...🍁🍁🍁...
Begitu neneknya sudah datang, Savana langsung mengusir Javier dengan kata-kata halus namun pedas bagi pria itu. Ia tak mau dekat-dekat lagi dengan Javier, pokoknya tidak mau.
"Ekhem! Bukannya om sibuk ya? Kenapa om masih ada disini? Om tidak usah mencemaskanku, ada nenekku disini. Jangan sampai gara-gara aku, kencan om dengan si cantik jadi terganggu." Savana bicara dengan bibir memonyong, mata yang memicing pada pria itu.
Sana pergi saja bersama si Monakor itu dan jangan pedulikan aku.
Javier merasa raut wajah Savana sangat imut, apalagi kalau di marah. Dia pun menahan tawa dan memilih untuk pergi tanpa banyak bicara.
"Ya sudah, saya pergi dulu. Nyonya Martha, saya pamit dulu." kata Javier dengan sopan.
"Baiklah nak, terimakasih kau sudah menjaga cucuku. Kau pasti punya banyak pekerjaan, tapi masih sempat menjaga cucuku disini. Kau sangat baik!"
"Sama-sama nyonya. Oh ya nyonya, Savana belum makan. Tolong nyonya bujuk ya, agar dia mau makan supaya Savana bisa minum obat." ucap Javier lembut pada sang nenek. Savana mendelik sinis begitu mendengar kata-kata Javier pada neneknya.
Huh! Dasar sok baik.Kau pikir aku akan luluh dan memaafkanmu begitu saja setelah apa yang kau katakan padaku? Tidak semudah itu Ferguso!
Javier sadar saat ini Savana masih marah padanya, ya sudah dia akan mencari cara lain untuk meminta maaf pada gadis itu. Sekarang dia pergi dari sana untuk menghadiri meeting di kantor. Sebenarnya Javier sangat sibuk, tapi dia mengesampingkan semua kesibukannya demi menjaga Savana di rumah sakit. Ya, pasti karena rasa bersalah pada gadis itu.
Setelah Javier pergi, Martha langsung memukul lengan Savana dan membuat gadis itu meringis. "Aduh...duh...sakit nek!" pekik Savana sambil memegang lengannya yang memerah. "Tuh lihat ini jadi merah!"
"Rasakan! Lagipula kenapa kau bersikap seperti itu pada tuan Javier yang menolongmu?! Bukannya berterima kasih tapi kau malah bersikap ketus padanya!" tegur Martha pada cucunya itu. Sedari tadi ia dapat merasakan bahwa sikap Savana pada Javier sangat tidak baik, acuh dan juga cuek.
"Karena aku tidak suka dia dan aku tidak minta ditolong olehnya!" seru Savana kesal.
"Ckckck...dasar anak ini! Kapan nenek pernah mengajarkanmu untuk tidak sopan? Kau harus sopan pada yang lebih tua, jangan seperti ib--"
"Iya nek, aku tidak akan seperti mamaku. Aku dan mama berbeda." raut wajah Savana langsung berubah drastis saat membahas soal Griselda.
Martha pun jadi bungkam saat melihat raut sedih Savana. Martha sayang pada Savana, tidak seperti mamanya yang meninggalkannya begitu saja dan datang hanya karena butuh.
Lihatlah, bagaimana bisa kau tidak datang disaat Putrimu mengalami musibah Grisel? Kau sangat keterlaluan.
Hari ini Martha dan wanita paruh baya yang bernama Grace yaitu orang kepercayaan Martha, merawat dan menjaga Savana di rumah sakit.
Martha begitu melimpahkan Savana dengan kasih sayang, walaupun gaya bicara selalu seperti orang yang marah-marah.
Wanita tua itu membujuk Savana untuk makan, minum obat. Tak lama kemudian Savana jatuh tertidur karena efek obat yang di minumnya.
"Nyonya, apa anda akan mengabari nyonya Griselda?"
"Ya, aku harus bicara dengannya! Setidaknya dia harus peduli pada darah dagingnya sendiri," Martha sakit hati begitu melihat Griselda berada di dalam satu satu acara televisi dan di wawancara. Griselda bahkan tidak mengakui bahwa Savana adalah anaknya pada media. Griselda hanya mengakui anak dari suami barunya sebagai anak satu-satunya dan dia adalah seorang gadis cantik bernama Angela, usianya 5 tahun lebih muda dari Savana. Sungguh Martha tidak tahu kenapa putrinya begitu membenci cucunya sejak bercerai dari suaminya. Dia bahkan menikah
Hidupku mungkin tidak lama lagi, siapa yang akan menjaga Savana bila nanti aku pergi? Kau harus bertanggungjawab pada anakmu Griselda.
****
Siang itu di kantor, Javier melakukan aktivitas seperti biasa. Usai rapat, Javier makan siang bersama dengan Leo pada waktu sore. Waktu itu sangat terlambat untuk makan sebab rapatnya tidak sebentar.
Di sela-sela pekerjaannya, Javier memikirkan Savana. Apa yang sedang dilakukan oleh gadis itu? Apa dia masih kesakitan? Apa dia sendirian di rumah sakit? Javier bertanya-tanya dalam hatinya.
"Pak, anda terlihat tidak fokus. Ada apa pak?" tanya Leo pada Javier.
"Leo, bagaimana menunjukkan kesungguhan untuk meminta maaf pada wanita?" bukannya menjawab, Javier malah balik bertanya dan dia menanyakan apa yang ada di dalam hatinya. Javier menanyakan kepada Leo karena Leo memiliki banyak pengalaman dalam berkencan dengan wanita, tidak seperti dirinya yang dijuluki pohon tua.
"Kesungguhan untuk meminta maaf? Ah...saya tau pak!" Leo tersenyum, kemudian dia membisikkan sesuatu pada Javier. CEO dari Sanderix grup itu hanya manggut-manggut saja.
*****
Malam itu Javier dan Leo pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Savana. Javier membawa bunga dan juga makanan untuk Savana, berharap gadis itu akan menyukai apa yang ia bawa. Ya, ini adalah salah satu itikad baiknya untuk meminta maaf.
Aku tidak percaya pak presdir akan bersikap seperti anak ABG. Padahal dulu saat menikah dengan nona Elisa, pak Presdir tidak begini. Tampaknya pak presdir telah jatuh cinta pada nona Savana. Leo membatin, ia cukup senang melihat ada sinyal hijau bahwa Presdirnya yang kaku itu akan segera memiliki pawang.
Mereka berdua pun sampai didepan ruang rawat Savana. Saat Javier membuka pintunya, ia melihat Savana tengah berduaan bersama seorang pria. Ya, itu adalah Justin. Teman model Elena dan Javier kenal Justin, salah satu model di mallnya juga.
Justin terlihat menyuapi Savana dan gadis itu tersenyum manis saat di suapi olehnya. Tanpa sadar Javier menatap keduanya dengan suram. Javier dan Leo berdiri diambang pintu.
"Kak Justin, aku sudah kenyang." ucap Savana menolak suapan lagi dari Justin.
"Satu lagi saja Savana, kau harus sehat."
"Auhh..." tiba-tiba saja Savana meringis kesakitan sambil menutup matanya.
"Kenapa?"
"Mataku... sepertinya kelilipan." jawab Savana.
Justin menyimpan mangkuk bubur itu diatas nakas kemudian dia mendekat ke arah Savana. Justin meraih wajah Savana, lalu meniup niup mata kiri Savana. Dilihat dari belakang, Savana seperti tengah berciuman dengan Justin.
Javier meremass tangannya dengan kuat, dadanya sesak melihat pemandangan itu. Sampai ia pun mendekati Justin dan Savana.
"Ehem!"
...****...
Author up lagi kalau ada sajennya guys 😁😁😘😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Siti Nur Janah
bilang bos kalo memang ada rasa sebelum terlambat
2025-02-21
0
RossyNara
hey ada yang terbakar tapi bukan wajan eh ternyata hati om duda yang terbakar,,,,, sookor
2025-01-12
1
Ramadhani Kania
mang enk Jafier....
2023-01-02
0