#Flashback
Niatnya membantu Savana dari para pria hidung belang disana, Javier membawa Savana ke salah satu kamar hotel.
Malam itu, Savana bergerak aktif menciumi dada dan leher Javier. Savana mengendus wanginya tubuh si hot Daddy itu. Javier berusaha sekeras mungkin untuk menahan hasrat dalam dirinya, menahan dari godaan setan yang terkutuk.
Namun sial, si junior tak bisa diajak berkompromi. Bukankah dia pria normal? Tapi ini pertama kalinya ia tergoda oleh seorang gadis muda. Setelah bercerai dari mantan istrinya, mommy Elena, Javier tidak pernah dekat ataupun menyentuh wanita. Tapi serangan Savana kali ini benar-benar membuat dirinya yang mati suri menduda selama 21 tahun ini kini kembali bangkit.
Javier sangat menjaga dirinya dari hubungan dengan wanita. Jika bukan cinta, jika tidak serius, Javier tidak akan pernah melakukan having sexxx sembarangan.
"Om...om wangi banget sih," lirih Savana sambil membuka satu persatu kancing kemeja hitam Javier.
"Hentikan ini, gadis kecil!" Javier memegang tangan Savana dengan erat dan otomatis menghentikan gerakan binal gadis itu.
"Om jadi pacarku yuk? Aku belum pernah pacaran dengan om-om." kata Savana dengan polosnya, tentu dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Apa sahabat putriku adalah wanita jalangg?!" gerutu Javier yang berpikir begitu tentang Savana dan keadaan gadis itu saat ini.
Savana tidak mau diam, ia terus membuka pakaiannya satu persatu dan mempertontonkan tubuhnya yang molek belum terjamah oleh siapapun juga. Javier meneguk salivanya, ia benar-benar tidak tahan melihat Savana yang berada di atas ranjang itu. "Panas...panas sekali..."
"Hentikan ini--gadis kecil!"
Tiba-tiba saja Savana meraih tubuh kekar Javier, ia mencium bibir pria itu. Hanya menempel saja dan tidak melumatt, sebab Savana masih amatiran dalam hal ini.
Awalnya Javier ingin menghindar, namun ia terbuai dalam permainan itu. Javier mulai terbakar nafsunya, nafsu yang selama 21 tahun ini tertahan. Javier membalas ciuman itu dengan lumattan kelas expert yang belum pernah Savana lakukan.
Javier membelit lidah Savana di dalam sana, mengobrak-abrik, menyesap lidah Savana. Hingga suara lenguhan dan decapan terdengar dari penyatuan bibir mereka. Bibir Javier tak hanya bermain disana tapi juga di gundukan sintal milik Savana dan dadanya. Savana juga tak kalah liar, ia memberikan tanda cinta pada tubuh Javier.
Semua itu terjadi begitu saja, Javier mencumbu Savana tapi tidak sampai melakukan penyatuan dengan Savana.
"SHITT! She's still virgin!" begitulah Javier mengakhirinya, saat ia merasakan milik Savana masih ORI. Ia yakin itu.
Javier pun menuntaskan hasratnya didalam kamar mandi seorang diri. Setelahnya Javier merasa bersalah, walau tidak sampai melakukan itu. Bagaimana bisa dia selaknat ini pada sahabat putrinya sendiri?
Niatnya menolong masa menikmati tubuh Savana.
#End flashback
"Dad? Apa kau baik-baik saja? Kau berkeringat?" tanya Elena pada Javier cemas. Wajah Javier pucat dan berkeringat.
"Daddy tidak apa-apa." jawab Javier sambil tersenyum, senyum yang dipaksakan.
Astaga... kejadian semalam masih saja terngiang.
"Jadi boleh kan Savana menginap disini dan Daddy akan bantu aku mencari pria itu?" tanya Elena sekaligus.
"I-iya sayang." Javier tidak bisa berkata tidak kepada putri kesayangannya. Apalagi saat ini dia telah berjanji untuk menuruti semua keinginan Elena.
"Baiklah Dad, aku akan temui Savana dulu. Dia pasti akan senang dengan berita ini," Elena tersenyum.
"Setelah kau menemukan pria yang melecehkan Savana, kau mau apa sayang?" tanya Javier seraya menatap putrinya dalam-dalam.
"Ada dua kemungkinan dad," ucap Elena sambil tersenyum menyeringai.
"Aku akan membunuhnya secara langsung atau membuatnya mati perlahan-lahan!" kata Elena sambil mengepalkan tangannya. Ia serius dengan kata-katanya dan Javier tak menyangka bahwa Elena sangat sayang pada Savana.
Ternyata Elena sesayang itu pada si gadis kecil.
****
Malam itu, Savana dan Elena turun ke lantai bawah untuk makan malam bersama dengan Javier. Savana awalnya menolak, namun Elena memaksanya sekalian perkenalkan Javier dan juga Savana.
Kini mereka pun berkumpul di meja makan dengan omelette yang sudah tersaji disana. Javier yang menyiapkannya. Terlihat dari celemek yang ia pakai, ia baru selesai memasak.
Elena berdecak kagum seakan tak percaya bahwa daddynya memasak lagi. Setelah 5 tahun daddynya memasak untuknya. Kemampuan memasak Javier memang tidak dapat diragukan lagi, selain tampan, kaya, mapan, Javier pintar melakukan pekerjaan rumah tangga. Sebagai pewaris Sanderix grup, Javier sebagai anak sulung dituntut untuk mandiri sejak sekolah menengah atas.
"Dari wanginya, sepertinya Daddy yang memasak?" tebak Elena sambil duduk di salah satu kursi meja makan. "Ayo Van, duduk." ajak Elena pada Savana.
Savana duduk dan terdiam, atensinya menatap tajam pada Javier yang duduk di hadapannya. Ia marah, rasanya ingin memukuli pria itu yang sudah mengambil virginnya. Tapi sayangnya si brengsek itu adalah papa sahabatnya.
"Van, kau kenapa? Apa kau masih memikirkan pria brengsek itu? Tenang saja, daddyku akan membantumu mencari pria itu. Dalam satu kali 24 jam, Daddy pasti bisa menemukannya." cetus Elena polos, tapi membuat Savana dan Javier saling melirik.
Javier merasa bersalah dan Savana merasa kesal. Usai makan malam ini, Savana akan bicara dengan pria itu. Harus!
Mereka pun makan malam sambil mengobrol. Elena melemparkan pujian untuk masakan Javier. Tapi Savana terlihat kesal, sebab dimata Elena, sosok daddynya itu setia dan sempurna. Hanya kurang kasih sayang padanya.
Elena, dia tidak sesempurna itu. Daddymu ini bAJINGAN yang sudah menodaiku. Batin Savana kesal.
ASTAGA! Kenapa dia seperti ingin membunuhku? Javier menyadari tatapan tajam Savana padanya. Dia tidak takut pada Savana, hanya saja takut pada Elena. Takut Elena tau kelakuannya pada Savana.
Setelah selesai makan, Elena naik ke lantai atas lebih dulu. Sementara Savana masih berada di meja makan, ia membereskan piring dan mencucinya sendiri. Ia sudah terbiasa begitu, mau dimanapun ia berada.
"Kebetulan om ada disini, om jangan menghindari saya dan mari bicara." kata Savana tajam pada Javier yang tengah mengambil air dingin di kulkas.
"Kita bicara di tempat lain."
Javier mengajak Savana bicara di ruang kerjanya yang lebih privasi. Beruntungnya Elena sudah tidur di kamar, hingga dia tak tau Savana dan Javier pergi kesana.
"Pertama-tama saya minta maaf karena saya sudah menjamah tubuh kamu," ucap Javier seraya memperhatikan raut wajah Savana.
Deg!
Seketika jantung Savana seakan berhenti disana mendengarku pengakuan Javier.
Matanya yang berwarna abu-abu itu mulai berair, menunjukkan kemarahan dan kesedihan. "Jadi benar om sudah melakukan itu?! Bagaimana bisa om melakukan itu padaku, om? Kehormatanku hanya ku persembahkan pada suamiku kelak dan om mengambilnya!" Savana menarik baju Javier dengan emosi yang meluap-luap.
"Dengarkan penjelasanku dulu! Aku memang menjamahmu, itu karena kau menggodaku lebih dulu!" seloroh Javier tak mau jadi satu-satunya orang yang disalahkan.
"Fine, aku mungkin memang menggoda om kala aku dalam pengaruh alkohol. Tapi, tidak seharusnya om memanfaatkan situasi! Om harusnya membiarkan aku sendirian disana," cetus
"Kau menarik saya Savana!" seru Javier seraya menatap mata berwarna abu yang menangis itu dengan lekat.
"Lalu apa ini salahku, om? Om mengambil mahkotaku, lalu om berkata seperti ini untuk menghindar dari tanggungjawab?" tanya Savana disela isak tangisnya. Ia tak menyangka bahwa dirinya sudah tidak virgin lagi.
"Hiks...om jahat, aku sudah tidak perawan lagi!" Savana menutup wajahnya, ia menangis sejadinya.
Javier mengusap rambutnya dengan kasar, lalu ia berkata. "No...you still virgin, Savana!"
"A-APA?!" Savana membuka wajahnya yang tadi ditutupi oleh tahannya. Matanya menatap Javier dengan bingung.
...******...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Ramadhani Kania
virgin yg bawah.yg lain gk...
2023-01-02
0
Tiahsutiah
masih virgin ,,tp om kau sdh melihat nya bahkan sdh?????🤣🤣🤭
2022-12-07
1
vie❤️
bagian utamanya masih virgin,,tapi yg lainnya udah diicip² 🤭🤧🤧
2022-12-07
1