sampai di sebuah hotel. Tapi Bu Ira dan Yuda pintar, mereka sengaja menggunakan masker supaya tidak terlihat jelas wajah mereka. Dan Yuda mengenakan topi.

Saat itu juga mereka check on hotel. Dan melakukan hal yang sering mereka lakukan selama ini. Dari awal Yuda tinggal di rumah Bu Ida. Entah bagaimana hingga kini mereka sering melakukan hubungan terlarang ini.

Keduanya benar-benar telah hilang akal. Dan hanya memikirkan kesenangan kepuasan mereka saja. Tanpa mereka memikirkan sebab dan akibatnya.

Dua jam kemudian....

"Bu, kue apem ibu benar-benar enak sekali. Bentuknya juga sangat mantap, kental empuk dan rasanya...."

"Hem...masa sih? apa bedanya kue apem ibu dengan kue apem Meysa?" tanya Bu Ida seraya terus saja memainkan benda tumpul milik Yuda.

"Punya Meysa kecil sedangkan punya ibu besar. Terus rasanya lebih menggigit. Jika benda tumpulku di masukkan ke kue apem ibu, serasa di gigit-gigit hemmm begitu dech."

Mendengar pujian dari Yuda membuat Ibu Ida senang. Dan tiba-tiba ia menginginkan lagi, bahkan tidak sungkan melahap benda tumpul yang besar milik Yuda itu dan memakan nya bagai makan permen lollipop.

Yuda merasakan sensasi yang luar bisa dengan perlakuan yang diberikan oleh Bu Ida. Hal ini hanya ia rasakan jika sedang bermain dengan Bu Ida.

Karena selama bersama dengan Meysa, ia tak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu. Meysa selalu menolak jika di minta melakukan hal itu dengan Aksan jijik dan kadang sampai muntah. Hingga percintaan mereka terasa monoton.

Setelah cukup lama Bu Ida dan Yuda bermain kembali, mereka memutuskan untuk segera pulang karena tak ingin sampai Meysa curiga.

"Yuda, terima kasih ya. Kamu telah memberikan apa yang selama ini tidak ibu dapatkan. Ingat baik-baik ya, jangan sampai Meysa tahu hal ini karena itu bisa menjadi bomerang bagi kita berdua," pesan Bu Ida pada saat menyudahi percintaan mereka.

Keduanya merasakan puas karena bermain tidak cuma satu atau dua kali.

"Iya, Ibu mertuaku tersayang. Ini akan menjadi rahasia kita berdua," ucap Yuda.

Dan pada saat itu juga mereka segera meninggalkan hotel tersebut. Sementara di rumah, Meysa sudah terbangun dari tidurnya. Itupun karena ada tamu yakni teman ibunya.

"Loh, ibu bilang katanya pergi menjenguk temannya yang sakit. Tetapi ibu tak mengatakan teman yang mana, Tante," ucap Meysa heran.

"Setahu Tante, diantara kami tidak ada yang sakit sama sekali. Justru Tante datang kemari ingin menawarkan ibumu ikut arisan nggak? dari tadi Tante sudah sekali menghubungi nomor ponsel ibumu."

"Lagi pula, Tante juga sudah tanya teman-teman yang lain tapi ibumu tidak ada di rumah mereka. Karena jika diantara kami ada yang sakit pasti kdmi beramai-ramai jenguk."

"Hem, sejak kamu tinggal di sini kalau tidak salah. Ibumu itu jarang sekali loh, kumpul-kumpul lagi dengan kami. Entah ada apa dengan ibumu, tidak seperti dulu. Ia yang selalu semangat ajak pertemuan."

"Sekarang kalau di ajak kumpul bareng pasti ada saja alasannya. Ya sudah Tante pamit pulang, mau ke rumah teman yang lain. Nanti kamu sampaikan saja pada ibumu jika Tante datang ya."

Setelah mengatakan banyak hal, Tante Rika pergi begitu saja. Ia bahkan tidak memberimu kesempatan pada Meysa untuk berkata apa lagi bertanya.

"Aneh, padahal selama ini jika ibu pergi selalu mengatakan akan bertemu dengan teman-temannya. Lantas jika ibu tak pergi bersama teman-temannya, ia pergi kemana ya?"

"Jika aku tanya pada ibu secara langsung pasti ibu akan marah dan tersinggung. Dan kesannya aku ini curiga dan tidak percaya padanya. Sebenarnya aku memang tidak percaya padanya? gara-gara ucapan Tante Rika barusan."

"Sebaiknya nanti aku tanyakan hal ini pada Mas Yuda saja yang selalu menjadi sopir Ibu jika ibu pergi."

Episodes
Episodes

Updated 60 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!