Tak berapa lama, mobil yang ditumpangi oleh Bu Ida dan Yuda telah sampai di pelataran rumah. Bu Ida terlebih dahulu turun dari mobil tersebut, sementara Yuda melajukannya kembali menuju ke garasi mobil.
"Kamu sedang menunggu kepulangan Ibu apa, Meysa?" tanya Bu Ida pada saat melihat Meysa sedang duduk di kursi teras halaman rumah.
"Iya Bu, aku memang menunggu kepulangan ibu," jawab Meysa singkat.
"Kaya nggak biasanya Ibu pergi ditemani oleh Yuda, sampai kamu harus menunggu di teras seperti ini." Bu Ida menjatuhkan pantatnya di kursi samping di mana saat ini Meysa sedang duduk.
"Kalau untuk itu aku sudah tahu, aku menunggu kepulangan Ibu karena tadi ada Tante Rika mencari ibu," ucap Meysa.
"Memangnya kenapa dia mencari ibu, kamu dia sudah punya nomor ponsel ibu kenapa tidak menelpon saja?" ucap Bu Ida.
"Katanya dia sudah berkali-kali menelpon ke nomor ponsel ibu tetapi tidak bisa dihubungi. Tante Rika datang kemari ada urusan dengan ibu ingin menanyakan perihal arisan. Ibu akan ikut lagi atau tidak itu katanya," ucap Meysa menjelaskan tentang kedatangan Tante Rika.
"Ya sudah, nanti Ibu akan menelpon Tante Rika."
Bu Ida banget dari duduknya, ia pun melangkah masuk ke dalam rumah menuju ke kamarnya.
Tak berselang lama datanglah Yuda menghampiri, Meysa. Ia pun mengajak Meysa masuk ke dalam rumah dengan merangkul pundaknya melangkah menuju ke kamar mereka.
"Mas Yuda, aku ingin bertanya sebentar nggak apa-apa kan?" ucap Meysa agak ragu karena melihat Yuda terlihat sangat lelah.
"Katakan saja, ada apa sih?" Yuda membaringkan tubuhnya di ranjang.
"Mas Yuda, sebenarnya tadi itu kalian dari mana sih?" tanya Meysa menyelidik.
"Kenapa kamu bertanya lagi, bukannya pada saat ibu akan pergi ia sudah mengatakan terlebih dahulu ke mana tujuan nya pergi?" Yuda malah balik bertanya.
"Iya Mas, aku tahu pada saat kalian pergi itu, Ibu mengatakan bahwa akan menjenguk temannya yang sakit. Tetapi menurut Tante Rika tidak ada satupun teman ibu yang sakit. Karena jika ada salah satu teman mereka yang sakit pasti semuanya akan beramai-ramai untuk menjenguk," ucap Meysa.
"Aduh mampus aku, jika seperti ini aku harus alasan apa ya?" batin Yuda mulai gelisah dan panik.
"Aku mau tidur, lelah. Kamu tanyakan saja pada ibu karena tadi aku hanya mengantarnya dipikir jalan dan menunggunya di pinggir jalan, tidak ikut masuk ke rumah temannya itu."
Yuda memiringkan tubuhnya hingga kini ia membelakangi Meysa.
Melihat Yuda seperti itu, Meysa tidak berani berkata lagi karena ia tidak ingin terjadi keributan.
"Sepertinya ada yang aneh dengan Mas Yuda, kenapa dia di tanya kok sewot seperti itu," batin Meysa.
Sejenak Meysa mengamati meja, ia tak melihat ada kontak mobil.
"Kebiasaan buruk, pasti kontak mobilnya ditinggal di dalam mobil."
Meysa melangkah keluar dari kamar menunjukkan ke garasi mobil dengan tujuan ingin mengambil kotak mobil tersebut. Tak berapa lama ia telah sampai di garasi. Ia membuka pintu mobilnya dan tak sengaja ia melihat kertas kecil terselip di depan kemudi mobil.
"Apa ini?" Meysa meraihnya dan membukanya, sejenak ia terhenyak kaget.
"Ini pemesanan kamar hotel tertera per tanggal tadi. Ya ampun, ini milik siapa? karena tidak jelas nama yang ada di kertas ini? apa ini milik ibu, atau ...ah kenapa aku kok berprasangka buruk terhadap suamiku sendiri ya?" batin Meysa.
"Tetapi aku penasaran dengan kertas ini, siapa yang tadi check in hotel?" batin Meysa lagi.
"Aku bingung, ingin bertanya pada ibu atau pada Mas Yuda ya?"
Meysa terus saja gelisah setelah menemukan kertas tersebut. Tetapi ia ragu ingin bertanya pada ibu atau Tidak. Hingga ia mengurungkan niatnya bertanya.
Tetapi ia tak membuang kertas itu, justru ia menyimpannya karena ia akan menyelidiki ke hotel yang tertera di kertas itu.
"Jalan satu-satunya aku tanya saja ke hotel yang tertera di kertas ini. Dari pada aku bertanya pada Ibu atau Mas Yuda," batin Meysa.
Ia pun melangkah kembali ke mobilnya, dan melajukannya arah hotel tersebut. Ia ingin bertanya siapa yang telah check in hotel barusan. Tak berapa lama sampailah Meysa di hotel tersebut.
Ia membawa kertas itu dan menanyakan di bagian resepsionis. Ia sedikit lega pada saat petugas hotel mengatakan bahwa pemesanan hotel atas nama Ida.
"Hem, untung saja bukan Mas Yuda. Mungkin tadi ibu bertemu dengan pacarnya dan ia malu padaku hingga ia berbohong dengan mengatakan akan menjenguk temannya yang sakit."
"Ibu juga tak berani jujur pada Mas Yuda hingga meminta Maaf Yuda menunggu ibu di tepi jalan."
"Kenapa ibu tidak membawa pulang saja pacarnya ke rumah dan mengenalkannya padaku ya?"
"Kenapa pake acara sembunyi-sembunyi seperti ini? padahal aku tidak akan marah jika memang ibu punya pacar atau bahkan ingin menikah dengan pacarnya itu."
Terus saja Meysa menggerutu di dalam hatinya seraya melajukan mobilnya arah pulang.
*******
Malam menjelang, suasana di malem ini terasa begitu dingin apa lagi hujan deras menambah cuaca bertambah dingin.
"Coba ya, dingin seperti ini aku bisa bercinta dengan Yuda," batin Bu Ida membayangkan kebersamaanntq dengan Yuda.
Bu Ida tak bisa tidur, ia memutuskan untuk keluar kamar dan ke dapur. Seperti biasa jika hujan pasti ia akan merasakan lapar. Ia pun berniat ingin membuat mie instan supaya rasa dingin sedikit hildnf jika makan yang hangat-hangat.
Namun Bu Ida harus menelan Salivanya pada saat ia tak sengaja melihat Yuda sedang meremas dua benda kenyal milik Meysa. Sementara Meysa sibuk membuat mie instan.
Bu Ida pun mengurungkan niatnya untuk ke dapur dan pada saat ia membalikkan badannya, justru ia tersandung.
"Aduh..."
Bu Ida tak sengaja merintih kesakitan seraya menutup mulutnya sendiri dengan dua tangannya.
Tetapi Yuda dan Meysa sempat mendengar teriakan Bu Ida. Sontak saja, mereka pun berlari ke sumber suara. Dan mereka mendapati Bu Ida sedang melangkah pergi dengan terseok-seok karena sakit.
"Ibu, apakah ibu tidak apa-apa?" Meysa merasa iba, ia pun mengejar ibunya.
Hingga Bu Ida berhenti sejenak," ibu nggak apa-apa. Tadinya ibu akan membuat mie instan, tetapi melihat keromantisan kalian jadi ibu tidak enak dan mengurungkan niat ibu, tetapi malah tersandung."
"Jadi, tadi Ibu melihat apa yang dilakukan Mas Yuda padaku?" tanya Meysa malu.
"Jelas ibu melihat, seharusnya kamu jangan seperti itu. Karena bisa juga asisten rumah tangga atau tukang kebun bisa melihat hal itu. Apa kalian tidak bisa melakukan itu di dalam kamar saja." Bu Ida kesal ia melanjutkan langkahnya lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Aulia Regina Putri1301
cemburu
2023-02-19
1
Eka Elisa
bukn tukang kbun atau bibi yg liat pngen tapi kmu bu...yg pngen...😏
2022-12-24
1