...🍁🍁🍁...
"No...you still virgin, Savana!"
Kata-kata itu terus terngiang-ngiang di kepalanya dan membuat Savana gelisah. Savana menatap langit-langit kamar Elena, sesekali juga ia menatap Elena yang tertidur pulas disampingnya.
Savana kesal, menangis sakit hati dan gelisah sendiri karena pembicaraannya tadi dengan Javier itu...
#Flashback
Beberapa saat yang lalu di ruang kerja Javier.
"Apa maksud om? Aku masih virgin?! Jelaskan om!" bentak Savana pada pria yang berdiri dihadapannya itu.
"Saya memang menjamah tubuhmu, tapi tidak memasukimu." jawab Javier memperjelas. "Tapi--walau bagaimana pun juga saya harus meminta maaf. Ya, saya salah telah terbawa nafsu."
"Jadi--aku masih..."
"Benar, kau masih utuh. Aku hanya mencumbumu saja. Sungguh!" Javier mengusap rambutnya kepala. Ia berharap Savana akan memaafkannya.
"Kalau aku tidak mau memaafkan om dan mengadukan kelakuan om pada Elena, bagaimana?" tiba-tiba saja gadis itu mengancam Javier. Entah apa maksudnya, yang jelas Javier sangat kaget.
Kalau menyangkut soal Elena, dia tidak bisa main-main. Jika Savana mengadukan ini pada Elena, pasti Elena akan membencinya. Javier tak ingin hal itu terjadi.
"Apa kau mengancam saya?"
"Apa motifku mengancam om? Aku hanya asal tanya saja." jawab Savana santai, seraya memutar matanya kesana kemari.
Tidak akan aku biarkan pria yang melihat tubuhku untuk pertama kalinya lepas begitu saja. Kau harus menjadi milikku om!
"Terserahlah kau mau memaafkan saya atau tidak! Yang jelas saya sudah minta maaf!" Javier kesal, ia pun melangkah pergi dari sana. Namun saat mendengar Savana menangis, Javier mengurungkan niatnya dan kembali menoleh ke arah gadis itu.
Benar saja, Savana menangis tersedu-sedu seperti anak kecil. Suaranya saja keras dan bisa-bisa Elena yang tertidur mendengarnya.
"Huahhh....om jahat, om tega...apakah begitu cara om meminta maaf? Huahhh..."
"Sut! Sut!Hentikan itu, jangan menangis!" Javier menunjukkan jarinya ke wajah Savana, meminta gadis itu agar berhenti menangis. "Nanti Elena mendengarnya!"
"Huaaahhh....om sudah melihat tubuhku, om adalah pria pertama yang melihatnya!" Savana masih menangis, sampai tergugu.
Javier sungguh lemah melihat anak seusia putrinya menangis, dia tak tega. Javier yang dingin diluar sebenarnya lembut kalau menyangkut wanita.
Pria itu mendekati Savana, ia mengusap air mata sahabat putrinya dengan lembut. Tentunya dengan kedua tangan besarnya.
Astaga! Jantungku mau loncat, ya tuhan! Kenapa si om ini sangat tampan? Sayang sekali aku tidak mengingat malam itu. Astaga apa yang aku pikirkan? Kenapa dengan melihatnya aku tiba-tiba menjadi wanita mesum?
"Don't cry, please. Saya minta maaf ya?" Javier tak tega melihat Savana yang menangis terluka. Ia jadi semakin merasa berdosa.
"Huahhh...hiks...hiks..."
Pria itu mendekap lembut tubuh Savana, seolah-olah Savana adalah Elena putrinya sendiri. "Maaf saya sudah merusakmu, maafkan saya...saya akan melakukan apapun agar kau bisa memaafkan saya." sesal Javier seraya mengusap lembut rambut panjang Savana.
Kenapa berada didalam pelukan Daddy Elena, aku merasa nyaman dan hangat?
"Apapun? Om...mau lakukan apapun?" Savana mendongak menatap Javier dengan wajahnya yang acak-acakan sebab ia menangis.
"Ya, apapun."
"Ka-karena om adalah pria yang sudah melihat tubuhku untuk pertama kalinya. Aku mau om jadi pacarku, kalau perlu kita menikah."
Sontak saja Javier mendorong tubuh Savana, keningnya berkerut dan matanya melebar. "Kau sudah gila!" hardik Javier.
"Ja-jadi om tidak mau? Om sudah bilang kalau om akan lakukan apapun kan?"
Dia sudah melihat tubuhku! Dia harus bertanggung jawab.
"Saya akan bertanggung jawab tapi tidak dengan yang satu itu! Saya tidak bisa menjalin hubungan khusus dengan sahabat dari putri saya!" cetus Javier tak menerima.
"Tapi aku memiliki prinsip om, lelaki pertama yang menjamah tubuhku dan melihat tubuhku...dia harus jadi suamiku." kata Savana tidak main-main.
"Tidak bisa!" sergah Javier menolak tegas. Savana tersentak kaget mendengar penolakan yang menyayat hatinya itu.
"Kau mau apa? Uang? Benda yang kau suka? Sebuah perusahaan, kapal pesiar, pesawat terbang? Liburan? Katakan padaku apa yang kau inginkan? Tapi kau jangan meminta pertanggungjawaban yang macam-macam, apalagi memintaku untuk menjadi kekasihmu dan menikah! Karena adalah hal yang sangat mustahil."
Plakk!
Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Javier. Namun tamparan ini tidak sesakit hati Savana saat Javier merendahkan harga dirinya.
"Kau pikir aku wanita macam apa om? Kau pikir aku pelacur?!" bentak Savana marah, diiringi dengan air mata yang luruh begitu saja dari kedua bola matanya.
"Sa-saya..." Javier menatap Savana dengan tatapan sendu merasa bersalah.
"Baiklah, kalau Om tidak mau bertanggung jawab ya sudah. Aku tidak akan pernah memaksa Om untuk bertanggung jawab, om tenang saja... aku juga akan merahasiakan ini dari Elena. Terima kasih karena om sudah menjamah tubuhku dan sekarang aku merasa sangat kotor, aku jijik pada diriku sendiri! Dan aku benci padamu, om." Savana bertutur panjang lebar, menyuarakan isi hatinya yang terluka dan kecewa karena kata-kata yang dilontarkan oleh Javier kepadanya.
"Ti-tidak..."
"Aku harap mulai saat ini, kita jangan bersinggungan lagi!" seru Savana marah, lalu dia berlari pergi meninggalkan ruangan itu.
Tanpa Savana sadari, Javier menyusulnya namun ia mengurungkan niatnya saat Savana masuk ke dalam kamar Elena.
"Astaga! Sepertinya aku telah melukai harga dirinya,"
#End Flashback
"Jangan menangis Savana, jangan menangis! Sudahlah! Besok aku akan pergi dari rumah ini," ucap Savana bergumam sambil mengusap air matanya.
Keesokan harinya, pagi itu Elena turun dari lantai atas seorang diri dengan wajah sedih. Javier melihat putrinya yang seperti itu menjadi terheran-heran.
"El, kenapa kau turun sendiri nak? Mana Savana?" tanya Javier dengan wajah cemas. Cemas karena Savana tidak terlihat dan hari ini ia harus bicara pada gadis itu.
"Savana, dia pulang dad...dia bahkan tidak menungguku bangun dulu dan hanya mengirimkan pesan. Huh! Anak itu, bukankah dia ingin menginap disini lebih lama?"
Javier terkejut mendengar penjelasan Elena tentang sahabatnya itu. "Dia pasti marah." gumam Javier pelan.
...****...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Ramadhani Kania
hrse kmu tew om kalau dia gadis baik2.....dan limited edisen
2023-01-02
0
pembaca novel
Om kau keterlaluan
2022-12-08
0
Bila
Ya ampun si om nyesek banget kata-kata nya pedes kayak habis makan cabe se kwintal
2022-12-07
0