Berusaha Tegar

Hingga pada akhirnya, Meysa pun menangis saat itu juga. Ia bahkan hanya diam saja tak berkata apa pun. Hingga pada akhirnya, ia pun mengusap air matanya dengan tissue.

"Untuk apa aku menangisi mereka? sayang sekali air mataku ini, aku justru seharusnya bersyukur pada Allah yang telah mencelikan mata hati dan pikiranku, hingga aku tahu kebusukan mereka."

"Bahkan, Allah secara tidak langsung memberi tahuku dengan perantaraan bibi. Aku akan berterima kasih padanya."

Dalam hati Meysa menggerutu sendiri seraya sesekali menarik napas panjang.

"Meysa, kamu sudah agak baikan bukan?" tanya Yosep masih mengkhawatirkan Meysa.

"Alhamdulillah, sudah. Aku baik-baik saja, aku minta maaf ya telah mengajakmu melihat hal yang memalukan. Bukan maksud apa-apa, hanya aku tak bisa menjelaskan lewat kata-kata, itu terlalu sulit bagiku."

"Bahkan sangat sulit untuk aku berkata tentang hal yang barusan kita lihat di hotel. Karena aku sampai hari ini belum juga percaya dengan apa yang barusan aku lihat dan beberapa kali aku lihat."

"Intinya, aku minta tolong padamu. Untuk membantuku mengurus gugatan cerai terhadapnya.'

Yosep mengangguk pasti setelah mendengar apa yang barusan di katakan oleh Meysa.

"Kamu tak usah khawatir, Meysa. Aku pastikan secepatnya kamu akan lepas darinya, apa lagi ia yang telah berbuat salah padamu. Jadi proses cerau tidak akan berbelit-belit. Kamu serahkan saja urusan perceraianmu ini padaku."

"Nanti jika sudah sampai di rumah, kamu langsung mencari buku nikah kalian. Juga foto kopi KTPmu saja tak apa-apa."

"Baiklah, Yosep. Aku bahkan ayah menyiapkan semuanya. Tetapi memang tidak di bawa, ada di almari. Nanti kamu jangan lekas pergi, tunggu aku sejenak ya," ucap Meysa.

"Ok, siap. Sudah jangan bersedih lagi ya? yakin saja kelak kamu pasti bahagia. Risa itu berputar, Meysa. Mereka yang telah menyakiti dirimu merasakan jka mereka saat ini sedang berbahagia. Tapi kebahagiaan mereka yang dengan merebut bahagiamu itu tidak akan berlangsung lama," ucap Yosep.

"Kamu tak perlu khawatir, aku bisa kok hadapi semua ini. Aku tidak akan terus terpuruk atau mengasihani diri sendiri selamanya. Itu bukan tipeku, justru aku akan buktikan pada mereka, jika aku akan lebih bahagia walaupun mereka telah menyakitiku," ucap Meysa dengan sangat yakin.

Sembari mengobrol membuat perjalanan begitu cepat, kini tak terasa mereka sudah sampai di pelataran rumah Bu Ida. Sejenak Meysa ke paviliun belakang terlebih dahulu.

"Bi, aku minta tolong sebentar ya? tolong bantu aku mengemasi semua pakaianku ke dalam koper besar yang ada di atas almari. Aku tunggu di kamar ya, bi. Kalau bisa tinggalkan dulu aktifitas bibi, tapi bantu aku dulu."

Setelah mengatakan akan hal itu, Meysa lekas melangkah pergi dari paviliun belakang menuju ke kamarnya untuk sejenak mengambil persyaratan yang sudah ia siapkan untuk gugatan cerainya terhadap Yuda.

"Yosep, ini ya persyaratannya. Oh ya, tapi aku minta maaf tidak bisa mengajakmu ngobrol lagi, karena aku akan langsung berkemas dan akan pergi dari rumah ini secepatnya." Ucap Meysa seraya memberikan persyaratan tersebut pada Yosep.

"Tidak apa-apa, Meysa. Jika kamu pergi dari rumah ini, lantas kamu akan. tinggal kemana?" tanya Yosep penasaran.

"Alhamdulillah, aku sudah punya aset rumah sendiri. Hanya saja mereka tidak tahu," ucap Meysa.

"Ya sudah, aku pamit pulang ya. Karena aku juga akan langsung mengurus kasusmu ini," ucap Yosep.

"Tunggu dulu, apa perlu bukti lain? seperti rekaman video CCTV mungkin?" tanya Meysa.

"Gampang, nanti jika aku butuh akan aku hubungi nomor ponselmu. Kamu fokus saja berkemas, dan jangan lupa kasih kabar aku jika kamu sudah sampai di rumah barumu," ucap Yosep.

"Ok, pasti."

Yosep segera pergi meninggalkan rumah Bu Ida, sementara Meysa lekas ke kamar dan bibi sudah ada di kamar.

"Non Meysa, mau kemana? kok bawa koper besar ini?" bibi memberanikan diri bertanya.

"Bi, aku akan pergi dari sini. Karena aku sudah tahu semuanya. Apa yang bibi katakan ternyata benar. Bu, terima kasih ya. Sudah berani berkata jujur padaku," ucap Meysa seraya terus mengemasi pakaiannya.

"Jadi non percaya kan sama apa yang bibi katakan. Non, jika non pergi lantas bagaimana dengan bibi dan suami bibi?" ucapnya.

"Loh kok bibi bingung? kan di sini ada Ibu sama pacarnya itu," ucap Meysa.

"Nggak mau lah, non. Jika non tidak ada di sini, bibi juga akan ajak suami bibi pergi dari sini. Boleh nggak, non. Jika bibi dan suami bibi, ikut Non Meysa saja?" ucap Bibi dengan memelas.

"Apa bibi yakin, padahal belum tentu loh aku akan tinggal di rumah yang mewah seperti rumah ini?" ucap Meysa.

"Yakin sekali, non. Bibi nggak mempermasalahkan rumahnya kecil atau besar. Bibi hanya ingin kenyamanan saja, non. Boleh ya?" bujuk bibi seraya menangkupkan ke dua tangannya di dada.

"Baiklah, bi. Ya sudah sana bibi berkemas saja bersama suami bibi. Nanti jadi tidak terlalu lama," perintah Meysa.

Bibi pun berlari kecil ke luar dari kamar Meysa, ia segera ke paviliun belakang untuk mengajak suaminya lekas mengemasi pakaian mereka.

Tak berapa lama, mereka telah selesai. Memang membawakan koper Meysa melangkah ke mobil Meysa. Dan sepasang suami istri ini ikut masuk ke dalam mobil. Saat itu juga, Meysa melajukan mobilnya menuju ke suatu tempat yang lumayan jauh dari rumah Bu Ida.

Meysa sudah punya rumah sendiri di sebuah perumahan elite. Bahkan BubJda dan Yuda sama sekali tidak tahu menahu tentang hal ini.

Sesampainya di perumahan tersebut, Meysa mengajak sepasang suami-isteri ini masuk ke dalam rumah Meysa.

"Kamar Bibi dan Mamang ada di dekat dapur ya. Maaf rumah ini ak semewah dan sebesar rumah yang lama," ucap Meysa tersenyum walaupun hatinya masih teramat sakit.

"Tidak apa-apa, non. Kami kerasan kok tinggal di sini. Rumahnya adem, nyaman. Non, kami permisi dulu ya?" pamit bibi.

"Oh ya, Mang. Tolong tutupin dulu pintu gerbang, tadi aku lupa. Dan bibi taknidah ke kamarku ya, biar aku menata bajuku sendiri saja. Nanti jika bibi sudah selesai berkemas, istirahat saja tak usah repot untuk memasak. Karena aku belum belanja apa-apa."

"Aku akan istirahat sejenak dulu, nanti aku akan pesan makanan online untuk kita bertiga."

Mendengar apa yang di katakan oleh majikannya. Si Mamang langsung berlari ke pintu gerbang untuk menutup pintu gerbangnya.

Sementara bibi langsung ke dapur di mana ada sebuah kamar yang lumayan luas untuk di tempati bersama dengan suaminya.

Sementara saat ini Yuda dan Bu Ida baru sampai di rumah.

Terpopuler

Comments

Eka Elisa

Eka Elisa

buka lmbaran baru ya mey....
kmu juga butuh bhgia tu duo racun buang aj ke laut

2022-12-25

1

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 60 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!