...🍀🍀🍀...
Setelah mendapatkan telepon dari sahabatnya, Elena segera menjemput Savana di hotel yang disebutkan oleh gadis itu. Elena terlihat cemas saat melihat Savana meringkuk di depan hotel sambil menangis, duduk di salah satu anak tangga.
"Van, kau disini? Ada apa?" tanya Elena cemas, keningnya berkerut.
"Elena! My best friend! Huaaahhh...." Savana menangis tersedu-sedu, ia berhambur memeluk Elena dan menangis sejadinya di dalam dekapan gadis berambut pirang pendek itu.
Elena menepuk-nepuk punggung Savana dengan pelan, berharap dengan ini dapat menenangkan perasaan Savana. Elena heran mengapa temannya yang selalu ceria pemberani dan selalu menghiburnya itu, kini terlihat lemah tak berdaya.
Pantang sekali bagi Savana untuk menangis kecuali urusan ibu kandungnya, tapi mengapa sekarang temannya menangis?
"Huahhh Elena..." Savana menangis terisak, sampai hidungnya mengeluarkan ingus.
"Savana, kau menangis seperti anak kecil saja? Ayo kita pergi ke mobilku, kita ke rumahku ya!" ajak Elena seraya mengurai pelukannya. "Shitt! Kau membuat bajuku basah, Van." Elena mengumpat, manakala ia mendapati dressnya basah dengan ingus dan air mata.
"Ma-maafkan aku, aku tidak sengaja...huahhh..." Savana merasa bersalah.
"Untung kau sahabatku! Kalau bukan kau pasti sudah---ah ayolah kita pergi dan bicara di rumahku," Elena menggandeng tangan Savana seolah gadis itu adalah anak kecil. Tangisannya saja seperti anak kecil.
Setelah melalui perjalanan selama 20 menit, Elena dan Savana tiba di sebuah mansion mewah. Mansion tersebut di huni oleh beberapa pengawal dan pelayan, juga Elena dan ayahnya yang seorang duda.
Walaupun Savana adalah sahabat baik Elena, tapi Savana belum pernah mengunjungi rumah Elena. Sebab Elena lebih banyak meluangkan waktunya di luar rumah karena kesepian. Rasa kesepiannya sama dengan Savana yang ditinggalkan kedua orang tuanya yang bercerai. Maka dari itu Savana dan Elena itu cocok berteman.
"Sudah puas menangisnya?" tanya Elena sembari menyerahkan botol soda pada Savana yang duduk di atas sofa.
"Apa kau gila? Kenapa kau memberiku soda? Bukankah harusnya kau memberiku air minum biasa?" tanya Savana sambil memegang botol soda itu.
"Aku takut kau kerasukan setan,mungkin minum soda bisa menyadarkanmu karena aku merasa kau bukan Savana yang ku kenal." cetus Elena sambil tersenyum, lalu duduk tepat didepan Savana.
"Sialan kau! Aku ini Savana," ucap Savana dengan bibir yang mencebik. Lalu dia meneguk soda itu dengan sekali tegukan.
"Lalu kenapa Savanaku menangis? Itu seperti bukan dirimu. Seharusnya kau senang saat ini, bukankah kau sudah kembali kemari dan pastinya kau sudah bertemu dengan Jonas?" tanya Elena pada sahabatnya itu. Ia yakin Savana pulang buru-buru karena ingin segera bertemu dengan Jonas.
Wajah Savana berubah menjadi merah, darahnya mendidih seketika mendengar nama si pengkhianat itu. "El, jangan bahas si brengsek itu lagi! Aku dan dia sudah berakhir, aku benci dia SELAMANYA!"
"Wow? Apa kau serius Van? Ada apa? Kau seperti marah sungguhan," ucap Elena polos.
"Aku memang marah sungguhan, ah tidak! Aku murka! Pada pria bernama Jonas Satigo!" teriak Savana marah-marah. Dia jadi teringat kejadian kemarin yang membuatnya jadi tidur dengan Javier, pria yang entah siapa.
"Ada apa Van? Ceritakan padaku apa yang terjadi?!" seru Elena yang bersimpati mendengar kisah tentang Savana. Savana sangat mencintai Jonas, rasanya tak mungkin hubungan mereka berakhir begitu saja.
*****
Di sebuah gedung perkantoran, terlihat seseorang pria memasuki gedung tersebut. Dia adalah Javier, CEO Sanderix grup. Semua orang terlihat menghormatinya, membungkukkan badan dan menyapanya.
"Selamat pagi Presdir."
"Pagi," balas Javier yang membuat semua karyawan yang ada di sana terlihat terkejut dengan sapaan balik dari presdir mereka. Pasalnya Javier tidak pernah membalas sapaan mereka dan kini para karyawan itu keheranan.
Javier terkenal sebagai orang yang dingin dan workaholic. Bahkan ia jarang pulang ke rumah karena sibuk bekerja, hanya demi Elena dia pulang ke manison.
Sesampainya di ruang CEO, Javier terlihat resah tidak seperti biasanya. Leo selalu asisten sekaligus sekretaris Javier, terheran-heran dengan sikapnya yang gelisah.
"Sial, gadis itu...dia..." batin Javier teringat kejadian semalam.
#Flashback
Malam tadi di club malam.
Savana berhasil membuat Javier membeku setelah menciumnya dua kali. Bahkan kini Savana memegang tangan Javier dengan erat.
"Om, om mau kan jadi kekasihku? Aku cantik om, aku juga lulusan dari Inggris jurusan seni! Namaku Savana Mavericks, zodiak ku Virgo! Aku juga...aku juga...." Savana terdiam, lalu tiba-tiba saja Savana muntah di baju Javier.
Uwekkk!"
"DAMNN!" pekik Javier kesal dan jijik. Orang-orang disana juga melihatnya dengan jijik, Savana muntah sangat banyak.
"Ah...lega juga akhirnya hehe." Savana yang mabuk itu malah terkekeh setelah menumpahkan muntahnya pada Javier.
"Gadis ini! Benar-benar!" Javier murka, ia bahkan tak ragu mencengkram gadis itu. Siapapun yang mengganggunya mau wanita mau laki-laki, dia akan memperlakukan orang itu dengan sama.
Namun saat ponsel Savana tak sengaja jatuh ke lantai ia memungutnya dan melihat ada foto Elena dan Savana menjadi wallpaper di ponsel Savana.
Dia? Apakah gadis ini adalah sahabat yang selalu diceritakan oleh Elena?
Javier mengurungkan niatnya untuk marah pada Savana dan memutuskan untuk membawa Savana ke kamar hotel milik temannya untuk menolong Savana karena ia tak tahu alamat rumah Savana.
Saat Javier akan meninggalkan Savana sendiri di sana, Savana memeluknya dalam keadaan tidak sadar dan bahkan menciumi tubuhnya. Lalu...
#End Flashback
"Pak! Pak Javier?"
"Ah ya, Savana!" sahut Javier yang baru saja tersadar dari lamunannya.
"Sa-Savana tuan?" tanya Leo dengan kening berkerut. Namun ia tersenyum ketika melihat ada beberapa tanda merah di leher Javier.
Apa akhirnya pohon tua ribuan tahun itu berbuah juga? Lihatlah tanda merah itu, pasti wanita bernama Savana yang sudah membuat hasrat pak presdir jadi bangkit.
"Savana? Siapa yang bilang Savana?!" sentak Javier merasa gusar sendiri.
Shitt! Aku memikirkan gadis kecil itu lagi?
*****
Rumah Elena, mansion Sanderix.
Savana mulai menceritakan kronologi kejadian bagaimana dia bisa putus dengan Jonas. Dimulai dari kepulangannya dari Inggris hingga dia sampai di Chicago, lalu menyiapkan kejutan anniversary untuk Jonas. Saat ia sampai di apartemen pria itu dia mendengar suara-suara aneh, suara dua insan yang tengah memadu kasih. Ya, kejadian selanjutnya sudah jelas bahwa Jonas berselingkuh dengan seorang wanita yang tidak tahu siapa.
"Sialan! Apa dia ada di apartemennya sekarang? Sekarang juga aku pergi kesana!" Elena langsung beranjak dari tempat duduknya, ia terlihat marah dan tidak terima sahabatnya diselingkuhi seperti ini. Dari dulu Elena dan Savana memang saling membela satu sama lain, ketika ada masalah di antara keduanya pasti mereka akan saling membantu, mensupport. Bahkan saat zaman SMA mereka dijuluki sebagai anak kembar cantik dan mereka populer.
"Sudahlah! Aku malas membahasnya sekarang, aku ingin bercerita hal lain El dan ini lebih mengejutkan dari itu."
Elena menatap Savana dengan tajam, menantikan apa yang akan dikatakan temannya.
"Apa itu Van?"
"Ta-tapi kau harus berjanji padaku untuk tidak menceritakan ini pada siapapun?"
"Van, apa kau tidak percaya padaku? Bahkan rahasiaku dengan Mark saja aku ceritakan padamu," ucap Elena seraya mendekati Savana.
Savana terlihat resah, dia mengambil nafas kemudian menghembuskannya. "Sepertinya, i'm not virgin anymore!"
"What?!!" pekik Elena terkejut saat mendengarnya.
...****...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Lily Miu
hah🤣
2023-02-24
1
human
seorang
2023-02-03
0
Juan Sastra
wahh calon ibu elena tuh vana
2023-01-15
0