...🍁🍁🍁...
Savana begitu terkejut manakala benda kenyal menyentuh bibirnya dengan lembut. Tidak ada pagutan, hanya saling menempel saja dan Javier lah yang memulainya.
Entah setan apa yang merasuki Javier sehingga dia berani mencium bibir Savana, sahabat putrinya sendiri
"O-om..." Savana termangu, tepat setelah ciuman lembut itu di lepas oleh Javier.
"I-itu untuk membuktikan bahwa saya serius ingin bertanggungjawab. Sa-saya maunya kita berkencan, tapi itupun kalau kau mau." Javier memalingkan wajahnya dari Savana, menyembunyikan raut wajah yang memerah itu.
Oh my God Javier! Apa yang kau lakukan? Setan apa yang merasukimu, hah? Kenapa kau menciumnya, mencium bibirnya?
"Aku mau om, aku mau jadi kekasih om. Ayo kita berkencan." jawab Savana tanpa ragu.
"Ah? Kau serius little girl?"
Savana mengangguk dengan cepat. "Om sudah melihat tubuhku, om juga sudah menjamahku. Aku tidak akan membiarkan om kabur kalau om sendiri yang menawarkan tanggung jawab itu." sepasang mata berwarna abu itu menatap mata coklat muda Javier dengan dalam.
Iya, tidak apa-apa walau sekarang hanya bentuk dari rasa tanggung jawab saja. Tapi nanti kau akan terjerat dengan pesonaku om.
Entah kenapa Savana merasa nyaman didekat Javier, seakan ada sosok papa yang ia temukan pada diri Javier. Ia setuju saja diajak berkencan oleh ayah sahabatnya ini, Savana memang tertarik pada pria itu.
Javier menghela nafas kemudian menghembuskannya dengan kasar."Baiklah, kita pacaran tapi--"
Savana memotong perkataan Javier. "Elena tidak boleh tau, aku paham om."
Pria itu mengangguk pelan. Terlihat sosok dewasa pria itu dalam tampilan kalem seperti ini dan membuat Savana semakin kagum. Apalagi saat Javier menolongnya dari mamanya tadi.
"Aku juga tidak mau Elena tau," ucap Savana lagi.
"Iya, kalau begitu saya pergi ya." desahh Javier sambil memegang handle pintu. Namun Savana menahan tangannya.
"Tidak usah begitu formal om, pakai bahasa aku kamu saja. Kita kan sudah menjadi kekasih." Savana tersenyum lebar.
Tangan Javier terulur mengusap pipi Savana yang memar. Savana meringis kesakitan.
"Auw..."
"Masih sakit?"
"Tidak!" sangkal Savana.
"Kalau sakit bilang saja." ucap Javier lembut.
"Ini bahkan bukan apa-apa saat mama memukulku dengan tongkat bisbol--eh upss!!" Savana yang memang ceplas-ceplos mulai menunjukkan dirinya.
Javier terbelalak mendengar ucapan Savana, ia tak menyangka bahwa Griselda yang terlihat dari luar adalah wanita berbudi luhur ternyata suka main tangan. Bahkan Griselda pernah menjadi pembawa acara sebelum ia menjadi seorang pengusaha. Javier kala itu mengangumi Griselda yang baik hati, tapi setelah apa yang dikatakan Savana saat ini. Nampaknya Javier harus berpikir ulang.
"Tolong jangan salah paham! Mama seperti itu karena dia--dia sedang marah. Sebenarnya mamaku itu baik!" bela Savana untuk Griselda, meski semuanya bohong.
"Ja-jangan menatapku begitu, aku tidak bohong!" sangkal Savana lagi begitu melihat Javier menatapnya dengan tajam.
"Little girl, aku pulang dulu ya. Kalau ada apa-apa hubungi aku. Kau bisa minta nomorku pada Elena." jelas Javier dengan wajah datarnya seperti biasa.
Astaga Javier kau sudah gila, kau berkencan dengan sahabat dari putri mu sendiri?
"Baik om! Jadi aku boleh menghubungi om kan?" tanya Savana dengan mata yang berbinar-binar.
"Boleh." sahut Javier singkat.
"Asyik, jadi boleh!" Savana senang mendengar ucapan Javier yang mengizinkan untuk meneleponnya.
Javier pun pergi dari kamar Savana dengan mengendap-endap, takut Elena tau kalau dia belum pulang. Sementara itu Savana senyum-senyum sendiri di dalam kamarnya.
"Aku...aku dicium om...aku ciuman...aku ciuman! Horeeyy!!" jerit Savana bahagia sambil jingkrak-jingkrak di atas ranjangnya. "Ternyata ciuman itu enak juga! Hahaha.."
...****...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Juan Sastra
zavana bodoh mau aja di manfaatin javier...
2023-01-15
0
Ramadhani Kania
wah mnang bnyk nie om duda dpt cwe polos...
2023-01-02
0
vie❤️
ampun..girang bgt🤭🤭
2022-12-09
1