...🍁🍁🍁...
2 Minggu telah berlalu, sejak Savana mengalami kecelakaan dan berakhir di rumah sakit dengan patah tulang kaki. Akhirnya hari ini ia pulang ke rumah dan Martha yang membawanya pulang ke mansion. Tentu saja Martha tidak akan membiarkan Savana sendirian di apartemennya, ia ingin Savana ada yang merawat kalau tinggal bersamanya.
Kaki Savana sudah membaik dan siang itu Savana akan pulang. Selama 2 Minggu itu, Jonas dan Javier gencar mendekatinya. Hampir setiap hari mereka datang ke rumah sakit. Sementara Justin, ia sibuk dengan pemotretan bahkan sekarang pria itu sedang berada di Milan bersama dengan model lainnya.
Ketika Savana sedang berganti baju, Martha pamit pergi keluar dari ruangan itu untuk membayar biaya administrasi selama Savana berada di rumah sakit.
"Huft... akhirnya aku bisa keluar dari rumah sakit. Aku benci bau obat, aku benci rumah sakit. Setelah ini aku harus mengatur ulang pameran seni ku lagi!" gumam Savana sambil mengancingkan kemeja bajunya.
Klek!
Tiba-tiba saja pintu ruangan itu terbuka, sontak saja Savana langsung menoleh ke arah pintu. "KYAAKK!!" teriak Savana terkejut melihat sosok pria diambang pintu kamar yang melihatnya setengah telanjang, sebab ia belum memakai celana panjang. Hanya celana pendek dan kemeja yang bahkan belum di kancingkan. Lalu memperlihatkan gundukan kenyal milik Savana.
Javier menelan saliva, membuka matanya lebar-lebar secara refleks saat melihat penampilan Savana yang seperti itu. Sungguh, Savana membuat junior dibawah sana langsung sesak.
ASTAGA!
"OLD MAN JERK!!" pekik Savana marah, kemudian ia membalikkan badannya.
"Ma-maafkan aku...aku tidak sengaja!" kata Javier buru-buru.
"JUST GO!!" teriak Savana sambil menyembunyikan air matanya yang mengembun. Ia sungguh malu karena Javier melihat tubuhnya yang bisa dibilang setengah telanjang itu.
Javier mengigit bibir bagian bawahnya, lalu ia pun keluar dari ruangan itu dan tak lupa mengunci pintunya.
Deg, deg!
Hati Javier berdebar-debar saat melihat pemandangan barusan. Pemandangan itu tidak asing sebab Javier sudah pernah melihatnya sebelumnya. Bahkan ia sudah pernah menjamah tubuh Savana.
"Astaga! Apa yang aku lakukan? Lagi-lagi tubuhku beraksi terhadap gadis yang seumuran dengan putriku. Apa ini wajar?" gumam Javier bingung dengan perasaannya sendiri.
Ia sebenarnya agak kaku dalam urusan asmara, bahkan ia tak pernah bermesraan dengan mantan istrinya. Sebab dulu ia menikah dengan mama Elena karena terpaksa. Elisa menjebaknya dengan obat perangsang dan membuat Elisa hamil Elena. Setelah menikah 2 tahun, Elisa dan Javier bercerai karena Elisa tidak tahan dengan sikap dingin Javier. Selama dua tahun itu Javier tidak pernah sekalipun menyentuhnya.
Lalu kini Javier malah memiliki hasrat terhadap sahabat putrinya sendiri. Gila!
Di dalam ruangan itu, Savana mengumpat Javier dengan kesal juga mengumpat dirinya yang bodoh karena tidak mengunci pintu. Ia pikir walaupun tak mengunci pintu, orang yang akan masuk ke ruangan itu pasti memiliki etika untuk mengetuk pintu.
"Hiks...Savana bodoh! Kau terlihat sangat murahan di matanya. Tubuhmu sudah di jamah olehnya dan sekarang--aih..."
Savana duduk di atas ranjang dengan berlinang air mata. Ia sudah berpakaian lengkap kali ini.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu dan suara Javier dari luar sana.
Tok,tok,tok!
"Apa kau sudah selesai berganti baju?" tanya Javier dengan suara pelan seperti berhati-hati.
"Mau apa om kesini? Pergi!" usir Savana kesal.
Tidak ada suara dari luar sana karena Javier langsung masuk ke dalam ruangan itu. Ia melihat Savana menangis dan marah padanya. Javier mendekat ke arah Savana dan hendak mengusap air mata gadis itu.
"Aku ingin bicara--"
"Stop! Om pasti mau bilang aku cewek murahan lagi kan? Aku tidak mau mendengarnya lagi, jadi jangan bicara om."
"Savana kamu salah pah--"
"Aku sudah cukup malu, tolong om jangan bicara apapun...hiks..." gadis itu menangis seperti anak kecil, tersedu-sedu. Javier menghela nafas kasar, ia hendak menjelaskan tapi Savana terus memotong ucapannya.
"Dengarkan dulu aku bicara! Jangan langsung me--"
Klek!
"Tuan Javier, anda ada disini juga?" tanya Martha dan Grace yang baru saja membuka pintu kamar itu. Mereka melihat Javier berdiri tak jauh dari Savana berdiri.
"I-iya nyonya Martha, saya datang kesini untuk menjenguk Savana." jawab Javier gugup. Martha mengerutkan keningnya, ia merasa heran kenapa akhir-akhir ini Javier sering terlihat bersama Savana.
Apa jangan-jangan tuan Javier menyukai Savana dalam hal seperti itu? Ah...tidak mungkin kan!
Martha segera menepis pikirannya, lalu berjalan menghampiri Savana yang matanya terlihat sembab. "Savana kau kenapa? Kau menangis nak?" tanya Martha pada cucunya itu.
"Ka-kakiku sedikit sakit nek, tadi saat aku ganti baju, ta-tak sengaja aku menyenggol kakiku dan masih terasa sakit." ucap Savana gugup sembari menyeka air matanya.
"Kau ini! Biasanya juga kau tidak pernah menangis kalau sakit ataupun jatuh, kenapa sekarang menangis?" Martha terheran-heran karena ia tau Savana bukan gadis cengeng yang akan menangis oleh rasa sakit fisik di tubuhnya. Savana biasanya menangis karena dibentak atau ada yang membuatnya sakit hati.
"Nek...ayo kita pulang." ajak Savana sambil membawa tas selempangnya.
"Biar saya bantu bawakan barangnya nyonya," ucap Javier sopan sambil membawakan tas besar di sana.
"Tidak usah, biar saya saja tuan." kata Grace pada Javier.
"Ini berat nyonya, biar saya yang bawakan." kata Javier seraya tersenyum, ia menenteng tas itu lalu pergi mendahului Martha, Grace dan Savana yang masih ada dibelakangnya.
Martha menatap cucunya dengan tatapan aneh dan membuat Savana bertanya. "Ada apa nek? Kenapa dengan tatapanmu itu?"
"Kau...ada hubungan apa dengan tuan Javier?"
"Huh?"Savana tercekat mendengar pertanyaan neneknya. "Apa maksud nenek? Tentu saja dia adalah ayah sahabatku!"
"Dia selalu berada di sekitarmu, perhatian padamu, bahkan dia sudah membayar biaya administrasi pengobatanmu. Savana, nenek tidak mau kau ada hubungan apapun dengannya!" cetus Martha pada cucunya.
Bagaimana bisa cucuku berhubungan dengan pria yang sudah menikah? Ini tidak benar. Batin Martha cemas.
"Nek..." lirih Savana masih belum mengerti apa yang dikatakan oleh Martha.
"Ayo kita pulang," ajak Martha dengan raut wajah kurang menyenangkan. Secara terang-terangan dia melarang cucunya untuk tidak memiliki hubungan dengan Javier.
Ada apa dengan nenek?
Mereka pun pulang ke mansion Martha diantar oleh Javier juga. Martha langsung mengganti uang pengobatan Savana pada Javier setelah Savana dan Grace masuk lebih dulu ke dalam manusia.
"Tidak apa-apa nyonya, saya tidak keberatan." Javier menolak.
"Maaf tuan Javier, tapi saya yang tidak keberatan. Tolong terimalah dan saya mohon jauhi cucu saya," ucap Martha tegas.
Javier bingung dan bertanya-tanya kenapa sikap Martha berubah padanya. "Nyonya..."
"Saya sadar dan saya tau gelagat anda tuan Javier, anda menyukai cucu saya. Tapi tidak pantas seorang yang sudah beristri mendekati cucu saya." ketus Martha.
Aku? Menyukai Savana? Batin Javier tersentak dengan perkataan Martha.
"Nyonya anda--"
"Saya harap anda menjauhi cucu saya." kata Martha yang memangkas ucapan Javier. Ya, Savana dan neneknya sama-sama suka menyela.
Martha pun masuk ke dalam mansion, dia sungguh-sungguh dengan ucapannya. Dia mengira Javier mempunyai istri padahal pria itu seorang duda.
Ternyata ucapan Martha membuat Javier menyadari perasaannya. Bahwa ia memang menyukai Savana sebagai lawan jenis.
"Aku menyukai Savana...ya aku menyukai dia. Hah...ini gila!" seru Javier sambil tersenyum sendiri.
...*****...
Hai Readers jangan lupa komennya dong biar cepat up, 😍 part kolam renang bab selanjutnya ya...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Ramadhani Kania
ayo perjuangin Savana Javier...
2023-01-02
0
Zila Aziz
ah sudah... hubungan tak direstui
2022-12-14
0
Tiahsutiah
si om baru sadar dengan petasaan nya🤣🤣🤣
2022-12-13
1