Sejenak Meysa hanya di rumah saja, ia murung karena memang sudah tidak bisa bekerja di kantor. Selagi bingung diam melamun, datanglah Yosep membawa banyak makanan. Bahkan Mamang dan bibi pun mendapatkan bagiannya. Meysa duduk di teras halaman bersama dengan Yosep.
"Meisya, apakah kamu kesulitan untuk bisa mendapatkan tanda tangan dari Yudha?" tanya Yosep penasaran.
"Tidak, ia langsung menandatanganinya kok. Hanya saja aku heran pada Ibu, kenapa begitu kejam padaku. Padahal aku ini anak kandungnya, tetapi ia mengusirku dari kantor almarhum ayahku dan juga, mantan suamiku yang sekarang menjabat sebagai direktur utama di kantor itu," ucap Meysa seraya pandangan entah kemana.
"Pantas saja kamu hari ini di rumah saja. Hem, kamu nggak usah khawatir nanti aku akan bantu promosikan kamu kepada semua klienku yang memakai jasa pengacara. Kebetulan semuanya pengusaha terkenal," ucap Yoseph mencoba menghibur Meysa.
Mendengar apa yang barusan di katakan oleh Yoseph tak lantas membuat hati Meysa menjadi riang. Ia hanya tersenyum kecut, di dalam hatinya masih saja belum percaya dengan kekejaman ibunya.
Karena dulu, ibunya begitu sangat menyayangi dirinya sepenuh hatinya. Rela memberikan apa pun demi dirinya. Rela melakukan apa pun demi dirinya.
Tetapi ibunya yang sekarang malah mengambil semua yang ada pada Meysa, dari cinta suaminya, perusahaan, semuanya, tanpa ada rasa belas kasihan sama sekali.
Melihat Meysa yang terus murung, membuat Yoseph merasa iba padanya. Tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia hanya merutuki mengumpat perbuatan yang dilakukan oleh Yudha dan Bu Ida.
"Kasihan juga Meysa, ia harus terpuruk begitu dalam karena tingkah ibunya sendiri. Heran saja kok ada ya seorang ibu yang sangat kejam seperti itu pada seorang anak kandungnya. Yang aku tahu, seorang ibu bahkan rela memberikan nyawanya untuk kelangsungan hidup anaknya. Tetapi ini tidak, seorang ibu malah mengambil semua kebahagiaan anaknya. Apa lagi, Meysa dan Yudha belum lama menikah. Pasti ia saat ini sedang merasakan sakit yang mendalam," batin Yoseph.
Sejenak Meysa menarik napas panjang, dan ia pun mulai berkata pada Yoseph.
"Memangnya kamu nggak ada pekerjaan hari ini, hingga datang kemari? lain kali kamu nggak usah banyak bawa makanan seperti ini, karena di rumah kan ada bibi jadi ada yang masakin untukku," ucap Meysa memecah keheningan.
"Kebetulan hari ini aku sedang tidak ada pekerjaan, beberapa menit lagi aku akan bertemu dengan salah satu klienku. Kali ini untuk kasus hak asuh anak. Dari pada aku bengong jadi lebih baik aku menunggu di rumahmu ini."
"Aku pikir di rumahmu nggak ada bibi, jadi aku membawa banyak makanan. Ya sudah lain kali aku tidak akan membawa banyak makanan seperti ini."
Setelah cukup lama berada di rumah Mesya, beberapa menit kemudian Yoseph berpamitan pulang karena ia akan menemui kliennya.
Seperginya Yoseph, Meysa pun masuk ke dalam rumah. Ia langsung melangkah menuju ke kamarnya. Di dalam kamar, ia merebahkan tubuhnya di pembaringan seraya matanya menatap langit-langit kamar.
"Apakah aku akan menerima tawaran dari Yoseph jika ia kelak mendapatkan pekerjaan untukku? tetapi sebaiknya jangan dech. Aku akan berusaha sendiri dengan berpijak dan bertumpu pada kakiku sendiri."
"Aku sudah merepotkannya dengan mengurus surat gugatan ceraiku dan aku tak ingin bergantung padanya atau pun bergantung pada orang lain."
"Aku yakin aku mampu bangkit dari keterpurukanku walaupun hanya seorang diri tanpa ada yang menopangku. Aku tak ingin lemah dengan mengasihani diri sendiri."
Meysa sudah memutuskan untuk mengelola saham peninggalan almarhum ayahnya. Dia akan mendirikan suatu perusahaan ekspedisi tetapi untuk awalnya, ia mendirikan secara kecil-kecilan terlebih dahulu.
"******
Esok harinya, Meysa pun mulai mengurus segalanya. Ia menjual beberapa saham peninggalan almarhum ayahnya kepada beberapa orang pengusaha yang ia kenal secara baik.
Meysa benar-benar tegar dalam menghadapi problema hidupnya yang tak mudah. Ia yakin dengan diri sendiri bahwa ia akan sukses tanpa campur tangan siapapun.
Yosep sangat kagum pada ketegaran dan ketabahan Meisya, serta kegigihan wanita muda tersebut.
"Padahal aku tulus ingin membantunya, tetapi malah Meysa menolak bantuan dariku. Ya sudah tidak apa-apa. Semoga saja usaha yang ia rintis dari nol dengan jerih payah dan kerja kerasnya sendiri akan membuahkan hasil yang sangat memuaskan dan tidak mengecewakan. Aku yakin Allah pasti akan membuka jalan untuk Meysa supaya dia bisa sukses kembali," batin Yoseph.
Bahkan Meysa melarang Yosep untuk sering bertemu dengan dirinya, karena statusnya yang seorang janda dan belum melewati masa iddahnya.
Meysa beralasan kepada Yosep, jika untuk saat ini dirinya ingin fokus membangun karirnya dari nol dan tidak akan memikirkan tentang pribadinya. Meysa juga tidak ingin dicap jelek oleh semua orang apalagi tetangga sekitarnya jika Yoseph sering datang menyambangi rumahnya. Hingga Meysa meminta secara halus kepada Yosep supaya ia menjaga jarak dengan dirinya.
Untung saja Yosep seorang pemuda yang bijaksana, ia pun bisa mengerti akan posisi Meysa saat ini dan tidak menyalahkan akan keputusan Meysa untuk menjaga jarak dengan dirinya.
Yoseph bisa memahami akan hal itu, ia pun tidak lantas marah atau dendam pada Meysa, tetapi ia masih menjaga persahabatan mereka walaupun hanya lewat chattingan atau telepon, Yosep sudah sangat senang.
Hari-hari Meysa lalui seorang diri, hanya ditemani oleh Mamang dan bibi yang selalu setia ada bersamanya. Meysa menganggap mamang dan bibi seperti saudara sendiri. Ia pun kerap kali mengajak keduanya jalan-jalan di luar bersamanya bahkan kerap kali mengajak keduanya untuk sekedar ngobrol bersama.
"Pak, kasihan ya Non Meysa. Cobaan yang ia hadapi begitu beratnya. Ibunya terlalu kejam. Sudah merebut suaminya masih saja mengambil paksa warisan peninggalan almarhum ayahnya," ucap Bibi di sela waktu luangnya.
"Iya, Bu. Makanya sebisa mungkin kita harus selalu menghiburnya, apa lagi Non Meysa selama ini baik pada kita. Tidak memandang batasan antara atasan dan bawahan," ucap Mamang.
Mamang dan bibi sangat setia pada Meysa. Bahkan di setiap sujud mereka tak lupa untuk mendoakan Meysa. Untuk keberhasilan di dalam hidupnya.
Berbeda situasi di rumah Ibu Ida. Kini dirinya sedang merasakan bahagia, karena dirinya sudah bebas berhubungan dengan Yudha. Karena mereka telah menikah. Tetapi Yudha meminta mereka menikah secara siri terlebih dahulu.
"Yudha, kenapa kamu tak mau menikah resmi denganku?" tanya Bu Ida merasa heran pada Yudha.
"Bukan aku tak mau, tetapi aku belum siap juga. Intinya aku kan memimpin perusahaan, jika semua klien tahu tentang hubungan kita apa tidak akan mempengaruhi kerja sama kita dengan mereka?"
"Yudha, apa kamu lupa, jika pada saat pengangkatan dirimu saja semua sudah tahu kan tentang hubungan kita. Tapi ya sudah nggak apa-apa, apa yang kamu katakan ada benarnya juga," ucap Bu Ida mengalah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments