...🍀🍀🍀...
Sinar mentari masuk melalui celah jendela kamar itu, sebuah kamar yang luas mewah. Savana terbaring dengan diatas ranjang dengan kondisi yang hanya memakai tank top saja. Ia membuka matanya perlahan-lahan, ia merasakan sakit di kepalanya.
"Ugh... kepalaku, sakit sekali." Savana meringis sambil mengerjapkan matanya beberapa kali. Membuka kesadarannya.
Namun Savana kembali menutup matanya, ia masih ngantuk. Lalu ia membalikkan tubuhnya ke arah kanan tangannya yang terlentang secara tak sengaja menangkap sesuatu yang kenyal dan padat. Savana meremass benda itu, Savana pikir benda itu adalah guling atau bantal. Maybe.
"Benda apa ini? Kenyal, padat dan sedikit berisi. Apa guling memang seperti ini ya?" gumam Savana yang tangannya masih bergerak aktif meremass benda yang kenyal, padat berisi itu. Kemudian Savana menindihnya, ia mulai merasakan yang aneh saat kalinya melingkar pada benda itu. Savana terkekeh menikmati benda yang memiliki aroma nyaman untuknya.
"Hah? Kenapa seperti ada kaki?" gumamnya pelan, sambil terus meraba-raba sesuatu yang ada disampingnya itu.
Tanpa ia sadari, pria yang selama bersamanya menatap Savana dengan atensi yang begitu tajam. Pria itu bertelanjang dada, namun masih memakai celana lengkap.
"Sudah puas meraba-raba tubuhku, gadis kecil?" sentak Javier dengan suara dingin namun penuh penekanan. Suara itu membuat Savana yang tadi terpejam, jadi membuka matanya lebar-lebar.
"KYAAKK!!" pekik Savana terkejut ketika melihat ada seorang pria di samping tempat tidurnya.
"KAU! Apa yang kau lakukan? Kenapa kita bisa ada disini? SI-SIAPA KAU?!" seru Savana bertanya-tanya dengan panik. Gadis itu beringsut menjauh dari tubuh Javier yang tadi dipeluknya bak guling empuk itu.
Oh God! Apa aku not virgin anymore?! rutuk Savana dalam hatinya. Savana takut jika prinsip yang selama ini ia jaga, menjadi rusak. Sebab ia memiliki prinsip untuk menjaga kehormatannya sampai ia memiliki suami dan menikah. Of course, selama ini Savana tidak pernah disentuh oleh Jonas kecuali cium pipi, pelukan dan cium kening. Savana selalu menolak untuk melakukan hubungan sebelum menikah.
Biarlah dia dibilang kolot untuk anak muda seusianya, baginya kehormatan harus dijaga. Meski beberapa temannya tidak bisa menjaga hal itu dan cenderung melakukan hubungan bebas.
Javier beringsut dari ranjang, ia berjalan menuju ke kamar mandi tanpa bicara sepatah katapun pada Savana.
"Hey om! Om! Kau mau kemana? Kau harus jelaskan apa yang terjadi?"
Panggilan Savana sama sekali seperti angin lalu bagi Javier, dia tetap melangkah menuju ke kamar mandi dengan cueknya.
Savana mendengus kesal, ia ikut turun dari ranjang dan menghampiri Javier. Gadis itu menghadang jalannya dengan memblokir pintu kamar mandi. Beruntung, tubuhnya masih berpakaian meski bisa dibilang Savana sangat seksi.
Pria ini benar-benar menyebalkan.
"Om! Apa kau tidak akan bertanggungjawab?!" sentak Savana. "Setidaknya kau harus memberikanku penjelasan!" imbuhnya lagi dengan nada kesal.
Namun Javier hanya menaikkan satu sudut bibirnya, tatapannya sangat dingin dan membuat Savana tertekan juga berdebar.
Javier memojokkan Savana hingga bersandar ke pintu kamar mandi. "A-apa yang om lakukan? Me-mengapa!" Savana terbata manakala tubuhnya terkunci oleh tubuh kekar Javier.
Glek!
Savana menelan ludah, ia terpesona melihat tubuh seksi Javier yang menggoda. Tubuh atletis dengan otot-otot dada yang sixpack. Wajahnya juga tampan, meski Savana bisa menebak bahwa pria didepannya itu jauh lebih tua darinya. Tebaknya, mungkin usai Javier sekitar 30 han. Belum terlalu tua untuknya.
Sial! Pria ini sangat tampan, dia manusia atau dewa Yunani? Dan tubuhnya itu...oh Astaga membuat otakku traveling seperti Traveloka!
"Cobalah kau ingat kejadian semalam! Aku tak mau menjelaskan," ketus Javier lalu mendorong Savana yang menghalangi jalannya. Entah kenapa Savana melihat kekesalan di wajah Javier.
BRAK!
Pintu kamar mandi itu tertutup dan membuat Savana mematung didepan sana dengan wajah kesal.
"Ish! Hey kau! Keluar kau! Kalau kau yang sudah mengambil keperawananku, kau harus bertanggungjawab! Kau harus menikahiku!" Savana menggedor-gedor pintu kamar mandi itu, hingga ia pun lelah dan memilih kembali duduk di ranjang karena Javier tak kunjung keluar.
Menikah? Dengannya? Kelihatannya bagus juga, dia tampan dan sepertinya dia mapan. Dia juga terlihat dewasa. Pikir Savana dalam hatinya.
Di dalam kamar mandi, terdengar suara gemericik shower mengalir. Javier tengah melakukan aktivitas mandinya. "Gadis kecil itu sangat berisik! Padahal semalam suaranya begitu lembut, tapi--aslinya dia begitu cerewet. Kalau dia bukan teman Elena, aku tak akan menolongnya." gerutu Javier sambil melilitkan kimono handuk ditubuhnya. Rambutnya basah, membuat pria itu berkali-kali lipat tampannya.
CEKLET!
Pintu kamar mandi pun terbuka lebar, menampilkan seorang pria dengan tubuh atletis dan menggoda. Membuat Savana menelan saliva berkali-kali.
ASTAGA! Jantungku, jantungku! Mana mungkin aku jatuh cinta secepat ini padanya?
"Pergilah mandi! Kau sangat bau," ucap Javier dingin.
"A-apa?!" sentak Savana tak percaya.
"Pergi mandi, sana!" Javier dengan cueknya meminta Savana untuk pergi mandi. Dia bahkan melempar handuk bersih ke wajahnya.
Savana melempar handuk itu kembali pada Javier. "Tunggu! Jelaskan dulu padaku apa yang terjadi? Mengapa aku berada didalam kamarmu, om? Apakah kita melewatkan malam panas bersama seperti apa yang ada di novel-novel itu?" tanya Savana dengan wajah polosnya.
Plak!
Javier menepuk jidat Savana hingga membuat gadis itu meringis kesakitan. "Sepertinya kau banyak menonton drama. Bagaimana mungkin aku tidur dengan anak-anak sepertimu?" ejek Javier.
"Apa anak-anak?!" Savana tak terima. "Siapa yang kau panggil anak-anak?!"
"Aku sudah dewasa, om! Dan aku adalah wanita yang memikat, aku cantik om."gadis itu bicara lagi seolah ingin diakui.
Javier tidak bicara sepatah katapun, ia hanya memakai pakaiannya dan pergi dari sana. Savana kesal karena diabaikan oleh Javier, niat hati ingin menyusulnya tapi dia belum memakai pakaian.
"Sialan! Awas kau om kulkas! Aku akan menemukanmu dan meminta pertanggungjawaban mu!" dengus Savana kesal, dia pun masuk ke kamar mandi dan setelah itu ia menyadari bahwa ia berada di salah satu kamar hotel.
****
Usai mandi dan berpakaian, Savana pergi ke tempat resepsionis. Ia menanyakan pria yang bersamanya semalam, namun pihak informasi tidak mau memberitahu Savana.
"Siapa pria itu? Apa dia memiliki latar belakang yang kuat?" gerutu Savana geram. Ia bertekad akan menemukan pria itu bagaimanapun caranya, jika benar pria itu yang sudah mengambil kali pertamanya. Tapi ia tak ingat kejadian semalam.
Tak lama kemudian, Savana mengaktifkan ponselnya dan melihat beberapa pesan masuk juga panggilan tak terjawab disana. Terlihat juga wallpaper kunci di ponselnya adalah Elena dan dirinya. Sedangkan wallpaper utama adalah fotonya dan Jonas.
"Cih! Si bajingan ini, kenapa dia mengirimkan pesan dan menelponku? Cuih...cuih.." gadis itu kesal dengan pesan dan panggilan dari Jonas.
Dreett...Dreett...
🎶🎶🎶
Savana langsung mengangkat telpon dari Elena sahabatnya dengan gembira. "Van, kau ada dimana? Apa kau baik-baik saja? Kenapa kau tidak mengangkat telpon dan pesan dariku?!" hardik Elena dari sebrang sana.
"Elena... huaaahhh...cepat kesini!" ujar Savana sambil menangis tersedu-sedu. Banyak sekali yang ingin ia ceritakan pada Elena.
"Kau ada dimana Van?" tanya Elena pada sahabatnya dengan suara yang cemas.
...****...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Ramadhani Kania
Savana kq gk tew ayahnya Elena y....🤔
2023-01-02
0
kangsemen
perlu koper kah sa🤣
2022-12-27
1
Bila
Ini seru tapi belum crazy up kak ir😆
2022-12-05
0