...🍁🍁🍁...
Savana tidak paham mengapa Javier berbuat seperti ini padanya. Hatinya dibuat terbang lalu dihempaskan begitu saja.
Sakit, sungguh sakit hati Savana mendengar Javier mengucapkan kata sayang pada Mona. Padahal pria itu sendiri yang menawarkan hubungan, tapi pria itu juga yang berbuat sebaliknya. Seolah Savana adalah orang asing, seolah ia sengaja mengabaikan gadis itu.
Apa maumu om? Kenapa kau begini om?
Sementara itu Mona berada diatas awan, dia menggamit tangan Javier dengan manja dan mengajaknya pergi ke toilet wanita untuk menemaninya.
Elena dan Savana kesal melihat Javier pergi bersama Mona. Elena yang geram langsung menawarkan diri untuk mengantarkan Mona ke kamar mandi, agar papanya tidak pergi bersama Mona.
"Biar aku aja yang mengantar Tante Mona, Dad."
Ya, aku akan mengantarnya sekalian memberikan pelajaran padanya.
"Tidak apa-apa Elena, biar Daddy saja yang mengantar Tante Mona," sahut Javier menolak, lalu dia menggandeng tangan Mona dan meninggalkan meja makan di restoran itu.
Savana dan Elena kecewa melihat Javier yang membalas gandengan tangan dari Mona. Bahkan memanggil sayang. Elena sendiri tidak yakin dengan sikap Daddynya, ia tau benar bahwa Javier selama ini selalu menolak Mona.
"El, apa Daddymu suka pada si Monakor? Eh maksudku, si Mona itu." cetus Savana dengan nada yang kesal.
"Tidak pernah! Aku malah heran kenapa daddyku mau-maunya bersama wanita itu, padahal selama ini Daddy selalu menjauh darinya seolah dia adalah bakteri berbahaya!" seru Elena dengan kening yang berkerut. Entahlah dia juga heran kenapa papanya mau dekat dengan Mona, Elena merasa heran sungguh.
Apa karena aku? Karena om ingin menghindari aku makanya om bersikap begini? Jika benar begitu, om sangat jahat.
Savana terdiam mendengarkan ucapan Elena, hatinya di penuhi tanda tanya dan amarah terhadap sikap Javier yang menganggapnya kasar mata.
"Van, kau kenapa? Are you okay?" tanya Elena sambil memegang kedua bahu Savana. Ditatapnya wajah sang sahabat dengan cemas.
"Aku baik-baik saja...El sebaiknya aku pulang saja." ucap Savana yang terlihat sedih.
"Acaranya kan belum selesai Van, kenapa kau--"
"Aku tidak enak badan El, aku mau istirahat." jawab Savana memotong ucapan Elena. Gadis itu tampak lesu dan tidak bersemangat.
Savana tidak bohong, kepalanya memang sakit dan pusing apalagi semalam ia begadang hanya untuk menunggu pesan balasan dari Javier. Tapi sayang pria itu tak membalas pesannya bahkan sampai pagi.
"Apa kau kepikiran lagi dengan Jonas?" tanya Elena hati-hati saat dia menyebut nama mantan tunangan Savana.
"Jangan sebut lagi namanya! Sekalipun Aku tidak pernah memikirkannya lagi sejak dia menghianatiku." cetus Savana yang semakin kesal saja. Sudah kesal dengan sikap Javier, ia bertambah kesal saat Elena menyebut nama mantan kekasihnya itu.
"Aku pergi El," Savana tersenyum tipis, ia mengambil tas selempangnya yang berada di atas meja itu lalu ia pun melangkah pergi dari sana.
"Van...Van..." Elena terlihat sedih melihat Savana seperti itu. Rasanya seperti hatinya yang disakiti.
Tak lama kemudian, Javier kembali dari toilet dan menghampiri Elena. Javier lega karena Savana sudah tidak ada disana. Javier mendapatkan cibiran dari Elena karena sudah pergi bersama Mona.
"Jadi Daddy mau menjadikan Mona ibu tiriku? Ya baiklah, terserah Daddy saja." ketus Elena sambil berjalan pergi meninggalkan daddynya disana.
"El tunggu!" Javier memanggil Elena namun gadis itu tak menghiraukannya.
Javier menghela nafas, setidaknya dia senang karena Savana pasti marah padanya dan akan segara memutuskan hubungan mereka.
Dan soal hubungan dengan Mona, ia sama sekali tak berniat untuk menjalin hubungan dengan wanita itu. Tadi ia hanya berpura-pura saja didepan Savana.
Belum lama Savana pergi, Javier sudah menerima pesan di ponselnya dari gadis itu.
["Om, aku mau bicara. Temui aku di cafe Dawrose malam ini pukul 7."]
"Apa lagi ini? Apa dia masih belum menyerah padaku?" Javier mengusap rambutnya dengan kasar. "Ternyata dia masih belum menyerah." gumam Javier lagi.
*****
Seminggu setelah itu, Savana benar-benar diabaikan. Javier sama sekali tidak pernah membalas pesan ataupun panggilannya. Bahkan pertemuan di cafe Dawrose juga tidak pernah terjadi.
Savana sakit hati, ia benar-benar diabaikan setelah di cium dan diberikan status sebagai kekasih Javier. Dia sangat cocok dengan ungkapan kekasih tak dianggap.
Pagi-pagi itu Savana memutuskan untuk pergi ke rumah Javier dan bicara dengannya.
"Cukup sudah, ini semua harus di perjelas! Harus!" Savana memencet bel mansion mewah Sanderix itu.
Ting tong!
Bel mansion mewah itu berbunyi hingga membuat beberapa pelayan yang ada di rumah itu segera menghampiri pintu. Namun Hilda yang juga ada disana, meminta para pelayan lainnya untuk mengerjakan tugas mereka masing-masing, sebab dia yang akan membuka pintunya.
Hilda lalu membuka pintu mansion mewah tersebut. Melihat siapa yang datang, Hilda langsung menyambutnya dengan ramah karena ia tau yang datang ini adalah sahabat baik dari nona mudanya.
"Selamat pagi non Savana." sapa Hilda ramah.
"Pagi juga bibik Hilda!" Savana tersenyum balik sembari melihat kesana-kemari, keadaan rumah itu masih sepi.
"Nona pasti mencari nona Elena ya? Mohon maaf, nona Elena sudah pergi pagi-pagi sekali untuk pemotretan majalah di Meksiko." tutur Hilda menjelaskan.
"Oh....begitu." Savana manggut-manggut padahal dalam hati ia berkata bahwa ia sudah tau. Tapi pura-pura tak tahu saja. Sebab kedatangannya kemari adalah untuk bertemu Javier.
"Memangnya non Savana tidak tau?"
"Tidak bik. Tapi bagaimana ini ya..." Savana menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal itu.
"Bagaimana gimana non?" tanya Hilda bingung.
"Saya harus mengambil barang yang Elena pinjam dari saya dan ini barang penting! Kata Elena barang itu ada di kamarnya. Apa saya boleh mengambilnya?" kata Savana dengan wajah memelas pada Hilda.
Hilda terlihat diam sejenak, lalu ia pun menyetujui Savana untuk naik ke lantai atas ke kamar Elena. Toh, Savana dan Elena sudah seperti saudara. Hilda percaya pada Savana, dia adalah gadis baik dan polos.
Savana pun naik ke lantai atas, tujuannya bukan kamar Elena tapi kamar Javier. Tak berselang lama kemudian ia sampai didepan kamar Javier dan pintu kamar itu terbuka.
"Om...om..." panggil Savana dengan suara yang pelan. Perlahan ia pun maju dan membuka pintu itu.
"Hari ini, saat ini juga, aku harus bicara dengannya." ucap Savana sambil meremass tangannya dengan kesal. Diabaikan selama satu minggu telah membuat kesabaran Savana habis.
Savana memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar itu. Lalu tak sengaja ia melihat pintu kamar mandi terbuka dan memperlihatkan seseorang yang baru saja keluar dari sana. Savana terkejut dan sontak saja ia menutup mata saat Javier keluar hanya dengan menggunakan handuk dibagian bawahnya saja.
Deg!
Jantung Savana berdebar kencang saat melihat sosok Javier disana.
"O-om..."
Woaw...tubuh om Javier sangat hot. Batin Savana polos.
"SIAPA YANG MENYURUHMU MASUK KEDALAM KAMARKU, DASAR WANITA MURAHAN?!" hardik Javier seraya menatap Savana dengan emosi.
Javier bersuara dengan nada yang tinggi dan telah menghina Savana dengan kata murahan. Javier paling tak suka ada orang asing yang masuk ke kamarnya dan bagi Javier, Savana adalah orang asing.
Savana menurunkan tangan yang tadi menutup matanya. Mata Savana mulai berair, ia pun berjalan mendekat ke arah Javier dengan marah, tak peduli pria itu memakai baju atau tidak.
"Murahan? Om bilang aku murahan?" kata Savana dengan suara lirih dan menyiratkan wajah terluka. Terluka hati maksudnya.
"Tu-tunggu... maksudku bukan." Javier tersadar, ia telah mengucapkan kata yang keterlaluan pada Savana. Harusnya ia tak seemosi ini.
Kemarahan Savana mulai menggebu, ia tidak tahan lagi dengan ucapan dan sikap Javier. Maka ia memantapkan hatinya untuk bicara pada Javier.
...****...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Juan Sastra
zavana zavana laki kayak gitu tinggalin aja biar tau rasa
2023-01-15
1
Ramadhani Kania
dah Savana mulai sekarang cuekin duda sok itu....
2023-01-02
2
Bila
sakit hati dong disebut murahan😭😭😭
2022-12-11
2